Langsung ke konten utama

KU DENGANNYA, KAU DENGAN DIA



Pintu gate 3 sudah dibuka. Aku langsung beranjak dan antri berdiri di gate 3. Entah mata yang salah atau memang hanya mirip aku melihat sosokmu yang telah lolos dari pengecekan boarding pass. Ah, hanya perasaanku saja. Kutepis pikiran itu jauh dan bergegas naik ke burung besi mencari tempat duduk.
“Permisi!” ujarku ketika melihat nomor tempat duduk bermaksud minta izin si empunya yang duduk di sebelah.
Kupikir di sebelahku perempuan ternyata laki-laki. Ah, apalagi baju yang kulihat seperti sosokmu tadi. Ketika sosok itu membuka kacamata hitam dan topi bukan main dibuat kaget.
“Lho, mau ke Bali juga?” tanyamu melempar senyum.
Deg.
“Ah, iya!” jawabku canggung.
Dadaku berdesir nyeri. Air mataku muncul di sudut. Aku mengatur nafasku tak ingin ingatanku bergerak mundur.
“Duduklah! Kau mau di samping jendela?” Kau menawariku.
“Boleh?” tanyaku ragu-ragu.
It’s okay. Tak masalah. Kamu seperti sama siapa saja,” ujarmu seraya berdiri memberiku jalan.
Aku duduk merenggangkan kakiku dan mengencangkan sabuk pengaman.
“Lama kita tidak berjumpa,” katamu melanjutkan pembicaraan. “Bagaimana kabarmu sekarang?”
“Baik. Seperti yang kau lihat. Kamu pasti juga baik-baik saja kan?” tanyaku balik.
“Tentu saja. Kamu ke Bali kerja atau mau berlibur?” tanyamu.
Glek. “Aaa.. aaaku.. mau berlibur,” jawabku terbata-bata.
“Enak ya. Kalau aku ada urusan pekerjaan.”
“Kerja di Bali?”
“Kebetulan ada klien minta pemotretan di Bali.”
“Ah, jadi sekarang kau fotografer!” tekanku.
“Ya, begitulah. Mengalir saja tahu-tahu jadi fotografer gara-gara suka foto. Padahal dulu cita-citaku...”
“Ingin jadi pembalap,” potongku.
“Iya tapi setelah kupikir-pikir beresiko. Lama-lama nyaman dengan dunia fotografi. Kalau kamu kerja apa?”
“Aku hanya bisnis kecil-kecilan. Yah, buat mengisi waktu luang.”
“Bisnis kecil-kecilan kalau ditekuni nanti juga bisa jadi bisnis besar.”
“Bisa saja kamu. Mau pemotretan di daerah mana?” tanyaku kepo.
“Klien minta di daerah Kintamani.”
Glek. Kami terdiam bersama sampai berhasil lepas landas.
“Kamu rencana mau kemana saja?” tanyamu melanjutkan pembicaraan.
“Ah, paling ke pantai. Cuci mata lihat yang biru-biru segar.”
“Sendiri saja?”
“Nggak. Sudah ada teman yang di sana lebih dulu.”
“Kok, nggak barengan saja?”
“Dia kebetulan yang mengurus akomodasi. Jadi kalau aku ke sana semua sudah beres.”
“Enak jadi kamu. Simsalabim semua beres. Aku juga sebenarnya nggak sendiri. Tunanganku sudah di sana mempersiapkan lokasi. Kebetulan kami buka usaha bersama.”
“Tunangan?” tanyaku tak percaya.
“Ah, iya! Sebulan lagi aku dan dia menikah tapi kami masih ambil job. Yah, lumayanlah buat tambah-tambah biaya. Ini mungkin job terakhir sebelum kami menikah.”
“Selamat ya!” ucapku.
“Kamu sudah menikah?” tanyamu.
Aku menggeleng.
Kau diam beberapa saat. “Ternyata aku tidak denganmu. Aku dengan yang lain,” katamu menatap ke bangku depan.
Nyeri di dada datang lagi. Aku melempar pandangku ke jendela. Awan putih tebal berjajar membentuk garis seperti hamparan sawah. Sudut mataku menitikkan air.
“Iya. Keadaan sudah berubah jauh,” balasku seraya memejamkan mata.
“Kamu sudah punya tambatan hati kan?” tanyamu.
Aku mengangguk.
“Syukurlah!” katamu.
“Kamu bahagia?” tanyaku seraya menoleh dan membuka mata.
“Tentu,” jawabmu seraya mengubah posisi duduk menatapku. “Kau juga kan?”
“Tentu saja. Kalau tidak mengapa kita menjalani hubungan dengan mereka,” jawabku membuatmu tersenyum.
Kau menghelakan nafas dan menatapku tanpa henti.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanyaku disertai loncatan kecil di dada. Jantungku dipacu.
“Hanya ingin saja. Sudah lama tidak melihatmu seperti ini. Kamu sekarang dandan ya?”
“Ah, iya!“ Aku tersipu dan menyapu rambut ke belakang telinga.
“Kamu sudah ada rencana menikah dengan kekasihmu?”
Glek. Aku diam merenung. Sebuah pertanyaan berat. Aku hanya mampu menatap.
“Tak apa jika tak ingin dijawab.”
“Sebenarnya aku ke Bali bukan untuk berlibur,” ungkapku jujur.
“Lalu?”
“Aku mau menikah,” lanjutku.
“Tapi kau bilang tadi berlibur. Kau bercanda kan?”
“Tadi aku berbohong. Dua hari lagi di Ubud. Awalnya aku tidak ingin kamu tahu tapi aku mengatakannya karena kau juga sudah menceritakannya. Aku akan merasa bersalah jika menyembunyikannya. Aku ingin batas kita semakin jelas. Jadi berhentilah menatapku seperti itu!” seruku seraya menepuk telapak tanganmu dua kali.
“Kau keberatan?” tanyamu seraya mengacak rambut.
“Iya. Tolong simpan saja tatapan itu untuk dia. Jangan kau bagi denganku!” seruku seraya tersenyum.
“Aku hanya bercanda. Maafkanlah kesengajaanku ini tuan putri,” candamu.
“Ah, sudahlah lupakan!”
Kau terdiam. Aku terdiam. Akhirnya kulihat kau terlelap dengan kacamata hitam pekat. Awalnya aku memandangmu tapi saat kesadaran kembali kulempar pandanganku ke luar jendela. Langit terbentang luas dan awan seputih kapas di sana. Semakin kupikir luas, nyatanya aku merasa jarak ini dekat. Sejauh-jauhnya kami akhirnya dipertemukan juga. Seluas-luasnya langit pasti kutemukan awan putih.
Seseorang pernah berkata ketika kita pernah melewati sebuah ujian dan belum berhasil, kita akan diuji sekali lagi. Jika setelahnya berhasil, ujian itu tidak akan datang lagi dan berganti dengan yang lainnya.
Setelah semuanya terlewati dengan baik, hadirmu menjadi ujian bagiku. Sekali lagi kita terjebak di dalam satu ruang dan rongga udara. Letak perbedaannya kini kau dengan dia dan aku dengannya. Kita sama-sama terikat dan tak mungkin menyatu lagi.
Suara persiapan pendaratan membuatku terbangun begitu juga kamu. Ternyata aku juga ikut terlelap.
“Sudah mau sampai?” tanyamu seraya membuka kacamata.
Aku menunjuk ke arah luar jendela. “Daratan sudah di depan sana.”
“Rasanya aku baru saja tidur,” keluhmu yang kubalas dengan senyuman.
Pendaratan berhasil kulihat kau buru-buru melepas sabuk pengamanmu padahal ada seruan untuk tidak melepasnya dulu. Kau sudah memakai topi dan kacamatamu.
“Sepertinya kau buru-buru?”
“Ya, biar nggak berdesak-desakan nanti,” katamu seraya garuk-garuk kepala.
“Kalau begitu kau duluan saja,” ujarku basa-basi.
“Sebelum kita berpisah sekali lagi aku ingin mengucapkan selamat. Semoga kalian berdua berbahagia.”
“Terima kasih. Sama halnya denganmu. Semoga kalian juga berbahagia dan diberi kelancaran.”
“Tentu saja. Terima kasih Diana,” ujarmu seraya melambaikan tangan dan berlalu melihat pintu sudah dibuka.
Aku melihat sebuah note kecil tertinggal di kursimu. Kuambil dan ingin ku kembalikan tapi kau sudah berlalu jauh. Penasaran kubuka saja siapa tahu ada nomer telepon atau alamatmu. Lembar demi lembar yang kubuka kosong. Ketika aku ingin berhenti dan tak meneruskan terlihat ada coretan di halaman sebaliknya.

Terima kasih atas pertemuan indah ini. Aku berterima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kita kembali. Aku selalu mendoakan kebahagianmu. Walau pada akhirnya kita tak bersama. Aku baru mengerti hari ini ketika Tuhan menghadirkanmu lagi. Ada cinta tak harus memiliki dan ternyata orang itu kamu. Jangan lupa bahagia, Diana.

Isak tangisku pecah.

-------------------------------
Awalnya ku tak bermaksud apapun
Saat kenal dirimu
Kita hanya saling bercerita tentang
Ku dengannya kau dengan dia
Mengapa Tuhan pertemukan
Kita yang tak mungkin menyatu
Aku yang tlah terikat janji
Engkau pun begitu
Kucoba lawan aturan yang ada
Tuk terus bersamamu
Semakin kutenggelam dalam keadaan
Semakin ku menginginkan lebih
Kutahu kau bukan untukku
Mustahil ku hidup denganmu
Satu hal yang harus kau tahu
Ku mencintaimu (Afgan)

Komentar