Langsung ke konten utama

Superhero, I Love You



Pukul satu lebih seperempat siang jadwal pendaratanmu. Riuh, sesak aku berdiri menjauh dari kerumunan. Kupikir hari efektif bandara akan sepi nyatanya tetap saja penuh lautan manusia. Aku melihat kopermu sedang diperiksa petugas bandara. Kau melambaikan tangan tanpa rasa malu dilihat banyak orang dari kejauhan. Senyumku melebar melihat kucir ekor kudamu bergoyang-goyang.
“Hai!” sapamu dengan menenteng tas ransel dan menaruh koper di depanku.
“Sepertinya berat?” tanyaku bercanda.
“Kalau berat bantulah biar agak ringan,” celetukmu.
Kutarik pegangan kopermu. “Bagaimana liburanmu di sana?” tanyaku.
“Menyenangkan. Aku dapat medali,” katamu sambil menunjukkan medali di leher.
“Medali? Sebenarnya liburan apa lomba?” tanyaku seraya berjalan menuju tempat parkir.
“Ya liburan, tapi disela-selanya ada lomba lari di atas pasir,” ceritamu.
“Wih, jago juga kamu. Aku baru tahu kamu bisa lari secepat itu sampai dapat medali,” ejekku membuatmu menyenggol lenganku.
“Ya, tapi bukan juara satu.”
“Aku pikir semua orang yang kalah pun dapat medali,” candaku.
“Nggaklah. Kalau begitu kenapa diadakan lomba? Aku dapat juara dua. Aku kalah dari si jangkung six pack.”
Senyumku mengembang. “Cowok?”
 “Sebel banget nggak sih, masa cewek lawannya cowok jelas kalahlah. Mana dia tinggi, kurus, ringan banget pasti,” cerocosmu tanpa rem.
“Nggak apa-apa yang penting juara. Entah itu satu atau dua daripada nggak dapat sama sekali,” kataku menenangkan seraya memencet tombol buka kunci mobil. 
Kau nyengir. “Ada yang perlu kita bicarakan,” celetukmu.
“Apa?” tanyaku seraya memasukkan koper ke bagasi mobil.
Tanganmu seolah seperti tukang parkir yang sedang menyetop mobil. Seolah mengisyaratkan tunggu atau nanti, tidak di sini. Kau pun masuk ke mobil dan duduk mengenakan seat belt. Diam sampai keluar bandara.
“Jadi kapan kamu mau mengakhiri masa lajang?” tanyamu tiba-tiba setelah masuk ke dalam jalur jalan tol.
“Kok tiba-tiba tanya begitu?” tanyaku balik.
“Ya pengen tahu aja.”
“Aneh kalau tiba-tiba di otakmu sampai kepikiran begituan.”
“Ada yang mau nawari aku nikah tahun ini,” celetukmu sambil garuk-garuk kepala.
Glekk. Aku menelan ludahku.
“Bercanda ya? Bercanda kan?” tanyaku mencoba menyakinkan diri tentang apa yang baru saja kudengar.
“Serius. Liburan kemarin itu aku ketemu seseorang yang langsung mengajak married.”
“Terus jawaban kamu?”
“Belum jawab sih. Lagi mikir.”
“Pakai mikir segala. Kayak mau belanja bulanan mikir apa yang mau dibeli. Lama.”
“Memangnya kamu nggak apa-apa kalau aku married sama orang lain?” Kau melirikku lama sedikit mengganggu konsentrasiku.
“Ya, silahkan itu hak kamu.”
“Tahu begitu aku iyakan saja kemarin.”
“Nah, kenapa nggak?” Aku tertawa menggejek.
“Kamu itu orang sibuk tapi kamu rela cancel klien cuma buat jemput aku hari ini.” Jeda. Kau diam sesaat mengecek handphone. “Aku jadi mikir macam-macam,” lanjutmu.
“Iya kan aku fleksibel. Kalau kliennya bisa di cancel kenapa nggak dan kalau nggak bisa paling aku bilang nggak bisa jemput kamu atau kirim orang ke sini,” jelasku.
“Tahu nggak sih? Sikap kamu yang begitu bikin orang mikir.” Kulihat kau melipat tangan.
Senyumku mengembang seraya melirikmu beberapa kali. “Mikir apa? Mikir kenapa? Apa salahnya menolong teman?”
“Apa yakin kamu bakal melakukan ini juga ke orang lain?”
“Kenapa nggak?”
“Tapi dulu waktu si Ari minta bantuan jemput, kamunya nggak bisa.”
“Waktu itu kan kliennya nggak bisa di cancel.”
“Kamu juga nggak kirim orang.”
“Kan ada cowoknya.”
“Kok aku beda?” tanyamu mengintrogasiku.
Gantian aku yang garuk-garuk kepala. “Kamu mana punya cowok. Patah hati saja sakitnya tujuh turunan. Kelamaan sembuhnya.”
“Jadi kalau aku punya cowok kamu nggak mau jemput aku lagi.”
“Ya iyalah. Bisa panjang urusan kalau ikut campur rumah tangga orang.”
“Lha kan belum berumah tangga. Baru sampai status punya cowok.”
“Memangnya kamu masih mau main-main diusia segini. Aku yakin kamu nggak berani. Buktinya sampai sekarang masih jomblo,” tantangku.
“Ya nggak main-main sih. Tapi paling nggak kan mendeklarasikan diri suka sama cowok. Kalau situasinya begitu kamu juga bakal nggak jemput aku?”
“Kenapa urusan jemput-menjemput jadi seribet ini sih?” Aku tertawa.
“Ya buat jaga-jaga saja. Takutnya aku minta tolong tapi kamunya nggak bisa. Jadi aku harus persiapan dari sekarang dong.”
“Memangnya sekarang sudah ada yang ditaksir.”
Kau mengangguk.
Senyumku mengembang. “Eh, serius. Temanku satu ini patah hatinya sudah sembuh.”
“Ya, jangan pakai penekanan patah hati juga dong. Bikin kesel saja.”
“Selamat ya. Akhirnya sudah ada yang bisa menyembuhkan teman satu ini. Eh, atau jangan-jangan dia dokter bisa bikin kamu sembuh?” tanyaku iseng.
“Nggak.”
“Seorang psikolog?” lanjutku.
“Nggak.”
“Psikiater?”
“Astaga kenapa jadi kejiwaan sih. Memangnya selama ini aku sakit jiwa. Aku biasa saja.”
“Terus siapa?” tanyaku mengejar jawaban rasa penasaran.
“Superhero,” jawabku seraya tersenyum ke arahku.
“Hah? Superman, batman, spiderman?”
“Bukan. Dia itu orang biasa. Orang yang rajin membantuku....”
“Bersih-bersih? Pembantu dong,” potongku bercanda.
“Ih, kesel deh. Nyebelin banget sih. Enggak. Dia itu orang biasa yang nggak punya kekuatan super tapi bisa memberikan spirit, yang selalu ada dimana pun aku membutuhkannya, dan sering diam-diam membantu tanpa sepengetahuanku. Dia itu seperti Tuxedo bertopeng. Tahu kan Mamoru? Kira-kira seperti itulah dia di mataku.”
“Hmm, iya. Jadi siapa dia? Aku kenal?”
Kau mengangguk.
“Aku mengenalnya?”
Kau mengangguk lagi.
“Jadi dia di sekitar kita? Sekitar sini?” Aku pura-pura mencari di bawah stir, menoleh ke belakang. “Kok nggak ada ya?”
“Bercanda terus. Fokus nyetir. Bahaya, ah!”
“Lagi malas jadi detektif hari ini. Langsung nama deh, namanya siapa?”
“Kamu itu nggak peka ya. Aku itu sukanya sama kamu. Biarpun ada yang menawari married hari ini aku maunya sama kamu. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berkorban bertahun-tahun kalah dengan orang yang baru datang sehari dan berjanji menawarkan kebahagiaan yang belum terbukti.”
Senyuman. Hanya senyum mengembang yang kuhadirkan di bibir. Aku tidak bisa berkata-kata. Kamu memang jagonya. Jago membuatku tersipu bungkam.
“Super hero-nya ya kamu itu.”
Glekk. Pengulangan katamu membuat dadaku menghangat. Kau terus melihatku membuatku hilang konsentrasi. Seolah kau mengejar jawaban yang sama dariku.
“Berhenti, yuk!” seruku setelah melihat jalan sudah keluar dari jalan tol.
Kau celingukan. “Berhenti? Kamu hanya bilang berhenti?”
“Cari makan. Lapar. Kamu juga belum makan siang kan?”
Ada sebuah resto di pinggir jalan. Aku menepikan mobil.
“Sebentar! Kamu mengalihkan pembicaraan aku tadi? Aku serius lho!”
“Iya kamu serius.” Aku garuk-garuk kepala sambil tersenyum sendiri.
“Tapi nada kamu ini seperti bercanda.”
“Iya aku tahu kamu serius.” Aku semakin menjadi-jadi dan tertawa.
“Iya tapi, tapi kenapa kamu malah senyum-senyum begitu. Kamu menertawakanku?”
“Turun yuk! Makan dulu.”
Aku kehabisan kata. Kamu tidak pernah tahu bagaimana degup jantungku dipompa. Aku bisa merasakan kecepatannya. Sepertinya aku jadi gila. Aku terus saja tertawa. Rasa bahagia membuncah di dadaku. Keberanianmu lebih besar dariku. Aku masih belum bisa membayangkannya. Seorang kamu yang sulit jatuh cinta tiba-tiba menyukaiku.
“Aku nggak lapar. Kenapa sih kamu tertawa terus?” tanyamu kesal.
“Maaf, maaf.”
Kulihat kau melipat tanganmu dan mulai memasang wajah itu. Angkatan sebelum kau mengeluarkan air mata.
“Aku tidak menertawakanmu. Aku hanya merasa bahagia. Ini seperti mimpi.”
“Tapi aku bicara tentang kenyataan bukan mimpi. Kamu nggak bisa bedain kenyataan sama mimpi. Jadi tadi aku ngomong panjang lebar kamu anggap cuma mimpi?”
“Ya, kenyataan. Kenyataan kalau aku juga menyukaimu.”
Tiba-tiba air matamu keluar.
“Kok malah nangis?”
“Aku terharu.” Tangismu semakin menjadi-jadi.
Kau menangis, aku tertawa. Dua ekspresi berbeda dengan arti yang sama. Bahagia. Akhirnya setelah sekian lama di sisimu ternyata kau mengakui kehadiranku. Akulah superhero-mu.

-----------------------------------

Untaian bunga canda
Tempat kau lepaskan tawa
Tenang hati terbaca
Kini tiba waktuku
Untuk puitiskan sayang
Untuk katakan cinta
Jadikanlah aku pacarmu
Kau kubingkai slalu indahmu
Jadikanlah aku pacarmu

Iringilah kisahku (Sheila On 7)

Komentar