Langsung ke konten utama

Bertemu di Jogjakardah!

Long weekend satu kesempatan yang tidak boleh dilewatkan untuk mencari pengalaman. Berangkat dari rumah janjian dengan seorang teman di Stasiun Balapan. 2 jam dari rumah sampailah di terminal Tirtonadi.
Niat awal turun terminal Tirtonadi mau mencoba sky bridge (jembatan penghubung tirtonadi ke stasiun balapan) ternyata belum jadi belum bisa dilewati. Akhirnya ngojeklah sampai Stasiun Balapan. Dikira nggak tahu Solo, nggak tahu letak stasiun dimana bapak ojek pertama nawari harga tinggi udah bisa buat PP Semarang-Solo. Kalau aja nggak buru-buru (jam mepet) jalan mah bisa. Tapi temen yang udah stay di stasiun dari jam 6 pagi bilang kereta jam 09.10 berangkat dan ternyata sampai terminal sudah jam 9 akhirnya mau tak mau nawar yang bapak ojek satunya. Tapi bapaknya lebih baik dari yang satunya. Itung-itung bantuin bapaknya yang sudah sepuh cari nafkah. Akhirnya diantarlah sampai depan stasiun, begitu masuk kereta sudah datang di jalur 3. Buru-buru masuk dan alhasil berdiri dari Balapan sampai Stasiun Tugu.
Sampai di Stasiun Tugu jalan keluar. Buka mbah google cari lokasi penginapan. Ditawari becaklah, ojeklah maaf ya Pak kami mau jalan-jalan ranselan. WKWK. Pas panas-panasnya jam 11 menuju 12 siang cari penginapan. Jalan 1,3 km dari stasiun ke arah Jl. HOS Cokroaminoto. Sampai sana teman yang dari Jogja sudah sampai booking penginapan. Lega nggak salah hotel.



Dipikirnya mau keluar main panas-panasan tapi ternyata teman mau balik asrama ambil baju dulu akhirnya nunggu sampai balik tinggal tidur menikmati fasilitas. Mereka balik sekitar jam 2. Eh begitu mereka datang hujanlah Jogja. Nunggu reda dan sore tanggung juga akhirnya nunggu maghrib sekalian sambil doa hujan reda.

Setelah selesai Maghrib akhirnya kami keluar cari halte Trans Jogja terdekat di SMP 11 tapi haltenya kosong sepi dan gelap. Akhirnya jalan sampai menemukan halte selanjutnya. Ternyata sama mbak yang jaga dikasih tahu walaupun gelap sepi tetep boleh nyetop di sana masih fungsi dan bisa bayar di dalam bus. Bayar Rp 3.500,- sudah bisa kemana-mana. Nggak kayak di Solo BST terakhir naik harganya sudah jadi Rp 4.500,-.


Tujuan pertama Taman Pelangi. Harga Tiket Masuk Weekend Rp 20.000,-.


Masuklah dan jepret-jepret. Menikmati suasana Monjali malam hari.



Lanjut tujuan kedua ke Tugu Jogja. Biasanya kalau lewat Jogja ke rumah saudara malam-malam cuma lewat. Iye kalau rombongan atau sama orang tua pasti lewat saja nggak mungkin berhenti di tengah-tengah cuma mau foto. HIHI mumpung sama teman-teman punya seribu alasan walaupun ujung-ujungnya cuma foto. Sebenarnya hanya penasaran kalau berhenti di sana kayak apa. Beh, rame banget ternyata. Banyak angkringan kopi joss. Pengen tapi rame banget nggak ada tempat duduk. WKWKWK




Akhirnya ya cuma jalan-jalan dari Tugu sampai Jl. Malioboro. Intinya nggak siang, nggak malam Malioboro seperti itu "lautan manusia" tumpah ruah. 

Setelah cari makan baliklah ke penginapan naik abang gocar berempat. Niatnya mau jalan tapi begitu lewat jalanan sebelah sepi akhirnya bersyukur ada gocar yang bisa mengantar sampai lokasi dengan aman dan memudahkan mobilitas tanpa dikepruk harganya. Cie bantu promosi. Uhuk.

Malam di skip karena kalau nggak tidur ya pasti memanfaatkan fasilitas free WIFI. Hari berubahlah menjadi pagi. Dikasih suguhan sunrise dari jendela hotel. Nggak pakai mendung, nggak perlu susah payah naik-naik ke puncak, lihat itu indah banget walaupun ketutupan atap gedung. Jadi terharu lihat sinar-sinarnya semburat jingga berpadu dengan warna langit dan masih ada satu bintang di sana. (Bang, itu bintang kelihatan juga kan dari sana. Kode abang tanpa nama WKWKWK)



Berhubung hari libur sudah habis besoknya sudah kembali ke rutinitas masing-masing dipuas-puasin dulu ketemuannya. Perang bantal, wawancara menelisik tentang jodoh masa depan, gokil-gokilan mumpung belum punya buntut (misua dan anak) WKWKWK emang bener perkumpulan single ladies yang menunggu jodoh datang kurang kerjaan. Yaiyalah namanya juga liburan harus mengabaikan kerjaan sesaat dan bersenang-senang. :D

Menelusuri Jogja diakhiri setelah pindah tempat ngrumpi di The White Paal yang menurut mbah google pemiliknya pemenang Master Chef Indonesia season 1, Chef Lucky. Pas berdiri di depan The White Paal sih nggak kelihatan restonya malah kelihatan butik yang isinya batik-batik. Setelah masuk lorong-lorong butik terlihatlah jajaran kursi. Berhubung Jogja panas ditawari ruangan yang ber-AC. Kita mah asyik aja.


Sampai di dalam belajarlah kami dekorasi interior di sini. Suka sama lampu-lampu gantung, lukisan, dan tempelan dindingnya. Pengen kali ya besok-besok bikin begituan (kalau sudah punya keluarga sendiri) WKWKWK


Setelah ngrumpi panjang lebar jangan lupa sholat lalu kami cari Mushola ternyata letaknya dicepitan butik dari dalam belok kanan. Tak terasa sudah beranjak sore pamitlah kami dan berpencar satu ke Wates Kulon Progo, satu kembali ke asrama dan tinggal berdua yang ke arah Solo. Enak yang berdua motoran dan tinggal dua yang jalan (it's me HIHI). Jalan-jalanlah menuju Malioboro cari halte trans jogja karena pulangnya gantian naik bus biar lengkap kisahnya. WKWKWK



Dari halte trans malioboro 2 ke halte terminal giwangan naik koridor 3A. Antrian penuh sesak. 3x bus datang baru bisa naik. Gara-gara penuh yang boleh masuk hanya 4 orang. Di situ kadang nggak enaknya, penuh dan nggak bisa diajak cepat dari sana harus belajar sabar. Ya harus sabar soalnya busnya juga muter-muter. Setelah sampai terminal giwangan bergegaslah mencari bus ke Solo keburu malam.

Pelajaran dalam perjalanan ke Jogja:
- Belajar bahagia. Masih bisa ketemu teman kumpul bareng walaupun sudah berpencar ke ujung-ujung. Selama komunikasi terjaga dan waktu luang tidak ada yang tak mungkin untuk merencanakan pertemuan. Belajar tersenyum bersama teman-teman. 
- Belajar tentang pro kontra yang berkembang di masyarakat soal transportasi online. Mungkin ojek offline sama online lebih diminati yang online, salah satu alasannya karena harganya sudah dipatok sekian nggak perlu tawar menawar apalagi yang nggak hobi tawar menawar dan nggak tahu harga setempat. Bilangnya terserah mau ngasih berapa ujung-ujungnya nentuin harga. :'( 
- Realita naik angkutan umum. Memang naik angkutan umum bisa bantu ngurangi macet tapi keluhannya di jam-jam sibuk ya itu penuh, sesak, antri. Kalau buru-buru nggak bisa dijagakan. Tapi apapun itu selama dinikmati akan menyenangkan apalagi kalau naiknya bareng-bareng sama teman. Ingat zaman-zaman sekolah.
- Olahraga. Jalan kaki sepertinya pilihan olahraga yang ringan. Orang bule aja suka masak kamu nggak. :) HIHI 

Sekian. Terima kasih. Perjalanan ke Jogja selesai.





Komentar