Sabtu, 17 Maret 2018

Menunggu Pesannya



Cerita sebelumnya Kecemburuannya dan Rahasiaku



Aku tidak suka berurusan dengan Ergi. Tapi Ergi selalu ingin berurusan denganku. Istirahat kedua ia menemuiku.
"Aku mau traktir kamu," ujarnya saat menghampiriku di kantin sekolah.
"Dalam rangka?" tanyaku sedikit penasaran.
"Dua setengah tahun lebih sedikit kita kenalan."
"Kapan?"
"Waktu osmaru."
"Aku tidak ingat."
"Kamu tidak ingat tapi aku ingat."
"Tidak mau."
"Kalau tidak aku akan bertanya saja siapa lelaki kemarin? Kau belum menjawabku tentang siapa dia."
"Baiklah."
Aku mengiyakannya. Aku mendadak takut dia akan bercerita soal kemarin.
"Baiklah apa?"
"Kamu mau traktir kan?" tanyaku kemudian mengalihkan pembicaraan.
Ergi tersenyum dan memesan, "Bu pesan mie ayam satu dan bakso satu."
"Kenapa tidak mie ayam 2 atau bakso 2?"
"Karena aku tidak suka bakso," jawabnya.
"Lalu kenapa aku harus makan mie ayam?"
"Karena kita harus saling melengkapi." Matanya berkedip-kedip seraya tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum. Dia sebenarnya baik. Tapi aku tidak menyukainya.
Ia menggeser mangkok mie ayam dan mempersilakanku makan. Begitu melihat aku sudah menaruh sendok dan garpu ia bersuara.
"Aku ada pertanyaan. Kenapa kamu jam delapan sudah tidur?"
"Kok tahu?" Aku meladeninya.
"Sms, teleponku tak pernah kau balas," keluhnya.
"Bukannya selain jam itu juga tidak kubalas," tukasku.
"Iya kau tidak pernah membalasku. Tapi itu bagus."
"Kenapa bagus?"
"Artinya kau layak kuperjuangkan."
Glekk. Digombali lagi.
"Mau nambah lagi?"
"Nggak. Satu saja sudah cukup."
"Iya satu saja cukup ya, asal orangnya kamu."
Mendengar gombalannya aku jadi tergelitik ingin menyadarkannya. "Boleh aku kasih tahu kamu sesuatu."
"Apa?" tanyanya.
"Menyerah saja," tegasku.
"Kenapa?"
"Aku kasihan tiap hari kamu cari cara, putar otak menggombaliku."
"Lho kok ada Ergi?" Sarah terlihat bingung. "Baru aku tinggal ke toilet kenapa sudah ada dua mangkok kosong?" lanjutnya bertanya.
"Pesen saja, Sar. Nanti aku yang bayar!" seru Ergi.
"Bos genk candy baik banget ternyata nggak seserem yang aku pikir," celetuk Sarah.
"Candy?" Mata Ergi membelalak.
Sarah sadar dan menutup mulutnya. Ia berkedip-kedip meminta pertolongan.
"Jadi kan nama genk kamu blaster. Kami kalau iseng menyebutnya candy daripada permen," jelasku.
"Tuh kan! Rio kasih namanya blaster jadinya begini kan," keluhnya.
Sarah cekikikan. "Bu, bakso satu."
"Kamu beneran pesan? Bayar sendiri ya," kata Ergi. Ia beranjak dari tempat duduk dan kabur membayar pesanan.
"Lho, kok kabur sih? Aku bayar sendiri ini atau sudah dibayar Ergi? Hih, kesel," omel Sarah.
Pada akhirnya Sarahlah yang membayar sendiri. Sepanjang hari Sarah mengomel soal Ergi. Telingaku menjadi panas. Aku tidak ingin mendengar nama Ergi tapi ia terus menerus menyebutnya.
"Stop, Sarah! Nanti aku jadi sebel sama kamu. Kita ke toko buku saja yuk!" ajakku saat pulang sekolah.
Sarah hanya memandangku. "Ini Ergi nggak ikut kan?"
"Ya nggaklah. Kita berdua. Berdoa saja supaya dia tidak ada di sana."
Turun dari angkot kota aku dan Sarah berjalan menyeberang. Kami melihat toko boneka di pinggir jalan lalu mampir melihat-lihat. Lalu berpindah ke toko aksesoris mencoba-coba bandana tapi tidak membelinya. Di masa putih abu-abu hemat itu penting karena masih pakai uang orang tua. Uang receh begitu berarti. Kurang bayar lima ratus rupiah saja ditagih di dalam angkot.
"Sar, aku ke bagian home and decor ya," kataku saat sudah di dalam toko buku.
"Aku ke novel best seller ya," balas Sarah. Kami berpisah.
Aku mencari desain interior edisi terbaru. Kubongkar-bongkar ketemu. Kuambil contohnya dan kubuka-buka. Saat kuturunkan bukunya ada sepasang mata mengamati dari dekat membuatku terperanjat. Ergi muncul membuatku geram.
"Ergi!" Kutimpuk ia dengan buku.
"Kasihan bukunya kalau rusak. Suruh ganti lho nanti," katanya membuatku bertambah kesal.
"Sarah masih marah sama aku?" tanyanya.
"Masih. Banget. Seharian disebutlah namamu."
"Sampai mengumpat nggak?" tanyanya sambil melihat buku yang kubaca.
"Kamu pikir dia kamu. Kamu jangan ke sana dia tidak ingin bertemu denganmu!" seruku.
"Nggak aku di sini saja. Aku mau ketemu kamu. Aku sukanya sama kamu bukan Sarah."
Aku meletakkan buku yang kupegang kembali ke rak buku.
"Kamu suka tentang desain interior eksterior?"
"Titipan kakakku."
"Oh, kamu punya kakak. Laki-laki atau perempuan?" tanyanya menyelidik.
"Perempuan. Sudah berkeluarga hobinya mengutak-atik isi rumah."
Aku menepuk mulutku kenapa juga aku bercerita kepadanya. Ia sedang menggali informasiku. Bodoh.
"Kapan-kapan aku mau main ke rumahmu ya," ujarnya.
"Nggak boleh."
"Kenapa?"
"Pokoknya nggak boleh."
"Kamu selalu membuatku penasaran. Nggak boleh kenapa? Pasti ada alasannya."
"Rumahku jauh."
"Aku kan bisa pakai motor. Jarak yang jauh bisa terasa dekat."
"Papaku over protektif."
"Nggak boleh dekat sama laki-laki ya? Nanti deh kalau sudah kenal aku papa kamu pasti suruh aku jagain kamu."
"Kamu salah. Beliau tidak semudah itu. Kamu pasti akan ditanya sudah hafal berapa surat? Kamu sudah sholat lima waktu? Sholat subuh jamaah di masjid? Kamu rajin bantu orang tua?"
"Wih, berat. Tapi suatu saat nanti aku pasti bisa menjawabnya."
"Suatu saat nanti berarti bukan sekarang kan. Berarti kamu nggak boleh main ke rumah."
"It's okay. Aku masih bisa ketemu kamu di sekolah."
Tiba-tiba Sarah menghampiriku.
"Kok ada Ergi sih? Kamu bilang dia nggak akan ke sini."
"Aku kan tadi bilang semoga dia tidak ke sini."
Sarah memberengut. Ia menempel padaku dan mendorong Ergi menjauh setiap ingin mendekatiku.
"Ergi jauh-jauh sana. Aku masih kesel."
"Kamu mau ditraktir apa biar nggak kesel?"
"Terlambat. Sudah kesel tingkat atas."
Tiba-tiba aku mendengar ada dering telepon berbunyi. Nada dering yang sama denganku tapi ternyata punya Ergi.
"Ya, halo."
Kudengar samar-samar dari speaker handphone Ergi kode nagasaki dan suara gaduh.
"Aku ke sana," katanya panik tanpa pamit ia berlari.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya hari itu. Sarah terus bertanya ada apa dengan Ergi. Aku tak punya jawaban karena aku tidak tahu apapun tentangnya.
Pulang aku melihat televisi ada berita tentang tawuran pelajar di sekitar sekolah. Mendadak aku takut Ergi terlibat. Terlihat beberapa pelajar berjajar masih mengenakan seragam putih abu-abu dengan wajah di blur. Seperti gelang karet milik Ergi terlihat di tangan kanan seseorang pelajar yang ikut tawuran.
"Berita apa? Tawuran lagi. Anak-anak itu maunya apa?" komentar Papa.
Aku beranjak dari kursi dan mengambil handphone di kamar. Pertama kalinya aku khawatir pada Ergi. Benarkah Ergi ikut tawuran?

Ergi. Kamu tidak terlibat tawuran kan?

Pesan terkirim. Tak ada balasan. Aku mondar-mandir ke kamar mandi dan kamar. Seperti kehilangan akal.

Ergi jawab. Kau baik-baik saja kan?

Tidak dijawab lagi. Aku memainkan lampu belajar. Aku sudah membuka buku pelajaran tapi ternyata aku tak bisa belajar.

Ergi aku melihat gelang karet seperti milikmu di salah satu pelajar yang tertangkap. Bukan kamu kan?

Mataku terus menatap ke layar. Kubalikkan layarnya tapi tanganku terus tergerak untuk membukanya.
Malam semakin larut. Tidak ada balasan. Aku menyerah akhirnya bersiap tidur,  menarik selimutku dan mendoa semoga dia baik-baik saja. Kupejamkan mataku. Kudengar ada pesan masuk. Aku melempar selimutku dan membaca pesan itu.

Aku baik-baik saja. Terima kasih perhatianmu Din. Jangan khawatir. Tidurlah mimpi yang indah.

Entah mengapa rasanya lega. Seperti meminum es krim di tengah cuaca panas. Aku tersenyum. Jadi seperti ini rasanya menunggu pesan dari seseorang.


---------
To be continue...

Sabtu, 10 Maret 2018

Kecemburuannya dan Rahasiaku

Cerita sebelumnya Tentang Ucapan Terima Kasih



Jam istirahat pertama aku pergi ke kantin sendirian. Kesal jika teringat kejadian sore di rumah Irina dan sekarang ditambah wajahnya Ergi terlihat jelas di depanku. Aku menunduk mengabaikannya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kau sedang marah? Marah kok menjawab salamku? Iya ya menjawab salam kan wajib," candanya.
Kesal. Aku menutup telingaku.
"Kalau aku salamnya hai dijawab nggak. Hai, Din! Din! Din!"
Aku diam.
"Kamu kesal karena aku kemarin ya. Aku tidak akan membuat pembelaan. Aku akui aku salah tidak seharusnya aku berurusan dengan mereka," jelasnya.
Aku masih menutup telingaku. Tiba-tiba tanganku ditariknya.
"Kau boleh marah tapi setidaknya dengarkan aku sesaat. Aku tidak ingin mereka melukaimu biar aku saja asal kemarahanmu setelah ini bisa mereda."
"Mereka? Mana mungkin?" Akhirnya aku bersuara dengan nada tinggi.
"Irina saksinya. Mereka sekelompok denganmu hanya ingin mendapatkan nilai yang baik. Parahnya mereka memang berencana untuk tidak datang. Aku dan Irina mendengar pembicaraan mereka berdua yang sedang mencari alasan. Lalu kutantang mereka untuk tidak usah datang saja kalau mereka berani. Ternyata mereka benar-benar menyebalkan. Mereka menggunakanku sebagai alasannya."
"Aku tidak percaya padamu."
"Iya benar. Kau tidak harus percaya padaku. Nanti kamu musyrik."
Aku diam menatapnya. Irina duduk di sampingku dengan Sarah.
"Din, aku minta maaf seharusnya aku menjelaskan dari awal." Irina menggenggam tanganku.
"Din, kamu sekarang jadi sensitif. PMS ya?" celetuk Sarah sambil menyeruput jus dalam cup plastik.
"Dia butuh waktu untuk memahaminya. Kita beri saja dia waktu," kata Ergi.
"Kau sudah dengar dari Ergi kan? Bagus dan Bian itu sengaja tidak datang. Ketika kamu tanya kenapa mereka belum datang kemarin aku sudah menyembunyikan darimu. Seharusnya aku bilang mereka tidak berniat datang."
Aku diam berpikir. Benarkah semua itu? Kenapa saat Irina bicara aku baru bisa percaya?
"Bagaimana kalau kita lupakan itu sesaat? Aku punya penawaran menarik. Mama mau mentraktir makan malam."
"Serius Tante Ira bilang begitu?" Sarah terlihat girang.
"Kalian saja yang pergi. Aku tidak. Tinggal sebulan lagi kita ujian. Aku ingin berkonsentrasi belajar. Apalagi kalau malam aku tidak diizinkan keluar sama papa."
Ergi menatapku sambil bersedekap. Ia beranjak pergi membeli minuman dan kembali dengan sebuah cup. Diletakkannya di depanku. Aku membaca tulisan spidol hitam di sana.
Semangat. Din, Din.
"Tidak apa kalau Dina tidak bisa ikut. Aku lebih suka kalau dia belajar di rumah," ujar Ergi sambil tersenyum.
"Kalau Dina tidak ikut ya batal. Kata mama syaratnya Dina harus ikut."
"Kenapa harus?" tanyaku.
Irina mengangkat bahunya dan menggeleng. Ia tidak tahu alasannya.
Rio datang tergopoh-gopoh. Suara nafasnya terdengar putus-putus.
"Nagasaki. Nagasaki."
"Kita kumpulkan anak-anak," ujar Ergi sambil menepuk bahu Rio dan ngeloyor pergi tanpa permisi.
"Irina Nagasaki apa sih? Bukannya itu di Jepang?" tanya Sarah menggali informasi.
"Itu kode mereka kalau ada sesuatu yang penting," jelas Irina.
"Oh. Pakai kode-kodean ya. Tapi kok kalau masalah cinta-cintaan kayaknya blak-blakan ya," celetuk Sarah.
Irina tertawa. Aku tidak tertarik pada cerita mereka berdua. Aku beranjak dari tempat duduk.
"Mau kemana?"
"Mau ke perpustakaan."
"Rajin bener. Lebih baik jadi kutu buku ya daripada mati kutu menghadapi Ergi," sindir Sarah membuatku gemas menyenggol bahunya.
Sepulang sekolah aku melihat Ergi dan genk-nya memacu motornya kencang setelah keluar dari gerbang. 
Ketika sampai persimpangan aku melihat Ergi dan motornya berbalik. Ia berhenti di depanku. 
"Kau mau pulang?" 
Aku diam. 
"Hati-hati. Aku tidak bisa mengantarmu sekarang. Tapi nanti kalau sudah resmi kupastikan kau selamat sampai depan rumahmu." 
Aku mengabaikannya. Resmi apanya. Aku sudah mengatakan jauh hari menolaknya. 
"Soal rokok aku akan mencoba menguranginya. Tunggulah perubahanku." 
Dia pikir dia power ranger, baja hitam. Mau berubah pakai bilang-bilang.
"Ergi!" teriak Rio sambil melaju kencang berlawanan arah.
Ergi pun memutar balik. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Digenggamkannya ke tanganku lalu mengelus rambutku. 
Aku menepis tangannya dan dia berlalu. Beraninya dia. Jika ia melakukannya lagi bisa ku plintir tangannya.
Ah, sebuah kertas. Jangan-jangan surat lagi. Aku membukanya. 
Kubaca. 
Nomor : 001
Lampiran : cukup selembar saja bolak balik nggak pakai lampiran
Perihal : Surat permintaan maaf. 
Kepada Dina Priska 
Ini bukan lebaran. Tapi Ergi ingin minta maaf. Ergi minta maaf. Ergi minta maaf. Kata-kata itu tersusun penuh dalam selembar kertas bolak-balik. Sepertinya dia sudah terbiasa menulisnya saat dihukum oleh Pak Ale. Aku tersenyum.
Tidak boleh. Aku memukul kepalaku untuk mengembalikan kesadaranku. 
"Kenapa kepalanya di pukul-pukul? Pusing?" Kak Ali tiba-tiba menyadarkanku. 
"Kak. Dari mana?" 
"Dari sekolahan kamu. Mau atur jadwal pertandingan kedua tapi minggu depan ganti bermain di sekolah kami." 
"Yang bener kak? Berarti minggu depan bisa main ke sekolahan kak Ali."
"Mampir saja. Nggak harus ketika ada pertandingan." 
"Tapi kelihatan seragamnya beda kak. Nanti ditangkap satpam diusir keluar. Kan nggak lucu kak." 
Kak Ali tertawa. "Imajinasi kamu itu ya berlebihan. Kamu bisa bilang mau ketemu aku." 
"Wah, boleh dicoba kapan-kapan." 
"Mau pulang?" 
"Iya kak." 
"Naik angkot nomer dua?"
"Iya kak. Kakak naik angkot itu juga? Bareng saja kalau begitu."
"Boleh. Nggak ada yang marah." 
"Paling kalau ketahuan papaku," celetukku diikuti tertawa.
Tiba-tiba Ergi dan genk-nya lewat konvoi. Ergi terus saja melihatku dan tidak memperhatikan jalan. Aku mengabaikannya dan bercerita dengan Kak Ali sembari menunggu angkot. 
Sebuah pesan masuk nomer Ergi. 

Pacar? Teman? Saudara? Siapa? Dia asisten pelatih lawan mainku. Hati-hati dengannya dia mata-mata. Jangan mengkhianatiku.

Tidak aku balas. Biar. Aku menangkap sinyal Ergi yang aneh lewat pesannya. Aku belum juga mendapat angkot tapi Ergi sudah kembali lagi. 
"Din, Din. Kamu mau pulang? Aku antar." Ergi menawariku. Ia tak henti-henti menatap kak Ali. 
"Aku bisa pulang sendiri." 
"Itu berdua. Kau bilang sendiri?" 
"Apa sih, Gi? Rumah kami kan searah. Nanti juga pulang ke rumah masing-masing." 
"Aku cemburu Din," ungkapnya tanpa basa-basi. Ia menatapku lama. 
Aku tidak meresponnya. Ada angkot berhenti di depanku dan aku naik bersama Kak Ali.
"Katanya nggak ada yang marah. Itu tadi pacar?" 
"Bukan kak." 
"Teman? Tapi suka kamu ya?" 
Aku harus jawab apa. Teman tapi beda kelas. Teman tapi tidak dekat. Teman tapi terpaksa. 
"Hanya temannya teman. Fans fanatik," jawabku sekenanya. 
Kak Ali tersenyum manis. Pantas saja Sarah sampai tergila-gila. 
Tiba-tiba angkot mengerem mendadak. Kepalaku terbentur jendela. Kak Ali mengusap kepalaku yang terbentur.
"Aduh kasihan!" 
Deg. Kesadaranku segera kembali. Sarah terlintas di kepala. Jangan berkhianat. Aku akan menjadikan ini rahasia yang tersembunyi dari Sarah. Semoga Ergi tidak mengungkit hari ini di depan Sarah. 


------- 
To be continue...

Rabu, 07 Maret 2018

Jangan Marah-Marah




Penumpang yang kami hormati sesaat lagi kereta Argo Anggrek akan tiba di stasiun tujuan akhir bagi anda yang akan mengakhiri  perjalanan di stasiun Gambir kami persilahkan anda untuk memeriksa kembali barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal atau tertukar. Untuk keselamatan anda tetaplah berada di tempat duduk sampai kereta berhenti. Terima kasih atas kepercayaan anda dalam menggunakan layanan jasa kereta api sampai jumpa pada perjalanan berikutnya.

Dengan penuh kekesalan aku turun dari kereta. Jam empat pagi. Sambil menunggu adzan subuh aku duduk di samping masjid sendirian. Telepon berdering panjang kuabaikan. Lima puluh panggilan masuk dari Radit. Demi apa aku ke Jakarta sendirian. Aku kesal Radit membatalkan acara liburan mendadak yang sudah kurancang jauh-jauh hari. Sudah kukatakan kepadanya hari ini bertepatan dengan acara piknik kantor di Bali tapi Radit tetap kukuh mempertahankannya. Akhirnya kedua rencana sama-sama gagal.
"Cha, kenapa nggak diangkat dari tadi?"
"Males terima telepon kamu," jawabku ketus.
"Cha kamu di mana sekarang?" tanyanya panik.
"Di Jakarta," jawabku singkat tanpa rasa bersalah.
"Jam segini? Sama siapa?" tanyanya lagi.
"Sendiri."
"Ya ampun, Cha. Sekarang tepatnya di Jakarta mana?" lanjutnya.
"Kenapa tanya? Mau nyusul?" kataku dengan nada tinggi.
"Orang rumah cari kamu. Mereka telepon aku. Katanya handphone kamu nggak bisa dihubungi."
Aku diam dan menggigit kuku. Sesekali udara dingin menerpa kukencangkan tali pinggang jaketku.
"Cha, aku susul kamu ke Jakarta," katanya.
"Kenapa nggak sampai Anyer aja sekalian?" sindirku.
"Cha, kamu jangan ke mana-mana! Kamu naik pesawat atau kereta?"
"Kereta."
"Turun di Gambir?" tebaknya.
"Tanya terus kapan nyusulnya."
"Ya ini aku baru berkemas. Kamu diam di sana aku cari tiket sekarang juga."
"Bye." Aku menutup teleponnya.
Menyebalkan. Aku harus sendirian di kota Jakarta tanpa teman, tanpa saudara. Aku hanya ingin mencari tempat yang tinggi untuk mengobati kekecewaan. Puncak Monas tujuan terdekatku. Tapi masih terlalu pagi belum buka.
Tak terasa setelah subuh aku tertidur. Matahari sudah tinggi. Seorang ibu penjual kopi membangunkanku.
"Neng kopi celeng."
Aku terperanjat. Apa? Bukannya celeng itu hewan babi ya. Kalau celengan sih bahasa jawanya tabungan.
"Kopi celeng neng. Kopi item," jelas si ibunya.
Ah, beda bahasa, beda penangkapan. Akhirnya aku membeli kopi si ibu. Setelah kesadaranku penuh kuputuskan untuk mandi di masjid.
Sudah segar kuputuskan untuk pergi ke monas sendirian. Berjalan kaki keluar dari pintu selatan lalu masuk ke dalam pintu kecil yang dibuka di sisi stasiun. Aku mengambil gambar selfie beberapa kali. Sesekali aku meminta orang yang sedang bersih-bersih untuk memfotokan background monas.
"Terima kasih Bapak."
"Sama-sama. Dari mana neng?"
"Dari Jawa, Pak."
"Sendirian aja?"
"Iya, Pak."
"Wah, hebat pisan. Pemberani."
"Kalau boleh tahu pintu masuknya sebelah mana ya pak?"
"Neng mau naik ke atas? Sok lurus saja nanti belok kanan. Ada jalan turunan beli tiketnya di bawah sana," jelas si bapak.
"Terima kasih Bapak."
Kutinggalkan bapak yang sedang bersih-bersih dan mencari lokasi yang dimaksud. Sampai di loket aku harus membeli kartu Jackcard untuk bisa masuk ke dalam dan selang beberapa waktu aku sudah sampai pada antrian panjang.
Entah berapa lama aku akan berdiri diantrian. Rombongan wisata anak SMP sangat banyak di depanku. Antrian sepertinya tidak bergerak.
Dering telepon berbunyi lagi. Radit. Kuabaikan. Dering telepon berbunyi lagi dari Arum teman kantor.
"Hai, Cha. Apa kabar Anyer?"
"Anyer apaan, Rum yang ada anyep tak berasa."
"Nyesel nggak ikut ke Bali. Tadi malam seru kita ditraktir bos. Hari ini mau snorkling," cerita Arum.
"Ya, syukur kalau begitu. Selamat deh."
"Kok nggak bersemangat gitu? Lagi di mana?"
"Di Jakarta."
"Oh, baru perjalanan mau ke Anyer?"
"Apaan? Aku kabur."
"Kok bisa? Kamu sendiri?"
"Iya."
"Nekat banget ini anak. Balik-balik. Orang rumah nanti nyariin."
"Udah dicari."
"Radit tahu?"
"Sudah tahu. Katanya mau nyusul. Ke sini aja dia bisa, masak ke Anyer nggak bisa."
"Parah nih anak. Kayak abg labil aja. Sadar woi Radit lagi banyak kerjaan. Dia bela-belain ke situ buat jemput kamu pasti."
"Biarin."
"Dasar nih anak. Emang di Anyer ada apa?"
"Mau foto sama naik ke atas mercusuar."
"Alasannya itu doang? Kekanakan kamu."
"Biarin. Yang penting punya cita-cita."
"Ya udahlah itu urusan kalian. Aku liburan dulu. Party-party di Bali."
"Selamat menikmati. Seneng banget kayaknya lihat teman susah."
"Itu sih susahnya karena dibuat sendiri. Ya udahlah. Aku main snorkling dulu ya. Bye."
Snorkling. Di sini boro-boro snorkling naik ke puncak monas sampai atas lihat ke bawah sudah Alhamdulillah.
Tiga jam aku menunggu dengan cuaca yang sangat terik. Akhirnya aku masuk ke dalam lift yang hanya muat beberapa orang. Aku belum naik saja yang tadi antri di depanku sudah turun. Nyesek rasanya. Tapi keindahan yang tersaji dan angin kencang yang menerpa menjadi pelipur lara. Aku berputar. Meneropong. Lelah aku duduk bersandar di tembok. Sesekali menggerutu begitu lamanya Radit tidak sampai-sampai.
Panjang umur telepon berdering.
"Aku sudah keliling stasiun," lapor Radit.
"Terus?"
"Kamu nggak ada," katanya membuatku menahan tawa.
"Ya iyalah aku di puncak Monas."
"Apa? Pantesan. Sudah kubilang jangan kemana-mana."
"Aku bosan. Kamu lama. Aku mencari kesenanganku di sini."
"Berarti nggak usah ke Anyer. Kamu sudah seneng kan di sana?"
"Monas sama Anyer beda rasa, Dit."
"Ya udah turun, Cha!" serunya.
"Nggak. Aku nggak mau turun."
"Aku sudah jauh-jauh ke Jakarta buat nyusul kamu tapi kamu nggak mau turun. Ya udah aku ke Anyer sendiri."
"Anyer? Serius mau ke Anyer?"
Aku langsung mengantri lift turun. Sampai di bawah Radit sudah menunggu di pintu keluar dengan ranselnya. Aku tersenyum.
"Dengar kata Anyer aja langsung mau turun."
"Iya dong. Kamu nggak mau naik ke atas?Bagus lho."
"Kamu tahu aku takut ketinggian. Tapi kamu sukanya tempat yang tinggi-tinggi."
"Asyik tahu. Kalau di atas, semesta seperti sedang berbicara dengan kita."
"Terus sampai di mercusuar masih mau naik?"
"Masih."
"Kan udah naik puncak monas. Belum puas?"
"Belum. Beda tempat, beda suasana, beda rasanya." Aku meringis. "Kamu izin sama bos gimana?"
"Belum izin."
"Belum kok bisa? Nggak dimarahi? Kerjaan kamu gimana?"
"Yang bikin aku ke sini siapa? Yang bikin aku buru-buru cari tiket sampai menyampingkan pekerjaanku siapa?"
"Ya aku sih. Semua karena aku. Maaf. Tapi kamu sudah janji tepat di hari ini kita mau ke Anyer. Memangnya lemburan baru banyak-banyaknya ya?"
"Banget. Aku titipkan ke Merry. Entah dikerjakan atau nggak sama dia nanti."
"Pasti dikerjakan," kataku menyemangati.
Dering telepon Radit sangat mengganggu.
"Siapa kok nggak diangkat?"
"Bos." Radit menunjukkan layar handphonenya.
"Sini biar aku yang angkat."
"Biar aku," katanya. "Iya bos. Maaf hari ini saya izin sedang mengantar Chaca ke Jakarta."
"Kok nggak izin dulu?"
"Mendadak bos."
"Memangnya Chaca...," kata si bos belum selesai sudah kupotong.
"Halo bosnya Radit. Minta maaf ya. Radit aku culik sebentar. Cuma tiga hari. Kalau kelamaan aku korting jadi dua hari saja."
"Memangnya kalian kemana?"
"Ih, si bos kepo. Ke Jakarta bos. Chaca naik kereta harusnya turun Cirebon jadi turun Jakarta," ujarku berbohong sedikit.
"Gimana sih Cha pakai nyasar segala? Kerjaan Radit di sini masih banyak. Nggak ada yang bisa kalau bukan Radit."
"Bos, kan Chaca sudah bilang mau pinjam Radit sebentar. Besok Chaca kembalikan secara utuh."
"Ya sudahlah. Jangan lupa oleh-olehnya!"
"Ye, si bos kalau gitu aja nggak ketinggalan minta. Nanti Chaca carikan yang spesial buat bos."
"Dit, jagain Chaca."
"Siap bos."
Ujung telepon berhenti bersuara. Sepertinya sudah ditutup tanpa say goodbye.
"Kamu boleh marah-marah. Boleh menjawab singkat. Tapi kalau aku telepon kamu harus angkat. Kamu tau kan kamu sekarang jadi tanggung jawabku. Kalau ada apa-apa sama kamu yang dicari pertama aku. Suamimu," cerocos Radit.
Aku mengangguk. "Maaf. Namanya juga kebawa situasi." Aku meringis dan mengenggam tangannya. "Kapan berangkat?" tanyaku mengalihkan.
Radit diam.
"Sekarang aja nggak usah mikir kelamaan," kataku seraya menarik tangannya.
"Kamu kalau ngambek jangan kayak anak kecil ya. Inget umur."
"Dit, kok jadi bahas itu sih. Kita mau ke Anyer. Naik mercusuar ya bareng aku. Jangan cuma nunggu di bawah kayak anak kecil mau ambil layangan nggak sampai," ejekku.
"Aku balik nih sekarang kamu ke Anyer sendiri ya. Kamu balik dari Jakarta juga sendiri."
"Jangan. Kan sia-sia tiketnya pulangnya masih besok juga. Nanti kalau di cancel jadi boros."
Radit senyum dan mencubit hidungku.
"Kalau lagi nggak marah sih cantiknya utuh," ejeknya.
"Enak aja. Memang kalau marah cantikku hilang separo?"
Aku tersenyum. Tiba-tiba aku ingin berterima kasih.
"Apa lihat-lihat? Ih, senyum-senyum sendiri," candanya.
"Terima kasih ya," kataku.
"Iya," balasnya. "Janji adalah hutang dan aku hanya ingin menjadi yang terbaik."



--------------------
Kukan belajar menjadi yang terbaik
Sepatutnya kau menghargai caraku
Mana bisa kubisa berubah
Mana bisa ku menunjukkan
Tanpa kau beriku waktu
Ku kan belajar menjadi yang terbaik
Setidaknya kau tahu aku mencoba
Tolong hargai aku
Tolonglah kau dampingiku
Dan kita pun saling membimbing
Kubisa jadi matahari
Bisa menjadi rembulan
Bisa jadi apa saja yang kau mau
Tapi tolong jangan marah-marah
Dan sedikit sedikit minta putus
Dan kita menyesal (Melly Goeslaw)




Sabtu, 03 Maret 2018

Tentang Ucapan Terima Kasih

Cerita sebelumnya Merayakan Kekalahan



Aroma khas pagi yang kuhirup rupanya membuatku menguap. Sekolah masih sepi. Aku datang terlalu pagi. Sengaja untuk menghindari Ergi yang mulai tahu jam berangkatku. Aku masih mendapati penjaga sekolah membuka pintu kelas. Pintu kelasku belum dibuka. 
"Pagi. Din, Din, Din." Suara Ergi mengagetkanku yang sedang asyik menatap layar gadget. Ia sudah kembali menyapa. Aku masih ingat betapa serius wajahnya saat menerima kekalahan dan sore itu aku mengambil keputusan untuk tak menemaninya. 
"Kok?" tanyaku menggantung. Kehadirannya tak kuharapkan.

"Kok apa?"
"Nggak jadi." Aku batal bertanya. 
"Ke kantin yuk!" ajaknya. 
"Nggak. Udah sarapan di rumah."
"Kan nggak harus makan. Menemaniku misalnya." Ia mulai cengingisan. Aku ngeloyor pergi masuk ke kelas karena pintunya sudah dibuka. 
"Nolak ya? Aku sudah tahu." Aku diam dan disibukkan mengeluarkan buku catatan ke meja. 
"Belajar? Nanti ada ulangan ya? Sejarah?" tanyanya beruntun menebak-nebak sambil duduk di sampingku. 
Aku tidak menjawab. Dia awalnya melirik-lirik catatanku lalu tiba-tiba merebutnya. Ia mengambil tempat pensilku dan mengeluarkan pensil dari dalam sana."Nanti yang keluar ini... ini... ini...," katanya sambil menggambar lampu di samping materi yang dianggap penting. "Aku sudah ulangan kemarin," lanjutnya. 
"Bilang apa?" tanyanya.
Aku diam mengacuhkannya.
"Terima kasih," ujarnya sendiri. "Nggak bilang juga nggak apa-apa."
Ia mengamati teman-teman yang datang silih berganti, menaruh tas dan keluar. 
"Nggak ada yang belajar. Kenapa kamu belajar?" tanyanya penasaran.Aku masih diam. "Tapi aku suka," jawabnya sendiri. 
Aku diam dengan maksud supaya dia merasa dikacangi dan pergi dengan sendirinya. Tapi ternyata dia bertahan lama menggodaku. Tiba-tiba ia beranjak dari kursi. Kupikir akan pergi ternyata ada Rio yang mengantar Irina ke kelas. 
"Rin, tante ada di rumah kan nanti? Aku nggak jadi ke rumah kemarin. Lupa ada pertandingan basket." 
"Ada. Mama pesan kemarin kalau mau ketemu harus bawa pesanan mama." 
"Sulit itu," katanya sambil garuk-garuk kepala. Hilang konsentrasiku karena mengamati mereka. 
"Din, ngapain Ergi ke sini?" tanya Sarah yang baru saja datang berbisik.
"Cari Irina," jawabku.
"Cari Irina atau Dina?" canda Sarah pagi-pagi.
"Cari Dina juga nggak apa-apa asal jangan cari masalah dengan Sarah," lanjutnya. 
"Sar, sudah belajar?"
"Belajar apa?" 
"Sejarah. Nanti ulangan." 
"Masak sih?"
"Iya kemarin kelas Ergi sudah ulangan. Mendadak katanya."
"Kok kamu tahu? Aku mencium ada sesuatu yang tidak beres diantara kalian. Kalian sudah dekat ya?" tanya Sarah menyelidik.
"Bukan Ergi yang bilang. Tapi Rika tetanggaku. Kamu tidak akan kenal kalau kusebut namanya. Ujungnya bertanya kelasnya siapa," jelasku.
Bel berbunyi. Ergi dan Rio kulihat sudah pergi. Bu Tia masuk membawa fotocopyan setumpuk. 
"Masukkan buku catatan kalian. Yang di atas meja hanya alat tulis. Kita ulangan hari ini," ujar bu Tia membuat kelas gempar. 
Soal dibagikan ke belakang. Kubaca soal nomer satu. Aku tersenyum. Dia tadi tidak bercanda. Gambar lampu Ergi di buku catatanku keluar. Mungkin Tuhan mengirim Ergi hari ini sebagai bukti keajaiban-Nya. Satu jam pelajaran berlalu. Saatnya mengkoreksi soal. Satu per satu soal dibaca dan dijawab berurutan dimulai dari depan. Aku duduk di bangku nomer tiga dari depan dan baris ke dua dari samping kanan. Aku selamat tidak mendapatkan giliran membaca dan menjawab soal. Satu per satu nama dipanggil untuk mengetahui nilai masing-masing karena tidak tahu siapa yang memegang kertas.
Namaku disebut. Aku salah dua. Aku teringat kata-kata Ergi tadi. Apa aku harus berterima kasih padanya? 
"Din, tugas kelompok hari ini dikerjakan di rumah Irina ya," kata Bagus ketua kelompok menghampiriku yang sedang melamun di jam istirahat terakhir. 
"Siap," jawab Sarah. 
"Lho kamu kan bukan kelompokku," kataku. 
"Aku pura-pura jadi kamu. Siap pak ketua. Nanti aku kawal Dina dengan selamat."
Bagus hanya tersenyum.
"Kamu mau ikut?" tanyaku merasa aneh.
"Aku penasaran dengan sesuatu. Aku mau ikut ke rumah Irina." 
"Kamu mau cari info apa di sana?" 
"Rahasia." 
Sepanjang pelajaran hingga jam pulang aku masih memikirkan kata-kata Ergi. Hari ini kerja kelompok di rumah Irina. Aku teringat percakapan tadi pagi, Ergi mau main ke rumah Irina. Bagaimana jika dia benar-benar ke rumah Irina?
“Ayo masuk!” seru Irina saat aku celingukan mencari keberadaan Ergi. “Duduklah! Anggap rumah sendiri. Aku ke dalam ganti baju dulu.”

Aku dan Sarah saling memandang. Bagus dan Bian belum datang.
“Oh, ini ternyata rumahnya Irina! Besar juga ya. Ada ayunannya juga. Nanti kalian mengerjakan tugas aku main ayunan ah!” celetuk Sarah berimajinasi.
“Kamu mau main ayunan?” tanya Irina tiba-tiba muncul dengan setumpuk buku pelajaran.
Sarah mengangguk. “Boleh kan, Rin?”
Ganti Irina yang mengangguk. “Kelompok kamu nggak kerja kelompok?”
“Sudah dikerjakan Nita.”
“Lho nggak ikut ngerjain? Dia bilang dia yang mau mengerjakan sendiri. Dia sibuk les sana sini. Jadwalnya padat.”
Suara sepeda motor berhenti di depan rumah Irina. Itu pasti Bagus dan Bian. Salah. Ternyata Ergi dan Rio. Aku menutup wajahku dengan buku.
“Rin, tante mana?” tanya Ergi.
“Di dalam baru nonton film.”
“Wih, pasti nonton film action nih! Nimbrung ah!”
“Dasar laki-laki,” celetuk Sarah membuat keberadaannya tercium oleh Ergi.
“Eh, ada Din Din di sini! Terima kasih ya Irina,” ujar Ergi dengan wajah bahagia.
Irina mendorong Ergi ke dalam. “Ganggu, sana ketemu mama saja!” usirnya.
“Rin, mama kamu gaul ya. Keren tontonannya film action.”
“Mamaku jago bela diri. Dulu masa mudanya pernah ikut film laga meskipun hanya pemain figuran,” jelas Irina.
“Hebat ya.”
Tiba-tiba Tante Ira alias mama Irina keluar menyapa.
“Oh, ada teman-temannya Irina! Kok tadi Irina tidak bilang. Main ngeloyor aja. Rin, temannya ditawari apa itu, makan atau minum.”
“Nggak usah repot-repot tante,” kata Sarah. “Tapi kalau mau dikeluarkan semuanya boleh kok tante.”
Aku menipuk jidatku. Cablak banget sih Sarah.
“Ini yang cantik namanya siapa? Baru pertama main ke sini ya?” tanya Tante Ira.
Aku mencium tangan Tante Ira dan menjawab, “Dina, Tante. Teman sekelas Irina.”
“Teman Ergi juga, Tante,” celetuk Ergi nimbrung obrolan.
“Oh, ini Gi?” tanya Tante Ira ke Ergi. Perasaanku menjadi tidak enak. “Ergi ini sering cerita. Katanya calon pacarnya Ergi,” lanjut Tante Ira.
Sarah melihatku. Aku melihat Irina. Irina melihat Rio. Rio melihat Ergi. Ergi melihatku. Mati kutu. Aku menunduk.
“Tante aku boleh ikut nonton film nggak? Tadi katanya tante baru nonton film.” Sarah memecah kebekuan.
“Ayo kalau mau ikut lihat!” seru Tante Ira. Sarah mengikuti Tante Ira, Rio juga tapi Ergi tetap di area warning. Dia justru mendekat.
“Din, Din.” Ergi menggangguku. “Din, Din.”
“Apa sih Ergi? Ganggu orang. Kita sedang belajar. Kamu nonton film saja sama mama,” seru Irina.
Sudah semakin sore tapi Bagus dan Bian tidak juga datang.
“Mereka berdua kemana sih?” tanyaku.
“Nggak tahu. Katanya tadi mau menyusul.”
“Jadi kita berdua yang kerja.”
“Sudahlah nggak apa-apa daripada kelompoknya Sarah, cuma Nita yang mengerjakan.”
“Tapi ini kan nilai kelompok, Rin. Nggak adil. Seharusnya mereka juga ikut biar sama rata, sama rasa,” keluhku.
“Ya tapi mau bagaimana lagi. Tinggal besok. Lebih baik mengerjakan berdua daripada nggak dikerjakan. Kita justru bisa nggak dapat nilai. Malah rugi sendiri kan.”
Kesal aku mengirim pesan ke Bagus sebagai ketua kelompok. Selang beberapa saat ada pesan masuk.

Din, maaf. Aku dan Bian diancam Ergi. Kami tidak berani ke rumah Irina.

Hah, aku terperanjat. Rasa marahku meletup-letup. Apa karena aku tidak berterima kasih padanya lalu sekarang ia berulah padaku.
“Ergi mana?” tanyaku ke Irina dengan nada tinggi.
“Itu di ayunan sama Sarah dan Rio. Kamu kenapa?” tanya Irina.
“Nanti aku jelaskan.”
Aku melihat Ergi dan Sarah sedang tertawa. Rio sedang berwajah aneh. Kuberanikan diri menarik tangan Ergi dan melempar rokok yang akan disulutnya.
“Ergi yang terhormat aku mau bicara,” kataku.
“Aku? Kamu mau bicara sama aku? Baiklah,” ujarnya terlihat senang.
“Kamu apakan Bagus dan Bian?”
“Mereka berani bilang ke kamu. Baguslah.”
“Kamu mengancam mereka berdua?”
“Iya. Aku mendengarkan mereka berdua bicara...,” jelasnya.
Kesal aku memotongnya, “Lalu kenapa kalau mereka bicara berdua. Kamu berhak mengancam mereka buat nggak ikut kerja kelompok. Kamu tahu kamu sudah membuat mereka meninggalkan tanggung jawab mereka, kewajiban mereka.”
“Kamu tahu apa tentang mereka. Mereka itu...,” lanjutnya.
“Aku tidak habis pikir. Awalnya kamu masuk ke kehidupanku menggangguku, lalu sekarang kamu mulai berani mengancam teman-temanku.”
Ergi hanya diam ia tidak lagi melanjutkan pembelaannya. Aku kesal dan menarik Sarah pergi. “Sar, kita pulang!”
Aku berjalan cepat menghampiri Irina. Irina beranjak dari duduknya.
“Aku minta maaf, Din,” katanya. 
"Kamu tidak salah." 
“Aku meminta maaf untuknya. Kalau aku tidak menyuruhmu ke sini mungkin Ergi tidak akan terlibat.”
“Rin, aku pulang. Tolong katakan ke Tante Ira kami pamit pulang.”
Tanpa basa-basi aku ngeloyor pergi dengan letupan emosi yang tak juga reda. Aku kesal. Kenapa Bagus dan Bian menuruti perintah Ergi untuk tidak datang? Kenapa mereka takut kepada Ergi?
“Din, istighfar, Din!” seru Sarah sambil menarik tanganku, memelankan langkahku. Ia menepuk bahuku. “Jangan biarkan kemarahanmu menunjukkan kelemahannya!” lanjutnya.
Tiba-tiba air mataku keluar. Aku menangis. Aku pikir hari ini aku akan bahagia. Aku salah. Definisi bahagia itu luntur. Aku pikir aku akan mengucapkan terima kasih pada Ergi. Ternyata aku salah. Dia tidak pantas mendapatkannya.


--------------------------------------
To be continue...

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...