Langsung ke konten utama

Kembali Ke Bandung



“Jadi begini rasanya. Kita berdiri di tempat yang sama,” ujar Faisal seraya mengulurkan segelas cola.
Aku dan Faisal berdiri jauh dari altar serba putih dengan hiasan warna bunga kuning. Gaun putih Liliana sangat simple tapi terlihat elegan dan Sam tak kukira bisa setampan itu dengan jas putihnya.
“Ya kau benar. Nasib kita sama. Mereka lebih bahagia berdua daripada bersama kita,” kataku menanggapi.
Alunan musik klasik mengalun. Acara resepsi garden party Liliana dan Sam mengusung tema vintage. Sebuah konsep yang dulu pernah kuceritakan pada Sam. Tak kuduga ia akan memakainya bersama Liliana.
“Dulu aku bermimpi bisa bersanding dengannya. Kuikrarkan janjiku untuk selalu bersamanya. Tapi nyatanya Tuhan tak merestuinya. Aku jadi belajar banyak hal salah satunya untuk tidak mengucapkannya lagi. Janji adalah janji. Janji harus ditepati. Tapi sekarang dia bersamanya. Mau bagaimana lagi?” curhat Faisal.
“Manusia hanya bisa berencana. Kita tidak bisa memaksa kehendak-Nya.”
“Hari ini aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Dadaku terasa sesak. Aku sudah pernah kehilangannya, tapi ini lebih menyakitkan dari sebelumnya,” lanjutnya.
Aku meneguk cola-ku hingga habis lalu bertanya, “Lalu kenapa kau datang?”
“Untuk menemanimu. Kudengar kau akan datang. Akhirnya kuberanikan diri.”
Aku tersenyum kecut. “Kalau kau tak sekuat itu tak usahlah kau datang,” ejekku.
“Sial, kau mengejekku!” umpatnya.
“Setidaknya aku tak sepertimu yang lemah. Aku pernah kehilangan dia sebelumnya, jadi hari ini aku tak akan kehilangan dia untuk kedua kalinya,” lanjutku.
“Kok bisa? Kamu rela?”
Aku mengangguk. “Aku yang melepasnya. Aku yang membiarkannya terbang bebas. Hari ini aku turut bahagia untuknya.”
“Kau bisa ya berlapang dada. Sepertinya kau pemenangnya,” pujinya.
“Tidak ada pemenang hari ini. Semuanya seri. Rasa sakitnya dulu sudah terobati, dan penyesalanku tidak akan menjadi-jadi. Aku dan dia sama-sama bahagia hari ini.”
“Gila. Kau bahkan bisa tersenyum bahagia untuknya? Memandangnya saja hatiku rasanya remuk,” celetuknya.
Aku meletakkan gelasku yang kosong. “Kalau kau masih mencintainya, kenapa dulu kau tak memperjuangkannya?”
“Panjang ceritanya,” tukasnya.
“Kalau panjang kenapa tidak dipendekkan saja misalnya dengan menerima kenyataannya sekarang.”
“Ya, kau benar terlalu panjang sampai berakhir seperti ini. Keadaan yang memaksa aku harus menerima kenyataan hari ini. Pahit.”
Faisal pun meneguk cola-nya sampai habis. Tangannya mengisyaratkan mari berdansa seraya menaruh gelasnya ke meja. “Mau berdansa? Please mau ya! Sekali ini saja. Momen langka,” pintanya.
Aku mengangguk dan menerima uluran tangannya. “Kau diundang langsung olehnya?” tanyaku melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti saat menikmati alunan musik klasik.
“Iya dan dia yang mengantarnya sendiri. Sakit banget jantungku rasanya ditikam.”
“Itu artinya dia masih menganggapmu ada. Berarti tak sepahit itu. Buktinya dia masih ingat kamu.”
“Justru itu pahitnya. Kalau dia masih menganggapku kenapa harus dia bersama orang itu.”
“Dia baik. Wajar kalau bisa suka sampai menikah,” jelasku.
“Kalau dia benar baik kenapa dulu kau meninggalkannya?” tanyanya tak setuju.
“Ceritanya panjang.”
“Kau mengutip kata-kataku?”
“Iya dan kubuat pendek dengan kata ini karena hari kemarin sudah menjadi masa lalu. Aku tidak akan membahasnya lagi.”
“Curang. Wah, nggak fair itu!”
“Kamu juga nggak cerita. Curang bagian mananya?”
“Benar juga,” jawabmu.
Setelah beberapa langkah Faisal memutar tubuhku. Tiba-tiba kudengar umpatannya, “Sial, mereka berjalan ke sini.”
Faisal berhenti dan berjalan mencari minum. Aku mengikutinya, kujumput dua gelas cola lagi.
Cheers!” ajakku seraya mengulurkan gelas sebagai balasan gelas yang diberikannya tadi.
“Bisa-bisanya kau mengajakku cheers disaat begini,” gerutunya seraya mengambil cola itu dari tanganku.
“Kalau kau tidak bisa pura-pura bahagia sebaiknya kau pamit saja. Kau ingin mereka tahu kalau kau terluka. Memangnya kau tak malu dikasihani mereka.”
“Ah, kau benar! Kita cheers untuk kekalahan kita. Karena tak ada satu pun dari kita yang bersanding dengan mereka.”
Aku menghentikan gelasku agar tak jadi berdenting. “Kubilang tidak ada kemenangan apalagi kekalahan.” 
“Lalu cheers ini untuk apa?” tanyanya seraya membenturkan gelasnya ke gelaskku.
“Untuk kebahagian kita masing-masing,” jawabku.
“Sial. Kupikir kebahagiaan kita bersama ternyata masing-masing,” umpatnya.
“Kau pikir aku mau denganmu? Kau saja belum bisa move on.” Aku menertawakannya. Geli.
“Ini nggak permanen kok, cuma sesaat sebentar lagi juga pergi. Ibarat sudah diusir, nanti juga bakalan pindah,” jelasnya tapi aku tetap tak mempercayainya.
“Urusan hati nggak segampang itu, hari ini ingat besok mendadak lupa. Tidak logis. Paling nanti baper lagi kalau sedang sendiri,” ejekku seraya menjulurkan lidah.
Faisal menoleh ke sampingku. Matanya mengisyaratkan tengoklah ke samping kanan.
“Kalian berdua serius sekali. Sedang ngobrol tentang apa?” tanya Sam yang ternyata sudah berdiri di sampingku.
Aku menahan tawa melihat ekspresi wajah Faisal. Tak mungkin kuceritakan kegalauan Faisal karena Liliana. Tak mungkin nanti jadinya runyam. Aku akan dikunyah mentah-mentah oleh Faisal.
“Bukan hal yang penting. Hanya sekedar bertanya kabar karena lama tak bertemu,” jelas Faisal semakin membuatku tertawa mendengar kebohongannya.
“Terus kenapa kau tertawa, May?” tanya Liliana mengikutiku tertawa.
Aku menghentikan tawaku dan berdehem.
“May, tertawa karena tadi aku habis cerita lucu,” jawab Faisal.
“Benarkah? Mau dong dengar cerita kamu. Sudah lama sekali tak mendengar cerita lucumu,” pinta Liliana.
Aku yakin keputusan Faisal salah. Seharusnya ia tidak mengatakan hal yang justru memancingnya kembali ke masa lalu. Bertemu saja sudah sakit jantung, ini ditambah diingatkan masa lalu.
By the way, Liliana dan Sam selamat ya. Semoga langgeng,” potongku mengalihkan pembicaraan. Kupikir Faisal akan berterima kasih nyatanya wajahnya kesal padaku.
“Terima kasih ya. Oh, ya kamu nggak mengucapkan ke kita, Sal?” tanya Liliana bergurau.
“Selamat ya. Selamat,” ucap Faisal canggung seraya mengulurkan tangannya bersalaman.
Sam melirikku tajam. “Kapan kamu kembali ke Jogja?” tanya Sam tiba-tiba.
Glekk.
“Secepatnya setelah acara ini selesai,” jawabku.
Faisal terlihat tak suka mendengar jawabanku. “Secepat itu, May? Kamu nggak mau muter-muter Bandung dulu.”
Aku menggeleng.
“Wah, padahal aku sudah siapkan mobil untuk keliling Bandung gratis!” pamer Faisal.
“Iya seharusnya kamu menikmati kota ini sedikit lebih lama. Faisal juga bersedia menemanimu,” kata Sam yang tiba-tiba menghunus dadaku.
Aku hanya sanggup menarik sedikit senyuman dari bibirku. Tiba-tiba aku terselamatkan oleh sebuah panggilan dari Jogja. “Sepertinya dari kantor sebentar ya,” pamitku sedikit menjauh untuk mengangkat telepon.
Kulihat mereka bertiga canggung terutama Faisal yang terus melirikku agar cepat menyudahi panggilan. Usai kututup, kuhampiri mereka.
“Maaf, sepertinya ada masalah darurat. Aku harus kembali secepatnya. Berhubung aku sudah lama di sini aku pamit pulang dulu.”
“Aku antar. Aku sekalian pamit pulang juga ya,” kata Faisal ikut-ikutan.
“Terima kasih karena kalian menyempatkan waktu jauh-jauh untuk memenuhi undangan kami. Semoga kalian segera menyusul,” ujar Sam.
“Iya sekali lagi terima kasih ya. Tanpa kedatangan kalian tidak akan lengkap,” lanjut Liliana.
Aku menyeringai. Faisal tersenyum memaksa. Akhirnya aku dan Faisal segera keluar dari area garden party.
“Kesal nggak sih? Sumpah aku kesal banget terutama sama Sam. Dipikir kita nggak laku. Mana di doakan segera menyusul. Sial,” umpat Faisal kesal.
“Kamu jadi nggak mengantarku? Kalau jadi antar aku ke hotel dulu ambil pakaian,” kataku seraya mencari kunci hotel yang kutaruh di tas.
Faisal mengangguk meski mulutnya komat-kamit masih tak terima. Tiba-tiba dia berhenti dan membuatku bingung.
“Kenapa tiba-tiba berhenti?” tanyaku.
“Aku penasaran.”
“Penasaran apa? Ada-ada saja kamu ini,” celetukku.
“Kamu kenapa cepat-cepat pulang?”
“Aku ada urusan pekerjaan yang belum kuselesaikan,” jawabku.
“Tapi kenapa kamu pesan tiket kereta?” tanyanya sambil menunjuk tanganku yang memegang tiket booking kereta.
Jeli sekali penglihatannya. Tulisan yang sangat lembut bisa dibacanya. “Ini booking tiket kemarin,” ujarku berbohong.
“Bohong.” Faisal merebut secarik kertas dari tanganku. “Ini tertulis untuk hari ini. Masih enam jam lagi,” bacanya.
Aku terdiam lalu mendapatkan alasan yang bagus, "Aku sengaja supaya punya waktu berkemas dan buat jaga-jaga kalau kena macet."
“Kau berkilah. Sudah jujur saja kau menghindari pembicaraan dengannya bukan? Mengaku kuat padahal tetap saja berhati hello kitty,” ejeknya.
“Aku tidak bohong. Aku benar ada pekerjaan darurat.”
“Kamu bohong. Darurat tapi kok udah beli tiket kereta. Itu namanya sudah direncanakan.”
“Kebetulan saja kejadiannya seperti ini.”
“Bohong.”
“Tunggu kenapa aku harus berdebat denganmu? Aku tak harus menjelaskan padamu bukan?”
“Iya kau memang tak perlu menjelaskannya. Kita tak ada hubungan apa-apa. Tidak usah menjelaskan,” sindirnya.
“Tunggu kenapa jadi bawa-bawa hubungan? Kalau kau keberatan mengantar aku bisa cari taksi atau angkot.”
“Habis kamu bikin sewot. Apa susahnya sih mengakui perasaan? Aku saja sudah mengaku padamu kalau aku sakit dan kamu bilang aku belum bisa move on. Lalu kamu jenis apa? Yang mana?”
“Buat kamu itu penting?”
“Iya dong. Penting untuk dijawab biar satu sama.”
Aku mendecak. “Aku tidak akan cerita.”
“Aku tidak jadi mengantarmu kalau begitu,” tantangnya.
“Tak masalah.” Aku melenggang.
“Yah, kalah. Iya deh kamu menang. Aku tidak tega membiarkanmu sendiri di Bandung,” kata Faisal menghentikan langkahku dan kembali menghampirinya yang sudah berada di depan mobil.
“Aku sudah terbiasa nggak mungkin tersesat di Bandung.”
“Kamu hidup di Bandung zaman dulu. Sekarang sudah banyak yang berubah. Udah pokoknya aku antar kamu. Masuk, gih!”
“Kenapa? Cari teman biar nggak kesepian, sendirian?” ejekku.
“Sial. Sempat-sempatnya mengejekku. Iyalah biar nggak baper sendirian.”
“Aku kan nggak baper.”
“Terserahlah. Hotelnya daerah mana?”
“Setia budi.”
“Yakin nggak mau jalan-jalan dulu? Ke Gedung Sate, Braga, Lembang atau Cikole?”
Glekk. Faisal benar-benar tak mau mengalah. “Kamu memancing biar aku ikutan baper?” tanyaku kesal.
“Iya. Gimana udah baper belum?”
“Parah kamu. Kalau mau baper sendiri saja nggak usah ajak-ajak aku.”
Faisal tertawa puas.
Akhirnya ingatanku kembali menyusuri kota Bandung. Bukan hanya jantung kotanya tapi juga pinggiran kotanya. Terlalu banyak kenangan yang tersisa di sudut-sudutnya. Ada satu hal yang kurindukan dari Bandung adalah bersama Sam menyusuri jalanan seperti dulu. Tapi cerita itu tinggal kenangan tak ada yang tersisa. Tak ada ruang kosong. Aku hanya boleh singgah sesaat. Mengingat bukan menetap. Mampir saja karena ingatan juga harus pindah.

-------------------------------
Dan Bandung bagiku bukan cuma
Urusan wilayah belaka
Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan
Yang bersamaku ketika sunyi
Mungkin saja ada tempat yang lainnya
Ketika ku berada di sana
Akan tetapi perasaanku sepenuhnya ada di Bandung
Yang bersamaku ketika rindu
(Pidi Baiq)

Komentar