Minggu, 19 November 2017

JANGAN BILANG LAGI ITU TERLALU TINGGI




Dering telepon jam sembilan malam membuatku gusar. Perempuan itu sendirian di sana. Ia membutuhkan bantuanku. Suara isaknya membuat nyeri dadaku. Tapi aku tak sebebas dulu, seorang perempuan lain telah di sisiku.
“Kamu kenapa tidak jadi tidur, Bang?” Perempuanku berbalik dari posisi tidurnya menatapku.
“Ah, iya ini tadi ada telepon.” Aku meletakkan handphone-ku ke meja.
“Dari siapa, Bang?”
“Dari Wulandari,” ujarku jujur.
Perempuanku  terdiam.
“Tapi tidak apa-apa. Aku akan tidur.” Aku menarik selimut dan menepuk bantal.
Sisil menggenggam tanganku. “Bang, wajahmu tidak berkata demikian. Kau terlihat gusar. Apa dia ada masalah?” tanyamu meneduhkan.
“Dia baru saja mengalami masalah. Dia sendirian. Dia tidak akan meneleponku jika ia bisa memecahkannya sendiri.”
“Lalu kau mau menemuinya, Bang?”
Aku terdiam. Jika aku pergi bagaimana dengan perempuanku, jika aku tak pergi bagaimana dengan Wulandari yang sendiri di tempat asing.
“Bang, kalau kau mau menemuinya aku tidak apa. Ia lebih membutuhkanmu malam ini. Bantulah dia.”
“Benarkah kau tidak apa-apa? Atau kau ikut saja.”
“Tidak, Bang. Aku takut ia tidak bisa meluapkan emosinya jika aku ikut. Aku percaya kau tak akan berada di tempat yang sunyi, Bang. Kau akan menjaga dirimu untukku. Selalu ingatlah hati yang kutitipkan padamu.”
Aku tersenyum. Suatu keberuntungan memiliki perempuanku. Kugenggam erat tangannya. Ia beranjak membantuku berganti baju.
“Bang, sudah bawa kunci depan. Mungkin nanti aku sudah tidur kalau kau pulang.”
“Aku sudah membawanya. Tidurlah yang nyenyak. Doakan saja semoga tidak lama.”
Sisil tersenyum. Aku bergegas menemui Wulandari.
Beberapa kali kuhubungi dalam perjalanan perempuan itu tidak mengangkatnya. Pikiranku pergi kemana-mana. Ini pertama kalinya dia berisak tangis lewat telepon.
Aku langsung masuk ke dalam caffe di sepanjang jalan yang disebutkan di telepon. Beberapa kali keluar masuk tak kutemui. Sudah bolak-balik bertanya tak ada yang melihatnya. Sudah satu jam berputar pikiranku menjadi kalut. Tak mungkin dia bertindak bodoh. Seorang yang cerdas sepertinya tidak akan melakukannya.
Kakiku berhenti pada satu kedai kecil. Caffe meong. Ternyata dia berada di angkringan. Kulihat ia meminum jahe hangat.
“Kau tahu satu jam aku mencarimu. Ternyata kau di sini,” kataku seraya duduk di sampingnya.
Wulandari menoleh. Mata nanar yang kudapati tanpa berkata-kata.
“Kau habis menangis?”
“Aku tidak tahu jalan pulang. Ini di mana?” tanyamu.
“Jadi kau menangis karena tidak bisa pulang. Kenapa tidak pesan taksi saja?”
Dia diam. Aku menangkap kebohongan di sudut matanya. Tidak mungkin orang dia tidak bisa pulang di zaman yang serba canggih seperti ini.
“Kamu tahu bahaya perempuan sendirian malam-malam keluyuran begini. Apalagi kau memakai gaun begini,” celetukku seraya memakaikan jaket kepadanya. “Kau dari mana kenapa bisa sendirian dan sampai malam begini?”
Air matanya menetes.
“Oke sekarang kita cari caffe saja. Di sini dingin tempatnya terbuka kau bisa masuk angin nanti.”
Wulandari mengiyakan ajakanku. Kami berjalan menuju caffe terdekat. Ia tidak langsung duduk tapi izin ke toilet dulu. Aku menunggunya duduk di sudut dan memesan minuman hangat.
“Duduklah sudah kupesankan hot chocolate,” kataku saat ia kembali.
Matanya melihat cangkir kopi. “Itu kopimu? Sudah kau minum?” tanyanya sembari menunjuk.
“Belum. Kalau kau mau untukmu saja.” Aku menggeser cangkirnya mendekati Wulandari. “Bagaimana perasaanmu sekarang? Kalau kau ingin menangis menangislah. Jangan ditahan!” seruku.
“Aku capek,” ujarnya sambil bersandar di kursi.
Aku diam. Mungkin kau akan mengeluarkan kata-kata panjangmu. Satu menit, dua menit, tiga menit tak ada kata-kata setelahnya.
“Kamu capek kenapa?” tanyaku kemudian.
“Apa pekerjaanku buruk?” Ia balik bertanya.
“Tidak,” jawabku.
“Apa aku jelek?”
“Tidak. Kau cantik, pintar.”
“Apa salah kalau tidak bisa naik motor, menyetir mobil?”
“Tidak. Tidak ada yang salah.”
“Apa salah kalau aku fobia darah?”
“Tidak itu manusiawi. Ada beberapa orang yang juga mengalaminya.”
“Aku sadar aku tidak kaya. Aku hanya orang biasa.”
Aku diam tidak komentar.
“Lalu apa harus aku direndahkan kalau aku tidak kaya, bukan seorang dokter, jelek, tidak bisa naik motor ataupun menyetir mobil.” Perlahan linangan air matanya muncul.  “Kau tahu aku sudah mengidamkan menikah diusia ini, setahun lagi memiliki anak yang lucu. Impian hanya tinggal impian. Impianku karam. Aku pikir selangkah lagi aku bisa mewujudkannya tapi ternyata Tuhan bilang tidak.”
Aku tertegun. Dadaku nyeri. Aku bisa merasakan bagaimana sakitnya.
“Aku tidak apa ditolak baik-baik tapi jangan dibandingkan dengan orang lain. Aku tahu aku tidak ada apa-apanya. Aku tahu dia dari keluarga kaya, kenapa dia memilihku? Kenapa juga aku mau dengannya?”
Aku bungkam tak ada kata-kata yang akan menenangkannya.
“Aku tahu dia anak satu-satunya tapi tak bisakah dia membelaku sedikit saja. Aku sama sekali tak ada artinya di sana. Aku tahu ia menyayangi ibunya. Tapi tak tahukah dia bagaimana rasanya tercabik-cabik dan merasa sendirian.”
Tiba-tiba Wulandari tertawa. “Ah! Untung baru sampai di sini. Tuhan sudah menunjukkannya. Tak terbayang bagaimana jika aku jadi dengannya. Pasti banyak piring pecah," celetuknya diakhiri helaan nafas.
Ia menghabiskan kopi dengan sekali teguk. “Akhirnya plong. Lega rasanya sekarang. Kamu memang sahabatku yang  paling TOP. Jam segini rela mencariku dan mendengarkan ceritaku yang tidak penting ini. Mana sudah punya istri. Memangnya Sisil tak apa-apa kau menemuiku?”
“Iya dia yang menyuruhku menemuimu.”
“Hebat ya. Dia tidak takut aku merebutmu darinya.”
Deg. Mataku membelalak.
Wulandari tertawa. “Bercanda. Jangan serius. Kau tahu aku baru gila. Mana mungkin aku mengambil suami orang. Aku tak akan setega itu.”
“Lalu setelah ini rencanamu apa, Lan?”
“Aku mau di sini saja. Padahal aku dari tadi di sini rasanya tadi habis naik ke puncak. Kupikir di atas aku akan menemukan pemandangan yang indah, nyatanya menyesakkan. Mungkin aku terlalu muluk. Aku tidak pantas berada di sana.”
“Tidak ada yang tidak mungkin, Lan. Kamu hanya belum menemukan puncak yang pas.”
“Iya mungkin ketinggian ya. Harusnya aku pilih yang bukit saja.” Sekali lagi Wulandari tertawa.
“Lalu kamu sudah menyerah dengan rencana menikahmu di usia ini?”
“Aku capek. Aku mau begini saja dulu. Menunggu dia yang kasih aku air putih saat sedang dahaga. Apa itu masih terlalu tinggi?”
“Jadi kau haus. Ini hot chocolate-nya buat kamu sekalian. Tapi sudah dingin.”
Wulandari tersenyum. “Bahkan kau saja memberiku hot chocolate bukan air putih. Sayang sudah ada yang punya.”
Aku kikuk garuk-garuk kepala. Tiba-tiba teringat perempuanku. Kupandangi layar handphone wajahnya yang tersenyum. Ah, Sisil pasti sudah tidur. Walau senyum mereka berdua sama dengan lesung pipit tapi hatiku tetap buat Sisil seorang.
“Oh, ya bagaimana kau bisa berada di sekitar sini tadi? Ini kan berlawanan arah dengan rumahmu.”
“Setelah cekcok panjang aku suruh dia menurunkanku di sini,” jawabnya sambil nyengir.
"Dasar perempuan." Aku menipuk jidatku dan geleng-geleng kepala.

-----------------------------
Sahabatku usai tawa ini
Izinkan aku bercerita
Telah jauh kumendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana
Telah jauh kuterjatuh
Pedihnya luka didasar jurang kecewa
Dan kini sampailah aku di sini
Yang cuma ingin diam duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya
Saat ku terbaring sakit
Yang sudi dekat mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik pandang aku kau tak sendiri oh dewiku
Dan demi Tuhan jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

(Dewi Lestari)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...