Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Solo Lagi, Lagi dan Lagi

Solo bagiku bukan hanya sebuah kota numpang lahir tapi juga menyimpan segudang misteri dan rindu. Usai menempuh pendidikan di kota Solo tak berarti melupakannya begitu saja. Di sana masih banyak ingatan dan tempat-tempat yang belum dikunjungi. Sudah tidak bisa dihitung berapa kali singgah di kota ini tapi tetap saja banyak lokasi yang ternyata kalau disuruh menelusuri pasti bisa tersesat. Ya, jalan-jalan kecil di pinggir kota atau bahkan bisa jadi di tengah kota. Tapi tenang seberapa jauh tersesat di kota Solo kamu akan menemukan jalan kembali HAHA masih banyak orang baik yang akan menunjukkan jalan yang lurus. 
Kali ini perjalanan akan dimulai dari hari Sabtu. Niat awal weekend dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjelajah. Kenyataan berangkat dari rumah pukul 14.00 dan sampai Solo sekitar jam 17.30. Biasanya ke Solo hanya sekitar 2 jam tapi hari itu luar biasa. Di sekitar Ampel ada sebuah truk pengangkut semen yang tidak kuat di tanjakan berguling akhirnya jalannya dibuat sistem…

CINTA SUDAH TERLAMBAT

Kau memasuki ballroom dengan gaun putih. Wajahmu berbinar cantik. Seseorang berjalan bersamamu tapi bukan aku. Kau menyunggingkan senyum menebarnya ke penjuru ruangan. Matamu menyorot ke arahku dan melambaikan buket bunga. Aku bisa apa. Tak bisa meneriakkan namamu kencang, tak bisa menarik tanganmu dan mengajakmu berlari. Aku tak berhak. Jari manismu telah diikat cincin suci. Aku terlambat. Aku hanya bisa menatapmu dari jarak ini dan kau semakin berjalan menjauh. Jika saja aku bisa menghentikanmu satu jam yang lalu bisa jadi kau merubah pikirmu. Jika saja satu jam yang lalu aku berada di hadapanmu mungkin bisa saja kau memilihku. Jika saja satu jam yang lalu aku mengucapkan ingin hidup berdua denganmu di masa depan mungkin kau tidak jadi dengannya.  Jika saja satu jam yang lalu aku memiliki keberanian mengutarakan ketidaksesuaian perasaanku saat kau dengannya mungkin saja kau dalam pihakku. Jika saja satu jam lalu aku menemuimu mungkin saja kau berdiri di sini bersamaku melihat ballr…

Kembali Ke Bandung

“Jadi begini rasanya. Kita berdiri di tempat yang sama,” ujar Faisal seraya mengulurkan segelas cola. Aku dan Faisal berdiri jauh dari altar serba putih dengan hiasan warna bunga kuning. Gaun putih Liliana sangat simple tapi terlihat elegan dan Sam tak kukira bisa setampan itu dengan jas putihnya. “Ya kau benar. Nasib kita sama. Mereka lebih bahagia berdua daripada bersama kita,” kataku menanggapi. Alunan musik klasik mengalun. Acara resepsi garden party Liliana dan Sam mengusung tema vintage. Sebuah konsep yang dulu pernah kuceritakan pada Sam. Tak kuduga ia akan memakainya bersama Liliana. “Dulu aku bermimpi bisa bersanding dengannya. Kuikrarkan janjiku untuk selalu bersamanya. Tapi nyatanya Tuhan tak merestuinya. Aku jadi belajar banyak hal salah satunya untuk tidak mengucapkannya lagi. Janji adalah janji. Janji harus ditepati. Tapi sekarang dia bersamanya. Mau bagaimana lagi?” curhat Faisal. “Manusia hanya bisa berencana. Kita tidak bisa memaksa kehendak-Nya.” “Hari ini aku hany…

Hei, Aries (3)

Ini masih tentangmu lagi. Nyatanya kau belum bisa terlupakan dari otakku. Walau kita lama tak berjumpa, walau kita sudah tak tinggal di kota yang sama. Tiba-tiba aku ingin tahu lagi tentang kamu. Kebiasaan mengecek berandamu yang lama kuhentikan, dimulai lagi semenjak pertemuan di malam sekaten.
Kala itu sinyal radarku menyala saat pertemuan kita sekali lagi. Itu adalah pertemuan terakhir. Hari itu aku kembali ke kota penuh perjuangan. Usai melihat film Supernova bersama teman-temanku. Aku tak akan pernah lupa bagaimana rasanya pertemuan itu. Rombongan terpisah menjadi dua bagian. Aku mencari temanku diantara orang berlalu lalang. Arena permainannya ada di dalam pagar dan aku masih di tepi jalan mencari jalan masuk. Aku sedang bercerita dengan temanku lalu dalam detik yang sama kita berpapasan. Kau melihatku, aku tahu itu. Tatapan yang sama bahkan sejak masa putih abu-abu yang belum banyak berubah. Sekali lagi di sisimu ada seorang perempuan yang lebih muda darimu. Terlalu asyiknya …

Hai, Aries (2)

Ini masih tentang pertemuan kita setelah aku menyerah di hari wasana warsa. Aku tidak berpikir akan bertemu lagi denganmu. Namun Tuhan mengubah semuanya. Sekali lagi Tuhan membolak-balikkan hatiku. Aku dan kamu ditakdirkan bertemu sekali lagi di kota yang berbeda tak lagi di masa putih abu-abu. Kita mengenakan hitam putih dengan jas biru muda berpapasan pada saat acara osmaru. Pintu aula perpustakaan yang jadi saksinya pertemuan kita. Aku masih mengenalimu, kau masih seperti dulu berbeda denganku yang bermetamorfosis tak lagi kucir kuda. Dalam jarak dekat ratusan manusia mendorong tubuhku antri keluar ruangan, sedangkan kau memasuki aula. Senyum khasmu, dengan aksen kaca mata meyakinkanku bahwa itu benar-benar kamu. Aku menoleh membiarkan punggungmu berlalu. Sepulang dari pertemuan kembali aku membuka buku kenangan dan memastikan wajah itu benar-benar kamu. Lalu kutanyakan pada kawanku tentang siapa saja kawan putih abu-abu yang diterima di universitas kita. Tersebutlah namamu dari …

Hai, Aries (1)

Akan kuceritakan padamu tentang pertemuan kita. Hari pertama di sekolah baru adalah pagi hari sebelum pintu kelas dibuka. Kita berada pada lorong yang sama setiap pagi. Aku yang lebih dulu datang dan kau melintasiku di depan kelas sembari tersenyum yang awalnya hanya sopan santun. Namun semakin lama menjadi candu untukku. Kelas kita berbeda tak sama hanya terhalang satu ruang kelas yang membuat jarak pintu kita jauh. Kulihat kau sering bersembunyi di balik dinding depan kelas hingga pintu satu per satu dibuka. Kupikir rutinitas pagi itu akan berlangsung lama ternyata setelah beberapa bulan kau menghilang perlahan-lahan. Entah untuk alasan apa yang jelas tak kulihat kau melintas di depan kelas saat pintu masih tertutup. Lalu mulai rasa penasaranku pernah kutunggu kau di dekat gerbang duduk di bawah majalah dinding sekolah. Kupikir aku akan berhenti mencari tahu, nyatanya jiwaku pergi entah kemana. Tiba-tiba aku begitu ingin tahu kau parkir motormu di mana, plat nomornya berapa. Iseng …

Be My Love

Pantai panjang terbentang tanpa seorang pun di sana. Hanya ada aku yang menghujam pasir kesal. Matahari sudah hampir mengucapkan selamat tinggal. Aku duduk pasrah menikmati sunset seorang diri dengan tersedu. Memang indah sunsetnya tapi tak berjalan sesuai rencanaku. Aku menjerit. Pantai yang belum terjamah memang indah, tapi jika tidak bisa menyusuri jalan pulang dan tertahan oleh malam, apalah arti keindahan itu. Matahari sudah tenggelam. Entah bagaimana nasibku selanjutnya. Aku hanya membawa handphone yang hanya bisa berfungsi sebagai cahaya penerang. Power bank pun tertinggal di mobil Raka. Ah, semakin membuatku kesal.  Aduh. Kakiku seperti ditusuk. Kuarahkan cahaya ke bawah. Hampir saja capit kepiting meninggalkan bekas rasa sakit. Akhirnya kupilih menyusuri jalan keluar pantai dengan remang cahaya dari handphone menghindari kepiting-kepiting yang sewaktu-waktu menyerang kakiku. Bulu kuduk merinding ketika kudengar gongongan anjing dari jarak jauh di suasana gelap.  "Dinda.…

Bertemu di Jogjakardah!

Long weekend satu kesempatan yang tidak boleh dilewatkan untuk mencari pengalaman. Berangkat dari rumah janjian dengan seorang teman di Stasiun Balapan. 2 jam dari rumah sampailah di terminal Tirtonadi.
Niat awal turun terminal Tirtonadi mau mencoba sky bridge (jembatan penghubung tirtonadi ke stasiun balapan) ternyata belum jadi belum bisa dilewati. Akhirnya ngojeklah sampai Stasiun Balapan. Dikira nggak tahu Solo, nggak tahu letak stasiun dimana bapak ojek pertama nawari harga tinggi udah bisa buat PP Semarang-Solo. Kalau aja nggak buru-buru (jam mepet) jalan mah bisa. Tapi temen yang udah stay di stasiun dari jam 6 pagi bilang kereta jam 09.10 berangkat dan ternyata sampai terminal sudah jam 9 akhirnya mau tak mau nawar yang bapak ojek satunya. Tapi bapaknya lebih baik dari yang satunya. Itung-itung bantuin bapaknya yang sudah sepuh cari nafkah. Akhirnya diantarlah sampai depan stasiun, begitu masuk kereta sudah datang di jalur 3. Buru-buru masuk dan alhasil berdiri dari Balapan sa…