Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari April, 2017

High Five

Aku melihatmu tertawa lepas dengan sebuah kue ulang tahun di tangan. Lilin-lilin kecil dengan nyala api siap ditiup. Dia di depanmu riang menyambut kue yang kau bawa. Ini sama sekali tidak nyaman. "Gey, tolong pegang kuenya ya," katamu seraya menaruh kue di telapak tanganku setelah selesai meniup lilin. Hatiku tampak seperti lilin di atas kue. Setelah ia disulut, ditiup akhirnya padam.  "Gey, tunggu di sini ya. Amoy ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan," lanjutmu seraya menarik tangan Amoy. Setelah diminta membawa kue yang bukan milikku kau dan dia pergi begitu saja. Kuamati kue di tanganku sepertinya manis. Tapi dibalik kemanisannya kue ini akan segera dihabisi hingga hilang bentuknya. "Gey, mana kuenya aku bawakan. Gantinya kamu bawa motor Amoy ke depan gedung ya!" Galih tiba-tiba muncul dengan kunci motor Amoy di tangannya. Aku masih diam. Ini bukan April Mop. Rasanya kisah percintaan dua orang ini terlalu merepotkan. Semua teman dekat dilibatkan tanpa tahu b…

Single

Kupercepat langkah menuju resto Jangli. Restoran modern dengan desain kaca membuatmu terlihat bahkan dari luar sebelum aku membuka pintu. Dadaku berdesir hebat bukan karena terlambat datang tapi karena ini adalah satu hari untuk tujuh tahun lamanya. Kini wajahmu terlihat lagi di depan mataku.
“Maaf. Aku terlambat busnya lama.” Kutaruh tasku di atas meja tapi tangan Sheryl menyingkirkannya.
“Kita pinjam uno stacko saja,” celetuk Sheryl tiba-tiba. “Buat apa?” tanyaku masuk ke dalam percakapan. “Yang kalah harus cerita kenapa dia memilih single,” lanjut Sheryl mengabaikan pertanyaanku. “Setuju,” sahut Raras. “Hello aku baru datang nggak ada yang kangen sama aku,” potongku sedikit kesal karena diabaikan. “Semua yang diundang hari ini harus ikut. Wajib. Haram kalau kabur,” jelas Sheryl dengan menatap tajam padaku seolah mengatakan berisik.
"Aku nonton kalian sajalah. Duduk manis." “Ta, sudahlah ikut saja. Bari saja diam. Tandanya dia setuju. Kamu baru datang harusnya tinggal ik…

Biar

Langit pun muram seolah tahu.
Hujan pun menangis menggenggam sebilah tanya.
Mendung gelap mencekam.
Seolah terowongan panjang membentang tak ada yang datang.
Rongga dada dipenuhi sesak.
Terjerembab tersungkur dalam kakimu tak bisa tegak.
Lempar saja.
Remukan.
Biar semakin panjang rintih sakitmu.
Penggap.
Biar, biar kaki-kaki tahu.
Jeritan tidak membiarkan semuanya berlalu.
Biar, biar tangan-tangan mengadah mengadu.
Tidak ada yang datang.

Ini bukan drama.
Kau bukanlah tokoh utama.
Jangan bertanya, jangan menanya.
Tidak ada yang datang.
Kau tahu juga.
Pergi saja.
Biar remuk.
Seremuk-remuknya.
Biar retak sejadi-jadinya.
Barulah kau tahu tersenyum menyimpan banyak makna.


Bolehkah Kupanggil Bang?

Kamu yang belum memiliki nama untuk kusebut. 

Bang,
Baik-baiklah kau di sana.
Jaga kesehatanmu.
Jangan lupa sholatmu.
Carilah ilmu sebanyak-banyaknya.
Sampaikanlah kelak padaku.
Sendiri dulu tak apa kutemani kau di sini.
Tidak boleh bersedih.
Tidak boleh kecewa.
Kau harus bahagia.
Tetaplah selalu tersenyum.
Apapun yang terjadi berjuanglah.
Jangan menyerah.
Nanti kita pasti bertemu.
Dipertemukan Tuhan.
Disandingkan bersama.
Jika sudah waktunya.
Tuhan belum menjawabnya sekarang.
Tak apa.

Bang,
Kubiarkan hari ini doa bertarung di langit.
Duduk manislah.
Kita lihat kisah ini.
Saksikan saja dari jauh.
Kejutan seperti apa?
Rancangan hebat apa?
Skenario kita selanjutnya apa?
Pada akhirnya setelah rangkaian panjang ini nanti kita bisa disatukan:
Pada satu tujuan yang sama.
Pada cara yang sama.
Pada hati yang sama.
Pada rumah yang sama.
Kau imamnya, aku makmumnya.
Tak ada lagi dermaga, tak ada tempat singgah.
Kau dan aku menetap saja.
Satu hati, satu rasa, satu cita.
Menuju surga-Nya.

Bang,
Ta…

Lepas

Rusak sudah terkoyak. Tubuhku tercabik parah. Kau gerogoti aku sampai ke kulit-kulitnya. Kau makan tulangku sampai ke sumsumnya. Kau hempas aku hingga sejatuh-jatuhnya. Kau umumkan hari bahagia di depan mata nanar yang tak terduga. Ribuan pasang mata yang menatap ke arahku. Seolah berkata lho bukan kamu.
Tubuhku tak bisa berdiri tegak. Kau telah buang sangga-sangga-nya. Tak tertopang kuat jadinya. Aku tumbang. Bukan karena pergantian musim tapi karenamu dengan beraninya menumbangkanku. Kau bilang aku berbeda. Kau bilang aku yang kau cinta. Tapi nyatanya kau memilihnya. Apa salahnya jika aku menjadi sama. Sama-sama berdiri dengannya, memiliki kesempatan yang sama. Seperti apa nanti jadinya. Otakku sudah tak mampu membayangkannya.
Aku masih berdiri dengan segudang tanya. Tapi apalah tanya jika aku sudah tahu jawabnya. Kau tetap dengannya. Kau akan menjadi miliknya. Kau yang disandingnya. Aku bukan siapa-siapa. Koyak tubuhku sudah terkoyak. Lemah tak berdaya. Kau benamkan aku dalam dan tak l…

Superhero, I Love You

Pukul satu lebih seperempat siang jadwal pendaratanmu. Riuh, sesak aku berdiri menjauh dari kerumunan. Kupikir hari efektif bandara akan sepi nyatanya tetap saja penuh lautan manusia. Aku melihat kopermu sedang diperiksa petugas bandara. Kau melambaikan tangan tanpa rasa malu dilihat banyak orang dari kejauhan. Senyumku melebar melihat kucir ekor kudamu bergoyang-goyang. “Hai!” sapamu dengan menenteng tas ransel dan menaruh koper di depanku. “Sepertinya berat?” tanyaku bercanda. “Kalau berat bantulah biar agak ringan,” celetukmu. Kutarik pegangan kopermu. “Bagaimana liburanmu di sana?” tanyaku. “Menyenangkan. Aku dapat medali,” katamu sambil menunjukkan medali di leher. “Medali? Sebenarnya liburan apa lomba?” tanyaku seraya berjalan menuju tempat parkir. “Ya liburan, tapi disela-selanya ada lomba lari di atas pasir,” ceritamu. “Wih, jago juga kamu. Aku baru tahu kamu bisa lari secepat itu sampai dapat medali,” ejekku membuatmu menyenggol lenganku. “Ya, tapi bukan juara satu.” “Aku…