Sabtu, 14 Oktober 2017

KU YAKIN CINTA





Selepas penantian panjang. Aku bertemu lagi denganmu. Kamu memakai kemeja rapi berbeda denganku yang serampangan. Kaos oblong dan cardigan biasa. Hari ini kita tidak kompak. Seperti bumi dan langit. Lama tidak bertemu mungkin membuat kita menjadi dua orang yang berbeda.
"Halo, halo! Yang ditunggu sudah datang ini," teriak Dona seraya cipika cipiki denganku.
"Kurang siapa lagi?" tanyaku.
"Sudah lengkap karena hanya ini yang bisa datang," celetuk Radit. 
Ekspektasi reuni besar tak sesuai harapan. Hanya ada kami berlima termasuk kau.
"Menunya apa nih?" tanyaku penasaran.
"Tenang nggak ada daging sapi untuk Syakira," jawab Radit.  
Aku tertawa. "Masih inget aja," balasku ke Radit.
"Iyalah dulu kamu tetap maksa makan bakso rusuk. Akhirnya kamu muntah-muntah di toilet. Itu kejadian yang nggak terlupakan." 
Glekk. Aku memanggil ingatanku. Hari itu hujan dan kami kelaparan. Hanya ada tukang jual bakso. Akhirnya kami singgah. Karena penasaran bakso rusuk seperti apa aku mencoba memesannya. Hasilnya kutelan kuahnya dan perutku merespon hal yang tak kubayangkan. Radit sampai menepuk bahuku dan menyuruhku mengeluarkan semua. 
"Masih ingat kan habis itu kamu bersumpah nggak akan makan bakso rusuk lagi." 
Aku tertawa geli. 
"Kalian berdua nggak ajak-ajak sih," sindir Jojo.
"Kalian berdua sudah ngacir duluan. Kami berdua ketinggalan di belakang kelaparan." 
"Ya harusnya kan kalian bisa bilang kami nyusul." 
"Dulu hape aku sama Radit sama-sama lowbat."
"Alasan biar kalian berdua aja kan," ejek Dona. 
"Don, hati-hati ngomongnya. Inget ada pacarnya Syakira."
Pacar. Astaga. Aku sampai lupa. Aku datang denganmu tidak sendirian. Kau sudah datang rapi-rapi tapi aku abaikan.
“Terlalu asyik sampai dilupakan,” sindir Jojo. “Kenalin ke kita dong!”
“Kenalkan ini Bara. Bara ini teman-teman seperjuanganku. Ini Jojo, Dona, dan yang paling cantik Radit,” kataku ditutup dengan tertawa. “Dit, aku bercanda jangan dimasukan ke hati.”
"Maaf, Bar. Kami tadi cuma bercanda kok. Biasa kalau ketemu yang begini," jelas Dona.
"No problem. It’s okay," jawabmu.
Deg. Mendengar jawabanmu radarku menangkap sinyal bahaya. Wajahmu datar sepanjang kutatap. Ah, mungkin saja kau masih lelah setelah menempuh beberapa jam perjalanan.
“Prakata sudah selesai. Sekarang kita pesan menu spesial hari ini,” celetuk Jojo duduk dan membuka-buka menu.
“Jo, aku pesan seperti kamu,” kata Dona.
“Kamu kan nggak tahu pesananku,” balas Jojo.
“Menunya terlalu banyak, yang ada aku lama kalau nggak kalap nanti.”
“Jo, gimana kalau menunya yang bisa buat bersama aja daripada kita buka menu setebal itu,” celetuk Radit.
“Setuju. Kalau kamu, Bar?” tanyaku.
“Aku ikut saja,” jawabmu.
 Glek. Sejak kapan kosakata itu muncul di kepalamu. Ah, hari ini kamu seperti orang asing.
“Kalian ketemu dimana?” tanya Dona tiba-tiba menguak kisahku.
Aku menatapmu dan tersenyum. Kau mengabaikanku. “Dia teman kuliahku dulu.”
“Teman kuliah? Tunggu berarti kalian LDR?” celetuk Jojo teralih dari buku menu.
“Jo, kamu lanjutin pilih menu saja. Nggak usah ikut kepo,” sindir Dona.
Aku mengangguk. “Iya dia udah jauh-jauh menemaniku. Dia baru datang langsung aku ajak ke sini.”
“Hati-hati lho LDR banyak setannya!” seru Radit.
“Sering ketemu berduaan terus, malah banyak setannya.” Dona tak mau kalah.
“Ih, kalian ini ngomong apa sih? Di sini nggak ada menu mie setan jadi jangan bawa-bawa ke sini,” potong Jojo. “Aku mau pesan. Deal ya pesanan kalian sama denganku. Bang sini!”
Hening. Hanya Jojo yang bersuara memesan menu. Aku hanya pandang-pandangan dengan Dona. Ingin mengomentari pesanan Jojo yang aneh-aneh. Ah, tapi sudahlah hanya bisa berdoa semoga enak.
“Sya, aku masih pengen kepo nih! Boleh ya?” tanya Dona.
“Nggak boleh,” jawabku.
“Bar, aku lihat kamu itu tipe cowok yang rapi tapi kok mau sama ini anak sih?” tanya Dona ngeyel.
Kamu tersenyum dan garuk-garuk kepala.
“Lihat, Bara saja sampai bingung bagaimana mau menjelaskan,” ejek Jojo.
“Jangan salah Syakira kelihatannya saja serampangan, kalau sudah ketemu kerjaan dia yang paling rajin di antara kita,” puji Radit membuatku sedikit terbang.
“Iya benar. Kamu benar, Dit. Sampai-sampai kalau dipanggil nggak dengar dia. Mesti ditabok baru menoleh,” kata Dona sambil menepuk bahuku.
“Apaan sih? Nggak selebai itu juga.”
“Dan Syakira itu kalau udah nggak mood susah orangnya. Pernah waktu proyek kelompok dia nggak setuju sama ideku. Jadinya ngambek dan nggak bisa dibujuk.”
“Owh, jadi dulu waktu ngambek tujuh hari tujuh malam gara-gara Radit. Yang kena semua orang.”
“Hei, itu masa silam. Nggak usah diceritakan lagi.”
“Jadi serius Sya gara-gara kita pakai idenya Radit dulu kamu ngambek?”
“Nggak. Radit mengada-ada. Bukan karena itu.  Sebenarnya gara-gara ada masalah sama seseorang. Kalian tahulah siapa yang bisa merubah mood-ku dengan cepat.”
“Gara-gara Dery tuh bubar dunianya. Guling-guling dia di lantai. Pencet bel puluhan kali gangguin orang di dalam rumah.”
“Ah, kamu sih ceritanya dulu cuma sama Radit. Kalau cerita sama kita berdua udah habis itu anak.”
“Maka dari itu aku nggak cerita sama kalian.”
"Pokoknya Bar kamu harus jagain dia. Perlu kamu tahu, di masa lalunya dia pernah terjatuh sendiri. Tapi dia tidak ingin orang lain membantunya. Jika itu terjadi lagi jangan biarkan dia sendiri." 
"Tentu saja."
"Dan lagi kalau tiba-tiba otaknya konslet ingin putus tahan dia. Dia hanya mengujimu sampai dimana kamu sanggup bertahan." 
"Apaan sih, Dit?" 
"Ya biar Bara waspada. Ini anak kalau sudah bilang putus, aku yang bakal direpotin. Ini anak nerocos panjang dengan pertanyaannya." 
"Benarkah?" tanya Bara singkat.
"Hati-hati saja. Aku nggak mau lihat dia nangis tujuh hari tujuh malam di depan gerbang rumahku," kata Radit membuatku malu.
Reuni berakhir dengan pembicaraan tentangku. Aku dan kamu dibahas habis. Tapi kulihat ekspresimu benar-benar berbeda.
"Bar, kok kamu diam dari tadi. Kamu marah." 
"Nggak," jawabmu singkat.
"Kok kamu kayak cewek sih. Bilang nggak tapi wajah kamu beda. Bukan seperti kamu yang biasanya." 
Kau diam sesaat sebelum petir datang. "Sebenarnya apa hubunganmu dengan lelaki itu?"
Duar. "Lelaki yang mana? Radit?" tanyaku. "Dia teman aku dari kecil."
"Dia sepertinya tahu lebih banyak tentang kamu daripada aku."
"Iya wajarlah. Dia kenal lebih lama dari kamu," jelasku.
"Bahkan dia tahu masa lalu kamu sedangkan kamu nggak pernah mau cerita padaku." 
"Bar, aku nggak ingin cerita karena takut kamu emosi dan kalau lihat mau nonjok orang itu. Aku lebih suka bicara tentang masa depan dengan segala hal yang realistis." 
"Tapi dia sepertinya yang lebih cocok denganmu daripada aku."
"Siapa Radit? Bar, kamu tahu kenapa aku pilih kamu padahal ada dia? Karena aku terlanjur nyaman denganmu. Kedekatanku dengan dia dibangun bertahun-tahun, tapi denganmu hanya butuh beberapa hari. Dia selalu bicara tentang masa lalu karena dia hanya tahu tentangku di bagian itu. Tapi tentang masa depan kamu dan aku yang tahu mau di bawa kemana."
Kau tersenyum. Aku lega.
“Kamu sejak kapan bisa merangkai kata begitu. Aku baru pertama digombali cewek.”
“Apaan sih? Kita baikan ya.”
“Memangnya aku marah,” katamu sambil berlalu dan menarik tanganku.
“Ih, nyebelin.”

-----------------------------------------
Kukira kutakkan mampu sadari,
Ketulusan cinta yang sempurna dibalik semua kekurangan ini
Namun denganmu, kutau cinta kan mengobati
segala hampa hatiku ini
Kini kupercaya, kini kupercaya
Kuyakin cinta slalu mengerti
Kuyakin cinta tak salah
Kuyakin cinta kan saling percaya 
(D'cinnamons)



Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...