Langsung ke konten utama

Be My Love



Pantai panjang terbentang tanpa seorang pun di sana. Hanya ada aku yang menghujam pasir kesal. Matahari sudah hampir mengucapkan selamat tinggal. Aku duduk pasrah menikmati sunset seorang diri dengan tersedu. Memang indah sunsetnya tapi tak berjalan sesuai rencanaku. Aku menjerit. Pantai yang belum terjamah memang indah, tapi jika tidak bisa menyusuri jalan pulang dan tertahan oleh malam, apalah arti keindahan itu.
Matahari sudah tenggelam. Entah bagaimana nasibku selanjutnya. Aku hanya membawa handphone yang hanya bisa berfungsi sebagai cahaya penerang. Power bank pun tertinggal di mobil Raka. Ah, semakin membuatku kesal. 
Aduh. Kakiku seperti ditusuk. Kuarahkan cahaya ke bawah. Hampir saja capit kepiting meninggalkan bekas rasa sakit. Akhirnya kupilih menyusuri jalan keluar pantai dengan remang cahaya dari handphone menghindari kepiting-kepiting yang sewaktu-waktu menyerang kakiku. Bulu kuduk merinding ketika kudengar gongongan anjing dari jarak jauh di suasana gelap. 
"Dinda." Suara yang kukenal entah datang dari arah mana. 
"Siapa?" tanyaku seraya mencari arah suara dengan memutar handphone ke segala arah.
"Aku di belakangmu."
Aku berbalik dan menginjak kakinya secara sengaja. Tanpa harus melihat wajahnya aku tahu itu Raka. Hanya dia yang tahu namaku di pantai sesepi ini. 
"Aw, sakit Dinda." Raka berjingkat-jingkat kesakitan.
"Lebih sakit mana sama aku? Kamu itu raja tega." Aku mendorongnya kesal.
"Maaf." 
"Maaf kamu bilang? Gampang banget bilang maaf." Geram aku menyorotkan cahaya tepat ke wajahnya.
"Aku ngaku salah,” kata Raka seraya menutup matanya dengan telapak tangan di udara.
"Kamu kejam. Kamu tahu kan aku nggak tau jalan pulang tapi kamu ninggalin aku di sini. Kamu tahu kan aku nggak pernah bisa pulang di daerah yang semua terlihat sama seperti ini tapi kamu berani biarin aku sendiri di sini. Kamu tahu tempat ini sepi dan nggak ada orang bisa-bisanya kamu pergi begitu saja." 
"I'm so sorry." Raka tertawa.
"Kamu pikir ini lucu. Ini jauh lebih seram daripada cerita horor. Apa-apa kamu anggap gampang. Semua hal kamu sepelekan. Kamu pikir kalau aku di sini sampai pagi bisa yakin bakal selamat. Kamu itu ya asli cowok terjahat yang pernah aku temui." 
"Udah ngomongnya?" 
"Belum. Aku tuh masih sebel banget. Kamu harusnya tahu aku ini juga cewek, Raka. Jangan seenaknya saja mengubah jenis kelamin laki-laki yang bisa survive di tempat asing tanpa rasa takut. Kalau kamu di posisiku pasti juga merasakan hal yang sama." 
"Oke aku tunggu sampai kamu selesai ngomelnya," ujarnya senyum-senyum sendiri.
"Capek ngomong sama kamu. Aku serius marah tapi kamu masih senyum-senyum."
"Ya udah makanya giliran aku ngomong kamu diam saja." 
"Aku mau pulang." 
"Ya sudah kita balik ke mobil dulu saja."
Sampai di dalam mobil Raka, aku mencari power bank. Ketemu. Buru-buru kocolokkan ke handphone yang baterainya hampir sekarat.
"Kamu kalau marah serem juga ya," celetuknya.
Aku diam. 
"Kamu tahu nggak sih selama aku di jalan aku bicara sama siapa?"
Aku masih diam.
"Aku pikir yang di dalam mobil itu tadi kamu, ternyata ada ibu-ibu tiduran yang nggak tahu dari mana bisa masuk ke mobilku. Padahal aku ngajak cerita banyak dan si ibu itu diam sepanjang jalan. Barulah ketika aku nengok spion belakang aku sadar kalau kamu ketinggalan."
Aku diam. 
"Tahu nggak si ibunya minta turun di desa sebelum kita masuk ke hamparan pantai ini. Akhirnya aku putar balik ke sini dan ketemu kamu." 
Aku pura-pura tak mendengar. 
"Aku pikir kamu sudah pergi jauh. Ternyata kamu nunggu aku di sini. Padahal kalau di kota kamu biasanya sudah menghilang dan susah dicari." 
Aku melotot masih kesal
"Sekarang aku tahu bagaimana ketika kamu panik. Aku jadi tahu waktu kamu nangis. Aku juga mengerti seperti apa rasanya ditunggu seseorang."
"Jadi dari tadi kamu mengawasiku dari jauh?" 
"Iya dan semua jadi jelas sekarang." 
Kesal aku mencubitmu.
"Bisa-bisanya kamu tertawa di atas penderitaan orang lain." 
"Kamu tahu kan rasanya sendiri di tempat asing. Biasanya juga kamu yang ninggalin aku."
"Tapi kan beda. Itu di kota, ini di antah berantah. Di kota transportasi banyak, tanya orang juga bisa. Di sini transportasi nihil, orangpun nggak ada. Banyak nyamuk."
"Iya iya aku tadi kan sudah minta maaf. Kamu lapar kan?" 
Mendengar kata lapar perutku berbunyi membuat Raka tertawa.
"Yaiyalah. Mana ada makanan di sana tadi. Tas aku juga di dalam mobil. Sudah lapar haus pula," celetukku seraya menahan bunyi perut.
“Itu di belakang ada makanan. Kurang baik apa coba makanan sudah tersedia tinggal makan.”
Aku memincingkan mata dan menusuk-nusuk samping perut Raka dengan jari.
“Aku bercanda,” katanya seraya tertawa geli dan menepis tanganku.
“Tapi aku serius marah sama kamu.”
“Kamu mau yang serius?” tanyanya masih terlihat bercanda.
“Menyebalkan. Aku sedang tidak bercanda.”
“Serius ini. Aku mau bilang aku nunggu kamu.”
Glekk.
“Nunggu dari mana kamu tadi membiarkanku sendiri di pantai. Gelap. Sepi.
“Aku mau nunggu kamu sampai kamu bilang iya.”
“Iya buat apa?”
“Buat masuk ke kehidupanmu, setelah kamu selesai dengan dirimu sendiri. Aku capek lihat kamu melakukan semuanya sendiri. Mondar mandir ke sana sini sendiri. Kejadian tadi buat aku sadar sebenarnya kamu butuh orang lain. Kamu berusaha terlihat kuat di mataku tapi hari ini setelah lihat kamu menumpahkan kekesalan dengan bebas, ada sisi lain di dirimu yang baru aku temukan. Kamu jadi dirimu sendiri.”

Glekk. 


--------------------------------------

Aku bulatkan hati
satukan rasa kita dalam ikatan cinta
dan berjanji kan setia selamanya
kini sampai mati

When I ask you for being my love
I'll be something that you always love
ku akan pastikan diriku ada di setiap detikmu
bidadariku

Ku kan penuhi janji di sampingmu selamanya
dalam suka dan duka, saat bahagia dan terluka
ku akan selalu ada saat kau butuhkanku
(Arbani Yasiz)

Komentar