Sabtu, 28 Juli 2018

Satu Nama Telah Mengunci Hatiku dan Itu Dia



"Ra, jangan bosan kalau aku bertanya tentang ini. Kamu sudah punya perasaan pada seseorang?"
Aku menggeleng.
"Astaga, Ra. Kapan kamu akan memikirkannya? Aku dulu juga begitu tapi setelah ke arah sini aku jadi sadar kalau kita seharusnya sudah menikah dan punya anak."
"Entahlah, Din. Satu pun tak ada yang berlalu lalang di kepalaku. Jika kau tanya nama satu orang saja aku tidak bisa menjawabnya." Aku beralasan.
"Tunggu kalau tentang Adam? Kamu masih stalking? Kamu itu ke Adam dulu cuma nge-fans kan?"
"Entahlah."
"Aduh, jawaban kamu itu seperti nggak punya perjuangan. Kehidupan percintaan kamu itu kayak sepatu flat tahu nggak? Gemes lihatnya."
Aku diam.
"Ra, aku itu paling susah nebak kamu. Dari kita kenal yang aku tahu kamu itu paling rumit kalau dengar kata cowok. Dikenalin nggak mau, kenal sendiri jaga jarak, dideketin menjauh. Mana ada yang berani sama kamu. Aku sebagai sahabat kamu turut prihatin."
Aku diam tapi otakku berpikir. "Apa aku harus bikin program tiga puluh hari mencari cinta?"
"Terus kalau setelah tiga puluh hari nggak dapat cinta mau apa hayo? Mau langsung dijodohkan?"
"Ya itu alternatif."
"Gila. Gila kamu, Ra. Aku tahu kamu pasti tidak mau."
"Aku harus bagaimana? Aku nggak tahu. Apa aku harus keluar dari kerjaan dan menemukan lingkungan yang baru lalu jatuh cinta. Arrggghhh!"
"Ya nggak begitu juga. Memangnya di tempat kerja kamu nggak ada yang bikin nyantol?"
"Semua sudah bercincin, Din."
"Nah, kalau sudah bercincin kan bisa minta itu dikenalin sama teman-temannya yang belum bercincin. Oh, aku tahu kamu pasti nggak mau."
"Din, apa ada yang salah sama otak dan perasaanku? Aku sudah berapa tahun coba seperti ini? Tahu-tahu lingkungan kita sudah banyak berubah, teman kita sudah menikah dan punya anak. Kamu sudah memiliki pasangan dan persiapan ke jenjang selanjutnya sedangkan aku masih duduk manis menikmati hidupku yang flat."
"Cobalah buka dirimu! Kalau misalnya Adam tiba-tiba melamar kamu apa kamu akan langsung menerimanya?"
Aku tertawa. "Itu imajinasi khayalan tingkat dewa. Adam nggak kenal aku, Din."
"Tapi menurutku kamu pasti belum tentu juga menerimanya. Pertimbangan kamu itu di luar kepala. Penuh sampai hal yang seharusnya simpel jadi rumit."
"Kamu tahu sendiri aku orangnya sensitif dan nggak gampang percaya orang."
"Masih ada lagi kamu itu keras kepala dan cueknya minta ampun," tambahnya.
"Itulah aku. Kamu tahu kan seperti apa aku. Cueknya aku bahkan untuk urusan hati."
"Kamu bisa berubah, Ra. Kamu mau aku carikan? Tipe kamu yang seperti apa? Nanti biar Anton ikut bantu."
"Nggak tahulah."
"Agamanya pasti dan orangnya baik. Itu dulu saja. Lainnya bisa kamu lihat waktu kenalan. Untuk urusan jadi nggak jadi tidak usah dipikirkan. Yang penting kamu ada usaha buka hati."
"Din, aku nggak bisa." Aku mengacak-acak rambutku. "Aku jadi pengen nangis ini kalau kamu maksa terus."
"Ayolah, Ra! Kamu keseringan nongkrong sama teman-teman cewek, teman cowok kamu bisa dihitung pakai jari. Kalau saja teman cowok kita masih single sudah aku seret mereka untuk membujuk kamu buat buka hati sampai kamu mau."
"Apa aku kena philopobia ya? Kamu tahu waktu Didi menyatakan perasaan aku kabur kan? Atau waktu menangkap sinyal Ergi ada perasaan aku menjauh dari dia. Dan lagi waktu si Akbar ngomong suka mulut aku refleks bilang no."
"Ah, itu mungkin karena kamu belum ketemu sama yang klik."
"Nggak, Din. Ini beda rasanya. Ini itu seperti ada sesuatu yang selalu mengganjal di hati dan aku nggak tahu apa. Mungkin aku harus ke psikolog."
"Nggak usah berlebihan, Ra."
"Aku sepertinya nggak bisa jatuh cinta, Din. Apa aku nikah sama orang yang nggak aku kenal dan nggak ada rasa saja? Biar sekalian hancurnya."
"Gila kamu. Nggak, nggak. Mungkin belum waktunya saja. Nanti kalau sudah ada yang klik pasti kamu akan nikah juga. Tapi nggak harus mengorbankan diri seperti itu. Nggak kebayang kan kita habiskan waktu sama orang yang kita kenal terus nggak pakai rasa. Aduh, itu nikah apa cuma ganti status!"
"Din, tapi kan mereka yang awalnya pakai rasa juga bisa cerai."
"Aduh, amit amit cabang bayi! Ra, kita pakai analogi. Kalau kamu beli baju, kamu pilih baju yang kamu suka atau yang nggak kamu suka?"
"Terserah saja."
"Aduh, susah kalau ngasih pilihan ke kamu. Otomatis pilih baju yang kita suka dong. Karena lebih nyaman dan pasti dipakai berkali-kali. Coba kamu pilih baju yang dari awal memang nggak suka tapi tetap kamu beli. Dipakai paling sekali kan karena nggak pe-de atau nggak nyaman."
"Itu kan baju. Baju nggak punya perasaan."
"Yaelah! Ini anak diajak mikir susah banget sih."
"Din, kalau dipikir-pikir orang zaman dulu kan banyak itu yang dijodohkan mereka nggak saling kenal bahkan nggak saling suka. Tapi mereka nikah dan hidup bahagia. Mungkin saja dari proses bertahun-tahun itu mereka timbul rasa. Aku mungkin harus begitu dulu kali ya. Asli kalau begini terus sepertinya nggak akan ada perubahan."
"Jangan, Ra! Jangan! Peluang ketemu orang yang baik di zaman now itu tipis. Janganlah! Saranku kalau mau seperti itu ikut ta'aruf sajalah sekalian."
Aku tertawa.
"Kok malah tertawa?"
"Aku liar, Din. Kamu tahu sendiri aku pergi ke sana kemari keluyuran, kalau udah sama pekerjaan susah dihubungi. Kalau suruh nulis kelebihan dan kekurangan jelas banyak kekurangannya. Aku pun tak punya visi misi yang jelas. Aku nggak punya impian muluk-muluk. Aku suka yang mengalir. Lihat aku kalau udah nyaman ya begini nggak kemana-mana. Diam di tempat."
"Nggak ada salahnya kan bikin proposal. Siapa tahu ada yang mau merubah kamu menjadi lebih baik."
Aku tertawa. "Jadi selama ini aku kurang baik."
"Ya bukan begitu juga. Tadi katanya banyak kekurangan. Nggak semua orang di dunia ini perfect."
"Din, kalau nanti aku dapatnya luar jawa dan harus melepas kerjaanku rasanya masih berat."
"Astaga cuek-cuek ternyata kamu mikir sampai ke sana. Jangan dipikirkan dulu itu. Jalani saja nanti kan bisa dibicarakan dengan pasangan. Kalau kamu belum apa-apa sudah mikir itu entahlah sampai kapan kamu akan menjomblo."
"Din, aku mikir juga kalau nanti kita nikah terus ikut suami, orang tua kita bagaimana?"
"Ih, dibilangin susah! Gemes aku. Ra, kalau semua kamu pikir sendiri kamu nggak akan menemukan jalan keluarnya. Mending cari dulu teman hidupmu itu setelah dapat, baru diajak mikir."
"Ah, Din memang kayaknya aku pasrah!"
"Yaelah! Berjuanglah! Kurangi itu main-main kamu dan jangan mikir kerjaan terus."
"Mikir kerjaan itu karena tuntutan. Masalah main itu buat menyeimbangkan hidup. Nggak selamanya kan kita kerja tanpa menikmati hasil kerja keras sendiri. Dan satu lagi aku bukan main-main, Din. Tapi aku itu cari pengalaman, memperluas konsep wilayah, nambah wawasan. Toh, nanti kalau sudah nikah punya anak akan semakin susah atur waktunya. Mumpung masih sendiri happy happy."
"Haduh, pemikiran kamu ini yang membuat kamu sulit dapat laki. Kamu terlalu nyaman dengan kesendirian kamu itu. Kamu sibuk dengan duniamu sendiri. Jadi kamu nggak pengen nikah punya anak?"
"Pengen, Din. Cuma..."
"Apa?"
"Mau nikah sama siapa?"
"Astaga. Aku sudah kasih alternatif ke kamu. Mau aku kenalin atau mau cari sendiri?"
"Bisa delivery order nggak?"
"Kamu pikir makanan? Sudahlah aku ngomong panjang lebar sepertinya percuma. Kamu masih belum mikir ke arah sana."
"Ya udah Din, antar aku ke psikolog!"
"Eh, ini anak! Ogah. Nggak mau. Pergi sendiri nanti siapa tahu psikolognya cowok terus kecantol. Kalau sama aku nanti jadinya nggak bisa kenalan."
Aku merengek menarik tangan Dinda.
"Cukup, Ra. Jangan berlebihan! Kamu itu cuma butuh pembiasaan. Aku setuju kalau kamu mau cari lingkungan yang baru tapi nggak usahlah sampai pindah kerja. Susah lho cari kerja zaman sekarang. Banyak orang di luar sana yang pengen kerjaan kamu."
Aku terdiam.
"Sudahlah. Ini sudah sore. Aku pamit ya. Nanti dicari orang rumah."
"Jadi nasibku?"
"Pertama buka diri. Kedua kalau ada yang mau kenalan atau dikenalin harus mau. Ketiga pelan-pelan nggak usah tergesa-gesa. Keempat nggak usah ke psikolog."
Di luar terlihat ada seorang laki-laki di depan pagar celingukan.
"Tuh dicari mas mas di luar. Ayo ah anterin keluar!" Dinda menarik tanganku.
"Cari siapa mas? Rara ini dia orangnya," cerocos Dinda sambil menunjuk mukaku.
"Rara Cantika?"
"Iya betul mas. Gimana?"
"Ini ada paketan."
"Hah, saya nggak pernah belanja online atau nyuruh orang buat kirim-kirim paketan. Ini juga kenapa sore-sore begini mas ngirimnya?"
"Sekalian jalan pulang mbak."
"Rejeki nomplok itu namanya, Ra. Udah sikat saja," bisik Dinda.
"Ya udah mas sini saya terima."
Aku menandatangani bukti terima. Pengantar paket segera pergi tapi sinyal-sinyal Dinda masih bertahan.
"Itu isinya apa ya?"
"Kepo! Katanya mau pulang. Sana sana!" seruku.
"Asli aku penasaran banget buka dulu dong! Nanti penasaranku bisa sampai rumah," pinta Dinda.
Aku pun membuka bungkusnya dan sebuah buku dengan tema pernikahan. Lalu aku tersenyum teringat Bunda yang gencar menceramahiku untuk segera menikah.
"Aku tahu siapa pengirim buku ini."
"Siapa?"
"Bunda."
Dinda tertawa terpingkal-pingkal. "Itu artinya kamu sudah disuruh nikah. Lihat saja judulnya. Disindir tapi nggak ada tanggapan. Bundamu itu sudah pengen nimang cucu. Kamu harusnya sadar. Memangnya alasan kamu selama ini ke Bunda apa kalau ditanya belum nikah?"
"Ya aku bilang bisa saja aku nikah tapi sama siapa, calonnya saja belum ada. Eh, aku malah dikasih daftar list anaknya ini onoh rumahnya sana. Anaknya temen pengajianlah, tetangganya temen kerja, dari temannya tetangga dan anak pinaknya."
"Pilihlah salah satu. Siapa tahu ada yang mirip seperti Adam."
Deg. Aku menoleh dan tertawa. "Kenapa harus seperti Adam?"
"Karena dia yang sanggup bikin kamu bertahan menjadi secret admirer selama sepuluh tahun dan itu amazing. Kamu nggak berpindah hati dan pikiran kamu. Karena hatimu sudah buat dia. Satu nama yang mengunci pintu hatimu. Adam. Itulah alasan kenapa kamu susah memulai hubungan dan banyak alasan."
Glekk.
Itulah alasan mengapa aku belum menikah.

-----------------------


Sabtu, 14 Juli 2018

Pernah Kukira Ini Tentang Cinta Ternyata Hanya Sahabat Setia



Kudatangi tempat persembunyiannya. Sudut taman kota di bagian pohon yang rimbun.
Selepas kau menghubungiku. Tapi tak ada kata-kata yang keluar, hanya isak tangismu yang terdengar di speaker handphoneku. Kini kudapati kau duduk sendiri.
"Ale," suaramu terdengar parau ketika melihatku berdiri di sampingnya.
"Kau kenapa lagi?" tanyaku seraya duduk di sebelahmu.
"Aku ada masalah dengannya. Aku sudah mencoba menghilangkan perasaan ini tapi tidak bisa," katamu sambil terisak.
"Sudah berapa lama kamu menangis di sini?" tanyaku.
Aku mengeluarkan tisu dari dalam tasku dan menghapus air matamu.
"Rasanya hatiku sakit banget, Le. Kemarin dia jalan sama cewek yang katanya teman baiknya. Ok aku bisa memaklumi karena dia berani jujur. Dia bilang aku juga sering jalan sama kamu jadi fair-lah. Tapi kali ini beda. Ini cewek cantik banget dan dia papasan denganku tapi nggak ngomong sama sekali coba. Hati mana yang nggak sakit."
"Dia sama sekali nggak hubungi kamu menjelaskan siapa perempuan itu?"
"Nggak, Le. Padahal aku sudah menghubungi dia berkali-kali. Pesan-pesanku pun belum ada yang dibalas."
Aku diam memutar otakku lalu tercetus aku harus melakukan sesuatu.
"Sebentar," kataku.
"Mau kemana?" tanyamu yang melihatku beranjak dari kursi.
"Tunggu di sini."
Aku melihat penjual es krim di depan tulisan taman. Kuhampiri.
"Bang, es krimnya dua."
Setelah menerima kembalian uang aku kembali dengan dua es krim di tangan. Kulihat tisu berserakan di depanmu. Kusingkirkan dengan sikuku.
"Sudah jangan nangis lagi. Ini biar pikiran kamu adem." Aku mengulurkan es krim untukmu. "Cepet di minum keburu meleleh."
Masih belum kudapati senyummu. Kau membuka bungkus es krim dengan begitu susahnya.
"Sini aku bantu bukanya!" seruku.
Kau melipat tangan di meja dan menyandarkan kepala di sana.
"Kau seharusnya denganku saja. Kalau denganku tidak akan ada yang namanya perselingkuhan."
Kau diam.
"Kau sudah tahu aku sejak lama kan. Aku mana bisa melihat kamu menangis. Beberapa kali pacaran, pacar kamu itu ada-ada saja kelakuannya."
Kau masih terdiam.
"Kalau saja dari dulu kamu sama aku nggak akan ada putus-putusan begitu dan nangis nggak jelas begini. Mereka juga nggak akan tahu bagaimana sedihmu itu. Kau juga sih kalau menangis pilih-pilih. Selalu di depanku. Kau takut jelek di depan mereka tapi tak takut jelek di depanku."
Isakmu bertambah keras. Kau bangkit dari sandaranmu. "Jadi kamu kesel sama aku karena aku sering nangis di depan kamu?"
"Nggak. Maksud aku kamu kalau sama dia frekuensi nangismu itu banyak daripada sama mantan kamu sebelumnya." Akhirnya aku menemukan kata mantan untuk mengaburkan perkataanku tadi.
"Aku sayang dia, Le," katamu seraya menyentuh jemariku. "Kamu juga tahu aku sudah memberikan hatiku sama dia."
"Kalau dia juga sayang kenapa dia sering buat kamu nangis? Kenapa dia nggak paham karakter kamu? Kalau kamu sensitif, gampang cemburu, cengeng."
Kau diam lagi tapi kali ini tatapanmu mengarah pada kedua bola mataku. Isakmu berhenti mendengar telepon masuk.
"Dia, Le," katamu seraya menunjukkan layar handphone.
"Nggak usah diangkat," kataku geram.
Kau tersenyum. "Aku akan angkat sebentar," katamu sambil menjauh dariku.
Aku melihat senyummu mengembang dari jauh. Semudah itu kau kembali tersenyum dengannya setelah tangismu pecah di depanku.
Kau hanya memberiku wajah sedih, isak tangis dan segala permasalahan yang tak bisa kau pecahkan dengannya. Apakah di matamu aku hanya tempat berteduh yang akan kau tinggalkan ketika hujan reda? Miris. Aku tak bisa beranjak. Kau seperti memberiku ruang tapi dia udaranya yang membuatku sesak. Bagaimana aku bisa berpindah sementara harapku masih bersamamu. Kau selalu menghantuiku dengan tangisan itu.
"Le, dia minta maaf. Aku sedikit lega. Ternyata itu hanya kakak sepupunya. Tadi dia baru nyetir jadi nggak angkat teleponku," jelasmu saat kau kembali. Penjelasan serupa seperti itu lagi. Entah mengapa aku menjadi sangat kesal kepada pacarmu itu.
"Kau seyakin itu dengannya?" Aku sudah membuka bungkus es krim dengan sempurna. Lelehannya sudah terasa dingin tapi perhatianmu masih padanya yang hanya menelepon.
"Le, kau tahu aku sayang dia. Jadi aku harus mempercayainya. Aku tidak ingin mengulangi kisah yang sama. Dimana aku yang disalahkan karena tidak mempercayainya."
"Saling percaya itu baik. Tapi kalau kepercayaan kamu dibuat permainan olehnya aku nggak suka. Kemarin dia bilang teman baiknya, lalu sekarang saudara sepupunya. Ini kedua kalinya. Kamu seharusnya berhati-hati."
"Le, terima kasih karena kamu mengkhawatirkanku. Kali ini aku tidak akan salah lagi. Dia yang kukenal orangnya jujur kok. Akunya saja yang terkadang sensitif."
"Ok. Kalau kamu seyakin itu. Kamu harus ingat resiko kata-kata kamu sekarang. Mempercayainya boleh tapi jangan pernah kamu beri dia kepercayaan seratus persen. Jangan!"
"Iya, Ale. Oh, ya mana es krimku. Aku sampai lupa."
Aku mengulurkan es krim yang sudah meleleh.
"Yah, sampai leleh begini," katamu. Kau langsung menjilat es krim yang hampir menetes ke bawah sambil tertawa.
Lihat bagaimana kau tersenyum. Matamu super besar itu dan tarikan ujung bibirmu. Kau selalu membuatku terjebak dalam kerumitan. Bagaimana aku bisa meninggalkanmu jika setiap kali kau menangis akulah yang pertama kali melihatmu tersenyum dengan mata bengkak.
Terkadang aku merasa lega. Namun kelegaan itu hanya setengahnya. Aku tidak bisa menjagamu seratus persen. Kau tak mengizinkanku menjadi bagianmu. Aku selalu jadi bagian sisi sedihmu. Ketika sedihmu itu hilang kau seolah pergi ke sisinya. Sementara aku menunggumu bersedih lagi. Bukannya aku jahat tapi itu satu-satunya kesempatan kau akan meneleponku dan membutuhkanku. Aku tetap akan menuju padamu sampai aku bisa menjamin kau bahagia. Itulah alasan mengapa aku belum menikah.
"Le, es krim kamu leleh itu," tunjukmu.
Sepertinya nasib es krim sama denganku. Tak dihiraukan hingga meleleh dan kehilangan rasa dinginnya. Ketika aku membukanya bagian jemariku penuh celemotan es krim. Persis seperti perasaanku yang berserakan.
Kau tertawa. "Ale, Ale. Kau yang bilang harus cepat dihabiskan tadi. Sekarang es krimmu yang meleleh parah."
Iseng aku mencoret wajahmu dengan jemari yang dipenuhi es krim.
"Yah, Ale. Bedakku jadi luntur."
Kau cemberut bibirmu manyun.
Aku menghapus coretan es krim dari pipimu. "Maaf, maaf. Aku bercanda."
"Satu sama." Kau tertawa puas saat mencoret es krim di hidungku.
Seharusnya kau selalu seperti ini. Tertawa bahagia di depanku. Bukannya menangis dan menyuruhku membunuh perasaanku.
"Habis ini mau ke mana?" tanyaku.
"Aku mau ketemu dia," ujarmu sambil tertawa bahagia.


---------------
Pernah ku tawarkan isi hatiku
Tuk redakan setiap luka hatimu
Pernah kuungkap tuk milikimu
Kau membisu apakah itu jawabmu
Pernah kukira ini tentang cinta
Oh ternyata hanya sahabat setia
Pernah kau minta bunuh cintaku
Kau membisu takkan pernah jawabku
Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjalin kisah cinta nyata dan terluka
Setiap tetes air mata slalu kau menangis di pelukku
Namun setiap saat kau bahagia selalu kau memilih bersamanya
Pernah terfikir tuk tinggalkanmu
(Club Eighties)


Minggu, 01 Juli 2018

PUTUS ITU MUDAH, YANG SULIT ITU DITIKAM KENANGAN




Klakson jalanan berbunyi melengking. Sebuah mobil berhenti di tengah jalan. Pengemudinya menyeberang. Aku tak terpengaruh dan tetap berjalan kaki. Toh dia tidak naik ke trotoar dengan mobilnya itu dan menghadangku.
Tapi tunggu ada seseorang yang berdiri di depanku dengan rok selutut dan sepatu dengan heels lima belas sentimeter. Aku mendongak. Lina sahabatku SMA. Dia langsung memelukku dan menyeretku.
"Kau tidak ingin klakson itu berbunyi terus kan? Ikut aku. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Mumpung aku balik ke Indonesia," paksanya.
Aku pun dengan sedikit malu dan menunduk minta maaf kepada mobil-mobil di belakang Lina. Bukan aku yang salah tapi entahlah kelakuan Lina memang dari dulu belum berubah. Nekat dan berani.
"Dingin? Kalau kurang dingin AC-nya biar aku tambah."
"Sudah, Lin. Nanti kalau kamu tambah bisa beku aku nanti."
Dia masih cantik seperti dulu. Polesan di wajahnya terlihat natural.
"Apa kabar kamu? Terakhir ketemu waktu lulusan. Lama benar."
"Kamu cari tempat kuliahnya kejauhan. Harus ya ke Eropa?"
"Maaf, itu impianku mumpung dapat beasiswa. Eh, iya apa kabar Dandi?"
"Dandi?" Aku memincingkan mata. Sepertinya nama itu pernah kudengar sebelumnya. Aku menggali sedikit demi sedikit ingatanku.
"Iya, dulu pas aku berangkat ke Eropa masih sama Dandi kan?"
"Dandi siapa?" Namanya kutemukan di sudut.
"Astaga, pacar kamu. Dandi kan namanya?"
Dandi makhluk absurd yang pernah aku kenal. Tapi namanya cinta seabsurd apapun kalau sudah terlanjur terjebak mau bagaimana lagi.
"Iya sekarang aku ingat."
"Sekarang ingat? Jadi kalian sudah the end?"
"Sudah beda episode kehidupan."
"Hah? Kok bisa? Kalian dulu kemana-mana bareng, naik motor bareng. Sampai ke sudut-sudut terpencil kota ini kalian hafal. Kalian rajin posting puisi sahut-sahutan di medsos. Kalian hobi tuh kuliner dari kaki lima sampai resto elit. Kalian sepertinya saling mengerti dan cocok banget."
"Nyindir?"
"Lho aku benar kan?"
"Iya ada benarnya tapi tak semuanya benar."
"Yang bagian apa? Cerita dong. Lama tak mendengar cerita-cerita cintamu."
Makhluk itu? Apa aku harus bercerita?
"Atau kita ke Kumbang Caffe dulu minum-minum kopi? Biar enak ngobrolnya. Kamu free kan?"
"Ya aku bebas. Tapi jangan ke sana itu tempat nongkrongku dulu sama Dandi," potongku sebelum berlarut.
Lina tertawa. "Masih cinta kok putus? Ayo ceritalah aku jadi penasaran!" Lina mendesak.
***
Putus itu mudah. Percayalah. Kau hanya menyebutkan satu kata itu "putus" atau tambahlah satu kata lagi hingga menjadi "kita putus". Lalu tidak saling menghubungi atau kadang salah satu dari kita lupa memencet nomernya dan membuat ge-er.
"Kenapa hubungi aku?" tanyanya.
"Maaf kepencet," jawabku.
"Bilang saja kalau kamu masih rindu," katanya membuatku membunuh telepon.
Semenjak itu kontaknya aku delete. Tapi tidak dengannya. Suatu hari.
"Halo ini nomernya siapa ya? Nomernya belum aku simpan," tanyaku.
"Dandi. Yah, kamu sudah hapus nomerku?"
"Maaf salah sambung," kataku seraya cepat memencet tombol merah. Dan reaksiku beberapa saat adalah tersenyum gila sebelum sadar kita sudah putus. Dia masih menyimpan nomerku. Itu artinya masih ada kemungkinan dia masih cinta.
Buku diary yang penuh kenangan dengannya kubuka. Kubaca berulang kali dan tertawa. Segila itu aku dengannya menelusuri sudut terpencil kota. Kumpulan foto gila entah berapa album saja aku mengkoleksinya. Dan setelah putus dengannya harus kurelakan kubakar diary dan tumpukan-tumpukan album itu tanpa tersisa. Kupikir itu akan mampu membuat lupa tapi selalu ada hal lain yang muncul berikutnya.
"Dinda, nongkrong yuk!"
"Kemana?" tanyaku yang asyik memegang buku.
"Orchid?" Jemari Cindy menutup bukuku.
"Jangan aku pernah ke sana dengan Dandi."
"Intermilan? Bakso Mie Ayam?"
"Aku juga pernah ke sana dengan Dandi."
"Oslo Fantastic?"
"Itu juga."
"Warung Mang Udin?"
"Apalagi itu. Sering."
"Mpok Mimin?"
"Itu juga."
"Lama-lama capek ngajak kamu nongkrong. Kamu sama Dandi kebanyakan menciptakan kenangan di semua sudut kota ini. Itu sebuah kesalahan. Ujung-ujungnya gagal move on kan," celetuk Cindy geram.
Gagal move on adalah fase maju mundur. Maju ketika kamu merasa berhasil melupakan dan mundur ketika hasilmu terpatahkan oleh banyak kejadian serupa, perkataan atau bukti fisik.
"Din, katanya semua foto Dandi sudah kamu bakar. Kok ini masih ada satu?" tanya Cindy yang usil membongkar-bongkar rak bukuku.
"Astaga. Itu kamu ambil aja sana!" seruku refleks.
"Ih, sadis ya! Dulu cinta-cintaan sekarang pura-pura mau move on tapi gagal maning gagal maning."
"Cin, cari lagi siapa tahu masih ada yang terselip di dalam buku." 
"Ini pasti sengaja disembunyikan jadi waktu khilaf biar bisa dipandangi. Dandi oh Dandi!" ejek Cindy membuatku menimpuknya dengan buku.
Dan orang yang suka menyebut nama mantan kamu sering kali adalah sahabat kamu sendiri. Sadar atau tidak justru sahabat kamu yang membuat kamu gagal move on
"Kamu sudah tidak membuat bucket list lagi?" tanya Cindy yang sedang asyik makan snack di atas tempat tidurku. 
"Buat apa?" 
"Jadi dulu kamu bikin buat apa?" lanjutnya.
"Buat apa ya? Biar tidak bosan saja jadi setiap bulan harus ada plan, target dan realisasi." 
"Dan semua itu kamu lakukan dengan Dandi." 
"What? Kenapa harus Dandi lagi?" 
 "Karena aku tidak pernah kamu libatkan dalam rencanamu," kata Cindy menyadarkanku satu hal. Selama ini aku selalu bicara tentang Dandi dan semua rencanaku pada Cindy. Tapi dia tidak pernah masuk dalam bagian rencanaku. 
"Aku menyesal sekarang. Terlalu banyak kenanganku dengan Dandi sampai-sampai aku tak memiliki banyak kenangan bersamamu kecuali bersama buku, tugas-tugas dan belajar." 
"It's okay! Yang penting kamu sudah sadar. Kemarin khilaf. Jadi kita mau melakukan apa hari ini?" 
"Kita? Apa ya? Bagaimana kalau cari siomay? Kangen makan siomay." 
"Nanti ingat Dandi lagi," celetuk Cindy. 
"Semakin ke sini aku semakin belajar kalau kita harus melawan kenangan." 
"Super. Sudah sembuh mbak?" Cindy menggodaku. 
"Ayo beli siomay!" 
"Jadi sudah siap bikin puisi lagi? Puisinya ganti tema galau, patah hati. Cinta-cintaan mah lewat." 
Aku tersenyum. Di balik sahabat yang mengingatkan kita pada mantan sebenarnya adalah keuntungan untuk kita. Karena kita sering mendengar namanya disebut ternyata justru itu yang membuat kita menjadi biasa saja. Menyebut nama mantan adalah cara sahabat untuk membuat kita bertambah kuat, melawan kenangan. Walaupun sahabat sering menyebut nama mantan tapi dia menyiapkan segala lelucon yang membuat kita tidak merasa sendiri. 
***
"Jadi alasan kamu putus dari Dandi apa?" tanya Lina yang menatapku penasaran. 
"Alasanku?"
Haruskah kuceritakan bagaimana Dandi di mataku sebelum dan sesudahnya. Tapi bukankah itu hanya akan membuat diri kita rendah di mata orang. Dulu pas sayang-sayangnya dipuji, giliran putus dimaki. Tidak-tidak aku ingin menahannya. Aku akan menceritakan hal yang baik-baik tentang Dandi. 
***
"Beb, bagusan yang biru atau yang pink?" tanyaku gemas melihat baju lucu di salah satu toko.
"Bagusan kalau tidak beli." 
"Yah, beb tapi baju ini lucu. Lihat ada renda-renda di bagian kerahnya. Susah carinya." 
"Siapa juga yang mau perhatikan kerah berenda-renda." 
Itulah Dandi. Di balik sikapnya itu tersimpan positif untukku belajar hemat dan memanfaatkan barang yang sudah ada. 
"Ini fashion, beb. Kamu sih tidak mengerti tentang fashion." 
"Baju kamu itu sudah banyak. Hemat dikitlah. Lebih baik buat jalan-jalan beli bensin. Hitung-hitung cari pengalaman. Pengalaman mahal harganya. Kamu tidak bisa mendapatkan petualangan menjelajah kota-kota sampai sudut terpencilnya kalau tidak denganku." 
Ok. Itu membuatku kalah dan menyerah. Kuletakkan lagi baju ke dalam gantungan dan keluar toko. Akhirnya kita cari makan.
"Beb, aku tak sukalah makanan macam itu." 
"Jangan pernah menghina makanan. Kamu tahu kenapa dia diciptakan jadi makanan?" tanya Dandi yang membuatku menebak. 
"Buat dimakan." 
"Nah, itu tahu! Bayangkan makanan itu kamu. Lalu tidak ada yang menyentuh, tidak ada yang memilih, tidak ada yang memakan. Sedih kan? Padahal takdir dia diciptakan untuk dimakan." 
"Jadi ini aku coba makan ya? Kalau aku tetap tak suka aku lihat kamu makan saja ya?" 
Di balik ceramah absurdnya aku tahu dia ingin aku tak pilih-pilih makanan dan belajar hidup apa adanya. Namun hitungan menit setelahnya aku berlari meninggalkan Dandi yang asyik makan. Aku memuntahkan isi perutku di sebuah toilet umum dan kembali ke tempat Dandi dengan wajah tidak terjadi apa-apa.
"Jalan ke pantai yuk!" ajaknya.
"Hah, kamu tidak lihat kostumku? Di pantai dingin anginnya kencang," keluhku.
"Biasanya perempuan senang kejutan," tukasnya.
"Tapi ini beda, beb. Ini berhubungan dengan masalah kesehatan." 
"Sudahlah, beb. Kalau masuk angin bisa kerokan atau nanti kita beli jaket di jalan. Kalau ada yang jual kita mampir," bujuk Dandi. 
Aku tahu dia suka membuat kejutan. Kadang kejutan itu menyenangkan. Dia ingin membuat bahagia. Tapi hari itu terjadilah. 
Finally, di pantai tanpa jaket.
"Wohoo! Selamat datang di tepi pantai," katanya terlihat senang.
"Beb, yang jual jaket di mana?" 
"Yah, aku lupa. Di sini tak ada yang jualan. Ini pantai masih sepi. Aku sengaja mau eksplore di sini. Maaf ya." 
Aku mencoba menahan diri. Aku tahu di jalan mungkin ada yang jualan apalagi saat lewat di pasar pasti ada. Tapi Dandi terus melaju dan bodohnya kubayangkan pantai yang ramai penjual. 
"Dandi, aku lapar." 
"Kita baru sampai sebentar lagi ya. Habis ini kita cari makan." 
Dia selalu mengutamakan tempat tujuannya. Mengeksplore setiap sudutnya. Memotretnya. Ketika puas barulah dia merespon kemauanku. 
"Yuk, cari makan!" 
Aku sudah mencengkram perutku. Angin yang kencang beberapa kali membuatku bersin. Dia bilang tempat itu masih sepi dan terbayang setelah menempuh puluhan kilo meter dengan motornya barulah kami menemukan sebuah warung. 
"Beb, ini menunya kenapa pedas semua?" keluhku.
"Biasanya doyan kan? Adanya warungnya ini. Daripada tidak makan. Tambah lapar. Nanti sakit." 
Sakit? Akhirnya kata-katanya keluar tapi dia tidak menangkap sinyal tubuhku yang menahan sakit. Maagku kambuh dan sepertinya angin kencang membuat badanku mulai tak enak. 
Dua piring nasi dan ayam penyet di atas meja. Dua gelas es teh manis. 
"Beb, kok yang dimakan nasinya saja? Itu ayamnya juga." Dandi menunjuk ayam merah penuh cabai.
"Beb, aku lihat sambalnya sudah ngeri. Itu cabai semua." 
"Namanya juga sambal mentah, beb. Justru itu kenikmatannya."
Aku mengamati kengerian cabai yang menyala di atas ayam dan dengan lahapnya Dandi menghabiskan sampai tersisa tulangnya. 
"Beb, itu sudah makannya? Mubadzir lho kalau tidak dimakan." Dandi bertanya.
"Aku menyerah. Sepertinya perutku sedang tidak bersahabat, beb. Hari ini aku tidak bisa menghabiskannya." 
"Kamu kebiasaan. Sini aku suapin!" 
Jika Dandi pikir itu romantis bagiku tidak. Aku menolak.
"Beb, aku tak bisa makan sambal hari ini." 
"Kenapa? Satu suapan saja. Ini sudah terlanjur di tanganku. Ayolah!" serunya
Dan sendok itu mendarat juga di mulutku. Dandi tak pernah tahu efeknya tapi aku akhirnya memuncak. Aku meledak. Hal sepele kecil yang menumpuk-numpuk membuatku gerah.
"Cukup, Dandi." 
"Kamu marah, beb?" 
"Sudah cukup hari ini aku mau pulang. Aku lelah lagian sudah sore nanti kemalaman."
Dia sudah bisa menangkap wajahku yang mulai tak menyenangkan. Akhirnya dia buru-buru mengantarku pulang.
"Aku minta maaf kalau aku punya salah." Ia menyadari ada yang tidak beres denganku. Sepanjang jalan aku mendiamkannya. 
"Dandi," panggilku seraya tersenyum.
"Ya." 
"Aku mau kita putus," tegasku.
"What? Kenapa?" 
"Karena kita tidak saling pengertian."
"Bagaimana bisa kita sudah empat tahun bersama? Kamu bilang aku tidak pengertian?" 
"Iya karena kamu tak pernah mengerti tentangku." 
"Tentang hal apa? Aku tahu kamu senang aku ajak jalan-jalan, kuliner, ke tempat yang instagramable, aku mau menemani belanja, menemani saat ada acara tertentu, menjemputmu kalau sedang tidak sibuk." 
"Itu dia. Jadi itu yang ada dipikiran kamu? Kamu tidak tahu kalau aku tidak bisa terkena angin kencang atau angin malam, aku punya sakit maag, aku muntah waktu kamu paksa aku makan makanan yang sama sekali aku tidak suka, kamu memang menemaniku belanja tapi aku tak pernah merasa memiliki kebebasan." 
"Kamu tak pernah cerita." 
"Aku sengaja. Sengaja mencari tahu seberapa pedulinya kamu, seberapa pekanya kamu. Sekarang aku sudah tahu dan aku ingin kita putus." 
"Nanti kamu nangis. Guling-guling di kasur, nunggu telepon dariku, mau makan piringnya ada wajahku, mau belajar ingatnya aku dan kalau kamu rindu siapa yang bisa menenangkan kamu coba? Atau kalau kamu mau ke suatu tempat siapa yang akan mengantarmu?" 
"Aku akan baik-baik saja. Kita dulu bukan siapa-siapa. Aku bisa menjalani hidup seperti saat belum mengenalmu." 
"Semudah itu? Yakin? Nanti kangen. Masih cinta kan? Tapi minta putus." 
"Aku serius." Sesaat setelahnya aku bersin. Badanku mulai terasa demam. "Dandi, sepertinya aku harus masuk." Aku bersin lagi.
"Jadi kita benar-benar putus? Mulainya besok pagi kan? Nanti malam aku masih bisa telepon kamu kan?" 
"Sekarang, detik ini." 
"Ok. Itu sangat mudah. Kalau nanti kamu telepon aku, tenang masih akan aku angkat. Kalau kamu mau cerita aku masih siap mendengarkan." 
Perjuangan putus yang melelahkan. Ketika kamu serius tapi dia menganggapmu bercanda. 
***
"Jadi malam itu juga kalian putus?" tanya Lina masih sambil menyetir. 
"Iya." 
"Padahal sudah empat tahun. Sayang sekali. Waktu aku pergi dulu yang kudengar dari Cindy kisah cinta kalian yang aneh-aneh dan sekarang waktu aku balik kalian sudah end." 
"Takdir mungkin." 
"Putus itu mudah ya tapi perjuangan setelahnya melelahkan. Karena kamu sepertinya belum bisa move on dengan sempurna." 
"Kok kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" 
"Waktu aku bilang Kumbang Caffe kamu bilang jangan. Artinya itu masih tersimpan kenangan."
Aku diam.
"Kalau kamu berani ke Kumbang aku anggap move on kamu sudah sempurna."
"Kamu pikir metamorfosis? Jadi aku masih ulat?" 
Lina tertawa. "Absurdnya Dandi sepertinya menular dan kamu belum bisa lepas dari karakter baru itu." 
"Apa?" 
"Kamu sadar tidak? Dulu kamu itu calm, kutu buku, kalau ngajak pergi paling ke perpustakaan atau toko buku dan Dandi sudah menciptakan Dinda yang baru." 
Benar kata Lina. Dandi telah menciptakan dunia yang baru. Saat dengannya dan berubah menjadi tanpanya lagi adalah dua dunia yang jungkir balik. Karena dunia itu berubah, seorang Dinda pun harus ikut berubah. 
"Aku berani ke Kumbang. Kita ke sana," tegasku. Aku memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan pahit di sana apapun yang terjadi.  
Lina mengerem mendadak. "Aku tidak salah dengar? Wow! Sekarang kau jadi pemberani. Kau mengambil tantanganku." Lina pun ambil jalur putar balik. 
"Welcome to Kumbang," ucap Lina senang sambil mengepakkan lengannya seperti bersiap terbang saat sampai di depan caffe.
Aku menenangkan diriku menarik nafas panjang seperti masuk ke medan pertempuran. 
Lina merangkulku. "Let's go! Aku yang traktir. Kita masuk! Sudah lama aku tidak ke sini. Desain ruangnya sepertinya sudah banyak berubah."
Suara pintu yang didorong Lina bergemerincing.
"Selamat datang. Untuk berapa orang?" Seorang waiter menyambut kami.
"Dua orang," jawab Lina.
"Merokok atau tidak?"
"Yaelah mas mana mungkin wajah kita seperti princess begini merokok." 
Mas waiter tersenyum. "Berarti saya pilihkan no smoking area ya. Silahkan ikuti saya!" 
Aku menatap satu sosok yang duduk dan sibuk dengan laptopnya. Lengan kemeja di gulung, di depannya segelas cappucino yang masih belum tersentuh. Saat ia mengangkat telepon matanya menatapku. Aku langsung melempar pandanganku ke Lina yang berjalan mengikuti waiter. 
Aku pasti sedang bermimpi. Sosok itu sangat mirip dengannya tapi berkacamata. Mungkin aku berhalusinasi. 
"Dinda," panggilnya dan membuat Lina menghentikan langkah. 
"Oh my God! Ini yang namanya takdir," celetuk Lina senang. Aku tahu kenapa Lina bilang ini takdir. Ya karena sepanjang perjalanan kami bicara tentang Dandi.
Sejauh apapun kamu melangkah, berusaha melupakan, kamu tidak bisa lari dari yang namanya takdir. 
"Ini Lina kan? Wow, sekarang tambah cantik."
"Terima kasih. Senang melihatmu lagi, Dandi," kata Lina seraya melirikku.
Putus itu mudah tapi perjuangan setelahnya sulit karena hari ini aku tidak hanya mengenangnya. Aku bertemu dengannya artinya ingatanku tentangnya kembali. Kejamnya, aku merasa ditikam oleh kenangan.
Itulah alasan mengapa aku belum menikah.
***

-------------------
Makan di resto terenak
Membaca di sudut paling tenang
Menonton pertunjukan musik
Telusuri jalanan dari malam hingga pagi
Kita pernah lama bersama
Semua titik di kota ini adalah kita
Walau kau putuskan untuk pergi
Cerita kita tetap kan abadi
Percayalah sayang, berpisah itu mudah
Tak ada kamu dihidupku, aku mampu
Namun menghapuskan semua kenangan kita
Adalah hal yang paling menyulitkan untukku
Simpan baju kesayangan
Tutup album foto ku rapat rapat
Buang buku-buku puisi
Mengganti semua dekorasi
Semua hal yang kucoba lupakan
Selalu berujung padamu
Semua tempat yang aku datangi
Selalu ada kamu
Kamu lagi
Kamu kamu lagi
Kamu lagi (Rizky Febian & Mikha Tambayong)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...