Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Satu Nama Telah Mengunci Hatiku dan Itu Dia

"Ra, jangan bosan kalau aku bertanya tentang ini. Kamu sudah punya perasaan pada seseorang?"
Aku menggeleng.
"Astaga, Ra. Kapan kamu akan memikirkannya? Aku dulu juga begitu tapi setelah ke arah sini aku jadi sadar kalau kita seharusnya sudah menikah dan punya anak."
"Entahlah, Din. Satu pun tak ada yang berlalu lalang di kepalaku. Jika kau tanya nama satu orang saja aku tidak bisa menjawabnya." Aku beralasan.
"Tunggu kalau tentang Adam? Kamu masih stalking? Kamu itu ke Adam dulu cuma nge-fans kan?"
"Entahlah."
"Aduh, jawaban kamu itu seperti nggak punya perjuangan. Kehidupan percintaan kamu itu kayak sepatu flat tahu nggak? Gemes lihatnya."
Aku diam.
"Ra, aku itu paling susah nebak kamu. Dari kita kenal yang aku tahu kamu itu paling rumit kalau dengar kata cowok. Dikenalin nggak mau, kenal sendiri jaga jarak, dideketin menjauh. Mana ada yang berani sama kamu. Aku sebagai sahabat kamu turut prihatin."
Aku diam tapi…

Pernah Kukira Ini Tentang Cinta Ternyata Hanya Sahabat Setia

Kudatangi tempat persembunyiannya. Sudut taman kota di bagian pohon yang rimbun.
Selepas kau menghubungiku. Tapi tak ada kata-kata yang keluar, hanya isak tangismu yang terdengar di speaker handphoneku. Kini kudapati kau duduk sendiri.
"Ale," suaramu terdengar parau ketika melihatku berdiri di sampingnya.
"Kau kenapa lagi?" tanyaku seraya duduk di sebelahmu.
"Aku ada masalah dengannya. Aku sudah mencoba menghilangkan perasaan ini tapi tidak bisa," katamu sambil terisak.
"Sudah berapa lama kamu menangis di sini?" tanyaku.
Aku mengeluarkan tisu dari dalam tasku dan menghapus air matamu.
"Rasanya hatiku sakit banget, Le. Kemarin dia jalan sama cewek yang katanya teman baiknya. Ok aku bisa memaklumi karena dia berani jujur. Dia bilang aku juga sering jalan sama kamu jadi fair-lah. Tapi kali ini beda. Ini cewek cantik banget dan dia papasan denganku tapi nggak ngomong sama sekali coba. Hati mana yang nggak sakit."
"Dia sama sekali ngg…

PUTUS ITU MUDAH, YANG SULIT ITU DITIKAM KENANGAN

Klakson jalanan berbunyi melengking. Sebuah mobil berhenti di tengah jalan. Pengemudinya menyeberang. Aku tak terpengaruh dan tetap berjalan kaki. Toh dia tidak naik ke trotoar dengan mobilnya itu dan menghadangku.
Tapi tunggu ada seseorang yang berdiri di depanku dengan rok selutut dan sepatu dengan heels lima belas sentimeter. Aku mendongak. Lina sahabatku SMA. Dia langsung memelukku dan menyeretku.
"Kau tidak ingin klakson itu berbunyi terus kan? Ikut aku. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Mumpung aku balik ke Indonesia," paksanya.
Aku pun dengan sedikit malu dan menunduk minta maaf kepada mobil-mobil di belakang Lina. Bukan aku yang salah tapi entahlah kelakuan Lina memang dari dulu belum berubah. Nekat dan berani.
"Dingin? Kalau kurang dingin AC-nya biar aku tambah."
"Sudah, Lin. Nanti kalau kamu tambah bisa beku aku nanti."
Dia masih cantik seperti dulu. Polesan di wajahnya terlihat natural.
"Apa kabar kamu? Terakhir ketemu waktu…