Langsung ke konten utama

CINTA SUDAH TERLAMBAT



Kau memasuki ballroom dengan gaun putih. Wajahmu berbinar cantik. Seseorang berjalan bersamamu tapi bukan aku. Kau menyunggingkan senyum menebarnya ke penjuru ruangan. Matamu menyorot ke arahku dan melambaikan buket bunga. Aku bisa apa. Tak bisa meneriakkan namamu kencang, tak bisa menarik tanganmu dan mengajakmu berlari. Aku tak berhak. Jari manismu telah diikat cincin suci. Aku terlambat. Aku hanya bisa menatapmu dari jarak ini dan kau semakin berjalan menjauh.
Jika saja aku bisa menghentikanmu satu jam yang lalu bisa jadi kau merubah pikirmu. Jika saja satu jam yang lalu aku berada di hadapanmu mungkin bisa saja kau memilihku. Jika saja satu jam yang lalu aku mengucapkan ingin hidup berdua denganmu di masa depan mungkin kau tidak jadi dengannya.  Jika saja satu jam yang lalu aku memiliki keberanian mengutarakan ketidaksesuaian perasaanku saat kau dengannya mungkin saja kau dalam pihakku. Jika saja satu jam lalu aku menemuimu mungkin saja kau berdiri di sini bersamaku melihat ballroom ini sepi.
Aku sudah membayangkan jika dekorasi di atas diturunkan, orang yang berjejal sesak ini menghilang dari pandang dan kau sedang bersamaku di sini tersenyum menggamit lengan. Sudah kubayangkan di depanku kau melempar cincin sucimu ke dekorasi kolam kecil dan kita keluar bersama. Tapi aku pun sudah membayangkan bagaimana wajah kedua orang tuamu di luar antara marah, sedih dan malu. Sudah kubayangkan pula wajah mertuamu yang kesal seolah ingin memutus silaturahmi. Aku membayangkannya di kepalaku wajah bahagiamu dan wajah kecewa mereka. Sadar diri aku tak berhak melakukannya, tak akan pernah sanggup. Aku hanya memiliki keberanian untuk membayangkannya, sebatas itu saja.
Karena kenyataannya saat aku menghampirimu kau tersenyum, melontarkan candaan meski di depannya.
“Selamat,” ujarku singkat.
“Terima kasih, Jo. Tambah keren saja sekarang. Kita foto dulu ya. Bang foto bertiga, Bang!” serumu.
Aku tak sanggup membayangkannya kau berada di tengah-tengah antara aku dan dia. Seperti apa perasaanku nanti jika melihat foto ini dicetak dan kau berikan padaku sebagai bukti kekalahanku. Aku ingin mengambil jarak sebelum tombol kamera ditekan tapi kau menarik tanganku dan mengatur gaya. Sampai kamera itu ditekan detik itu aku bisa membayangkan sekejap bagaimana rasanya saat bersanding denganmu namun saat menoleh ke arahmu sekelibat itu pula kesadaranku kembali. Aku sedang berdiri di pelaminanmu sebagai tamu undangan. Aku berdiri sebagai pelengkap acaramu.
Mulutku kaku tak bisa berkata-kata bahkan saat undur diri hanya bisa memakai isyarat tangan dan kau dengan cepat menangkap isyaratku.
“Jo, terima kasih sudah datang,” ucapmu membuat dadaku nyeri.
Ada yang hilang dari bagian kisahku. Kau yang tertulis di masa depan telah terhapus mulai sekarang. Ada yang tak lengkap dari bagian kisahku. Kau terasa lewat sesaat dan tak berbalik menolehku. Kau berjalan maju tanpa menghiraukan keberadaan bayanganmu. Berbeda denganku yang telah undur diri pun masih menengokmu ke belakang memastikan bayanganku tak tertinggal di dekatmu.
Kau terlihat bahagia itu kenyataannya. Dekorasi yang berdiri megah masih bertahan. Aku berjalan sendirian tanpa kau yang menggamit lenganku. Bukan kau yang melemparkan kotak cincin ke dalam kolam tapi tanganku. Kulihat wajah orang tua dan mertuamu yang bahagia berbanding terbalik dengan keadaanku dan sekelibat masa lalu berputar dalam otakku.
Kau berdiri di depan pintu lapangan basket indoor menungguku dengan botol mineral.
“Good job!” katamu seraya mengacungkan jempol.
Aku mengulas senyum dan mengambil botol mineral dari tanganmu.
“Buzzer beat. Tembakan jitu dari Jo nomor punggung 3,” pujimu.
“Hanya kebetulan,” balasku.
“Itu tadi keren Jo. Serius aku suka. Seperti pemain pro.”
“Suka permainannya atau orangnya?” tanyaku bercanda.
“Suka dua-duanya,” celetukmu.
Aku terdiam.
“Serius aku suka permainan sama orangnya. Pertandingan tadi seru selisihnya kejar-kejaran. Wah, kalau aku yang main sudah pasti mentalku down dulu.”
“Kalau aku juga suka kamu bagaimana?” tanyaku bercanda.
“Ya berarti kita sama-sama suka. Tapi aku nggak mau pacaran, maunya langsung nikah.”
“Lama dong! Kita masih pakai seragam putih abu-abu.”
“Memang buat menguji kamu. Siapa tahu kamu berubah pikiran di masa depan,” katamu seraya menjulurkan lidah padaku.
Sepuluh tahun berlalu. Kenangan tinggalah kenangan.
Langkahku berat. Pintu yang kulewati rasanya membesar membuatku nampak kecil tak berdaya. Di luar pintu aku melihat bayangmu memakai seragam putih abu-abu, melambai dengan membawa botol air mineral, mengenakan bandana merah putih polkadot, rambut yang digerai, disertai senyum yang tak kunjung mereda. Aku berhenti dan menghadap ke dalam sebelum pergi. Jarak ini adalah kita di masa depan. Jauh. Aku melihatmu sangat kecil tapi senyummu seperti sosok bayangan di depan pintu yang tak kunjung mereda. Bayangan itu menggamit lenganku mengajakku pulang. Aku hanya mendapatkan bayanganmu di masa lalu. Aku baru paham, cinta memang harus terikat. Aku mengaku salah. Mungkin akulah yang tak kunjung memastikan hingga akhirnya datanglah masa ini. Aku yang tak bernyali ditelan mentah-mentah kenyataan. Kenyataan bahwa masa depan tak selalu berjalan seperti harapan di masa lalu.

-----------------------------------------------------------
Seandainya kukatakan yang sesungguhnya
tentang perasaanku padamu selama ini
Seandainya kubisa memutar kembali
waktu yang telah pergi dariku
saat kau ada di sini denganku
Sebenarnya hatiku selalu mencintaimu
hanya saja kutak pernah mengatakannya padamu
dalamnya cintaku menggenggam tulus hatimu
namun kini kau katakan cinta sudah terlambat
Seharusnya kutak biarkan kau menanti
Kata cinta dariku yang tersimpan terlalu lama
Dan seharusnya kupahami isi hatimu
yang tulus menyayangi dirimu
sebelum cinta menjadi miliknya
(Dygta)

Komentar