Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Aku Bisa

Cerita sebelumnya (Bila Engkau)
Semenjak Kiara keluar kantor, semenjak dia pergi hari-hariku tak menarik lagi. Kopi yang kuminum pahitnya terasa. Tak ada lagi yang membawakan gula tambahan. Tak ada lagi yang mengingatkan jam berapa meeting dimulai. Layar komputer hitam semua hanya ada bayanganku di sana sedang memikirkan Kiara yang biasanya muncul dari belakang membawakanku sesuatu. Jika kau tanya siapa Kiara pernah kuceritakan hari penembakan saat di Lembang. Dia wanita pertama yang mau denganku. Dia yang pertama mau menerimaku menjadi kekasih. Hubungan yang baru berjalan seumur jagung tampaknya kandas ketika Kiara memutuskan resign dan alasan resign itulah yang belum bisa kuterima. Dia minta putus. Dia ingin aku melepaskannya, merelakannya. Dia ingin aku bahagia dengan yang lain dan aku masih belum percaya secepat itu kami berakhir. "Aga, meeting, Ga." Kudengar suara Kiara mengingatkan meeting. Aku menoleh ke belakang tiba-tiba berubah menjadi Bimo. "Aga, meeting suda…

Bila Engkau

Jangan Datang Lalu Kau Pergi

Hari ini aku janjian dengan Gita di Resto dekat rumah. Aku jalan kaki dan Gita sudah beberapa kali menghubungi katanya mau memesankan makanan lebih dulu.
Kulihat dia duduk di tengah-tengah ruangan. Aku menaruh handphone di meja dan duduk. Mojito di depanku sudah memanggil-manggil untuk diminum. Belum sampai kusedot tiba-tiba Gita menusukku dengan pertanyaan pembukanya.
"Apa kabar kamu sama Mas Udin?" Gita bertanya.
Aku diam beberapa saat. Gita menanti jawaban. "Aku nggak jadi sama Mas Udin," ujarku seraya memainkan sedotan.
"Kenapa? Mas Udin nikah sama orang lain?"
Aku menggeleng dan menghentikan bermain sedotan.
"Terus apa? Padahal dari cerita kamu kelihatannya baik dan dewasa."
"Mas Udin nggak seperti yang kamu pikir. Dia membuatku kecewa berat."
"Apa yang terjadi?" Gita mulai kepo.
***

Pukul 20.00 WIB di depan televisi tiba-tiba Bunda bertanya, "Kapan Udin mau ke sini?"
"Nggak tahu, Bun. Katanya mau perteng…

Satu Nama Telah Mengunci Hatiku dan Itu Dia

"Ra, jangan bosan kalau aku bertanya tentang ini. Kamu sudah punya perasaan pada seseorang?"
Aku menggeleng.
"Astaga, Ra. Kapan kamu akan memikirkannya? Aku dulu juga begitu tapi setelah ke arah sini aku jadi sadar kalau kita seharusnya sudah menikah dan punya anak."
"Entahlah, Din. Satu pun tak ada yang berlalu lalang di kepalaku. Jika kau tanya nama satu orang saja aku tidak bisa menjawabnya." Aku beralasan.
"Tunggu kalau tentang Adam? Kamu masih stalking? Kamu itu ke Adam dulu cuma nge-fans kan?"
"Entahlah."
"Aduh, jawaban kamu itu seperti nggak punya perjuangan. Kehidupan percintaan kamu itu kayak sepatu flat tahu nggak? Gemes lihatnya."
Aku diam.
"Ra, aku itu paling susah nebak kamu. Dari kita kenal yang aku tahu kamu itu paling rumit kalau dengar kata cowok. Dikenalin nggak mau, kenal sendiri jaga jarak, dideketin menjauh. Mana ada yang berani sama kamu. Aku sebagai sahabat kamu turut prihatin."
Aku diam tapi…

Pernah Kukira Ini Tentang Cinta Ternyata Hanya Sahabat Setia

Kudatangi tempat persembunyiannya. Sudut taman kota di bagian pohon yang rimbun.
Selepas kau menghubungiku. Tapi tak ada kata-kata yang keluar, hanya isak tangismu yang terdengar di speaker handphoneku. Kini kudapati kau duduk sendiri.
"Ale," suaramu terdengar parau ketika melihatku berdiri di sampingnya.
"Kau kenapa lagi?" tanyaku seraya duduk di sebelahmu.
"Aku ada masalah dengannya. Aku sudah mencoba menghilangkan perasaan ini tapi tidak bisa," katamu sambil terisak.
"Sudah berapa lama kamu menangis di sini?" tanyaku.
Aku mengeluarkan tisu dari dalam tasku dan menghapus air matamu.
"Rasanya hatiku sakit banget, Le. Kemarin dia jalan sama cewek yang katanya teman baiknya. Ok aku bisa memaklumi karena dia berani jujur. Dia bilang aku juga sering jalan sama kamu jadi fair-lah. Tapi kali ini beda. Ini cewek cantik banget dan dia papasan denganku tapi nggak ngomong sama sekali coba. Hati mana yang nggak sakit."
"Dia sama sekali ngg…

PUTUS ITU MUDAH, YANG SULIT ITU DITIKAM KENANGAN

Klakson jalanan berbunyi melengking. Sebuah mobil berhenti di tengah jalan. Pengemudinya menyeberang. Aku tak terpengaruh dan tetap berjalan kaki. Toh dia tidak naik ke trotoar dengan mobilnya itu dan menghadangku.
Tapi tunggu ada seseorang yang berdiri di depanku dengan rok selutut dan sepatu dengan heels lima belas sentimeter. Aku mendongak. Lina sahabatku SMA. Dia langsung memelukku dan menyeretku.
"Kau tidak ingin klakson itu berbunyi terus kan? Ikut aku. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Mumpung aku balik ke Indonesia," paksanya.
Aku pun dengan sedikit malu dan menunduk minta maaf kepada mobil-mobil di belakang Lina. Bukan aku yang salah tapi entahlah kelakuan Lina memang dari dulu belum berubah. Nekat dan berani.
"Dingin? Kalau kurang dingin AC-nya biar aku tambah."
"Sudah, Lin. Nanti kalau kamu tambah bisa beku aku nanti."
Dia masih cantik seperti dulu. Polesan di wajahnya terlihat natural.
"Apa kabar kamu? Terakhir ketemu waktu…

Aku Sedang Mencintaimu

"Bi, Bian telepon Katty gih! Udah mau bubar masih belum datang juga," seru Mely yang sedang sibuk menulis.
"Ini orangnya," kataku seraya menunjukmu.
Kau tersipu dan melewatiku. Kau meminta maaf pada semua orang.

Hei cantik. Bibirmu berseri. Lipstik apa yang kau pakai sekarang membuatmu tak lagi kelabu.

"Katty datang sendiri aja? Pacar kamu mana?" tanya Tasya seraya menyenggol badanmu. Kau hanya tersenyum.
Kau duduk pas di kursi berhadapan denganku.
"Katt, gimana kabarmu?" tanya Jonas.
Kau hanya tersenyum lagi.
"Kau bisa lihat sendiri, Jo. Katty baik-baik saja. Jangan diladeni Jonas, Katt. Dia cari perhatian. Cari sasaran baru," celetuk Mely.
"Kamu patah hati lagi, Jo?" tanya Tasya sambil menertawakannya. "Aku pikir klub kita sudah bubar. Aku sudah bahagia dengan pacar, Mely sudah punya suami. Katty sudah punya pacar. Tinggal Bian yang abu-abu."
"Dua cowok di klub kita memang dari dulu abu-abu," tambah Mely…