Langsung ke konten utama

Solo Lagi, Lagi dan Lagi

Solo bagiku bukan hanya sebuah kota numpang lahir tapi juga menyimpan segudang misteri dan rindu. Usai menempuh pendidikan di kota Solo tak berarti melupakannya begitu saja. Di sana masih banyak ingatan dan tempat-tempat yang belum dikunjungi. Sudah tidak bisa dihitung berapa kali singgah di kota ini tapi tetap saja banyak lokasi yang ternyata kalau disuruh menelusuri pasti bisa tersesat. Ya, jalan-jalan kecil di pinggir kota atau bahkan bisa jadi di tengah kota. Tapi tenang seberapa jauh tersesat di kota Solo kamu akan menemukan jalan kembali HAHA masih banyak orang baik yang akan menunjukkan jalan yang lurus. 

Kali ini perjalanan akan dimulai dari hari Sabtu. Niat awal weekend dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjelajah. Kenyataan berangkat dari rumah pukul 14.00 dan sampai Solo sekitar jam 17.30. Biasanya ke Solo hanya sekitar 2 jam tapi hari itu luar biasa. Di sekitar Ampel ada sebuah truk pengangkut semen yang tidak kuat di tanjakan berguling akhirnya jalannya dibuat sistem buka tutup. Parahnya lagi mungkin bus yang ditumpangi mesinnya panas akhirnya dioperlah ke bus yang di belakangnya. Resiko malam minggu: bus berjejal orang, penuh sesak. Aku dan ranselku terpepet, bergelantungan. Alhamdulillah ada bapak-bapak yang baik hati menawariku tempat duduk. Padahal banyak orang yang berdiri. Semoga menjadi amal untuk beliau. Sampai Solo ternyata menjelang malam WKWK 

Minggu pagi ke Car Free Day Karanganyar. Apa aku yang kurang memperhatikan atau memang tamannya baru. HAHA Ada Ceria Taman Ramah Anak di samping Masjid alun-alun Karanganyar. Taman ini isinya tempat bermain seperti prosotan, jungklat jungklit, ayunan, ada gambar permainan ular tangga, grobak sodor, engklek dan gambar tentang perlindungan anak di dinding-dinding. Walaupun sudah bukan anak-anak lagi tapi nggak apa-apalah masuk ke taman ini buat observasi kalau punya anak bolehlah dibawa ke taman ramah anak ini. WKWK 





Selesai ber-CFD ria. Ganti lokasi menuju ke Solo. Janji bertemu teman di sekitar Manahan. Minggu pagi di sana juga ada pasar tumpah tapi kami tidak ke sana. Kami mau mencoba Rumah Terbalik. Semacam upsidedown di Jogja. 




HAHA Tiket masuknya Rp 35.000,- per orang. Begitu masuk disuguhi gambar ular gedhe, jerapah melet dan gambar lainnya yang bisa buat foto-foto. Kami bertanya-tanya mana yang terbalik ternyata berada di bagian belakang. Oke jepret-jepretlah dulu sampai puas. Sampai pusing kena tipuan mata. 




Keluar dari ruangan sempoyongan mungkin kami lelah pemotretan. WKWK Haus. Eits, jangan khawatir ketika buka pintu exit sudah di suguhi tempat nongkrong The Milk. Jangan asal duduk nanti nggak datang-datang pesanannya ternyata sistemnya pesan-bayar-baru duduk semacam di food court



Okelah untuk melepas dahaga sejenak menunggu teman yang dari Madiun sampai di Solo Balapan. Kami sengaja nggak pesan makan soalnya mau pindah tempat ke OMAHE WHAWIN. Ketika aku ajak ke sana teman tanya Whawin itu siapa. Mana kutahu nah nama tempat makannya begitu OMAHE WHAWIN. Ntar deh kenalan sama Whawin di sana. WKWK 

Minuman belum habis teman yang dari Madiun sudah mengabari sampai Palur. Hah, itu sudah dekat. Buru-burulah disruput sampai habis. Langsung menuju Solo Balapan lewat Pasar Nangka. Teman keluar dari stasiun pakai koper. Langsung nyalakan mbah google. Omahe Whawin Jl. Kelud Utara. Jalanlah. Lurus, ada Karavan FM belok kiri, ketemu Pasar Ngemplak ambil yang lurus. Nah lucunya habis jembatan harusnya masih lurus dikit kami sudah belok. Sadar waktu lingkaran biru tiba-tiba pindah ke samping kiri. Lho nyasar. HAHA akhirnya masih bisa diakali dengan jalan tikus. Untung belum kelewatan, begitu sadar langsung ambil ke kanan mlipir lewat rumah penduduk sampai di rel kereta api. Nyebrang dan sampai kembali ke jalan raya. Posisi sudah kembali ke jalan yang benar. Baru senang sebentar eh ternyata gangnya terlewati. Tidak ada petunjuk di tepi jalan. Ya sudah akhirnya putar balik dan setelah masjid belok kiri. Barulah ada petunjuk parkir Omahe Whawin. Sampailah di depan Omahe Whawin. Disambut pintu khas Bali. 






Owh, jadi ini yang katanya seperti di Ubudnya Bali. HAHA masuklah kami dan memilih yang lesehan. Menu makanan ala angkringan. 





Sudah kenyang, foto-foto lalu pulang. Satu ke Jakarta, satu ke Jogja, satu ke Boyolali dan satu nya kembali ke rumah. 

Pelajaran yang dipetik:
- Menemukan taman ramah anak. Great. Semoga akan banyak taman-taman seperti itu biar anak-anak kecil zaman sekarang nggak cuma main gadget. Eh, kalau aku? Main gadget, foto selfie gapapa dulu kan udah pernah mengalami jadi anak-anak dan main tradisional. WKWK Sebenernya sih masih ingin main betengan, grobak sodor, engklek tapi tubuhnya yang sudah nggak sesuai sama umur. Kalian wahai anak kecil mainlah sepuasnya sebelum tubuh dan usia kalian menghalangi. 
- Kalau mau pakai mbah google buat menelusuri jalan sinyal harus kuat. Kalau sinyal nggak kuat dijamin kesasar nunggu si biru bulet jalan. HAHA
- Bersyukur masih bisa bertemu sohib seperjuangan dan kembali di Kota Solo. Komunikasi sesama teman harus tetap terjaga walaupun sudah berjauhan. Jarak diciptakan untuk mempererat ikatan. Tanpa jarak mungkin kalian lupa bersyukur memiliki teman yang masih ingat selalu meskipun terpisah jauh.

Sekian kisah perjalanan ke Solo di bulan Mei. Salam.


Komentar