Langsung ke konten utama

Posong Temanggung


Satu hari libur tanggal merah di bulan Mei sebelum mulai puasa. Diajak tante ke Temanggung. Temanggung bagiku bukan kota biasa. Sebuah kota penuh cerita masa kecil, tinggal tujuh tahun dan menyimpan kenangan adik kecil yang tiada di sana. Tapi aku ke sana bukan untuk singgah ke kotanya hanya numpang lewat. Karena Posong berada di pinggir dekat perbatasan Wonosobo.

Nah, ingatan wilayah tentang Temanggung di masa kecil hanya dari rumah sampai alun-alun. Mungkin karena ada kenangan zaman duduk di taman kanak-kanak pernah ikut karnaval di sana. Tapi zaman sekarang sudah canggih tentu saja mbah google menjadi senjata utama.


Baiklah kita mulai perjalanannya dari arah semarang melewati jalan lingkar Ambarawa menembus Jambu. Selanjutnya ambil jalan tembus melewati pringsurat. Eh, lama nggak lewat sekarang sudah ada gapuranya besar. Kemajuan. Dulu patokannya pertigaan pos polisi sebelum soropadan. Sekarang lewat sampai pangling. Kalau sudah sampai bangjo belok kanan tinggal lurus terus sampai ketemu alun-alun Temanggung. Nah berhubung ingatan hanya sampai situ mengeluarkan senjata mbah google.


Sering dengar Bulu Parakan akhirnya meluncurlah melintasi jalan itu. Untung jalannya nggak banyak belokan kalau sudah mentok ambil kiri ikuti jalan utama ternyata ketemulah tulisan posong. Walaupun pada akhirnya harus cari tempat putar balik. HAHA Aku jadi navigator yang gagal. WKWK Salahnya mbah google juga sih pakai acara muter dulu padahal udah lewat itu jalan. Beberapa kali papasan dengan bus Semarang-Wonosobo. Ehm, berarti bisa naik bus kalau mau ke Posong sama teman pikirku. Begitu belok kiri, bayar loket masuk Rp 7000,- per orang, dan mulai tanjakan berkelok ternyata jalan masuknya lumayan kalau mau jalan kaki udah berasa naik gunung tuh. WKWK




Jalan masuk ke lokasi hanya satu lanjur yang dipakai dua arah naik dan turun.
Kalau pakai mobil asli serem banget kalau papasan harus yang ahli. Tanteku awalnya menyerah waktu papasan pertama minta tolong bapak-bapak. Aku yang di dalam mobil sama saudara sepupu tak berkutik. Tante turun, bapaknya masuk langsung tanya handrem padaku. Aduh model matic kagak ngerti. Bapaknya nyari di kaki nggak ada. Akhirnya kupanggil tante. Ternyata tombol P di samping persnel. Ya sudah setelah nanjak melewati dua mobil lega. Bapaknya pencet tombol P yang handrem tadi. Aku tanya sampai dua kali untuk memastikan sudah di handrem kan. Bapaknya bilang sudah. Begitu tante datang taratara tante bilang bapaknya nggak meng-handrem. PANK. Untung jalannya berbatu ga mulus dan udah ditaruh di tempat datar. Kebayang kalau itu pas ditanjakan waaa... tak bisa kubayangkan. Ternyata harusnya yang tombol P tadi harusnya ditarik kayak model handrem biasanya. Untung saja masih dalam lindungan Allah.



Oke lanjut. Tanjakan demi tanjakan berliku dilewati sambil merapal doa semoga nggak papasan lagi. Tiba-tiba ada satu petugas yang menghadang. Katanya ada mobil yang mau turun. Akhirnya nunggu dalam hati kenapa cuma satu saja padahal di tengah-tengah jalan tadi sempit kurang banyak personilnya itu. Ketika tante tanya masih jauh. Petugasnya jawab kurang 500 m. Tante udah pengen putar balik kalau ada jalan. Ternyata memang itu jalan satu-satunya dan nggak ada area buat putar balik. Akhirnya setelah beberapa tanjakan dari jauh kelihatan parkiran.

Lega.

Setelah itu masuklah ke taman bayar Rp 10.000,- per orang. Begitu masuk sebelah kiri terlihat tulisan POSONG dan sebelah kanannya gunung Sumbing keren banget. Memang butuh perjuangan untuk sampai ke atas dan reward-nya indah banget.



Ah, nyari gazebo, duduk manis sambil ngopi menatap gunung Sumbing. Ijo seger buger.


Barulah setelah puas hunting foto. WKWK nggak terlewatkan pokoknya. Sudah jauh-jauh 2 jam lebih dari rumah penuh perjuangan harus ada yang diabadikan. Lihat ada beberapa tenda berjajar, aduh jadi pengen camping. HIKS. Enak kali ya rame-rame sama teman atau sama pendamping masa depan besok dah. Berkhayal tinggi.



Foto-foto kelar. Saatnya balik. Tapi asli rasanya kalau sudah di atas malas turun. Apalagi lihat medannya. Aduhai serem. Padahal yang nyetir tante yang heboh aku. WKWK





Tante ternyata merasakan hal yang sama. Terbukti waktu turunan papasan beberapa mobil hampir menyerah. Bahkan sampai buka kaca mobil dan curhat ke bapak-bapak yang bikin geli "Pak saya takut" ternyata bapak-bapaknya menanggapi positif "Iya nggak papa mbak. Bisa-bisa."
Aku menyesal momen itu tidak kuabadikan. HAHA kayaknya lucu gokil ala anak vlog. Tapi masalahnya tak sebercanda itu waktu di TKP. Masih tegang belum bisa ketawa-ketawa. Setelah itu berhasil terlewati masih ada lagi papasan yang ekstrim. Lagi-lagi pas tikungan. Jadi ada mobil kebun yang sudah mencoba mepet. Mobil di depan sudah bisa lolos tapi kembali tante takut. Apalagi lihat bapak-bapak dan ibu-ibu bawa anak di depan ekspresinya seperti orang ngilu lihat ban samping kiri nyaris. Banyak banget yang kasih aba-aba. Setelah semua terlewati aku sama tante bercakap-cakaplah. Mungkin seperti ini kehidupan kita. Apapun yang terjadi harus kita jalani nanti juga bakal terlewati. Kata-kata bijak tante keluar. Tante memang strong. HAHA


Lega. Begitu lihat jalan raya. Rasanya udah mau jingkrak-jingkrak. Tante yang pas mau balik bilang ngantuk akhirnya nggak jadi ngantuk gara-gara melewati peristiwa menegangkan. Tapi begitu sudah berada di jalan aspal kantuknya mulai terasa. Kalau saja aku bisa udah aku ganti tapi aku nggak bisa tante. Maafkan saya.

Akhirnya begitu sampai alun-alun Temanggung berhenti. Beristirahatlah cari yang segar-segar biar ngantuknya hilang.



Setelah itu melanjutkan perjalanan pulang.

Pelajaran dari Posong
- Pengen kasih masukan ke pengelola rasanya. Itu jalannya kalau bisa dibuat alternatif jalur searah naik dan turun dipisah seperti di umbul sidomukti. Atau kalau memang itu jalan satu-satunya shelter papasan dibuat agak lebar. Itu masih terlalu sempit. Kalau memang tanahnya yang nggak bisa personilnya yang dijalan ditambah buat halo-halo biar bisa meminimalisir papasan dua mobil.
- Bagi kalian yang mau ke Posong sarannya pakai motor aja.
- Diingatkan sekali lagi kalau ingin memperoleh sesuatu apapun itu harus melalui perjuangan. Tidak ada cara instan. Selepas tanjakan penuh liku pasti akan ada sesuatu yang indah di akhir.

Mau lagi ke sana tapi mungkin kalau pakai motor. Kalau pakai mobil nunggu jalannya diperlebar dibaikin dulu. WKWK
Oke. Sekian cerita perjalanan Posong.





Komentar