Langsung ke konten utama

Hai, Aries (1)



Akan kuceritakan padamu tentang pertemuan kita. Hari pertama di sekolah baru adalah pagi hari sebelum pintu kelas dibuka. Kita berada pada lorong yang sama setiap pagi. Aku yang lebih dulu datang dan kau melintasiku di depan kelas sembari tersenyum yang awalnya hanya sopan santun. Namun semakin lama menjadi candu untukku. Kelas kita berbeda tak sama hanya terhalang satu ruang kelas yang membuat jarak pintu kita jauh. Kulihat kau sering bersembunyi di balik dinding depan kelas hingga pintu satu per satu dibuka.
Kupikir rutinitas pagi itu akan berlangsung lama ternyata setelah beberapa bulan kau menghilang perlahan-lahan. Entah untuk alasan apa yang jelas tak kulihat kau melintas di depan kelas saat pintu masih tertutup. Lalu mulai rasa penasaranku pernah kutunggu kau di dekat gerbang duduk di bawah majalah dinding sekolah. Kupikir aku akan berhenti mencari tahu, nyatanya jiwaku pergi entah kemana. Tiba-tiba aku begitu ingin tahu kau parkir motormu di mana, plat nomornya berapa. Iseng aku berada di dekat jendela kelas yang dekat dengan parkiran mungkin saja kau akan lewat menaruhnya di belakang kelas. Benar, beberapa kali aku tersenyum melihatmu memarkir motor di belakang kelasmu. Iseng saat istirahat aku melintas melihat motormu terparkir serasa kau di depanku. Percik kembang api meledak di dada.
Masih tentang kamu. Saat pemilihan ekstrakulikuler dimulai, tak sengaja kita memilih satu kegiatan yang sama. Tuhan sangat baik. Ekskul karya ilmiah remaja yang kupilih ternyata juga menjadi pilihanmu. Hatiku melonjak. Kita satu aliran Aries. Beberapa kali pertemuan kau hadir tapi entah waktu menyusut kau tak muncul meski aku melempar pandanganku ke penjuru ruangan. Tiap namamu disebut tak ada jari tangan yang mengudara. Semakin lama kau semakin menghilang dari pandangku.
Pernah saat kau semakin jauh dan tak terlihat lama saat menjelang bel masuk, aku ke kelasmu mencari temanku, tapi kau tak ada.
Terdengar sayup-sayup kau menyukai seseorang yang kukenal. Si kecil mungil dengan senyuman mautnya. Aku semakin putus harapan padamu. Sepertinya kita tak dipersatukan Tuhan walau hanya untuk jatuh cinta diam-diam.

Dua semester berlalu.
Kelas baru, semester ganjil. Aku mulai bertanya-tanya. Kau mengambil jurusan apa, kelasmu di mana. Ternyata kelas kita jauh walaupun kelas kita sama-sama memiliki nama kemiripan angka 2. Kau digedung barat, aku di utara. Kita semakin jarang bertemu walau satu sekolah. Satu semester berlalu tanpa mengingatmu.
Semester baru, semester genap membuatku mulai mengingatmu lagi. Hari itu aku melihatmu melintas saat pulang sekolah. Arah kita memang berlawanan. Kau ke selatan, aku ke utara. Melihatmu menjadi rutinitas di semester dua untukku. Aku menjadi terlalu suka menunggumu lewat sampai tak kuhiraukan beberapa bus yang datang. 
Tahukah, kabar paling mengembirakan  di semester 2? Ya, tentang study tour ke Bali. Walau kita tidak satu bus tapi pesonamu membuatku lupa daratan. Ada cerita tentang kita yang tak kau tahu di Ketapang-Gilimanuk. Hari itu aku membuntutimu dengan menarik kawanku yang tidak tahu apa-apa. Terlalu asyiknya mengejarmu dan naik ke kapal. Ternyata belum waktunya rombonganku. Aku melihatmu naik ke dalam bus F. Tapi rombongan kita tak sama akhirnya satu jam aku dan temanku menunggu rombongan busku datang di mushola. Melihat sunrise yang indah di pelabuhan. 
Ada satu kejadian. Kegilaan bertambah saat sampai di hotel. Kau kehilangan kopermu. Pas sekali, aku melihat seorang guru menurunkannya dari bagasi bus. Koper warna merah. Lalu kudengar kau bertanya pada temanmu yang berdiri di depanku. Kesaktianku tiba-tiba muncul. Entah kau mengingatnya atau tidak hari itu adalah pertama kali dan terakhirnya aku bicara padamu. Hanya beberapa kata, "Koper warna merah? Aku melihatnya di bawa ke sana!" Aku tiba-tiba menjadi pemberani meskipun akhirnya aku harus menanggung malu karena aku salah memberitahumu. Kesal aku mengutuk diriku berkali-kali setelah di kamar.
Pemandangan indah berlanjut kau yang biasanya jarang kulihat di sekolah selama study tour itu berubah menjadi sering. Beberapa kali kulihat kau berdiri di balkon dan aku mengintipmu dari jendela diam-diam. Kau lewat beberapa kali dan meledak-ledaklah perasaanku di dalam. Saat om temanku datang menjemput untuk mengajak jalan-jalan ke Denpasar aku melihatmu sedang bersama teman-temanmu bermain gitar. Apa kamu bisa bermain gitar? Itu pertanyaan yang belum terjawab. Aku berharap kau bisa melakukannya Aries. Mungkin saja jika aku memiliki kesempatan kelak kau bisa mengajari memetik gitar.
Ternyata hal gila belum cukup untuk kesempatan itu. Aku menyuruh temanku berfoto dan berdiri membelakangimu di Garuda Wisnu Kencana, Bali. Aku mengambil gambar dan di belakangnya ada kau. Itu foto pertamamu yang kupunya. Meski setelah itu aku diprotes karena cara pengambilan foto temanku tak seimbang. Meski gambarmu terlihat kecil aku sudah bahagia.
Hari-hari bahagia tak semulus perkiraanku. Tuhan membuat rencana yang lain. Kudengar kau terjatuh dan semester berikutnya membuatmu lama tak terlihat di sekolah. Semester dua berakhir tanpa melihatmu.

Semester baru, kelas baru. Ganjil.
Aku ingin melupakanmu.
Kau tak terlihat cukup lama membuatku resah. Sampai akhirnya kupilih jalan untuk melupakanmu saja. Toh kau tak akan pernah tahu hal apa saja yang kulakukan di belakangmu. Entah hari apa itu, kulihat kau ada di sekolah dengan menggunakan kruk. Tertatih. Kau melintas di depanku. Aku tak tega tapi aku sudah berjanji untuk melupakanmu dan alasan itu dikuatkan dengan hadirnya seorang perempuan di sisimu. Kau sudah ada yang menjaga. Meskipun begitu aku tetap mendoakan kesembuhanmu. 
Semester akhir. 
Hari-hari berlalu tanpa kamu. Kau sudah bisa berjalan kembali tanpa kruk. Tuhan mengujiku dengan berpapasan beberapa kali denganmu. Kau tersenyum. Gugur sudah niatku saat Tuhan membuatmu berjalan di sampingku dan parahnya kau tersenyum saat aku menoleh ke samping. Hatiku meleleh. Aku keluar arah, melihatmu sekali lagi di masjid. Itu rumah Tuhan tak boleh bawa perasaan atau aku sedang diuji agar tetap fokus dengan niat awalku.
Beberapa bulan setelahnya ada acara di sekolah yang mewajibkan mengenakan baju batik. Tuhan mengujiku sekali lagi. Kita berpapasan kau tersenyum. Tapi kulihat dengan sangat dekat, kau bersama seorang perempuan di sampingmu. Setidaknya aku memiliki alasan kuat untuk berhenti mencari tahu.
Tak berhenti sampai di situ Tuhan mengujiku, saat di perpustakaan aku melihatmu yang sedang mengerjakan tugas kelompok. Bahkan aku mendengar suaramu dengan jelas. Hampir saja aku terlena lagi tapi aku mengingat sekali lagi kau sudah memiliki kekasih dan membuatku tersadar kita sangat jauh.
Musim ujian berlangsung lama. Aku menempatkanmu di sudut paling luar di kepala. Aku yakin bisa melakukannya dengan baik. Fokus.
Hingga tiba acara pengumuman kelulusan membuat perasaan bercampur aduk. Saat dinyatakan lulus 100% suasana riuh. Aku lega masa putih abu-abu kita berakhir dan berganti ke jenjang selanjutnya. Setelah acara perpisahan putih abu-abu. Aku sudah diterima di sebuah universitas tapi aku tidak tahu kamu di mana. Aku sudah tahu konsekuensi jatuh cinta diam-diam padamu suatu saat akan terpisah. Dipisahkan oleh jarak, waktu. Banyak hal yang kulewati melupakanmu, mengingatmu, melupakanmu, mengingatmu sampai pada akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri kisahku.  Sudah kuputuskan hanya buku alumni satu-satunya kenangan yang kupunya tentangmu. Lainnya kuhapus perlahan dari ingatanku karena mungkin setelah acara wasana warsa itu kita tidak jumpa lagi Aries. Aku tidak ingin dihantui olehmu yang sudah bersamanya. Kubiarkan kamu berlalu saja. Maaf aku menyerah atasmu, Aries. 

-----------------------------------
Tuhan bolehkah kumeminta satu kali bersamanya
Izinkan aku memeluknya meski hanya sesaat saja
Apa semua itu masih mungkin saat dia bersama yang lain
Namun tetap kusimpan cintaku untuknya
Tetap setiaku menghitung hari
Tetap setiaku menanti hingga saatnya kan tiba
Dia kan kembali bersama
(Calvin Jeremy)



Komentar