Jumat, 15 September 2017

Asal Kau Bahagia






Kupikir akulah yang memenangkan dirimu. Sejak kau keluar dengan kebaya biru dari balik tirai dan tersenyum manis mendekat padaku. Saat kau katakan “ya” di depan keluarga besarku debar dadaku melonjak senang.
Kupikir aku telah memilikimu sepenuhnya semenjak di depan penghulu kuikrarkan kata cintaku. Ayahmu menyerahkanmu padaku dan bersaksi aku pada Tuhanmu. Kesakralan janji suci kala itu kupikir adalah bukti kau milikku. Kurasa semua hanyalah anggapan-anggapanku.
“Ara, kamu melamun lagi?”
Kau terperanjat melihatku tiba-tiba di belakangmu.
“Ah, tidak. Aku hanya sedang menikmati pemandangan dari atas sini.”
“Kamu merindukan rumahmu?”
“Iya, ini masih terasa aneh. Kemarin aku masih melihat ayah dan ibuku tiba-tiba sekarang hanya ada kita berdua di sini.”
“Kita bisa mengunjungi mereka kalau kau sedang rindu.”
“Tidak, Bang. Aku harus terbiasa begini. Nanti kau bilang aku manja tidak bisa lepas dari orang tua.”
“Tidak, tidak. Aku tak akan menganggapmu seperti itu. Kau belum terbiasa. Mungkin ini berat bagimu.”
“Abang benar, mungkin aku belum terbiasa dengan semua ini.”
“Kau kemarin bertemu siapa?”
“Kemarin? Siapa, Bang? Aku?”
“Iya, ketika di depan rumahmu sebelum kita pindah ke sini.”
“Oh, itu teman dari Jepang, Bang. Dia hanya mengucapkan selamat.”
“Oh, jadi dia hanya mengucapkan selamat.” Aku terdiam sesaat dan melanjutkan kata-kataku, “Dia sepertinya dekat dengan keluargamu juga ya.”
“Iya, Bang. Mungkin karena kami sudah berteman lama.”
Ekspresi wajah yang bisa kubaca sendu. Matamu nanar yang membuatku semakin jauh walaupun aku duduk di sampingmu. Kau terdiam cukup lama dalam lamunan. Seperti film pendek kejadian kemarin berputar di kepalaku.
“Ara kau masih mencintaiku kan?” tanya laki-laki itu.
“Tidak,” jawabmu.
“Aku melihat di matamu masih ada aku.”
“Tidak.”
“Lihat kau tak berani menatapku. Kenapa kau tidak menungguku? Padahal sebentar lagi aku selesai tesis. Kita sudah bertahan tujuh tahun, Ra. Kenapa kamu pilih dia?”
“Aku pernah mengatakannya saat kau menerima beasiswa itu. Kau seharusnya bisa menerima resikonya.”
“Tidak bisa. Ini tidak adil.”
“Kamu harus terima, Rey. Ini keputusanku.”
“Kamu hanya sepihak. Aku belum memutuskan untuk melepasmu.”
“Rey, kumohon.” Kau menangis dan dia mengusap air matamu.
Aku menepis pikiranku. Kau membawaku ke dalam suasana kemarin. Dadaku berkecamuk dan kuredam dengan helaan nafas.
“Ra, besok kita pergi ke pantai, yuk!” ajakku.
“Baik, Bang,” jawabmu datar. Kulihat tak ada ekspresi senang diwajahmu.
“Setelah dari sana kita berkunjung ke rumah orang tuamu.”
Kau hanya mengangguk.
Melihat responmu pikiranku kembali mengungkit peristiwa malam saat kudengar kau menerima panggilan telepon dini hari. Kau keluar dari kamar dan keluar ke balkon. Rasa penasaran membawa rasa ingin tahuku. Siapa yang telepon dini hari dan ternyata suara laki-laki itu.
“Aku mohon jangan ganggu aku lagi,” katamu seraya mondar mandir.
“Tidak bisa. Aku tahu kau masih mencintaiku.”
“Kamu salah aku sudah tidak mencintaimu lagi semenjak aku menerima pinangan Bang Rosyid.”
“Bohong. Aku melihat tatapan matamu itu masih menyimpan rasa untukku.”
“Kumohon jangan ganggu aku. Aku sudah bahagia dengan Bang Rosyid.”
“Suamimu itu pasti juga tahu kau tidak mencintainya.”
Kau terdiam lama.
“Dia percaya padaku. Aku mencintainya.”
Kata-katamu yang terlintas membuatku berpikir keras. Pernyataan itu benarkah dari dalam hatimu atau hanya selintas lewat. Mungkin benar kata lelaki itu kau tidak mencintaiku.
“Ra, setelah kupikir-pikir lagi. Kita tidak jadi ke pantai besok,” kataku ingin melihat responmu.
“Baik, Bang,” jawabmu membuat dadaku sesak.
Aku pikir patah hati itu menyakitkan. Ternyata ada yang lebih menyakitkan lagi, mencintai orang yang mencintai orang lain. Kalian tidak mendapatkan hatinya, hanya raganya. Kalian memiliki status tapi tak jelas. Kalian ingin membahagiakannya tapi dia tidak bahagia. Itu lebih buruk daripada putus cinta atau sakit karena ditinggalkan.


--------------------------
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong kau masih menginginkannya
Kurela kau dengannya asalkan kau bahagia
(Armada)

Minggu, 03 September 2017

Hingga Detik Ini




Kau di kepalaku menepilah. Aku ingin kebisinganmu berhenti sejenak. Riuh di kepalaku memanggilmu, mengenang wajahmu. Mataku mengerjap bayangmu ikut hadir. Ah, mimpilah aku memadu kasih kembali denganmu. 

"Bar, ini kopi siapa?" 
Suara Tora terdengar dekat. Kutolehkan wajahku. Benar saja tak terdengar suara pintu terbuka tahu-tahu itu orang sudah di dalam.
"Itu kopiku tapi kalau kau mau bolehlah buatmu. Nanti aku buat lagi," jawabku kembali melanjutkan pekerjaan mengecek bahan-bahan yang masih.
"Tumben sepi," ujarnya sambil celingukan.
Kulirik jam dinding di bawah pintu. "Ini masih jam delapan." 
"Jam delapan dari mana ini sudah hampir jam sepuluh. Biasanya jam setengah sepuluh sudah buka. Melamun ya?"
Kuperhatikan dengan saksama tak ada jarum yang bergerak detikannya berhenti. "Sial, jam dindingnya mati. Butuh baterai baru.”  
“Bos kok nggak bisa beli baterai jam. Itu sih kecil,” ejeknya.
“Kamu tadi masuk dari mana?" tanyaku mengalihkan. 
"Dari pintulah," jawabnya tak meyakinkan. 
"Oh, kok nggak dengar orang buka pintu."
"Wah, ini anak konslet. Kamu lupa semalam aku tidur di sofa. Mau pulang sudah kamu kunci. Itu pintu juga masih kekunci sampai sekarang. Aku jadi nggak bisa pulang. Pasti orang rumah mencariku. Bateraiku lowbat juga," cerocos Tora panjang.
"Perasaan sudah aku buka," gumamku sambil mengingat-ingat. 
Tora pergi memeriksa pintu dan benar aku memang masih menguncinya. Mungkin aku keluar tadi pagi membuang sampah lalu kukunci lagi.
"See." Tora menarik-narik pegangan pintu sekuat tenaga. "Kamu lagi ada masalah apa sih?" tanya Tora seraya melepaskan pegangan dan menghampiri kopinya.
"Masalah? Ya itu tadi baterai jamnya mati," jawabku sekenanya.
"Bukan itu. Itu dahinya ada tulisan mikir sesuatu. Kurang fokus." Tora mengambil posisi duduk dan meneguk kopinya.
"Tadi malam aku ketemu Aline. Begitu bangun ternyata cuma mimpi," ceritaku sembari membuat kopi baru.
"Bro, inget Aline sudah nikah bro. Sudah punya anak. Kenapa juga masih mampir ke mimpi kamu atau memang kamu belum bisa move on?" 
"Mimpi kan nggak bisa pre order. Tahu-tahu dia muncul. Dia duduk di pojokkan caffe ini. Di depannya ada secangkir kopi. Dia menunduk. Di mimpi itu aku cuma lihat dari jauh." 
"Ya iyalah bro dia sudah jadi bini orang. Kamu sudah nggak punya hak buat dekat-dekat. Lupakanlah. Hidup itu maju ke depan. Mimpi itu bunga tidur," gumamnya sok bijak. 
"Ah, kamu benar mungkin aku berlebihan mengungkit dia lagi!" Kuletakkan cangkir kopiku ke meja. "Ya sudahlah bisa minta tolong buka pintunya. Biar pelanggan datang nggak kecewa," seruku meminta tolong seraya mengulurkan kunci. 
"Bro, aku mau bantu tapi segelas yang tadi gratis ya." Kutangkap Tora ada maunya.
Aku mengangguk. Tora mengambil kunci dan segera membuka pintunya. 
"Sekalian bantu sapu-sapu biar bersih ya!" seruku seraya melepas apron dan meletakkannya di meja.
"Itu sih namanya nggak gratis. Dibayar dengan keringat, bro." 
"Nantilah gampang. Aku ke toilet dulu. Nanti kalau ada pelanggan disuruh duduk pilih-pilih menu dulu," seruku. 
"Yah, ini namanya bukan rejeki tapi kerja rodi ini. Sudah kekunci, nggak bisa pulang, dipaksa kerja," curhat Tora sudah macam perempuan ingin didengarkan.  
"Minta tolong sebentar, nanti gratis makanan kalau pegawaiku sudah datang."
"Kali ini serius ya. Awas kalau bohong lagi."
Kubalas dengan senyuman. Aku pun melenggang pergi.
"Bro, pegawaimu yang part time itu aku pacari boleh ya," teriak Tora tak kugubris. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Insting kadalnya mulai mencari mangsa. 
Aku mencuci wajahku biar fresh di wastafel. Usai dari toilet aku kaget Tora berdiri di depan pintu. 
"Bro, gawat. Gawat darurat." Tora heboh sendiri.
"Gawat apa?" 
"Mungkin benar kamu de javu."
"Apa sih?" 
"Keluar deh dan lihat sendiri."
Akhirnya penasaran terbawa dalam langkah kakiku. Deg. Kulihat kamu, Aline-ku yang dulu duduk di sudut dengan secangkir kopi. Masih cantik, langsing kau rawat tubuhmu dengan baik walaupun sudah punya anak. Tiba-tiba perhatianku teralih pada cangkir putih.
"Itu kopi kamu yang bikin?" tanyaku salah fokus.
"Itu kopi buatanmu tadi. Kebetulan pesanannya sama." 
"Bro. Gara-gara kopi itu setingan situasi dimimpiku jadi sama." 
"Itu de javu namanya. Sudah sana samperin Aline! Bilang minta maaf kopinya sudah nggak terlalu panas."
"Kamu sengaja ya?"
Telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. "Maaf bro. Peace. Aku mengorbankan diriku demi siapa? Kamulah. Biar mimpi sama kehidupan nyata jadi beda. Sudah sana selesaikan masalah gagal move on kamu itu." 
Tora mendorongku. Ah, harus dengan cara apa aku mengambil kopiku. 
Aku berdehem. "Al, apa kabar? Lama tidak jumpa," sapaku kikuk.
Kau menatapku. "Hai, Bara!” kata-kata sapaan serupa yang kudengar pada pertemuan awal kita dulu. “Aku masih seperti dulu. Kamu masih stay di sini. Aku pikir kamu sudah pindah atau dijual ke orang lain." Matamu bergeser melihat sekeliling tak lagi menatapku.
"Ya nggaklah. Ini rumah memang sudah di desain buat masa depan. Sebelah buat rumah, sebelah yang lain buat caffe,” jelasku. “Maaf ya," lanjutku saat ingat tujuan awalku mengambil cangkir kopi yang  mungkin sudah dingin.
"Maaf buat?" 
"Kopinya. Bisa aku ambil. Itu sudah dingin. Itu tadi Tora ngambil kopiku." 
Kau tersenyum. Rusak sudah pertahananku. Tanganku gemetar ingin terulur kepadamu. Apakah tangan itu wanginya masih sama? Apakah masih selembut dahulu? Tapi sudah terlanjur tadi aku menyapamu tanpa mengulurkan tangan. Akan aneh jika di pertengahan pembicaraan ini aku mengulurkan tangan.
"Itu.. itu aku ambil boleh ya?” Aku berubah canggung. “Aku buatkan yang baru." 
"Sebenarnya aku nggak masalah kalau kopinya dingin," gumammu.
"Maksudnya?"
"Tadi Tora memaksaku memesan itu dengan alasan dia nggak bisa buat racikan kopi yang pas. Adanya cuma itu untungnya belum diminum."
"Astaga, Tora.” Aku melotot ke arah Tora. Tanpa rasa bersalah dia seolah berisyarat tidak tahu kenapa tiba-tiba aku melotot. “Kalau saja dia pegawaiku sudah aku pecat," keluhku.
"Jangan salahkan dia. Dia sudah berkata jujur dan aku pun tak masalah."
"Jadi tadinya kamu mau pesan apa?" 
"Boleh nggak kalau aku cuma numpang duduk di sini?" 
"Apa?" Aku melongo.
"Nggak boleh ya. Kalau nggak boleh aku pesan air putih saja.”
Gerak tanganku reflek mengudara dan mempersilakan.
“Kau lupa ya aku tak suka kopi?" tanyamu entah ingin tahu atau sebatas mengujiku.
Kopi. Kau tidak suka kopi. Aku mungkin sudah lupa. Mungkin move on-ku baru berhasil sebagian. 
"Ah, iya maaf itu sudah lama sekali. Baiklah aku ambilkan pesanan kamu," kataku sambil mengambil cangkir kopi yang terlanjur dihidangkan.
"Tunggu. Bisakah kopi itu tetap menemaniku di sini?" 
Dahiku mengerut. Katamu kau tak suka kopi batinku dalam hati.
"Aku hanya tidak mau terlihat sendiri. Setidaknya cangkir itu di sini menemaniku," lanjutmu.
"Baiklah kubiarkan cangkir ini di sini. Akan kuambilkan pesanan kamu." 
Aku menghampiri Tora. Ia berisyarat bertanya bagaimana. Aku hanya menepuk bahunya. 
"Dia mau minum kopi itu?" tanya Tora penasaran.
"Sepertinya dia sedang ada masalah. Dia tidak butuh kopi." 
"Maksudmu? Dia butuh bertemu denganmu?" tanya Tora menyelidik.
"Bukan aku dia hanya butuh ditemani. Kau bawa saja segelas air putih ini dan temanilah dia."
"Kenapa bukan kamu saja?" 
"Aku tak berhak."
"Aku kan juga." 
"Beda. Kamu di sana dalam posisi netral. Kalau aku di sana bisa saja menambah masalahnya. Bagaimana kalau aku keceplosan masih menyukainya?" 
"Gila dong. Bisa digorok suaminya," celetukmu.  
"Nah itu kamu tahu. Kau antar ini nanti makanan gratisnya akan datang ke meja. Itu Dahlia sudah datang."
Tora menoleh ke arah Dahlia. 
"Dek Dahlia. Baru datang ya?" Tora menggoda Dahlia pegawai part time-ku. Kutimpuk dia dengan apron di meja.
"Kamu mau makanan gratis atau aku usir dari sini," ancamku. 
"Makanan gratis dong. Apalagi buatan dek Dahlia."
Aku menepuk bahu Tora. "Bro, ditunggu Aline itu." 
"Demi makanan dek Dahlia apapun jadi," gumam Tora makin tak jelas. 
"Bang, memangnya bang Tora pesan apa?" tanya Dahlia nimbrung percakapan.
Sempat-sempatnya Tora menoleh dan menjawab, "Apa saja yang penting buatan tangan dari dek Dahlia." 
"Kentang goreng saja," perintahku ke Dahlia. 
"Pelit banget sih cuma kentang goreng," cerocos Tora sambil berlalu menghampirimu yang duduk sendirian. 
Kulihat setelah Tora duduk kalian berdua menoleh ke arahku. Buru-buru kusibukkan diriku agar tak terlihat mengamati. 
"Bang beneran cuma kentang goreng saja?" tanya Dahlia tidak yakin.
"Apa sajalah yang cewek suka," ujarku seraya pura-pura mengelap meja. 
"Bang, memangnya mbak itu nggak bilang mau pesen makanan apa?" selidik Dahlia. 
"Kamu buatkan saja apa yang kamu suka. Nanti kalau sudah selesai makanannya kamu bawa ke sana. Kamu juga duduk di sana. Biar tidak terjadi fitnah." 
"Lho bang berarti aku nggak kerja dong. Kalau nggak kerja nanti nggak digaji." 
"Aku hitung kerja. Lagian hari ini sepi. Kita telat buka soalnya." 
"Siplah bos. Tumben baik hati banget hari ini." 
Aku menaruh lap dan berkacak pinggang mondar mandir.
“Aku ke dalam dulu." Akhirnya itulah keputusanku. Aku bersembunyi di balik pintu menetralkan degup dadaku. Sesekali melirikmu dari jauh. Dahlia sudah membawa makanannya. Kau terlihat bingung. Kulihat Dahlia menjelaskan sesuatu yang membuatmu menerima.
Kau yang pergi menghempas pintu itu dulu. Kau yang kini kembali lagi membuka pintu itu. Duduk manis di sudut sana menggodaku. Terbayang awal pertemuan kita. Kau tersenyum manis saat memesankan kopi untuk temanmu dan menyapa “Hai, Bari!” padahal aku tak tahu siapa kamu. Senyuman itu belum juga pudar hingga kini menggelitikku. Senyuman yang dulu menyemangatiku. Sesekali kulihat dari jauh saat Tora melucu.
Meski dunia nyata memaksaku melupakanmu aku masih orang yang itu. Kau kenal hatiku, aku masih seperti dulu. Tatapanku padamu tidak berubah. Hingga saat ini kau masih satu-satunya yang mengerti aku.
Kulihat Tora menghampiriku persembunyianku dan membuka pintu. "Bro, kamu benar. Jika kamu di sana mungkin kau akan menyarankan untuk mengakhiri rumah tangganya. Tapi untung yang di sana adalah aku. Jadi aku menyarankan untuk mempertahankannya." 
"Apa yang terjadi dengannya?" 
"Aku tak bisa mengatakannya. Ini rahasia aku dan Aline." 
Aku mengutuk diri. Seharusnya aku juga di sana mendengarkan. Kakiku rasanya ingin melangkah menghampirimu dan bertanya. Tapi Tora menghentikanku. 
"Bro, jangan ke sana! Kau akan menggoyahkan hatinya." 
Deg. Tora merangkulku dan menepuk bahuku berulang kali, kejadian yang sama seperti saat aku melepasmu dulu.


----------------------------------------
Aku berdiri di sini di tempat dimana dulu
pertama kita bertemu, pertama ku menatapmu
Ingatkah kau saat itu, kau tersenyum kepadaku
berbekal senyuman itu ku jalani hidup
Hingga saat ini kau masih satu-satunya
yang paling mengerti aku, semua baik burukku
Hingga detik ini aku masih orang itu
Kau kenal dengan hatimu, masih seperti dulu
(The Rain)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...