Sabtu, 24 Februari 2018

Merayakan Kekalahan

Cerita Sebelumnya Sebuah Konspirasi




Baru saja turun dari angkot tiba-tiba Ergi muncul.
"Assalamu'alaikum," sapa Ergi membuntutiku.
"Waalaikumsalam," jawabku sambil mempercepat langkah menuju gerbang. Setidaknya aku bisa terselamatkan. Pak Ale sudah menunggu di depan gerbang bersiap menangkap mangsa.
"Katanya nggak mau diganggu. Kok dijawab. Itu respon lho bagiku."
Aku ingin menjawab tapi dia sudah duluan memotong. "Iya menjawab salam kan wajib ya. Berarti aku setiap hari boleh menyapamu."
Aku berhenti.
"Nah begitu dong. Jalannya jangan cepat-cepat. Ini masih pagi nggak akan terlambat."
Imajinasiku mulai liar. Ingin rasanya aku mendorongnya menjauh atau berteriak minta tolong orang untuk memeganginya. Paling tidak aku bisa tenang sampai di gerbang.
"Astaghfirullah." Tiba-tiba ia mengagetkanku.
"Kenapa istighfar?" tanyaku sambil celingukan.
"Ada perempuan lewat," katanya.
"Kenapa? Cantik?" Kesal akhirnya aku jadi menanggapinya.
"Iya tapi kamu lebih cantik," jawabnya.
"Lalu kenapa kamu istighfar?"
"Dia melihatku. Aku takut dia suka padaku."
"Baguslah. Jadi kau tidak perlu mengejarku."
"Tapi aku cintanya sama kamu. Tak bisa kelain hati."
Aku diam terpaku. Speechless. Anak satu itu menggombaliku. Sinyal radarku mulai berkedip. Warning. Peringatan untuk menjauhi Ergi.
Kebetulan ada Irina teman sekelasku yang duduk di bangku depan dekat meja guru lewat. Aku memanggil dan menempel kepadanya agar bisa terhindar dari Ergi.
"Hei, Rin!" sapa Ergi.
"Hei!" jawab Irina.
Mereka ternyata kenal.
"Rin, besok aku ke rumah ya," ujar Ergi.
"Ngapain?" tanya Irina.
"Ketemu tante. Mau minta diajari sesuatu."
Aku tidak terlibat dalam pembicaraan mereka. Seperti patung di tengah-tengah pembicaraan. Urusanku apa mendengarkan mereka. Aku berjalan cepat meninggalkan mereka.
Ah, pagi-pagi sudah dibuat kesal. Sarah belum sampai sekolahan. Aku menaruh tas di atas meja dan pergi ke toilet. Aku bertemu dengan salah satu anggota genk Ergi.
"Kamu yang namanya Dina?" tanya Rio. Ya aku tahu namanya dari Sarah. Dia hafal semua nama anggota genk Ergi. Kata Sarah genk Ergi paling ditakuti di sekolahan. Blaster. Mirip nama permen. Aku kalau sedang usil menyebut mereka genk candy.
"Iya. Kenapa?" tanyaku balik.
"Nggak apa-apa. Cuma mau menyapa," jawabnya.
Krik krik krik. Apa semua anggota genk candy itu freak. Tapi kenapa mereka terkenal paling ditakuti.
"Aku ke kelas dulu ya."
"Tunggu! Kamu Rio kan? Temannya Ergi?" tanyaku basa-basi.
"Kok tahu?" tanyanya balik.
"Tidak penting. Tolong bilang ke dia aku sibuk hari ini jangan di ganggu."
"Oh, okay."
Setelah dari toilet aku kembali ke kelas. Irina menghampiriku. "Ada surat," katanya.
"Dari siapa?"
Aku melihat amplop putih dengan gambar coretan perangko di pojok kanan.
"Orang freak. Hati-hati dengannya. Nanti kamu bisa jatuh cinta," jawabnya.
Aku meragukan kata-kata Irina. Tiba-tiba terpikir Ergi? Mungkin saja orang freak yang dimaksud itu Ergi. Siapa lagi kalau bukan dia.
Aku membuka suratnya. Lipatan pertama tertulis buka lagi. Lipatan kedua buka lagi. Lipatan ketiga buka lagi. Lipatan terakhir kubuka hanya ada tulisan 'penasaran ya'. Kesal kubuang ke tempat sampah.
Sepertinya pesanku lewat Rio tidak sampai.
"Din! Din!" panggil Sarah menyerupai panggilan Ergi.
"Kok ikut-ikutan Ergi sih?"
"Maaf keceplosan. Kebiasaan sih. Gara-gara Ergi ini seperti penyakit menular."
"Kenapa pagi-pagi heboh?"
"Nonton pertandingan basket yuk nanti!" ajak Sarah.
"Aku ada les nanti."
"Bolos sekali juga nggak apa-apa kan," rayunya.
"Nggak mau ah. Mahal lho. Lumayan sehari bolos uangnya bisa buat beli bakso."
"Aduh. Aku bayar deh. Aku traktir beli bakso. Tapi nanti nonton ya."
"Kok maksa? Nggak ah!"
Pada akhirnya bel pulang berbunyi aku dan Sarah pergi ke masjid. Setelah melaksanakan sholat ashar aku berdiri di tepi lapangan basket. Sarah meluap-luap tak terkendali.
"Sudah setengah pertandingan," katanya bersemangat.
Sementara aku ogah-ogahan apalagi yang di tengah lapangan ada Ergi. Bisa terlalu senang dia lihat aku.
"Kok ada Ergi?" tanya Sarah.
Mungkin dia baru sadar.
"Dia tim inti atau cadangan? Kok dari tadi aku nggak lihat?" tanyanya.
"Sudah dari tadi, Sar. Kamunya terlalu fokus sama Kak Ali sih."
Kak Ali adalah incaran Sarah. Ia kakak kelas di zaman sekolah dasar. Terhitung pintar karena cumlaude dari perguruan tinggi negeri. Sekarang ia yang menjadi asisten pelatih di club sekolah favorit itu.
"Iyalah lebih baik pilih Kak Ali," ungkapnya.
Aku tertawa. Sekilas tatapanku dan Ergi bertemu. Tapi dia tidak tersenyum.
Aneh. Mungkin saja dia sedang serius.
"Lho kok ada Irina di sana?" tanyaku saat tahu ada Irina duduk di bangku dekat pelatih.
"Kamu belum tahu?" tanya Sarah.
"Apa?"
"Irina kan pacarnya Rio," jelasnya.
"Si freak yang rambutnya jabrik?" Aku nyaris tak percaya.
"Dan juga dia sepupunya Ergi."
Aku flashback ke situasi tadi pagi. Saat Ergi dan Irina berbincang tanpa melibatkan aku. Pantas saja keduanya akrab.
"Kok kamu nggak cerita sebelumnya?"
"Informasiku mahal," ujar Sarah.
"Mahal mana sama semangkok bakso?"
"Informasiku."
"Kalau sama persahabatan kita."
"Oh, sweet! Tentu saja persahabatan kita," katanya sambil memelukku.
Pertandingan persahabatan berakhir. Tim sekolahku kalah. Ergi sama sekali tidak menyapaku padahal kami berpapasan. Ah, seharusnya aku lega. Mungkin saja dia sedang kecewa dengan hasil pertandingan. Tapi mengapa rasanya aneh. Beberapa hari ia menempel padaku. Tadi pagi dia mengirimiku surat aneh, tiba-tiba rasanya sepi tidak diganggu olehnya selama beberapa jam ini.
"Pulang, yuk!" ajak Sarah.
"Ah, iya sudah sore! Takut sampai rumah kemalaman."
Aku berpisah dengan Sarah. Aku pulang naik angkot sendiri. Aku mengeluarkan uang sepuluh ribu dan menerima uang kembalian. Tiba-tiba aku teringat konspirasi sopir angkot dan Ergi. Lalu aku tersenyum sendiri.
"Astaghfirullah." Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Bang, depan kiri."
Aku seharusnya naik angkot nomer dua tapi yang kutumpangi angkot nomer satu ke tempat les. Buyar pikiranku. Mungkin karma karena telah bolos dari les.
Akhirnya aku harus menyeberang. Tak kuduga aku bertemu Ergi dan genk-nya nongkrong di warung meong. Mereka melihatku tapi Ergi sama sekali tak bereaksi. Biarlah mungkin besok dia akan berulah lagi. Hari ini mungkin dia sedang merayakan kekalahannya. Dia melihatku dari jauh hanya sebatas itu. Tanpa sapa, tanpa bicara.
Tiba-tiba aku ingin menenangkannya. Tapi tidak. Sudah sore aku harus pulang. Handphone-ku berbunyi ada telepon masuk dengan nomer tak dikenal. Aku angkat.
"Hai, mau pulang!"
Suaranya Ergi. Aku menoleh memastikan. Benar Ergi sedang menelepon.
"Kau mau menemaniku sebentar merayakan kekalahan?" tanyanya dengan nada serius.
Glekk.



------------------
To be continue...

Sabtu, 17 Februari 2018

Sebuah Konspirasi

Cerita sebelumnya Salah Caramu





Kalian tahu Ergi yang sudah pernah kuceritakan. Ergi si bad boy yang mengusik ketenanganku setelah dia menyatakan perasaannya. Dia dan genk-nya mendadak rajin ke Masjid sekolah tapi dia masih merokok diam-diam di pojok sekolahan. Aku masih sering melihatnya kepergok guru dan dipanggil guru BP. 
"Ergi and the genk disidang lagi sama pak Ale. Rasain tuh. Bandel sih. Disuruh jangan merokok nekat," celoteh Sarah.
"Iya sih. Padahal masih minta uang saku sama orang tuanya. Kasihan kan orang tua dibohongi. Dia saja tak bertanggung jawab dengan uang pemberian orang tua bagaimana bisa jadi imam yang baik nantinya," komentarku. 
"Sebentar, sebentar. Kamu yakin dengan kata-katamu tadi. Aku hampir tak mempercayainya."
"Memangnya aku berkata apa?" tanyaku seraya memasukkan buku pelajaran ke dalam tas. 
"Kamu bilang tidak memikirkan Ergi secuil pun. Tapi kata-katamu tadi kurasa kebalikannya."
"Tidak." Aku menarik resleting tas ke atas hingga  tertutup sempurna.
"Kau tadi bahkan merencanakan Ergi jadi imammu." 
"Apa iya? Kau salah dengar mungkin."
"Rasanya ada setruman-setruman yang mengalir di darahmu," canda Sarah.
"Sar, pinjam buku ke perpus yuk!"
"Mati kutu kau." Sarah tertawa tak terkendali. "Kenapa kau ingin lihat Ergi ya?" sindirnya.
"Sar, aku serius. Urusan Ergi mau disidang atau nggak. Urusanku sekarang mau ke perpustakaan. Kau ikut atau tetap di sini." Aku berdiri dari tempat duduk.
"Aku ikut. Tapi setelah dari perpus mampir kantin ya." 
Aku mengangguk mengiyakan Sarah. Sarah ikut berdiri dan menggamit lenganku. Kami berjalan menelusuri koridor kelas. Ingin rasanya aku tak melewati ruang BP tapi apalah daya aku harus melewatinya karena itu satu-satunya jalan menuju perpustakaan.
"Hei, Din! Din!" panggil Ergi menyerupai klakson mobil. 
"Heh, nggak sopan!" bentak Sarah. 
"Mau kemana?" tanya Ergi yang berdiri di luar ruang BP. Entahlah dia kabur atau bagaimana.
"Bukan urusanmu. Urusi saja dirimu sendiri," jawab Sarah.
"Aku bicara dengan Dina, Sar," katanya tidak terima.
"Dina tidak ingin bicara denganmu."
"Benarkah? Tapi dia tidak mengatakannya," kata Ergi sambil melirikku menggoda. 
"Tapi dia pernah mengatakan benci rokok kan. Berarti dia membencimu," celetuk Sarah membuatku membelalak. Jangan keluarkan kartu As Sarah seruku dalam hati. 
Ergi tersenyum-senyum sendiri.
"Kau bahkan menceritakanku kepada Sarah. Seberarti itukah aku bagimu?" tanyanya sambil cengingisan.
"Din, dia kenapa sih? Aku salah ngomong ya." Sarah sama sekali merasa tak bersalah. Ia malah garuk-garuk kepala.
Salah banget batinku dalam hati. Akhirnya aku angkat bicara untuk menyudahi pembicaraan dengan Ergi. 
"Sar, ayo ke perpus keburu bel masuk!" seruku.
"Oh, Dina mau ke perpus. Nyusul boleh?" goda Ergi.
Aku dan Sarah cekikikan. Pak Ale berdiri di belakang Ergi. "Permisi pak Ale," sapa Sarah. 
Ergi berbalik disambut Pak Ale yang berkacak pinggang. 
"Kamu mau nyusul kemana? Ayo masuk bapak belum selesai!" Kudengar suara keras pak Ale. 
"Ini jam istirahat, Pak. Saya juga mau jajan seperti teman yang lain." 
"Jajan atau beli rokok? Masuk!" seru Pak Ale. 
Aku berlalu dari ruang BP dengan cekikikan. 
"Din, ternyata si Ergi nggak seserem yang aku kira. Dia memangnya begitu ya kalau ketemu kamu?"
"Kok jadi bahas Ergi sih?" 
"Iya dia tadi barusan lewat di jendela lirik-lirik kamu," ujar sarah seraya cekikikan.
Aku menoleh ke arah jendela. Benar Ergi terlihat sesaat lalu ia bersembunyi lagi. Ia membuatku tersenyum. Anak itu lari lagi dari Pak Ale. 
"Sudahlah. Aku sudah dapat bukunya. Kita ke kantin dan lupakan soal Ergi." 
Kami keluar dari perpustakaan. Ergi mengagetkanku. Ia berdiri di samping pintu dan mengulurkan uang sepuluh ribu rupiah. 
"Apa ini?" 
"Din, aku lapar. Bisa titip belikan makanan. Aku masih dihukum pak Ale," pintanya merajuk. 
"Kenapa aku?" Kutepis ulurannya.
"Aku percaya kamu tidak akan tega melihatku kelaparan," katanya dengan muka tak berdosa. 
"Jangan Din! Dia kan sedang dihukum. Biar kapok." 
Ergi tiba-tiba menggenggamkan uangnya ke tanganku. "Titip ya!'' paksanya lalu kabur.
"Ini anak nggak tahu diri banget sudah ditolak masih nekat. Terus uangnya mau diapakan?" tanya Sarah. 
Aku membentangkan uang Ergi yang kusut. Ada coretan tinta hitam di sana. "Astaga!" 
"Kenapa?" Sarah penasaran.
Aku menemukan tulisan yang mengelikan tapi juga membuat kesal. Kekanak-kanakan. 
"Sini aku baca!" Sarah merebut dari tanganku. "Dear, Dina. Aku rela disidang pak Ale gara-gara mencoret-coret uang negara biar bisa makan bareng Dina nanti siang." Sarah tertawa dengan puasnya. 
Aku merebut kembali uang dari tangan Sarah yang ditulisi oleh Ergi. 
"Kamu yakin mau belikan dia makanan?" tanya Sarah sambil cekikikan. 
"Tahu ah! Ke kantin yuk!" 
"Beli jajan buat Ergi?" 
"Nggaklah aku kan juga lapar." 
Kesal campur aduk perasaanku di dalam kelas. Masih sekilas terlintas Ergi yang titip makanan. 
Pelajaran terakhir remidi matematika aku duduk di pojok depan dekat meja guru. Aku tukar tempat duduk dengan Irina teman sekelasku. Bu Indah terus mengawasiku dengan sinyal waspada. Kali ini rumus-rumus telah kuikat erat dan kusingkirkan Ergi dari pikiranku.
Bu Indah bertanya. "Sudah selesai?"
Aku menggeleng. Beberapa saat kelas menjadi kosong. Teman-teman sudah pulang. Aku merentangkan tangan pertanda sudah selesai.
"Sudah selesai?" tanya bu Indah. 
"Sudah bu." Aku maju ke depan dan menyerahkan lembar jawab.  
"Kau boleh pulang sekarang."
Aku menunggu bu Indah keluar kelas dulu. Mendadak otakku memikirkan Ergi. Setengah kesal aku beranjak ke kantin membelikan makanan untuk Ergi dan menghampirinya di ruang BP. Disaat bersamaan Ergi keluar dengan tas ranselnya dengan wajah bahagia.
"Kau pasti tak tega," katanya seraya melebarkan senyuman dan terus menatapku.  
"Ini," ujarku dengan kesal. "Aku membelikanmu atas dasar kasihan."
"Benarkah?" tanyanya seraya melongok isi kantong plastik juventus yang kebesaran. 
Aku berjalan meninggalkan kawasan BP dan dia mengikutiku. Sepertinya dia harus aku beri pelajaran.
"Kau tahu yang kau coret-coret tadi uang negara. Kau telah merusak desain uang itu. Itu artinya kau bukan warga negara yang baik. Tidak bisa menghargai kerja keras para pendesain. Jika karena coretan ini uangnya tidak bisa dipakai maka kau telah menghilangkan nilai tukarnya sepuluh ribu rupiah."
Ia hanya diam dan berjalan di sampingku.
"Dan satu lagi. Aku bukan teman genk-mu yang bisa kau suruh-suruh." 
Ia diam dan tersenyum-senyum tanpa rasa bersalah.
"Kalau kau tak suka dihukum jangan berbuat yang nekat dengan rokokmu itu. Kau sudah buang-buang uangmu dengan dibakar secara tak langsung," celotehku panjang.
"Kita makan bareng yuk!" ajaknya.
"Dan satu lagi..." 
"Bukan satu tapi dua. Kau tadi sudah mengatakan satu lagi," potongnya.
Aku berhenti dan menengok ke samping. Dia tidak ada. Kutoleh ternyata dia sudah nangkring di atas motornya. 
"Aku tidak sedang bercanda. Aku serius. Tolong jangan ganggu aku lagi." 
"Aku tidak menganggumu. Aku hanya menjalankan hakku sebagai warga negara yang baik. Bukankah negara ini memiliki banyak kebebasan termasuk kebebasan mencintaimu." 
"Aku sudah pernah mengatakan tidak menyukaimu." 
"Iya hari itu. Nggak tahu hari ini, besok, lusa, tahun depan. Aku hanya sedang berusaha membuatmu menyukaiku," ujarnya cengingisan. 
Aku menggaruk kepalaku kesal. Sadar diri makhluk satu itu tak akan pernah menyerah sampai mendengar kata iya dariku. 
"Saudara Ergi yang terhormat, aku tidak ada rasa padamu daripada perjuanganmu sia-sia sudahilah sekarang juga," tegasku dan meninggalkannya. 
"Terima kasih untuk makanannya. Eh bukan, salah. Maksudku perhatiannya, terima kasih atas perhatiannya. Aku tidak akan lupa," teriaknya membuatku harus menutup telinga. Aku malu dengan lantang dia mengatakan itu saat banyak orang berlalu lalang.
Kutenangkan pikiranku mengambil air wudhu di masjid sekolah. Sesekali kutepuk-tepuk pipiku. Ah, masa putih abu-abu akan segera berlalu. Wahai diri bersabarlah. Tinggal beberapa bulan untuk membuatku tak bertemu dengan si perusuh Ergi. Ketika memasuki masjid sekolah langkah kakiku terhenti.
Glekk. Ada Ergi di sana bersama genk-nya. Bukankah dia tadi sudah naik motornya. Tiba-tiba dia ada di serambi masjid. Aku menyembunyikan wajahku dengan menurunkan rambutku. 
Usai sholat ashar aku buru-buru memakai sepatu. Sialnya Ergi melihat keberadaanku. Ia menghampiriku dengan berlari kecil. 
"Din! Din!" Ia mulai lagi mengklaksonku. "Dina aku ada pertanyaan?" 
"Apa?"
"Kenapa kantong plastiknya kebesaran?" tanyanya menjengkelkan.
Itu sangat tidak penting. Aku tak menjawab dan ngeloyor pergi. Ia tidak mengikuti. Lega rasanya.
Aku mengambil uang dari saku baju. Uang selembar sepuluh ribu milik Ergi. Aku tersenyum. Eh, kenapa harus tersenyum? Aku memukul kepalaku. Sebaiknya uang itu kugunakan untuk membayar angkot.
Kuhentikan angkot biru nomer dua yang ke arah kota. "Bang, sampai bundaran ya!" seruku sambil menyerahkan uang Ergi. Seharusnya aku menyerahkan uang itu nanti kalau turun tapi tanganku ingin segera menghilangkan keberadaannya. 
"Nggak ada kembaliannya, Mbak. Uang pas saja."
"Masak sih, Bang?" tanyaku. Akhirnya dengan berat hati kuserahkan uang dua ribu rupiah sisa kembalian di kantin. Uang Ergi masih utuh. Kupikir aku tidak ingin terlibat dengan Ergi lagi, tapi semesta rupanya mendorongku untuk mengingatnya walau dalam hati kesal uang itu utuh. Tulisannya terus kupandangi. Buru-buru kutepis sebelum rasa itu masuk ke dalam dan berkhianat. 
Ada yang tidak beres dengan mataku. Aku melihat Ergi melintas dengan motornya dan tersenyum. Sampai di traffic light aku baru sadar. Itu bukan mimpi. Itu benar-benar Ergi dengan motornya. 
"Gimana, Bang? Beres?" Kudengar ia sedang bicara dengan sopir angkot dan kulihat jempol dari sopir angkot keluar jendela. 
Sopir angkot melihatku dari spion tengah dan tersenyum. Mereka bersekutu rupanya. Aku pasrah menutup mukaku dengan tas ransel. Ini konspirasi.



-----------------------------------
To be continue...

Kamis, 08 Februari 2018

Salah Caramu







Aku berdiri di parkiran. Berdua empat mata. Bel berbunyi tapi dia tidak juga bicara. Aku terus menatap jam tanganku. Dia terus menerus menghisap rokoknya seolah tak menganggap keberadaanku. Dia sudah memaksaku tapi sekarang dengan santainya dia tak bicara.
"Kalau kau tak segera bicara aku akan ke kelas. Hari ini aku..."
"Aku suka kamu," potongnya. 
"Iya terus?" 
"Mau nggak kamu..."
"Nggak. Soalnya kamu merokok," potongku tegas tanpa menunggu kalimatnya selesai.
"Memangnya kenapa kalau aku merokok?" tanyanya.
"Aku nggak suka."
"Kalau kamu nggak suka aku tak apa tapi jangan salahkan rokokku," teriaknya keras seraya menghempaskan rokoknya dan menginjaknya membuatku bergidik. 
Glekk. 
Aku terlalu berani berkata jujur. Sebenarnya aku takut tapi kuberanikan diri meskipun aku mengambil langkah mundur.
"Sudah selesai? Aku mau kembali ke kelas," kataku.
"Belum. Aku masih penasaran. Kenapa kau menyalahkan rokokku?" tanyanya seraya melangkah maju sedang aku tak berkutik terus mundur.
"Pertama itu melanggar peraturan di sekolah. Kedua merokok nggak baik buat kesehatanmu dan aku yang terpapar pasif. Ketiga aku nggak suka baunya." 
"Kalau aku berhenti merokok apa kau akan menerimaku." 
"Terlambat."
"Terlambat?"
Aku berdalih, "Bel masuk sudah lima menit yang  lalu. Kalau kau teruskan, aku akan terlambat masuk. Aku ada ulangan hari ini." 
Aku berbalik dan beranjak pergi. Tiba-tiba tangannya mencengkramku. Sekuat daya kulepaskan. 
"Kalau kau masih mau bicara panjang nanti saja kalau pulang sekolah," tegasku. 
"Baiklah pulang sekolah kutunggu di gerbang."
Aku berbalik dan memejamkan mata. Ini seperti mimpi, aku berurusan dengannya. 
Aku memejamkan mata. Pikiranku terus saja berkhianat. Seharusnya aku mengingat rumus-rumus untuk ulangan matematika. Tapi sialnya pikiranku terisi bagaimana cara menolaknya. Ia tidak akan menyerah sampai mendapatkan jawaban iya dariku. 
Aku memejamkan mataku mencari rumus yang kuhafal tadi pagi. Justru bayangan tubuhnya yang tinggi dan merajuk memohon. Oh Tuhan jangan hadirkan bayangannya.
"Dina, sudah selesai?" tanya bu Indah.
Mataku membelalak. "Belum, Bu." 
"Jangan membuat ibu kecewa. Kerjakan dengan baik." 
Glekk. Bu Indah terus mengamatiku. Aku butuh rumus. Bu Indah menghampiriku dan melihat lembar jawabku. 
"Dina kamu tidak belajar? Bagaimana bisa tinggal sepuluh menit lagi tapi kertasmu masih kosong." 
Terkutuklah aku. Seharusnya aku tak menemuinya. Ia membuyarkan rumus di otakku. 
"Bu, saya sedang tidak enak badan. Bisakah saya mengulang ulangan ini minggu depan." 
"Itu artinya kau remidi." 
"Tak apa bu. Jika itu kebijakan. Saya benar-benar sedang tidak bisa berpikir karena sakit." 
"Tapi kau terlihat baik-baik saja." 
"Emm, penyakit saya di dalam tubuh bu. Saya izin ke ruang UKS meminta obat. Nanti saya kembali lagi ke kelas," ujarku kemudian sambil beranjak dan menunduk lalu pergi.
Aku memukul-mukul kepala. Bisa-bisanya rumus itu buyar hanya karena bad boy sepertinya. 
Sekembalinya dari UKS kelas sepi tinggal Sarah teman sebangkuku. Bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu. Rupanya Sarah tak tega meninggalkanku. 
"Kau kenapa? Kenapa tadi Ergi mencarimu?" tanya Sarah terheran-heran.
"Tidak apa." Aku mengelak dan mengemasi barangku.
"Kau tadi juga tidak bisa mengerjakan soal dengan baik. Kau kenapa? Ada yang tidak beres. Katakanlah!" 
"Aku ada janji dengan Ergi."
"Kamu gila. Apa yang membuatmu berurusan dengan dia?" 
"Dia menyatakan perasaannya padaku," kataku membuat Sarah tertawa. 
"Kok bisa? Seorang Ergi bisa suka denganmu dia nggak salah?" Sarah masih tak percaya dan terus tertawa.
"Aku menolaknya." 
"Apa?" Sarah kaget. "Kau tahu akibatnya apa kalau kau menolaknya. Satu sekolah akan tahu dan dia malu harga dirinya terinjak. Kau mungkin tak akan hidup tenang selama masih di sekolah ini."
"Aku tahu. Makanya aku ingin menyelesaikan urusan dengannya." 
"Kalau begitu aku ikut."
"Jangan. Aku tidak ingin melibatkanmu." 
"Tapi Din. Dia Ergi kau tak takut."
"Aku punya Tuhan. Aku tidak takut dia," ujarku yakin sambil menggendong tas punggung.
Sarah menepuk bahuku dan mengajakku keluar kelas. Kami berjalan menuju gerbang. Ergi sudah menunggu bersama genk-nya. 
"Kok mainnya keroyokan?" tanya Sarah berbisik. 
"Tenanglah. Kau pulang saja dulu. Percayalah padaku." 
Aku tidak berhenti di gerbang. Aku terus berjalan tanpa melirik hingga Ergi mengikutiku dan menghentikan langkahku. 
"Kau yang bilang bertemu di gerbang. Kau mau menghindariku," ujarnya seraya tersenyum.
"Kau bersama teman-temanmu kupikir kau tidak jadi," elakku seraya memalingkan muka.
"Ok. Kita mau kemana?" tanyanya menantangku.
"Tidak mungkin di sini. Kita ke kedai milk belakang sekolah."
Dia tertawa. "Kamu suruh aku ke sana." Ia masih saja tertawa. 
"Kenapa harga dirimu tercoreng kalau kau di sana. Kalau begitu tidak jadi saja." Aku sadar kenapa memilih kedai itu. Biasanya isinya siswi tukang rumpi jarang ada laki-laki yang ke sana. Aku tersenyum puas.
"Baiklah tapi kita datangnya terpisah. Sekarang keluarkan buku catatanmu."
"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk mengelabuhi teman-temanku. Aku bilang ke mereka ingin meminjam buku catatanmu."
"Kau tidak sedang taruhan dengan mereka kan?"
"Aku tidak sejahat itu. Aku sudah bilang aku menyukaimu. Tak mungkin aku menyakitimu." 
Aku membuka tasku dan mengambil buku catatan matematika. Ah, tiba-tiba ingatanku mundur pada soal tadi. Gara-gara dia aku harus remidi. 
"Baiklah sampai bertemu di kedai Milk." 
Ah, kenapa aku harus berlarut-larut berurusan dengannya. Aku berjalan menunduk hingga sampai di kedai Milk tanpa bersemangat. Mataku membelalak melihat apa yang ada di depanku. Bagaimana mungkin dia sampai lebih dulu daripada aku. Sesemangat itukah ia bertemu denganku.
"Ayo masuk!" serunya yang masih nangkring di atas motor.
Ia memintaku masuk duluan dan memilih tempat duduk. Ia yang memesan susu. Tanpa bertanya padaku ia tahu apa yang ingin aku pesan. Mungkinkah ia stalking medsosku? Jangan-jangan sampai mencuri fotoku.
"Ini catatanmu sudah aku fotocopy."
"Fotocopy? Untuk apa? Kau bilang hanya ingin mengelabuhi temanmu." 
"Awalnya aku penasaran seperti apa tulisanmu ternyata rapi juga. Aku baca kebetulan pelajaranku belum sampai situ dan ada PR yang mirip cara pengerjaannya. Hanya beda angka. Jadi aku..."
"Kau ingin memanfaatkanku?" potongku.
"Tidak. Aku serius saat bilang menyukaimu," jelasnya. "Kita kembali ke topik. Kalau aku berhenti merokok apa kau akan menerimaku?"
"Tidak." 
"Kenapa tidak?"
"Aku bilang aku tidak menyukaimu." 
"Lalu bagaimana agar kau menyukaiku?"
Benar dugaanku ia tetap bersikeras mendapatkan jawaban iya dariku. Aku harus putar otak untuk menghentikan keinginannya itu.
"Kau mau tahu tapi itu belum pasti juga aku bisa menyukaimu." 
"Apapun itu akan aku lakukan. Kau bisa pegang kata-kataku," ujarnya yakin.
"Tidak. Aku tidak akan mengatakannya. Aku tetap tidak akan menyukaimu." 
"Akan aku coba. Kau hanya bisa memberiku kesempatan sekali saja." 
"Aku tidak menyukai paksaan, dipaksa atau terpaksa. Aku sama sekali tidak menyukainya." 
"Aku akan berubah demi kamu. Aku tidak dipaksa atau berubah karena terpaksa."
"Jika kau ingin berubah bukan demi aku. Tapi demi Tuhanmu. Kalau kau lakukan demi aku kau hanya akan mendapatkan kekosongan saat aku menolakmu." 
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" 
"Perbaiki niatmu, sholatmu. Belajarlah bertanggung jawab atas dirimu sendiri." 
Ia tertegun lama. Aku seperti sedang menceramahinya. 
"Jadi kau sudah tidak mempermasalahkan rokokku kan?" 
"Itu urusanmu. Tapi kau tahu aku tak menyukainya. Gara-gara rokokmu kepalaku pusing hilang semua rumus yang susah payah kuhafal tadi pagi." 
"Kau memikirkanku?" 
"Tidak."
"Benarkah kau memikirkanku sampai rumus menghilang dari kepalamu dan tergantikan aku." 
"Aku tidak bilang memikirkanmu." 
"Kau tadi mengatakan gara-gara rokokmu berarti ada aku di situ." 
"Ah, sudahlah. Kita selesai. Aku mau berangkat les. Kau menyita waktu makan siangku." 
"Aku antar ya."
"Tidak aku bisa berangkat sendiri." 
"Kau sudah meminjamkan buku catatanmu. Sebagai ucapan terima kasihku izinkan aku mengantarmu sekali ini. Kau akan lebih menghemat waktu. Bukankah jam empat kurang sepuluh menit lagi?" 
"Aku tidak suka bau rokokmu." 
"Aku membawa parfum. Aku janji kau tidak akan mencium aroma rokok dariku." 
Glekk. Kenapa dia baik padaku? Benarkah cinta yang membuatnya berubah? Sebenarnya dia baik. Hanya saja aku tidak menyukai rokoknya dan penampilannya yang urakan di sekolah.
Aroma parfumnya menyengat di hidungku. Setidaknya lebih baik daripada aroma rokok atau asap kendaraan. 
"Aku akan memikirkan kata-katamu tadi. Aku akan berusaha berubah sampai kau bisa menyukaiku. Kupikir kita berjodoh. Wajah kita mirip," katanya seraya mengulurkan helm. 
Glekk. Refleks aku menatap wajahnya wajahku di spion. Sepertinya aku tersihir. Kenapa wajahku menjadi terlihat sama saat ia mengenakan helm.
"Jangan kau bawa aku ke dalam mimpimu. Esok hari kita masih bisa bertemu. Takutnya kamu jadi lupa makan karena terbayang wajahku." 
"Apaan sih?" 
"Kau tadi memikirkanku. Itu membuatku senang. Tapi aku lebih suka kita bertemu langsung daripada hanya di dalam mimpi."
Aku menepuk helmnya. "Ngelantur. Sudah jalan! Aku hampir terlambat atau aku turun sekarang," seruku.
"Silahkan!" serunya. 
Aku benar-benar turun dari motor dan melepas helm. Tangannya tiba-tiba menghentikanku dan memakaikan helm sampai berbunyi klik.
"Aku bercanda. Ayo aku antar!" 
Glekk. Ergi menyalakan mesin motornya. Seharusnya aku berjanji tidak akan berurusan dengannya lagi. Karena berurusan dengannya sekali sama saja dengan menggali lebih dalam untuk terus terlibat. 


-------------------------------
Kau datang tiba-tiba 
Memberikan segalanya
Kau adalah seorang pria 
Seperti yang slama ini kudamba
Namun entah mengapa kau
Tak mampu munculkan rasa 
Hingga hati ini bicara
Tolong pergi jauh dariku
Hadirmu buatku terganggu 
Salah caramu sadar kau bukan untukku
(Dengarkan Dia)



To be continue...

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...