Minggu, 24 Desember 2017

KUIKHLASKAN WALAU CINTAKU LEBAM MEMBIRU





Air mataku perlahan menetes. Kusaksikan dengan kedua bola mataku dia, penghulu, wali dan saksi saling berhadap-hadapan. Dengan satu tarikan nafas lancar diucapnya. Diiringi kalimat sah yang menggema ia menghela nafas lega. 

"Alhamdulillah," katanya.

Dia tidak akan tahu bagaimana rasanya berada di posisiku. Ikhlaskan saja batinku dalam hati. Aku mengusap air mataku dan tersenyum. Ini salahku. Aku sempat ragu dan memilih diam. Andai saja waktu itu aku mengatakan sesuatu atau bahasa lain. Mungkin lewat isyarat anggukan kepala atau penolakan halus, aku pasti tak akan semenyesal ini. 

Mempelai wanita keluar dan menghampirinya. Si wanita menitikkan air mata haru. Ia menjabat dan mencium tangan mempelai pria. Sekelibat aku tak kuasa menyaksikan dan memutuskan untuk pergi. 
"Kau mau kemana?" Tasya bertanya.
"Aku ke toilet sebentar," jawabku.
"Aku ikut," ujarnya.
Tasya membuntutiku di belakang. Bagaimana ini aku ingin melarikan diri. Ingin menangis sejadi-jadinya biar lega. Tapi Tasya terus mengikutiku. Aku tidak akan mampu menangis di hadapannya. 
"Kau ikhlas?" Tasya tiba-tiba bertanya saat sampai di toilet perempuan.
"Apa?" 
"Jangan berbohong kepadaku. Kau pernah bercerita padaku. Kau lupa?" katanya memberondong. 
"Tentang apa? Aku belum mengerti apa yang kau katakan," tukasku sembari menyalakan kran di wastafel dan mencuci tangan. 
"Hatimu. Apa kau tak sakit melihat Reza akhirnya menikah dengan Dona? Padahal kau tahu Reza menyukaimu." 
Deg. 
"Kata siapa?"
"Hei, jangan pura-pura lupa. Kau pernah bercerita. Reza pernah menyatakan perasaannya padamu." 
"Oh, itu. Itu sudah sangat lama," tukasku mematikan kran. 
"Jawab aku. Walaupun itu lama tapi masih membekas kan?" tanya Tasya sembari memegang kedua bahuku dengan tatapan menelusur. 
Aku gugup. Dia bukan cenayang. Dia tidak akan bisa membaca perasaanku. 
"Kau diam. Kecurigaanku benar. Aku heran kenapa kau tidak katakan saja padanya. Aku jadi geregetan. Diammu itu bukan jawaban seharusnya menimbulkan pertanyaan. Tapi dia juga tidak peka. Tidak mau mencari alasan mengapa kau melakukannya." 
Glek. 
"Mereka sudah bersama waktu itu." Kujawab sekenanya.
"Apa?" Nada Tasya menaik.
"Mereka sudah bersama saat Reza mengungkapkan perasaannya padaku."
"Oh, my God. Jadi itu yang dulu kau bilang saatnya yang tidak tepat. Jadi benar kalimat itu kadang ada orang yang tepat hadir disaat yang tidak tepat dan ada orang tidak tepat hadir disaat tepat. Tapi yang paling beruntung diantaranya bila bisa mendapatkan orang tepat disaat yang tepat. Aku bisa paham sekarang." 
"Bukankah itu pilihan yang sulit?" tanyaku.
"Ya sulit untukmu tapi mudah untukku jika aku tak memperdulikan kata orang." 
"Tapi aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Sekalipun aku tak mengenal wanita itu. Aku tak bisa melukai perasaannya. Kurang bijak rasanya jika kukatakan yang sebenarnya."
"Dan kau mengorbankan perasaanmu? Kau pernah di posisi itu bukan? Masa lalumu yang kelam itu. Bagaimana rasanya hanya orang-orang yang mengalaminya yang paham. Aku tidak akan pernah mengerti." 
Aku terdiam. Aku seperti sedang dikonseling oleh Tasya.
"Kau sudah istikharoh?"
"Aku pernah melihat dimimpiku seorang lelaki yang lebih tinggi dariku. Ia mengenakan kaos hitam berkacamata."
"Lalu?" 
"Aku melihat wajah Reza bersama teman-temannya. Ia terlihat malu-malu. Tapi aku juga melihat wajah lain yang bertanya bagaimana kabarku." 
"Lalu kau bimbang?"
"Ya. Tentu saja. Lalu beberapa hari kemudian wajah Reza lagi yang terlihat dimimpiku kami bercerita di atas puncak bersama," jelasku.
"Dua lawan satu." 
"Tapi suatu hari aku bermimpi lagi tentang laki-laki yang bertanya kabarku. Ia berjalan beriringan bersamaku. Aku merasa berada di daerah pegunungan." 
"Lalu sampai sekarang tidak adakah yang membuatmu merasa nyaman?" 
Aku menggeleng. "Keduanya sama-sama membuatku resah dan bingung. Kami sama-sama tidak dipertemukan dan tak berkomunikasi. Tapi sekarang aku sudah tahu jawabnya. Mungkin jodohku bukan Reza." 
"Aku tahu jodoh tidak akan tertukar. Tapi jodoh seharusnya bisa diusahakan. Kalau kau diam tidak menahannya mereka akan pergi." 
"Entahlah hanya Allah yang tahu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikhlaskan. Aku sudah memasrahkan segalanya. "
"Ilmu ikhlas itu sulit. Yakin kau bisa ikhlas? Kalau aku jadi kau tak semudah itu kata ikhlas terucap dari mulutku."
"Ikhlas itu letaknya di hati bukan hanya diungkap dengan kata-kata. Biarkan aku dan Allah yang tahu."
"Baiklah letaknya di hati tapi mata tidak pernah berbohong. Tyas kau ingin menangis bukan? Menangislah aku akan jaga pintu luar. Akan kupinjam peralatan cleaning service dan menunggu di luar. Akan kukatakan pada mereka yang akan masuk kalau toilet sedang dibersihkan." 
Deg. 
"Tidak usah. Aku baik-baik saja. Aku akan kembali ke sana." 
"Yakin? Kenapa kita tak langsung pulang?" 
"Kita belum bertemu Reza. Jangan sampai dia berpikir kita tak datang." 
"Mbak." 
Tiba-tiba ada orang yang berdiri di depan pintu masuk. Kami berdua sama-sama kaget. Sejak kapan ibu itu berdiri di situ.
"Kami sudah selesai bu. Silahkan!" Tasya mempersilahkan ibu itu dan menarik tanganku untuk segera pergi bersamanya tapi di sisi lain tanganku ditahan oleh ibu itu. 
"Tunggu, mbak. Saya mendengar semuanya."
Deg. Raut wajah Tasya mencemaskanku. Ia berisyarat itu ibunya Reza. 
Glek. Mau ditaruh di mana wajahku. Kusembunyikan di mana rasa maluku. 
"Benar, mbak sudah ikhlas?" tanya ibu itu.
"Iya bu. Saya sudah ikhlas. Saya sudah menyerahkan segala urusan pada Allah. Allah yang mengatur segalanya." 
"Saya tidak tahu kalau akan seperti ini. Kita bertemu di sini. Saya ibunya Reza. Reza sudah bercerita banyak tentang mbak. Mbak yang lebih dulu ditawari olehnya." Ibu itu diam sesaat. 
Keringat dingin mengucur. Dahiku basah. 
"Ibu yang salah. Ketika Reza meminta pertimbangan, ibu yang mengarahkan Reza untuk memilih istrinya sekarang. Padahal ibu tahu Reza menyukai mbak. Tidak mungkin ketika Reza sudah bersama dengan perempuan pilihannya tetapi masih memilih mbak. Bisa jadi Reza menyukai mbak sebelum bersamanya tapi dia tidak memiliki keberanian mengungkapkannya. Baru setelah ada seorang perempuan yang menerimanya ia memiliki keberanian untuk mengatakannya. Maafkan ibu ya." 
"Tidak apa-apa bu itu murni kesalahan saya. Saya yang dulu tidak memberinya kepastian dan Allah yang mengatur semua. Semua sudah menjadi ketetapan-Nya." 
"Ibu benar-benar minta maaf." 
"Jangan seperti itu bu. Saya ikhlas bu. Jika tidak seperti ini mungkin saya tidak akan belajar banyak bahwa kesempatan hanya datang satu kali." 
"Sekali lagi ibu minta maaf yang sebesar-besarnya." 
Air mataku mengalir di sudut. Tiba-tiba saja tak bisa kukendalikan. 
"Ibu tidak salah." Aku memeluk ibu Reza seraya mengusap air mata.
"Ada kalanya dunia begitu kejam dan ujian silih berganti. Tapi ibu yakin mbak bisa melaluinya. Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan hamba-Nya." 
Ibu Reza membelaiku. 
"Demi kebahagiannya bu. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya." Aku melepas pelukan. "Bu saya mau menemui Reza sekalian pamit," lanjutku.
"Mari ibu antar. Ibu mau kalian foto bersama dulu sebagai kenang-kenangan." 
Tasya membelalak. Ia menggenggam tanganku erat. Aku menepuk tangannya sebagai isyarat aku baik-baik saja. 
Ibu Reza berjalan di depan. 
Aku berkata lirih pada Tasya, " Aku kuat. Allah bersamaku." 
Lalu Tasya pun menepuk bahuku. 
Mencintai makhluk-Nya akan semenyakitkan ini saat tak bisa meraihnya. Allahlah Sang Maha Perencana jangan kau salahkan takdir-Nya. Jika tak ke toilet aku tak akan bertemu ibunya Reza. Segalanya sudah ada yang mengatur. 
Mencintainya cukuplah dengan merelakan. Bahagia bisa datang dari sudut mana saja. Kuikhlaskan jika memang takdir berjalan seperti ini. Biarlah cintaku lebam membiru. Suatu saat pasti aku akan lupa rasa sakitnya. 
"Hai, Reza. Aku sudah datang," sapaku. 
Kami sama-sama berdiri dan dia tersenyum. Tatapan yang masih sama. Ada aku di sana di sudut bola matanya yang kurelakan menghilang. 


--------------------------------
Andaikan kabut 
Tak menyulam hari hingga berlarut larut
Andaikan hidup ada harapan
Mencintaimu sebagai bagian terindah di hidupku
Tak kubiarkan kau tak bahagia
Berjuta fatwa cinta yang ada 
mengantarku pada kenyataan
Hati ku memeluk bayang-bayang
Ingin denganmu tapi tak bisa
Aku bukan aku yang dulu 
namun cintaku seperti dulu
Merelakanmu aku merasa bagai bulan dikekang malam
Aku ikhlaskan segalanya
Walau cintaku lebam membiru
Sakit namun aku bahagia
Kuterima segala takdir cinta (Rossa)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...