Selasa, 01 Mei 2018

Aku Sedang Mencintaimu



"Bi, Bian telepon Katty gih! Udah mau bubar masih belum datang juga," seru Mely yang sedang sibuk menulis.
"Ini orangnya," kataku seraya menunjukmu.
Kau tersipu dan melewatiku. Kau meminta maaf pada semua orang.

Hei cantik. Bibirmu berseri. Lipstik apa yang kau pakai sekarang membuatmu tak lagi kelabu.

"Katty datang sendiri aja? Pacar kamu mana?" tanya Tasya seraya menyenggol badanmu. Kau hanya tersenyum.
Kau duduk pas di kursi berhadapan denganku.
"Katt, gimana kabarmu?" tanya Jonas.
Kau hanya tersenyum lagi.
"Kau bisa lihat sendiri, Jo. Katty baik-baik saja. Jangan diladeni Jonas, Katt. Dia cari perhatian. Cari sasaran baru," celetuk Mely.
"Kamu patah hati lagi, Jo?" tanya Tasya sambil menertawakannya. "Aku pikir klub kita sudah bubar. Aku sudah bahagia dengan pacar, Mely sudah punya suami. Katty sudah punya pacar. Tinggal Bian yang abu-abu."
"Dua cowok di klub kita memang dari dulu abu-abu," tambah Mely.
Kau tiba-tiba tertawa keras dan membuat kaget.
"Katt, Katty. Are you okay?" Mely mencubit pipimu.
"Kalian masih belum berubah. Mana bisa kita bertahan jadi klub patah hati kalau setiap bertemu kalian selalu lucu. Pantas saja kita bubar," katamu terus tertawa.
"Katt, kalau kamu ketawa terus aku nanti bisa jadi jatuh cinta sama kamu," ujar Jonas membuatku merinding campur kesal.
"Modus terus kamu, Jo," celetuk Tasya.
"Nggak apa-apa usaha," ujar Jonas penuh percaya diri.
"Jo, Katty sudah ada yang punya," kata Mely mengingatkan.
"Selama janur kuning belum melengkung, masih bisa nikung kok," canda Jonas.
"Gila kamu, Jo!"
"Haduh sudah jam empat kelewat pula. Aku ada acara keluarga. Aku nggak bisa lama-lama. Yang penting kita berlima sudah kumpul dan aku sudah bahagia acara ini terealisasi," jelas Mely sambil merapikan kertas-kertasnya.
"Yah, Mely! Aku baru saja datang," keluhmu tak rela Mely pamit.
"Maaf ya, Katt. Aku sudah bilang kan di telepon, aku cuma bisa sampai jam empat dan ini sudah kelewat lima menit," jelas Mely sambil cipika cipiki pada Tasya dan denganmu.
"Aku nggak Mel?" canda Jonas.
"Sorry Jo ini cuma buat cewek, suami dan anakku."
Kalian semua tertawa. Tapi aku hanya memperhatikan senyumanmu.
Hei cantik. Kau datang sendiri kemari. Bolehkan hari ini aku mengantarmu.
"Mely udah out. Tinggal berempat. Mau kemana kita?" tanya Tasya.
"Bubar, bubar. Katty aku antar pulang ya?" Jonas terus berusaha mendapatkan kesempatan. Kesal campur aduk.
"Jo, rumah kita kan searah," potong Tasya.
"Memangnya kenapa?"
"Ya kalau mau antar pulang aku aja. Katty biar sama Bian. Mereka kan searah. Kalau sama kamu berlawanan arah."
"Lha kalau Katty-nya mau diantar aku. Mana bisa nolak." Jonas menjulurkan lidahnya mengejek Tasya.
"Aku diantar Bian saja. Kamu nggak keberatan kan Bi?" Kau menawariku tanpa kuminta.
"Ah, aku nggak keberatan! Kamu ringan kok," jawabku.
"Garing, Bi. Ya udah berarti kita langsung pulang nih nggak kemana-mana?" tanya Tasya memastikan.
"Iyalah. Kalau sama kamu sih mending cepet-cepet pulang. Kalau nggak nanti bisa dipukul habis sama pacar kamu."
"Ya nggaklah. Dia mah kalau sama kamu nggak bakalan jealous. Dia udah tahu kamu luar dalam."
"Ya udah yuk balik. Biar kalian lanjutin perangnya nanti di jalan," celetuk Katty sambil cekikikan dan berjalan keluar.
Aku buru-buru ke parkiran dan meloby pak satpam untuk pinjam helm untukmu.
"Bawa helm dua?" tanyamu.
"Pinjam pak satpam," jawabku.
"Nanti kamu balik ke sini lagi berarti. Kalau gitu aku naik ojek online aja."
"Jangan, jangan. Biar aja. Aku nggak apa-apa kalau mesti balikin helm ini ke sini lagi daripada biarin kamu naik ojek online."
"Serius?"
"Kamu lupa aku pernah kan hujan-hujan nganter kamu pulang terus balikin helm ke sini. Paginya aku masih baik-baik aja."
"Kamu dulu sakit. Tapi pura-pura sehat," katamu seraya tersipu malu.
"Serius aku dulu sehat," tukasku.
Jonas mengklakson kami. Tasya melambai dan bilang duluan.
Aku menyalakan motor dan kau mulai naik.
"Katt, pacar kamu nggak marah kan?"
"Pacar apaan. Aku nggak punya."
"Itu tadi Tasya bilang kamu punya pacar."
"Itu biar Jonas nggak macam-macam. Kamu tahu sendiri kan Jonas orangnya seperti apa," jelasmu.
Entah ada perasaan lega masuk ke dadaku.
"Kamu sendiri pacarnya marah nggak nanti?" tanyamu balik.
"Pacar siapa? Kan aku abu-abu." Aku tertawa mengingat kata-kata Mely tadi.
"Iya nggak jelas ya, makanya aku tanya biar jelas," katamu sambil tertawa.
"Aku nggak punya."
"Oh, kamu nggak punya. Nah, kalau begitu berarti kamu masih lurus-lurus aja."
"Kamu kapan terakhir pacaran Katt?"
"Aku? Ya terakhir waktu kamu pukul mantan aku di depan toko. Terus kamu antar aku pulang hujan-hujanan."
"Masak sih? Selama itu. Itu sudah tiga tahun lho."
"Iya."
"Kamu belum bisa move on dari dia?"
"Udah."
"Syukurlah."
"Kalau kamu terakhir kapan?"
"Waktu masuk klub patah hati."
"Wah itu lebih lama lagi. Kamu gagal move on atau gimana?"
Aku tersenyum.
"Kamu nggak jawab?"
"Jawab kok. Ini baru mau jawab."
"Terus apa?"
"Sebenarnya aku suka sama seorang cewek, Katt. Tapi dia nggak peka."
"Memangnya udah pernah ngomong kalau suka?"
"Ya belum sih. Antara malu sama takut ditolak."
"Ya kalau nggak pernah bilang cewek mana mau mengerti. Bi, dengerin baik-baik ya. Cewek itu sebenarnya punya radar yang tajam urusan seperti itu. Cewek itu pintar mengkait-kaitkan kejadian-kejadian mereka. Mereka bukannya nggak peka tapi cewek butuh pembuktian atas hipotesis mereka. Meskipun kadang ada cewek yang merasa sinyal yang ditangkap kenceng padahal nggak. Gara-gara mereka salah mengambil hipotesisnya dan dibutakan cinta."
"Gitu ya? Jadi macam bikin bab satu dulu, bab dua lalu bab tiga. Habis itu baru penelitian. Kayak skripsi aja?"
"Ya kadang memang harus pakai pola pikir yang begitu, Bi. Biar nggak salah langkah."
"Ribet juga ya. Jangan-jangan cuma pikiran kamu. Cewek-cewek lain nggak begitu." Aku tertawa.
"Mungkin buat yang pernah patah hati seperti aku ada pemikiran khusus."
"Jadi kamu bisa nebak siapa orang yang suka sama kamu?" tanyaku sembari harap-harap cemas.
"Bisa tapi nggak yakin."
"Terus siapa yang suka sama kamu?"
"Jonas misalnya."
"Kalau itu aku juga sudah tahu."
"Ada satu lagi tapi aku nggak yakin."
"Siapa?"
"Mau tahu aja. Rahasia."
"Jadi sekarang main rahasia. Nanti kalau patah hati lagi telepon suruh jemput. Terus suruh menemani makan."
"Yah, diungkit lagi dia."
Aku tertawa.
"Ada. Laki-laki ini sudah aku kenal dari tujuh tahun yang lalu. Dia menawariku duluan saat antri registrasi on desk. Bola matanya berwarna cokelat. Dia nggak suka pakai gel rambut. Kalau pakai kemeja lengannya selalu digulung tujuh per delapan."
"Teman kuliah?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Tunggu biar aku lanjutkan. Dia jarang bicara tapi murah senyum. Dia pernah menggantikan posisiku disaat terdesak. Dia selalu memperlakukan perempuan dengan sopan. Itu yang membuatku ragu. Benarkah dia menyukaiku atau aku seperti perempuan yang dibutakan cinta."
"Kenapa kamu tidak bertanya padanya saja? Bukannya tadi kamu bilang butuh pembuktian? Ya kalau laki-lakinya pemberani. Kalau sepertiku pemalu. Bisa saja kan?"
Kau terdiam.
"Kok diam?" tanyaku sembari melihat ke arah spion.
"Aku bertanya saja dulu padamu sebelum bertanya padanya. Kalau seorang laki-laki sampai mengorbankan dirinya diberbagai masalah si cewek itu artinya hanya kasihan atau dia suka?"
Glekk. Pertanyaanmu menghunusku.
"Ya aku nggak bisa jawab. Persepsi laki-laki nggak bisa sama. Nggak bisa dipukul rata begitu saja."
"Kalau kira-kira kamu jadi dia. Kamu mau jawab yang mana. Kasihan atau suka?"
"Kalau aku jadi dia mungkin jawabannya karena dia suka. Kamu kan cantik, baik."
"Bener? Nggak karena kasihan? Aku kan dulu awal kenal patah hati habis putus terus punya pacar ditikung. Udah gitu sering dikerjain suruh ngerjain tugas kelompok sendiri akhirnya dia bantu kumpulin bahan-bahan. Aku juga sering rempong curhat. Memangnya dia nggak kasihan?"
"Mungkin juga bisa kasihan."
"Tuh, kan."
"Tapi aku yakin laki-laki yang mau berkorban itu biasanya karena dia suka. Jadi aku kenal nggak nih dengan laki-laki itu. Apa harus aku tanya ke dia?" tanyaku seraya tertawa.
"Aku nggak mau bilang. Dia juga nggak peka."
"Kalau gitu mau minta bantuanku?" Aku menawarkan diri meski dadaku nyeri.
"Aku sudah pernah bertanya. Kamu bilang cewek nggak peka tapi dia laki-laki juga nggak peka. Jadi malaslah sama dia." 
"Kamu nggak jadi suka dia. Syukurlah." 
"Kok syukur sih?" 
"Iya kan nggak jadi patah hati lagi. Ya kalau dia jawabnya karena kasihan gimana? Pasti patah hati lagi kan. Padahal klub patah hati sudah bubar.  Kamu mau bentuk lagi?" 
"Bian nggak peka," teriakmu.
Mendengarnya aku mengerem. Kuhentikan laju motor dan melepas helmku. Aku turun dari motor dan kamu masih duduk tak bergerak.
"Kamu tadi bilang apa, Katt? Bisa diulangi sekali lagi!" pintaku. 
Dadaku berdebar cepat.
"Apa harus aku sebut namanya biar dia peka?"
"Kayaknya tadi bukan itu. Aku yakin telingaku tidak salah. Kau tadi memanggil namaku." 
"Bian nggak peka. Itu kataku tadi."
Aku tersipu malu dan menunjuk-nujuk diriku. Kau menyakinkanku dengan anggukan. Spontan aku melompat kegirangan.
"Katt, kamu tahu kenapa hari ini aku bersikeras ingin mengantarmu. Ternyata Tuhan menunjukkan jalan cerita-Nya. Harusnya aku yang lebih dulu mengakui. Seharusnya aku menghentikan ceritamu tadi. Jantungku sudah mau copot kalau tadi kamu menyebut nama seseorang yang bukan aku." 
Kau tertawa. "Dan saat kamu tahu orang itu kamu?" tanyamu.
"Katty, aku mencintaimu. Kamu alasanku menjaga hati," kataku dengan lancar dan bahagia. Aku ingin berteriak seperti orang gila tapi aku masih dipinggir jalan raya. 
"Aku juga sedang mencintaimu, Bi. Bian Mahendra sahabatku."

Hei cantik hari ini dadaku bergemuruh lebih hebat dari biasanya. Semesta mengaminkan doaku. Akhirnya radar kita sama. Inilah alasan mengapa aku belum menikah. Aku menunggumu mencintaiku.

-------------------------------

Andai kau tahu di sini ku merindukanmu
Merindu karena ku tak mampu
Bertahan untuk tak memilikimu
Kau yang selalu ada di dekatku
Kau sahabatku, haruskah ku menunggu?
Hingga kau mengerti rasa hati ini
Tak ingin dirimu bersama yang lain
Aku sedang mencintaimu
Meski kau takkan pernah tahu
Akankah Sang Waktu, menjaga hatiku
Untuk selalu menunggumu?
Aku sedang mencintaimu
Meski hatiku takkan mampu
Tanpa sudut wajahmu
Mengisi bingkai hariku
Takkan ada cerita indah
Seperti dulu
Izinkan ku membuka mata
Agar engkau bisa
Melihatku dengan cara seperti yang lalu
Haruskah ku berdiam dalam bisu
Di dekatmu tapi ku jauh
Tanpa sudut wajahmu
Isi bingkai hariku
Takkan ada cerita indah
Seperti dulu
(Maudy Ayunda)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...