Langsung ke konten utama

Hai, Aries (2)



Ini masih tentang pertemuan kita setelah aku menyerah di hari wasana warsa. Aku tidak berpikir akan bertemu lagi denganmu. Namun Tuhan mengubah semuanya. Sekali lagi Tuhan membolak-balikkan hatiku. Aku dan kamu ditakdirkan bertemu sekali lagi di kota yang berbeda tak lagi di masa putih abu-abu. Kita mengenakan hitam putih dengan jas biru muda berpapasan pada saat acara osmaru. Pintu aula perpustakaan yang jadi saksinya pertemuan kita. Aku masih mengenalimu, kau masih seperti dulu berbeda denganku yang bermetamorfosis tak lagi kucir kuda. Dalam jarak dekat ratusan manusia mendorong tubuhku antri keluar ruangan, sedangkan kau memasuki aula. Senyum khasmu, dengan aksen kaca mata meyakinkanku bahwa itu benar-benar kamu. Aku menoleh membiarkan punggungmu berlalu.
Sepulang dari pertemuan kembali aku membuka buku kenangan dan memastikan wajah itu benar-benar kamu. Lalu kutanyakan pada kawanku tentang siapa saja kawan putih abu-abu yang diterima di universitas kita. Tersebutlah namamu dari mulutnya. Tak kuhiraukan nama lainnya bagiku ketika namamu disebut tepat seperti yang tertulis di buku kenangan cukup membuatku lega. Andai-andaiku terbang bebas ke angkasa. Mungkinkah akan ada banyak kejutan lainnya yang Tuhan rancang untuk kita.
Kegilaanku menjadi-jadi. Aku membuka facebook dan kutuliskan namamu di sana. Ada. Persis wajah yang kulihat di perpustakaan dan di sana tertuliskan universitas yang baru kita masuki. Tidak salah lagi itu kamu. Tak perlu pikir panjang tanganku bergerak pada tombol tambahkan teman. Sehari dua hari tak kunjung juga kau approve. Menunggu sembari berdoa belum juga kau approve. Akhirnya setelah kutunggu-tunggu pemberitahuan itu muncul. Kau menerima pertemananku. Kuucapkan terima kasih dalam hati. Kenyataan indah yang masih tak kupercayai kita satu kampus.
Mungkin dalam sehari senyumku tak terhitung. Saat aku mencuci piring, mencuci baju, menjemur, menyetrika dalam beberapa hari rutinitas anak kos kulakukan dengan bahagia. Seperti asupan nutrisi yang dibendung lama, kau berhasil membuat hariku bersinar penuh warna.
Namun hariku berlalu begini saja. Tak ada perubahan, hatiku selalu kembali padamu walau kubilang melupakan, esoknya mengingat lagi. Akal sehatku mulai merasa ini tidak baik untukku. Tidak bisa kulanjutkan mengingat akhir masa putih abu-abu kau sudah memiliki kekasih. Aku tak boleh melakukannya. Aku harus move on darimu. Keadaan tidak berpihak padaku. Mungkin kau terlalu jauh, terlalu tinggi jika aku mengejarmu tak akan pernah sampai. Aku menyerah sekali lagi tak ingin mengingatmu. Dengan susah payah kita berteman dalam dunia maya pada akhirnya aku mendelete-mu. Aku meragu pada hatiku sendiri. Aku hanya ingin hidup seperti biasa tanpa berharap padamu.
Setelah hari itu banyak hal tak berjalan seperti rencanaku. Bolak-balik duniaku terguncang. Badai menghantam tempatku berdiri. Ibarat dengan satu kaki aku bergoyang menunggu terjatuh. Aku menguatkan diriku untuk tidak menoleh lagi padamu. Aku masih memiliki teman untuk tempat sanggaku. Mereka menemaniku terjatuh, menghiburku. Saat mencapai puncaknya tak ada yang bisa menghiburku selain kau. Tuhan mengatur pertemuan kita di gerbang belakang. Aku yang sedang tertatih berjalan dengan pikiran runyam lalu melihat kau dan motormu melaju dengan jaket hitam bertuliskan fakultasmu. Senyumku mengembang hanya dengan hal sesederhana itu. Kau memulihkanku dalam waktu beberapa detik.
Aku bangkit dan mulai semua dari nol. Semua hal baru dimulai dari pertemuan kita itu. Kulupakan jungkir balik duniaku. Aku memiliki metode baru untuk tidak mengingat guncangan hebat di duniaku yaitu dengan cara memejamkan mata dan membayangkan senyummu. Masalahku seolah menghilang begitu saja. Kau menjadi candu untukku. Aku pun memiliki keberanian lama memencet tombol berteman denganmu. Ternyata kau masih menerima pertemananku. Tak lama setelah itu tiba hari ulang tahunmu. Aku mengirimkan sebuah pesan di timeline-mu. Pertama kali dan terakhir kalinya aku memiliki keberanian karena tak kudapat respon darimu. Aku pun berjanji untuk menahan diri dan tidak melakukannya lagi. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah mengecek berandamu, menyimpan beberapa fotomu yang kusembunyikan ke dalam folder-folder rahasia. Apabila hatiku sedang kacau aku mengajak fotomu berbicara. Hilang warasku. Semua itu kulakukan karena aku hanya bisa menjangkaumu sebatas itu. Sangat sulit untuk menemukanmu walau satu universitas. Padahal gedung fakultas kita hanya berjarak beberapa gedung saja tidak jauh. Tapi Tuhan merencanakan hal lain.
Kebiasaanku mengecek berandamu membuatku jatuh sekali lagi. Kau memiliki kekasih yang baru bukan yang dulu di masa putih abu-abu. Dari apa yang kulihat bisa kusimpulkan ia satu kelas denganmu. Kau taruh foto perempuanmu itu di dalam dompet dan bodohnya aku menyimpan foto itu juga kedalam folder rahasia. Apa aku berubah saiko? Aku bahkan mengecek akun perempuanmu itu. Aku mengecek kirimanmu lagi dan lagi. Anehnya semakin terbiasa melihatmu dengannya tak ada rasa sakit sama sekali.  Aku bukan Brutus yang mencintai Olive. Bukan Brutus yang marah melihat Popeye dan Olive. Aku justru tertawa dan sesekali memujimu. Sepertinya aku sudah gila. Kau bahkan membuatkan sebuah video pendek tentangmu dan dia yang sudah terjalin satu tahun. Benar-benar hilang warasku aku justru mengatakanmu so sweet
Waktu berjalan masih dengan keadaan seperti ini menjadi penikmat di belakang drama. Mengamatimu dari dunia maya sampai pada akhirnya tak terdengar kabarmu tahu-tahu kau sudah wisuda. Padahal aku skripsi baru memasuki bab 3. Aku mengutuk diri kesal. Andai saja aku bisa cepat mungkin saja dalam buku alumni bisa menemukan fotomu sama seperti dalam buku kenangan putih abu-abu. Aku merasa sudah tak ada harapan. Sepertinya memang Tuhan  tidak mengizinkan aku dan kamu Aries.
Anehnya saat aku mulai menyerah lagi atasmu, Tuhan mempertemukan kita lagi. Saat itu aku sedang bersama temanku dan kulihat kamu berlalu dengan jaket merah putih organisasimu. Aku sudah gila, kusuruh temanku itu untuk membuntutimu. Aku menyuruhnya cepat agar tak kehilangan jejakmu. Sudah seperti agen mata-mata saja dan akhirnya kau melintas di depan kosku. Baru tersadar kita sangat dekat tapi mengapa tak pernah bertemu? Akhirnya berhentilah kau di sebuah kos-kosan dekat dengan kos lama temanku yang hanya berjarak beberapa rumah dari kosku. Pura-puralah aku masuk ke gang itu bersama temanku dan membeli makanan pas jam makan siang. Sembari melirikmu kupilih bangku yang langsung bisa melihat ke arah luar. Mungkin saja kau keluar dari kos itu. Tapi temanku terus saja bertanya apa benar itu kosmu, jangan-jangan itu kos temanmu. Kata-kata itu meruntuhkanku. Kupikir-pikir lagi untuk apa kau yang sudah lulus masih berkeliaran di sekitar kampus.
Aku memukul-mukul kepalaku. Sepertinya terlalu penuh kepalaku sampai tergila-gila padamu. Aku memiliki kebiasaan baru lagi setiap kali kulihat jaket organisasi merah putih rasanya seperti telah bertemu denganmu. Padahal hanya sebuah jaket yang belum tentu kau tapi hormonku sudah mengirim sinyal bahagia. Bagaimana aku bisa melupakanmu kalau jaket itu berlalu lalang selama aku masih berada di kota yang menawarkan kehadiran semumu. Ah, kubiarkan semua berjalan hingga akhirnya aku wisuda juga. Artinya aku beranjak dari kotaku menempuh sarjana dan mungkin akan lebih mudah untuk melupakanmu.
Benar saja aku tidak pernah melihat jaket organisasimu di kota tempat tinggalku. Kita tidak bertemu. Aku memutuskan untuk sekali lagi melupakanmu. Walau orang bilang jodoh tak kemana tapi setelah semua yang terjadi pada akhirnya kita tidak akan pernah terikat oleh waktu sekalipun. Mungkin tak akan pernah. Kesekian kalinya aku menyerah atasmu Aries. 

---------------------------------
Aku di sini padamu, sekali lagi padamu
Kubawakan rindu yang kau pesan utuh
Aku di sini untukmu, sekali lagi untukmu
Percayalah tak perlu lagi kau gundah
Pun aku merasakan getaranmu
Mencintaiku seperti ku mencintaimu
Sungguh kasmaran aku kepadamu
Hidup adalah tentangmu
Selalu tentangmu
Sepertinya kau adalah candu bagiku
Kau buat aku tak mampu
Selalu saja tak mampu menahan perasaanku atas dirimu
(Jaz)

Komentar