Langsung ke konten utama

Single



Kupercepat langkah menuju resto Jangli. Restoran modern dengan desain kaca membuatmu terlihat bahkan dari luar sebelum aku membuka pintu. Dadaku berdesir hebat bukan karena terlambat datang tapi karena ini adalah satu hari untuk tujuh tahun lamanya. Kini wajahmu terlihat lagi di depan mataku.
“Maaf. Aku terlambat busnya lama.”
Kutaruh tasku di atas meja tapi tangan Sheryl menyingkirkannya.
“Kita pinjam uno stacko saja,” celetuk Sheryl tiba-tiba.
“Buat apa?” tanyaku masuk ke dalam percakapan.
“Yang kalah harus cerita kenapa dia memilih single,” lanjut Sheryl mengabaikan pertanyaanku.
“Setuju,” sahut Raras.
“Hello aku baru datang nggak ada yang kangen sama aku,” potongku sedikit kesal karena diabaikan.
“Semua yang diundang hari ini harus ikut. Wajib. Haram kalau kabur,” jelas Sheryl dengan menatap tajam padaku seolah mengatakan berisik.
"Aku nonton kalian sajalah. Duduk manis."
“Ta, sudahlah ikut saja. Bari saja diam. Tandanya dia setuju. Kamu baru datang harusnya tinggal ikut.”
“Jadi aku masih dihitung di sini. Aku pikir kalian melupakanku. Aku nggak mau ikut nanti kebongkar rahasiaku,” celetukku sambil nyengir.
“Justru kita di sini nggak main rahasia-rahasiaan. Biar bisa memahami satu sama lain. Sudah lama juga kan kita nggak ketemu. Tujuh tahun lho. Disaat yang lain sudah pada nikah kita berempat masih saja single.”
“Curhat, Ras,” celetuk Sheryl menggoda. “Pokoknya setuju nggak setuju kita main. Bang pinjam uno stacko-nya ya!” seru Sheryl mendadak seperti bos.
Mungkin baru pertama kalinya kulihat balok-balok kecil berwarna-warni yang di susun tinggi. Rasanya aku punya firasat buruk hari ini. Permainan di mulai dari Raras yang paling tua mengambil warna hijau. Lalu Sheryl sukses mencabut satu balok warna hijau. Bari melakukan kesalahan tumbanglah menara yang dibuat.
“Yah, padahal baru mulai sudah roboh. Nggak seru kamu, Bar,” celetuk Raras kecewa.
“Jadi aku dihukum?” tanya Bari stay cool.
“Sesuai kesepakatan. Kenapa sampai sekarang kamu single padahal cewek jomblo banyak dan juga populasi wanita di dunia lebih banyak dari pria?” tanya Sheryl.
“Aku pernah menyukai seseorang lalu sempat jadian satu tahun. Ternyata dia minta putus karena nggak bisa LDR. Semenjak saat itu aku belum bisa suka lagi sama cewek. Jadi mulai saat itu aku fokus kerja saja.”
“Wah, bahaya kamu Bar! Belum bisa move on, terjebak masa lalu dan parahnya lagi belum bisa suka lagi sama cewek. Tapi bukan berarti kamu suka cowok kan Bar?” Raras mulai bawel.
Bari tersenyum. “Aku masih normal.”
Raras tertawa. “Syukurlah. Kalau begitu kita mulai lagi.”
“Tunggu. Sesingkat itu ceritanya, Bar?” Sheryl masih belum puas.
“Ryl, tahu sendiri Bari nggak suka banyak ngomong. Segitu juga sudah hebat,” jelas Raras.
“Ya sudah kita mulai lagi. Kayaknya Rita sudah nggak sabar ingin main.” Sheryl melunak.
“Aku lebih senang kalau nonton kalian main, daripada harus main,” tepisku sambil nyengir.
Menara kembali disusun tinggi. Permainan dimulai dari Bari.  Ia mengambil warna biru. Lalu aku berhasil mencabut warna biru. Selanjutnya Raras dan Sheryl. Tiba tiga putaran Sheryl merobohkan menara.
“Kenapa jadi aku ya?” Sheryl menutup wajahnya.
“Senjata makan tuan itu namanya.” Aku menertawakannya.
“Baiklah alasan aku single sampai sekarang karena belum ada yang cocok. Belum ada yang pas di hati.”
“Kamu pikir sepatu ukurannya harus pas, modelnya harus cocok,” celetuk Raras tidak terima.
“Iya jelas dong, Ras. Coba kamu bayangkan kamu beli sepatu ukurannya lebih kecil pasti sakit di kaki. Bisa-bisa lecet,” jelas Sheryl tak mau kalah.
“Ras, kok Sheryl alasannya singkat banget. Malah lebih singkat dari Bari,” protesku.
Raras teralih. “Iya juga ya. Ryl, panjangan dikit kenapa?”
“Iya aku ceritakan lebih panjang. Jadi begini dulu aku pernah punya cowok awalnya baik. Tapi semenjak jadian dia itu berubah jadi nggak jelas. Dia suka pamer ke temannya kalau aku ini ceweknya. Dia suka seenaknya perintah-perintah ambil ini itu, bawakan ini itu di depan teman-temannya. Lama-lama aku seperti pembantunya. Padahal baru seminggu, tapi rasanya seperti dijajah. Terus sampai-sampai akunku dibajak demi dia unggah foto kita berdua. Padahal udah bukan ABG lagi. Dia bilang biar orang tahu aku milik dia. Rasanya geram banget. Akhirnya aku minta putus. Setahun setelahnya aku jadian sama beda orang. Eh, dapat yang posesif banget. Padahal kalian tahu aku cuek banget nggak suka kalau dikekang. Akhirnya putus lagi. Setahun setelahnya dapat cowok yang ternyata sukanya sama teman satu kos. Kesel banget kan cuma dijadikan batu loncatan buat mendapat temanku itu. Semenjak saat itu aku susah percaya sama cowok. Belum ketemu yang pas.”
“Wih, ngamuk si Sheryl. Sabar, Mak. Kan sudah berlalu,” sindir Raras sambil cekikikan.
“Kalau sabar sudah dari dulu, Ras. Cuma kalau ingat lagi jadi kesal. Nah, kamu sendiri kenapa masih single Ras? Nggak seperti aku kan?”
“Aku belum pernah pacaran. Belum pernah mengalami seperti kalian, Bar, Ryl. Alasan aku single ya karena kalau suka sama cowok hanya sekali dan itu harus langsung nikah. Maunya pacaran kalau sudah halal. Kan enak tuh sudah dapat restu dari orang tua, nggak perlu sembunyi-sembunyi, nggak perlu takut jarak dan sudah terikat janji antara pasangan kita, ayah dan Tuhan."
“Widih, berat si Raras!” ejek Sheryl.
Bari hanya tersenyum. Aku deg-degan luar biasa. Bisa saja tiba giliranku sewaktu-waktu untuk bercerita.
“Nggak ada salahnya kan. Itu namanya prinsip hidup,” tambah Raras.
“Iya deh kakak tertua.”
“Astaga, nggak usah bawa-bawa umur.”
“Tapi kelihatan dewasa kok,” puji Bari membuat pipi Raras memerah.
“Aduh, dipuji Bari rasanya beda ya,” celetuk Raras malu-malu kucing.
“Eh, sebentar sepertinya ada yang deg-degan. Suara degup jantungnya sampai terdengar,” ejek Sheryl.
“Itu yang bunyi detikan jam dinding kok,” tukasku.
“Berhubung tinggal satu langsung saja cerita, Ta!” seru Sheryl.
“Lho, nggak main pakai uno lagi?” tanyaku ingin mengalihkan perhatian.
“Tadi aku juga nggak pakai main uno. Aku tadi kasihan sama kamu jadi mengalah cerita lebih dulu,” celetuk Raras.
“Sok heroik kamu, Ras. Mentang-mentang paling tua jadi superheronya Rita. Biar Rita cari pelindungnya sendiri,” tegur Sheryl.
“Jadi aku disuruh cerita? Nanti kalau kalian bosan gimana?”
“Ribet amat sih Rita. Cerita tinggal cerita.”
“Aku bingung harus mulai dari mana. Ceritaku panjang.”
“Hmm.” Raras geram. “Ta, please mulai cerita kamu keburu malam.”
“Kalian bertiga lebih beruntung dari aku. Alasan kalian masih bisa dilogika. Bari, Sheryl pernah pacaran dan Raras belum pernah. Aku juga belum pernah pacaran seperti Raras tapi aku pernah jatuh cinta. Alasanku single karena setia nunggu dia. Jika aku tak memiliki apapun termasuk dia setidaknya aku memiliki satu hal itu, kesetiaan.”
“Sebentar Ta, kamu nggak pacaran sama Dito?” tanya Sheryl memotong pembicaraan.
Aku menggeleng. “Kami hanya berteman dan dia tahu kok aku jatuh cintanya sama siapa. Seseorang itu bahkan hanya sekelibat saja di mata tapi efeknya bisa sehari semalam di kepalaku. Senyumannya itu yang selalu kurindukan di setiap pagi. Sudah sangat lama semenjak senyuman itu hilang wujudnya hanya bisa kulihat dalam dunia maya beberapa tahun belakangan. Aku iri kepada Bari yang belum bisa move on dari mantannya. Setidaknya Bari pernah memilikinya. Aku juga iri padamu Ryl, yang katanya belum menemukan yang pas. Aku sudah menemukan yang pas untukku tapi mungkin saja aku bukan orang yang pas untuknya. Aku juga iri padamu Ras, yang tidak jatuh cinta sebelum halal. Aku tidak memiliki semuanya seperti kalian. Aku terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang jauh kupandang, nyata tapi tidak bisa dipegang, nyata tapi tidak bisa dimiliki.”
Kulihat Raras dan Sheryl saling memandang.
“Empat tahun yang lalu aku baru tahu dia sudah memiliki kekasih. Hatinya sudah diberikan pada seorang perempuan cantik. Aku membacanya kata-kata yang seharusnya tak kubaca yang justru membuatku semakin mengaguminya. Chemical reaction I have in my heart. I cannot describe. Except that I’m in love. Happy 1st anniversary. Tapi saat itu juga aku tahu rasanya patah hati.” Kusudahi ceritaku dengan tersenyum.
“Dan kamu masih bertahan sampai sekarang? Padahal dia sudah jadian sama cewek lain? Kamu masih setia nunggu dia padahal dia saja nggak setia?”
“Ya mau bagaimana lagi mungkin dia khilaf atau karena memang aku tidak pernah mengatakannya. Aku dan dia tidak ada komitmen. Sudah kubilang aku hanya memiliki kesetiaan. Jika aku tak bisa bersamanya setidaknya suatu saat nanti dia tahu alasanku kenapa masih bertahan di sini.”
“Ngeri aku dengarnya. Kamu di luar perkiraanku. Wow!” ejek Raras sembari tepuk tangan.
“Iya lho aku pikir kamu itu belum bisa move on dari Dito ternyata ada cowok lain. Jadi penasaran,” tambah Sheryl.
“Kenapa kamu nggak katakan yang sejujurnya ke dia?” tanya Bari tiba-tiba membuatku kikuk.
Aku menggeleng. “Tidak, Bar. Dia hanya sebatas punggung yang dilihat dari  belakang. Jika dilihat dari depan akan banyak kata terbuang untuk menjelaskan bagaimana bentuk punggungnya. Aku ingin dia tahu dengan sendirinya.”
“Kau bilang tadi empat tahun lalu sekarang bagaimana keadaannya? Kamu masih memantau dia pasti kan?” Raras mengorek dalam.
Senyumku mengembang. “Dia sudah sendiri lagi,” jawabku begitu yakin.
“Jadi itu yang kau bilang kesetiaan? Menunggu yang tak pasti, sakit-sakit sendiri. Kalau dia punya pacar kamu sedih, kalau dia sudah sendiri lagi kamu bahagia. Apa enaknya sih bertahan seperti itu? Enakan seperti aku. Nggak banyak pikiran.” Raras tersenyum.
Aku membalas senyumnya.
“Ah, kenapa Rita yang cerita tapi aku yang jadi bawa perasaan. Jadi geregetan. Siapa sih cowok itu? Perlu aku bantu bilang ke dia?” Sheryl menggebu-gebu.
“Ryl, jodoh nggak kemana. Tanpa kamu bantu kalau mereka berjodoh pada akhirnya akan bersama. Kita lihat saja apakah kesetiaan yang jadi pemenangnya. Biar Tuhan yang tentukan,” kata Raras seraya menepuk bahuku.
“Lho tadi kamu membuat pernyataan sepertinya nggak setuju kalau Rita nunggu cowok itu,” tukas Sheryl.
“Ya setuju nggak setuju sih. Tapi kalau Rita bahagia sebagai sahabat yang baik aku mendukungnya asal, keputusannya kelak jangan disesali.”
Senyuman kami bertiga melengkung bersama. Kecuali kamu Bari. Aku menelisik sudut matamu. Kau berbalik menatapku lalu bertanya, “Apa itu aku?”
Deg. Firasatku. Rahasiaku. Raras dan Sheryl memandangku secara bersamaan. Keringat dingin menetes. Tiba-tiba mereka bertiga tertawa. 
"Lihat wajahnya Rita tegang banget," ujar Sheryl geli.
Kuhela nafas panjang. Hanya bercanda. Kau tidak tahu kebenarannya.
"Mbak, minumnya tambah satu ya!" seru Raras kepada waiters.
Aku kehilangan banyak waktu diperjalanan. Baru beberapa menit berlalu menatap wajahmu, menaruhnya di kepalaku tapi usai permainan itu kau pamit.
"Bar, Rita kan baru datang. Nggak seru kamu Bar." Raras terlihat menahanmu.
Kau hanya tersenyum dan berlalu. Melambaikan tangan di balik pintu kaca.
Deg. Apa kau sedang menghindariku?
"Cheers, meski tanpa Bari," ujarku sambil menatap keluar mencari keberadaanmu.

-------------------------------------------

Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu
Cukup indahkah dirimu untuk slalu nantikan
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku
Mampukah kita bertahan disaat kita jauh
Seberapa hebat kau untuk kubanggakan
Cukup tangguhkah dirimu untuk slalu kuandalkan
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang
Sanggupkah kau menyakinkan disaat aku bimbang
Celakanya hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku
Kau pergi dan hilang kemanapun kau suka
Celakanya hanya kaulah yang pantas untuk ku banggakan
Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan
Diantara pedih aku slalu menantimu

Mungkin kini kau tlah menghilang tanpa jejak
Mengubur semua indah kenangan
Tapi aku slalu menunggumu di sini
Bila saja kau berubah pikiran
(Sheila on 7)

Komentar