Langsung ke konten utama

High Five



Aku melihatmu tertawa lepas dengan sebuah kue ulang tahun di tangan. Lilin-lilin kecil dengan nyala api siap ditiup. Dia di depanmu riang menyambut kue yang kau bawa. Ini sama sekali tidak nyaman.
"Gey, tolong pegang kuenya ya," katamu seraya menaruh kue di telapak tanganku setelah selesai meniup lilin.
Hatiku tampak seperti lilin di atas kue. Setelah ia disulut, ditiup akhirnya padam. 
"Gey, tunggu di sini ya. Amoy ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan," lanjutmu seraya menarik tangan Amoy.
Setelah diminta membawa kue yang bukan milikku kau dan dia pergi begitu saja. Kuamati kue di tanganku sepertinya manis. Tapi dibalik kemanisannya kue ini akan segera dihabisi hingga hilang bentuknya.
"Gey, mana kuenya aku bawakan. Gantinya kamu bawa motor Amoy ke depan gedung ya!" Galih tiba-tiba muncul dengan kunci motor Amoy di tangannya.
Aku masih diam. Ini bukan April Mop. Rasanya kisah percintaan dua orang ini terlalu merepotkan. Semua teman dekat dilibatkan tanpa tahu bagaimana rasanya menjadi diriku.
"Itu motornya sudah selesai dihias. Cepetan, gih! Alex sama Amoy sudah menunggu di depan." 
Tanganku berkhianat. Kunci motor Amoy kutangkap. Aku bergegas menaiki motor Amoy yang sudah dihias dan berhenti tepat di depan kau dan dia. Kulihat Amoy senang dan menutup matanya tak percaya. 
"Lex, ini rencana kamu? Gey, kok nggak bilang sih? Kamu juga terlibat direncana Alex?" Amoy memelukku. Dibalik pelukannya aku nyeri.
Kau hanya tersenyum. Lihat Amoy bahkan mengira aku terlibat dalam rencanamu. Padahal aku tak tahu sama sekali, ibarat robot aku bergerak karena dijalankan.
"Thanks ya semua. Aku nggak menyangka kalian sampai sebegitunya sama aku." 
Wajahnya berbinar. Kau semakin terlihat bahagia. Hatiku berseberangan ingin lari.
"Karena kalian hari ini baik, aku mau traktir kalian semua di belakang kampus," lanjut Amoy.
Belum usai remukan kisahku. Remukan baru terbentuk yang berarti aku di dekat mereka lebih lama.
"Gey, aku sama Alex. Kamu yang bawa motorku ya!"
Aku mengangguk dengan berat hati. Kau dan Galih melakukan high five. Kalian berbisik berhasil tapi tidak bagiku.
Setelah itu kau bersama Amoy, Galih dengan motornya dan aku seperti pawai dengan motor Amoy. Aku membuntuti dari belakang. Pemandangan macam apa ini membuat pikiranku kalut. Akhirnya ada sebuah kesempatan membalap mereka berdua beruntung sebuah mobil berjalan lambat. Beberapa saat kulirik ke spion tiba-tiba kalian menghilang. Kuputuskan untuk berhenti. 
Begitu hebohnya motor Amoy. Aku mengumpat dalam hati. Kalau ini kejutan untuknya kenapa harus aku yang menaikinya. Aku ingin mencabik-cabik hiasan di motor Amoy. Semacam ikut karnaval yang terpisah dari rombongan aku meratapi diri. Panas di luar, panas di dalam.
Seandainya bisa kukatakan dengan lantang tak perlu aku tersiksa seperti ini sendiri. Ah, kesal air mataku terdesak keluar. 
"Gey, ngapain sendirian di sini?" Suaramu terdengar jelas. 
Aku menolehmu sembari mengusap air mata. 
"Lho kok pakai acara nangis segala?" Kau memergokiku saat mengusap air mata.
"Mataku kemasukkan debu. Perih jadi aku berhenti." 
"Sini aku bantu tiup!" Kau turun dari motormu dan menghampiriku.
"Nggak usah, Lex. Sudah enakan kok." 
"Tadi pas pertigaan kita belok, eh kamunya hilang. Sudah kuduga kau lurus sendiri." 
"Iya tadi soalnya mobilnya lama jadi aku balap. Pas berhenti baru sadar kalian semua sudah nggak ada." 
"Kita khawatir kamu nyasar ke mana. Jadi aku inisiatif cari kamu."
"Sudah izin Amoy?" 
"Amoy tahu kok. Ya sudah kita susul teman-teman sekarang. Keburu dingin pesanannya."
"Lex," panggilku ketika kau bersiap menghidupkan mesin. "Kalau aku langsung balik kos aja gimana? Nanti kamu antar Amoy ke kosku kalau sudah selesai buat ambil motornya." 
"Lho kok begitu? Kamu nggak mau ikut kita-kita?" 
"Aku baru nggak mood."
"Kenapa?" 
"Banyak alasan untuk hari ini. Aku nggak mau merusak suasana bahagia kalian hari ini." 
"Mood kamu itu cepet banget berubahnya ya. Kadang habis ketawa tiba-tiba murung. Kadang jutek banget tiba-tiba ketawa sendiri."
"Aku lagi nggak mau bahas itu. Sudah buruan susul mereka. Nanti mereka bertanya-tanya kenapa kamu lama sekali. Oh ya satu lagi. Aku nggak mau mereka jadi khawatir bilang kamu udah ketemu aku dan aku ada urusan lain."
"Kamu mau aku bohong sama mereka?"
"Demi kebaikan bersama. Ayolah!" bujukku.
"Gey, kamu lagi ada masalah? Nggak biasanya seperti ini." Kau mencurigaiku tapi buka sebuah kepekaan.
"Lex. Aku hanya ingin sendiri dulu biar cepat pulih mood-ku."
"Gey, kalau ada apa-apa jangan segan hubungi aku. Siapa tahu aku bisa bantu masalah kamu." 
"Lex. Jangan seperti ini kumohon! Jangan buat aku berharap banyak! Nanti aku bisa baper."
"Ini nggak berlebihan menurutku ini biasa, Gey."
"Lex," nadaku meninggi. 
"Kok jadi marah-marah?" Kau garuk-garuk kepala.
"Lex. Kamu seharusnya di sana," ujarku menurunkan nada. 
"Iya. Tapi kamu juga harus ikut," tukasmu.
"Aku lelah. Lex, kembalilah mereka menunggumu."
Kau masih berdiri menungguku.
"Kalau kamu nggak mau pergi sepertinya aku saja yang pergi, Lex." 
"Gey, jangan kabur. Kalau ada masalah kamu bisa ngomong aku akan mendengarkanmu." 
"Kamu nggak peka, Lex." 
"Gey." Kau tarik tanganku mengambil kontak motor Amoy. "Gey, ikutlah! Dengan cara apa aku bisa membujukmu ikut?" 
"Aku bisa pulang jalan kaki. Itu kan motor Amoy. Aku bilang aku ingin sendiri dulu, Lex," kataku dan berlalu dari hadapanmu. Kau tak memanggilku sama sekali. Mungkin kau pasrah atau memang tak peka sama sekali.
Aku sudah berjalan selama lima menit. Kakiku mulai terasa capek. Tiba-tiba Galih ada di sampingku dengan motornya melaju pelan-pelan.
"Kenapa kamu nggak ikut?" tanyanya.
"Ada acara," sahutku pendek.
"Aku antar ya!" Galih menawariku.
Aku berhenti dan menarik nafas. 
"Kau pasti disuruh Alex. Jangan ganggu aku hari ini. Mood-ku sedang kacau. Aku nggak mau kalian semua mikir aku jahat kalau bad mood." 
"Aku tahu kenapa mood-mu hancur." 
Glekk. Kalimat terseram yang kudengar. Dia berubah seperti cenayang.
"Ya memang Alex nggak peka tapi aku tidak. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Kalau aku jadi kamu dari dulu mungkin sudah nggak sanggup kumpul sama mereka. Aku salut kamu masih bisa bertahan sampai sejauh ini dan setelah semua ini kamu mau menyerah. Jadi kamu mau berapa banyak orang yang tahu tentang perasaan kamu itu?"
"Maksud kamu?"
"Hari ini melihatmu kesal, aku jadi tahu apa yang kamu sembunyikan. Lalu kamu mau Alex dan Amoy juga tahu dengan sikap kamu yang nggak jelas seperti ini?" 
Aku menunduk. 
"Dewasalah sedikit, Gey. Tahan emosi kamu. Masih ada satu semester sebelum kamu lulus. Seharusnya kamu bisa bertahan sebentar lagi. Setelah ini toh mungkin kamu nggak bertemu mereka lagi."
Aku meresapi kata-kata Galih. 
"Hari ini ulang tahun Amoy. Hargailah dia yang ingin berbagi kebahagiaan. Singkirkan dulu ego kamu. Simpan dulu emosi kamu. Pakai kepala dingin, Gey. Coba bayangkan Amoy di sana perempuan sendiri. Dia butuh kamu di sana. Bagaimana kalau dia tahu kamu nggak ada di sana? Pernah kamu bayangkan orang yang biasa bersama tiba-tiba kabur nggak jelas seperti ini. Setidaknya kamu ada di sana sebentar, selanjutnya kalau kamu nggak kuat kamu bisa pamit." 
Galih membuatku melunak. Akhirnya kudengarkan kata-katanya dan ikut menemui Amoy. 
"Gey, high five! Reward buat kamu yang sudah menurunkan ego," ujar Galih saat menurunkanku di parkiran.
Aku berjalan mendekat kalian. Amoy menghampiri dan langsung menggamit lenganku. Kenyataan aku takut kehilangan teman ada benarnya. Tapi aku lebih takut saat kau membuatku berharap lebih karena aku tidak punya benteng dari baja. Hanya semacam dinding tembok yang masih bisa merembes terkena air, yang bisa hanyut ketika ada air bah, yang bisa hancur ketika dipukul keras. Dindingku tidak begitu kuat untuk menahan rasa padamu. Tapi hari ini ada dinding baru yang melapisiku di depan. Hari ini dia menahanku untuk tidak roboh dan dia memberiku hadiah high five. Sederhana memang tapi itu  mampu mengembalikan senyumku berasa anak kecil dapat permen.
Aku tersenyum saat melihat kue ulang tahun yang dipotong Amoy. Selembek-lembeknya kue itu setidaknya ada bagian bawah yang keras dan menopang. Nasibku mungkin sepertinya ada orang itu yang menopangku dengan senyumnya. Isyaratnya mengembalikan mood-ku.
"Ini buat, Gey sahabat terbaikku."
Deg. Amoy memberiku potongan kue pertamanya padaku. Aku mungkin picik. Kupikir jika seseorang laki-laki telah memiliki kekasih posisi kita aman. Kita berkeyakinan ia tidak akan mengubah arah dan berbalik. Sebuah tanda bahwa kita bukanlah yang dipilih. Kupikir saat seorang laki-laki menjatuhkan pilihan artinya ia telah membuat satu keputusan yang besar. Kupikir setelah tahu kita akan membuat jarak berjaga-jaga hati untuk tidak jatuh kepadanya, untuk tidak merebutnya. Kupikir cinta hanya datang pada orang yang telah selesai dengan dirinya tapi tidak berarti telah selesai dengan kekasihnya. Nyata cinta masih saja hadir disaat aku tahu kau sudah jadi kekasihnya. Tapi aku baru sadar seberapa pun perasaan itu hadir, Amoy tetap menganggapku sahabatnya. Aku yang seharusnya tahu diri. Tak ada yang menyedihkan selain mencintai orang yang tak memilih kita. Lebih baik hari ini aku bertepuk tangan untuk kebahagiaan mereka daripada memikirkan egoku yang tidak pada tempatnya. Bertepuk sebelah tangan hanya menyisakan ruang hampa. 
"High five," pinta Galih saat mendekatiku di sela-sela makan kue Amoy.
"Untuk apa lagi? Reward? Aku sudah mendapatkannya tadi," ucapku seraya tersenyum.
"Biar kamu tahu bertepuk sebelah tangan tak semenyakitkan itu. Ada tangan lain yang ingin bertepuk denganmu. Tangan ini yang mungkin bisa membuatmu tidak menggantung sebelah, tinggi di udara." Galih tersenyum, menarik tanganku memaksaku melakukan high five
Kulihat kau menghampiriku. "Gey, aku minta maaf soal yang tadi. Apa kamu sudah baikan sekarang? Aku lihat kau sudah tersenyum tadi," katamu.
Aku hanya mengangguk. 
Tiba-tiba kau mengagetkanmu. "Kalian jadian?" tanyamu melihat Galih masih memegang tanganku.
Aku menarik tanganku. "High five. Galih mengajakku high five. Seperti kalian tadi saat berhasil membuat kejutan untuk Amoy."
"Kalau begitu aku boleh dong ikutan high five juga," katamu kemudian.
Deg. Telapak tanganmu menyentuh jemariku tanpa kau tahu apa makna yang kuharapkan. Tapi aku tahu kau melakukannya karena kau berhasil membuat Amoy tersenyum dihari bahagianya. 


Komentar