Langsung ke konten utama

Hei, Aries (3)




Ini masih tentangmu lagi. Nyatanya kau belum bisa terlupakan dari otakku. Walau kita lama tak berjumpa, walau kita sudah tak tinggal di kota yang sama. Tiba-tiba aku ingin tahu lagi tentang kamu. Kebiasaan mengecek berandamu yang lama kuhentikan, dimulai lagi semenjak pertemuan di malam sekaten.
Kala itu sinyal radarku menyala saat pertemuan kita sekali lagi. Itu adalah pertemuan terakhir.
Hari itu aku kembali ke kota penuh perjuangan. Usai melihat film Supernova bersama teman-temanku. Aku tak akan pernah lupa bagaimana rasanya pertemuan itu. Rombongan terpisah menjadi dua bagian. Aku mencari temanku diantara orang berlalu lalang. Arena permainannya ada di dalam pagar dan aku masih di tepi jalan mencari jalan masuk. Aku sedang bercerita dengan temanku lalu dalam detik yang sama kita berpapasan. Kau melihatku, aku tahu itu. Tatapan yang sama bahkan sejak masa putih abu-abu yang belum banyak berubah. Sekali lagi di sisimu ada seorang perempuan yang lebih muda darimu. Terlalu asyiknya aku sampai tertawa sendiri dan menimbulkan kecurigaan pada kubu temanku. Siapa? tanya mereka. Kujawab Aries. Penasarannya mereka hingga ingin mengejarmu memastikan wajahmu. Tapi aku menahan mereka dan membiarkanmu berlalu. Kulihat punggungmu dan punggungnya berlalu.
Hari itu menyisakan banyak tanya yang pada akhirnya membuatku geli dan kembali stalking akunmu. Ternyata dia adikmu. Astaga aku sudah berpikir yang tidak-tidak. Apa jadinya jika kau mengetahuinya, pasti sangat memalukan. Akhirnya aku mengetahui kau sendiri lagi untuk beberapa waktu yang lama. Senyumku merekah.
Kemajuan teknologi membuatku mudah mencari tahu tentangmu. Aku menemukan akun twitter, instagram, dan Line alumni. Tapi aku tak memiliki keberanian lagi. Cukup melihatmu dari jauh tanpa harus berada dalam daftar pertemanan karena di dunia nyata kita tak saling mengenal. Aku hanya tahu namamu sebatas namamu. Cukup menjadi orang di luar cerita yang menyaksikan kisah hidupmu. Bahagia menjadi sesederhana itu saat bicara tentangmu di masa kini.
Aku melihat banyak perubahan pada dirimu selama beberapa tahun tak bertemu. Foto-foto banyak bertebaran di instagram yang baru saja kutemukan. Kau sudah melewati banyak waktu yang baik. Aku lega kau kembali seperti pertama kali aku menemukanmu.
Kau berjajar rapi pelantikan dengan teman-temanmu. Kau sudah bisa terjun di masyarakat setelah menyatakan sumpahmu. Senyuman yang belum luntur itu memancarkan pesonamu. Ternyata masih menyimpan kehangatan di dadaku. Pipiku masih memerah ketika terlalu banyak menatap fotomu. Ketidakwarasan padaku setiap berbicara tentangmu. 
Entah karena aku gila atau sudah mati rasa. Tak ada yang lainnya di kepala. Selalu tentang kamu. Beberapa kali aku melihat jaket organisasimu di mana-mana yang kukira tak kutemui di kotaku yang selalu terlintas di kepala adalah kamu. Meskipun aku tahu kamu sudah beranjak dan semakin berpindah jauh. Sangat sulit untuk menemukanmu. Walaupun aku juga melakukan perjalanan berpindah tempat kadang berharap menemukanmu. Nyatanya Tuhan tidak berkata demikian. Walaupun keberadaanku berpindah-pindah kita tidak pernah dipertemukan lagi. Pertemuan terakhir hanya malam itu.
Saat aku berdoa pada Tuhan untuk mendekatkan hatimu dan hatiku jawaban berbeda yang kudapat. Saat aku berani menyebut namamu, kau semakin bertambah jauh ke sebrang.
Mungkin kita hanya dipertemukan Tuhan untuk belajar banyak hal. Bahwa hati mudah terbolak-balik dan seberapa pun kita menyukai seseorang kalau bukan jodoh tidak akan mungkin disatukan. Sedekat apapun jarak kita jika Tuhan berkehendak lain, jarak berubah sangat jauh. Ketika kita menaruh harapan tinggi pada orang lain artinya kita harus siap menerima resikonya. Jika orang yang kau sebut dalam doa tak seperti yang kau harapkan mungkin usahamu kurang. Jatuh cinta diam-diam itu artinya kamu harus bertahan tanpa kejelasan. Tapi hidup tak sebercanda itu. Kamu harus terus bergerak maju. Aries boleh jadi di masa yang akan datang kita bertemu, bolehkah aku mendengar suaramu. Sudah sangat lama suaramu menghilang dari hariku. Jika suatu saat aku benar-benar melupakanmu tolong jangan kau bagi senyummu padaku. Aku takut terbawa suasana.
Kisah ini sepertinya hanya tinggal harapan. Aku dan kamu selalu berada dipertemuan sekilas. Tak ada sapa, hanya senyuman yang kadang kuartikan lebih. Sepertinya hanya aku yang jatuh cinta sendiri. Kau jauh Aries, terlalu jauh.
Kehendak Tuhan mutlak. Ia mempertemukan juga memisahkan. Tidak ada hal yang indah selain menerima ketetapan-Nya. Aries terima kasih pernah membuatku bahagia, memberiku seulas senyum penuh makna. Terima kasih telah mengisi rangkaian hidup masa putih abu-abuku dengan sejuta warna. Aku menyerah atasmu sekali lagi.


-------------------------------
Sungguh percuma saja
Kumencintainya tapi tak dicintai
Gerak tubuhnya seolah berkata
Tak cinta padaku dan tak suka padaku
Aku pun mulai berpikir kusakit hati dan mulai ku merasa
Cukup tahu tanam dalam diri
Tak usah ku dekatimu lagi
Ku tak mau lagi, tak mau lagi bersamamu kasih
Cukup tahu tanam dalam diri
Tak usah kuganggu kamu lagi
Ku tak mau lagi, tak mau lagi sayang
(Rizky Febian)

Komentar