Asal Kau Bahagia






Kupikir akulah yang memenangkan dirimu. Sejak kau keluar dengan kebaya biru dari balik tirai dan tersenyum manis mendekat padaku. Saat kau katakan “ya” di depan keluarga besarku debar dadaku melonjak senang.
Kupikir aku telah memilikimu sepenuhnya semenjak di depan penghulu kuikrarkan kata cintaku. Ayahmu menyerahkanmu padaku dan bersaksi aku pada Tuhanmu. Kesakralan janji suci kala itu kupikir adalah bukti kau milikku. Kurasa semua hanyalah anggapan-anggapanku.
“Ara, kamu melamun lagi?”
Kau terperanjat melihatku tiba-tiba di belakangmu.
“Ah, tidak. Aku hanya sedang menikmati pemandangan dari atas sini.”
“Kamu merindukan rumahmu?”
“Iya, ini masih terasa aneh. Kemarin aku masih melihat ayah dan ibuku tiba-tiba sekarang hanya ada kita berdua di sini.”
“Kita bisa mengunjungi mereka kalau kau sedang rindu.”
“Tidak, Bang. Aku harus terbiasa begini. Nanti kau bilang aku manja tidak bisa lepas dari orang tua.”
“Tidak, tidak. Aku tak akan menganggapmu seperti itu. Kau belum terbiasa. Mungkin ini berat bagimu.”
“Abang benar, mungkin aku belum terbiasa dengan semua ini.”
“Kau kemarin bertemu siapa?”
“Kemarin? Siapa, Bang? Aku?”
“Iya, ketika di depan rumahmu sebelum kita pindah ke sini.”
“Oh, itu teman dari Jepang, Bang. Dia hanya mengucapkan selamat.”
“Oh, jadi dia hanya mengucapkan selamat.” Aku terdiam sesaat dan melanjutkan kata-kataku, “Dia sepertinya dekat dengan keluargamu juga ya.”
“Iya, Bang. Mungkin karena kami sudah berteman lama.”
Ekspresi wajah yang bisa kubaca sendu. Matamu nanar yang membuatku semakin jauh walaupun aku duduk di sampingmu. Kau terdiam cukup lama dalam lamunan. Seperti film pendek kejadian kemarin berputar di kepalaku.
“Ara kau masih mencintaiku kan?” tanya laki-laki itu.
“Tidak,” jawabmu.
“Aku melihat di matamu masih ada aku.”
“Tidak.”
“Lihat kau tak berani menatapku. Kenapa kau tidak menungguku? Padahal sebentar lagi aku selesai tesis. Kita sudah bertahan tujuh tahun, Ra. Kenapa kamu pilih dia?”
“Aku pernah mengatakannya saat kau menerima beasiswa itu. Kau seharusnya bisa menerima resikonya.”
“Tidak bisa. Ini tidak adil.”
“Kamu harus terima, Rey. Ini keputusanku.”
“Kamu hanya sepihak. Aku belum memutuskan untuk melepasmu.”
“Rey, kumohon.” Kau menangis dan dia mengusap air matamu.
Aku menepis pikiranku. Kau membawaku ke dalam suasana kemarin. Dadaku berkecamuk dan kuredam dengan helaan nafas.
“Ra, besok kita pergi ke pantai, yuk!” ajakku.
“Baik, Bang,” jawabmu datar. Kulihat tak ada ekspresi senang diwajahmu.
“Setelah dari sana kita berkunjung ke rumah orang tuamu.”
Kau hanya mengangguk.
Melihat responmu pikiranku kembali mengungkit peristiwa malam saat kudengar kau menerima panggilan telepon dini hari. Kau keluar dari kamar dan keluar ke balkon. Rasa penasaran membawa rasa ingin tahuku. Siapa yang telepon dini hari dan ternyata suara laki-laki itu.
“Aku mohon jangan ganggu aku lagi,” katamu seraya mondar mandir.
“Tidak bisa. Aku tahu kau masih mencintaiku.”
“Kamu salah aku sudah tidak mencintaimu lagi semenjak aku menerima pinangan Bang Rosyid.”
“Bohong. Aku melihat tatapan matamu itu masih menyimpan rasa untukku.”
“Kumohon jangan ganggu aku. Aku sudah bahagia dengan Bang Rosyid.”
“Suamimu itu pasti juga tahu kau tidak mencintainya.”
Kau terdiam lama.
“Dia percaya padaku. Aku mencintainya.”
Kata-katamu yang terlintas membuatku berpikir keras. Pernyataan itu benarkah dari dalam hatimu atau hanya selintas lewat. Mungkin benar kata lelaki itu kau tidak mencintaiku.
“Ra, setelah kupikir-pikir lagi. Kita tidak jadi ke pantai besok,” kataku ingin melihat responmu.
“Baik, Bang,” jawabmu membuat dadaku sesak.
Aku pikir patah hati itu menyakitkan. Ternyata ada yang lebih menyakitkan lagi, mencintai orang yang mencintai orang lain. Kalian tidak mendapatkan hatinya, hanya raganya. Kalian memiliki status tapi tak jelas. Kalian ingin membahagiakannya tapi dia tidak bahagia. Itu lebih buruk daripada putus cinta atau sakit karena ditinggalkan.


--------------------------
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong kau masih menginginkannya
Kurela kau dengannya asalkan kau bahagia
(Armada)
Script

Komentar