Langsung ke konten utama

Lepas



Rusak sudah terkoyak. Tubuhku tercabik parah. Kau gerogoti aku sampai ke kulit-kulitnya. Kau makan tulangku sampai ke sumsumnya. Kau hempas aku hingga sejatuh-jatuhnya. Kau umumkan hari bahagia di depan mata nanar yang tak terduga. Ribuan pasang mata yang menatap ke arahku. Seolah berkata lho bukan kamu.

Tubuhku tak bisa berdiri tegak. Kau telah buang sangga-sangga-nya. Tak tertopang kuat jadinya. Aku tumbang. Bukan karena pergantian musim tapi karenamu dengan beraninya menumbangkanku.
Kau bilang aku berbeda. Kau bilang aku yang kau cinta. Tapi nyatanya kau memilihnya. Apa salahnya jika aku menjadi sama. Sama-sama berdiri dengannya, memiliki kesempatan yang sama. Seperti apa nanti jadinya. Otakku sudah tak mampu membayangkannya.

Aku masih berdiri dengan segudang tanya. Tapi apalah tanya jika aku sudah tahu jawabnya. Kau tetap dengannya. Kau akan menjadi miliknya. Kau yang disandingnya. Aku bukan siapa-siapa.
Koyak tubuhku sudah terkoyak. Lemah tak berdaya. Kau benamkan aku dalam dan tak lagi berasa. Aku putus asa. Kau ubah mimpiku dalam sekejap dengan berbalik arah. Tikungan-tikungan tajam begitu menghujam. Tuhan jatuhkan hujan di tengah air mata. Tuhan muramkan langit-Nya turut berduka. Kamu, dia saksinya. Tubuhku kau guncang hebat.

Hari ini langit mengumpat lewat petirnya. Kilat-kilat cahaya menggetarkan daun jendela. Semarah-marahnya langit tak mampu menyentilmu. Kau tak goyah sedikitpun di hadapnya.

“Bapaknya yang ingin mereka bersama.” Sebuah kata kudengar jelas di telinga.

“Iya aku juga dengar itu. Mereka katanya dijodohkan.”

Kita memiliki mimpi besar yang ingin kubangun nyata. Namun Tuhan tak memiliki rencana yang sama. Kau berikan mimpi indah tapi kenyataan tak seindah mimpi. Tuhan balikan hatimu ke arahnya. Aku bisa apa. Rencana besarku tak jadi nyata. Ada  baiknya aku tak di sana. Hadirku hanya mengusik ketenanganmu dengannya. Biar aku lepas terbang seperti elang mengepakkan sayap patahnya. Aku tak ingin berlama-lama. Cukup di sini saja. Biarkan hari ini jadi saksinya. Aku tidak ingin jadi yang ketiga. Lepaskanlah aku dengan berani. Dekaplah dia dengan kehangatan. Jangan kau biarkan dia lepas seperti aku. Kau telah memilihnya. Kau harus menjaganya dengan penuh cinta.

“Sabar ya.” Seseorang menepuk bahuku mencoba menguatkanku yang sudah tumbang.

Aku tak suka kata sabar yang diucapkan, seolah kehilangan maknanya. Tubuhku sudah benar-benar tak bisa bertahan lama di himpitan gulita. Aku menepis tepukan di bahu. Kusunggingkan senyuman untuk  mengaburkan rasa perih di dada. Pergi. Akhirnya aku harus pergi tanpa perlu kau jelaskan. Tatap nanar matamu di sana menyiratkan kau berat juga. Kau pasti tahu betapa hancurnya aku. Tapi apalah daya keputusanmu tak bisa dipercaya. Semoga kau baik-baik saja.

----------------------------------------
Kutahu engkau  pasti tahu betapa hancurnya aku
Bunga yang dulu begitu indah
Perginya entah kemana
Aku sakit, aku sakit hati
Kau terbangkan ku ke awan lalu jatuhkan ke dasar jurang
Aku sakit dan ku tak mengerti
Kau berikan mimpi indah namun kenyataan tak seindah mimpi
Sadar kini cinta tak berbalas
Dulu ku tak pernah menduga kau
Memberi harapan palsu
Gengam tangan dan senyuman itu
Seolah mengikat hati
Sendiri lagi, sendiri lagi
Dimanakah cintamu yang selama ini untukku
(Yovie and The Nuno)

Komentar