Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Merayakan Kekalahan

Cerita Sebelumnya Sebuah Konspirasi




Baru saja turun dari angkot tiba-tiba Ergi muncul.
"Assalamu'alaikum," sapa Ergi membuntutiku.
"Waalaikumsalam," jawabku sambil mempercepat langkah menuju gerbang. Setidaknya aku bisa terselamatkan. Pak Ale sudah menunggu di depan gerbang bersiap menangkap mangsa.
"Katanya nggak mau diganggu. Kok dijawab. Itu respon lho bagiku."
Aku ingin menjawab tapi dia sudah duluan memotong. "Iya menjawab salam kan wajib ya. Berarti aku setiap hari boleh menyapamu."
Aku berhenti.
"Nah begitu dong. Jalannya jangan cepat-cepat. Ini masih pagi nggak akan terlambat."
Imajinasiku mulai liar. Ingin rasanya aku mendorongnya menjauh atau berteriak minta tolong orang untuk memeganginya. Paling tidak aku bisa tenang sampai di gerbang.
"Astaghfirullah." Tiba-tiba ia mengagetkanku.
"Kenapa istighfar?" tanyaku sambil celingukan.
"Ada perempuan lewat," katanya.
"Kenapa? Cantik?" Kesa…

Sebuah Konspirasi

Cerita sebelumnya Salah Caramu



Kalian tahu Ergi yang sudah pernah kuceritakan. Ergi si bad boy yang mengusik ketenanganku setelah dia menyatakan perasaannya. Dia dan genk-nya mendadak rajin ke Masjid sekolah tapi dia masih merokok diam-diam di pojok sekolahan. Aku masih sering melihatnya kepergok guru dan dipanggil guru BP. 
"Ergi and the genk disidang lagi sama pak Ale. Rasain tuh. Bandel sih. Disuruh jangan merokok nekat," celoteh Sarah.
"Iya sih. Padahal masih minta uang saku sama orang tuanya. Kasihan kan orang tua dibohongi. Dia saja tak bertanggung jawab dengan uang pemberian orang tua bagaimana bisa jadi imam yang baik nantinya," komentarku. 
"Sebentar, sebentar. Kamu yakin dengan kata-katamu tadi. Aku hampir tak mempercayainya."
"Memangnya aku berkata apa?" tanyaku seraya memasukkan buku pelajaran ke dalam tas. 
"Kamu bilang tidak memikirkan Ergi secuil pun. Tapi kata-katamu tadi kurasa kebalikannya."
"Tidak." Aku menarik re…

Salah Caramu

Aku berdiri di parkiran. Berdua empat mata. Bel berbunyi tapi dia tidak juga bicara. Aku terus menatap jam tanganku. Dia terus menerus menghisap rokoknya seolah tak menganggap keberadaanku. Dia sudah memaksaku tapi sekarang dengan santainya dia tak bicara.
"Kalau kau tak segera bicara aku akan ke kelas. Hari ini aku..."
"Aku suka kamu," potongnya. 
"Iya terus?" 
"Mau nggak kamu..."
"Nggak. Soalnya kamu merokok," potongku tegas tanpa menunggu kalimatnya selesai.
"Memangnya kenapa kalau aku merokok?" tanyanya.
"Aku nggak suka."
"Kalau kamu nggak suka aku tak apa tapi jangan salahkan rokokku," teriaknya keras seraya menghempaskan rokoknya dan menginjaknya membuatku bergidik. 
Glekk. 
Aku terlalu berani berkata jujur. Sebenarnya aku takut tapi kuberanikan diri meskipun aku mengambil langkah mundur.
"Sudah selesai? Aku mau kembali ke kelas," kataku.
"Belum. Aku masih penasaran. Kenapa kau menyalahkan rokokku…