Sabtu, 29 April 2017

High Five



Aku melihatmu tertawa lepas dengan sebuah kue ulang tahun di tangan. Lilin-lilin kecil dengan nyala api siap ditiup. Dia di depanmu riang menyambut kue yang kau bawa. Ini sama sekali tidak nyaman.
"Gey, tolong pegang kuenya ya," katamu seraya menaruh kue di telapak tanganku setelah selesai meniup lilin.
Hatiku tampak seperti lilin di atas kue. Setelah ia disulut, ditiup akhirnya padam. 
"Gey, tunggu di sini ya. Amoy ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan," lanjutmu seraya menarik tangan Amoy.
Setelah diminta membawa kue yang bukan milikku kau dan dia pergi begitu saja. Kuamati kue di tanganku sepertinya manis. Tapi dibalik kemanisannya kue ini akan segera dihabisi hingga hilang bentuknya.
"Gey, mana kuenya aku bawakan. Gantinya kamu bawa motor Amoy ke depan gedung ya!" Galih tiba-tiba muncul dengan kunci motor Amoy di tangannya.
Aku masih diam. Ini bukan April Mop. Rasanya kisah percintaan dua orang ini terlalu merepotkan. Semua teman dekat dilibatkan tanpa tahu bagaimana rasanya menjadi diriku.
"Itu motornya sudah selesai dihias. Cepetan, gih! Alex sama Amoy sudah menunggu di depan." 
Tanganku berkhianat. Kunci motor Amoy kutangkap. Aku bergegas menaiki motor Amoy yang sudah dihias dan berhenti tepat di depan kau dan dia. Kulihat Amoy senang dan menutup matanya tak percaya. 
"Lex, ini rencana kamu? Gey, kok nggak bilang sih? Kamu juga terlibat direncana Alex?" Amoy memelukku. Dibalik pelukannya aku nyeri.
Kau hanya tersenyum. Lihat Amoy bahkan mengira aku terlibat dalam rencanamu. Padahal aku tak tahu sama sekali, ibarat robot aku bergerak karena dijalankan.
"Thanks ya semua. Aku nggak menyangka kalian sampai sebegitunya sama aku." 
Wajahnya berbinar. Kau semakin terlihat bahagia. Hatiku berseberangan ingin lari.
"Karena kalian hari ini baik, aku mau traktir kalian semua di belakang kampus," lanjut Amoy.
Belum usai remukan kisahku. Remukan baru terbentuk yang berarti aku di dekat mereka lebih lama.
"Gey, aku sama Alex. Kamu yang bawa motorku ya!"
Aku mengangguk dengan berat hati. Kau dan Galih melakukan high five. Kalian berbisik berhasil tapi tidak bagiku.
Setelah itu kau bersama Amoy, Galih dengan motornya dan aku seperti pawai dengan motor Amoy. Aku membuntuti dari belakang. Pemandangan macam apa ini membuat pikiranku kalut. Akhirnya ada sebuah kesempatan membalap mereka berdua beruntung sebuah mobil berjalan lambat. Beberapa saat kulirik ke spion tiba-tiba kalian menghilang. Kuputuskan untuk berhenti. 
Begitu hebohnya motor Amoy. Aku mengumpat dalam hati. Kalau ini kejutan untuknya kenapa harus aku yang menaikinya. Aku ingin mencabik-cabik hiasan di motor Amoy. Semacam ikut karnaval yang terpisah dari rombongan aku meratapi diri. Panas di luar, panas di dalam.
Seandainya bisa kukatakan dengan lantang tak perlu aku tersiksa seperti ini sendiri. Ah, kesal air mataku terdesak keluar. 
"Gey, ngapain sendirian di sini?" Suaramu terdengar jelas. 
Aku menolehmu sembari mengusap air mata. 
"Lho kok pakai acara nangis segala?" Kau memergokiku saat mengusap air mata.
"Mataku kemasukkan debu. Perih jadi aku berhenti." 
"Sini aku bantu tiup!" Kau turun dari motormu dan menghampiriku.
"Nggak usah, Lex. Sudah enakan kok." 
"Tadi pas pertigaan kita belok, eh kamunya hilang. Sudah kuduga kau lurus sendiri." 
"Iya tadi soalnya mobilnya lama jadi aku balap. Pas berhenti baru sadar kalian semua sudah nggak ada." 
"Kita khawatir kamu nyasar ke mana. Jadi aku inisiatif cari kamu."
"Sudah izin Amoy?" 
"Amoy tahu kok. Ya sudah kita susul teman-teman sekarang. Keburu dingin pesanannya."
"Lex," panggilku ketika kau bersiap menghidupkan mesin. "Kalau aku langsung balik kos aja gimana? Nanti kamu antar Amoy ke kosku kalau sudah selesai buat ambil motornya." 
"Lho kok begitu? Kamu nggak mau ikut kita-kita?" 
"Aku baru nggak mood."
"Kenapa?" 
"Banyak alasan untuk hari ini. Aku nggak mau merusak suasana bahagia kalian hari ini." 
"Mood kamu itu cepet banget berubahnya ya. Kadang habis ketawa tiba-tiba murung. Kadang jutek banget tiba-tiba ketawa sendiri."
"Aku lagi nggak mau bahas itu. Sudah buruan susul mereka. Nanti mereka bertanya-tanya kenapa kamu lama sekali. Oh ya satu lagi. Aku nggak mau mereka jadi khawatir bilang kamu udah ketemu aku dan aku ada urusan lain."
"Kamu mau aku bohong sama mereka?"
"Demi kebaikan bersama. Ayolah!" bujukku.
"Gey, kamu lagi ada masalah? Nggak biasanya seperti ini." Kau mencurigaiku tapi buka sebuah kepekaan.
"Lex. Aku hanya ingin sendiri dulu biar cepat pulih mood-ku."
"Gey, kalau ada apa-apa jangan segan hubungi aku. Siapa tahu aku bisa bantu masalah kamu." 
"Lex. Jangan seperti ini kumohon! Jangan buat aku berharap banyak! Nanti aku bisa baper."
"Ini nggak berlebihan menurutku ini biasa, Gey."
"Lex," nadaku meninggi. 
"Kok jadi marah-marah?" Kau garuk-garuk kepala.
"Lex. Kamu seharusnya di sana," ujarku menurunkan nada. 
"Iya. Tapi kamu juga harus ikut," tukasmu.
"Aku lelah. Lex, kembalilah mereka menunggumu."
Kau masih berdiri menungguku.
"Kalau kamu nggak mau pergi sepertinya aku saja yang pergi, Lex." 
"Gey, jangan kabur. Kalau ada masalah kamu bisa ngomong aku akan mendengarkanmu." 
"Kamu nggak peka, Lex." 
"Gey." Kau tarik tanganku mengambil kontak motor Amoy. "Gey, ikutlah! Dengan cara apa aku bisa membujukmu ikut?" 
"Aku bisa pulang jalan kaki. Itu kan motor Amoy. Aku bilang aku ingin sendiri dulu, Lex," kataku dan berlalu dari hadapanmu. Kau tak memanggilku sama sekali. Mungkin kau pasrah atau memang tak peka sama sekali.
Aku sudah berjalan selama lima menit. Kakiku mulai terasa capek. Tiba-tiba Galih ada di sampingku dengan motornya melaju pelan-pelan.
"Kenapa kamu nggak ikut?" tanyanya.
"Ada acara," sahutku pendek.
"Aku antar ya!" Galih menawariku.
Aku berhenti dan menarik nafas. 
"Kau pasti disuruh Alex. Jangan ganggu aku hari ini. Mood-ku sedang kacau. Aku nggak mau kalian semua mikir aku jahat kalau bad mood." 
"Aku tahu kenapa mood-mu hancur." 
Glekk. Kalimat terseram yang kudengar. Dia berubah seperti cenayang.
"Ya memang Alex nggak peka tapi aku tidak. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Kalau aku jadi kamu dari dulu mungkin sudah nggak sanggup kumpul sama mereka. Aku salut kamu masih bisa bertahan sampai sejauh ini dan setelah semua ini kamu mau menyerah. Jadi kamu mau berapa banyak orang yang tahu tentang perasaan kamu itu?"
"Maksud kamu?"
"Hari ini melihatmu kesal, aku jadi tahu apa yang kamu sembunyikan. Lalu kamu mau Alex dan Amoy juga tahu dengan sikap kamu yang nggak jelas seperti ini?" 
Aku menunduk. 
"Dewasalah sedikit, Gey. Tahan emosi kamu. Masih ada satu semester sebelum kamu lulus. Seharusnya kamu bisa bertahan sebentar lagi. Setelah ini toh mungkin kamu nggak bertemu mereka lagi."
Aku meresapi kata-kata Galih. 
"Hari ini ulang tahun Amoy. Hargailah dia yang ingin berbagi kebahagiaan. Singkirkan dulu ego kamu. Simpan dulu emosi kamu. Pakai kepala dingin, Gey. Coba bayangkan Amoy di sana perempuan sendiri. Dia butuh kamu di sana. Bagaimana kalau dia tahu kamu nggak ada di sana? Pernah kamu bayangkan orang yang biasa bersama tiba-tiba kabur nggak jelas seperti ini. Setidaknya kamu ada di sana sebentar, selanjutnya kalau kamu nggak kuat kamu bisa pamit." 
Galih membuatku melunak. Akhirnya kudengarkan kata-katanya dan ikut menemui Amoy. 
"Gey, high five! Reward buat kamu yang sudah menurunkan ego," ujar Galih saat menurunkanku di parkiran.
Aku berjalan mendekat kalian. Amoy menghampiri dan langsung menggamit lenganku. Kenyataan aku takut kehilangan teman ada benarnya. Tapi aku lebih takut saat kau membuatku berharap lebih karena aku tidak punya benteng dari baja. Hanya semacam dinding tembok yang masih bisa merembes terkena air, yang bisa hanyut ketika ada air bah, yang bisa hancur ketika dipukul keras. Dindingku tidak begitu kuat untuk menahan rasa padamu. Tapi hari ini ada dinding baru yang melapisiku di depan. Hari ini dia menahanku untuk tidak roboh dan dia memberiku hadiah high five. Sederhana memang tapi itu  mampu mengembalikan senyumku berasa anak kecil dapat permen.
Aku tersenyum saat melihat kue ulang tahun yang dipotong Amoy. Selembek-lembeknya kue itu setidaknya ada bagian bawah yang keras dan menopang. Nasibku mungkin sepertinya ada orang itu yang menopangku dengan senyumnya. Isyaratnya mengembalikan mood-ku.
"Ini buat, Gey sahabat terbaikku."
Deg. Amoy memberiku potongan kue pertamanya padaku. Aku mungkin picik. Kupikir jika seseorang laki-laki telah memiliki kekasih posisi kita aman. Kita berkeyakinan ia tidak akan mengubah arah dan berbalik. Sebuah tanda bahwa kita bukanlah yang dipilih. Kupikir saat seorang laki-laki menjatuhkan pilihan artinya ia telah membuat satu keputusan yang besar. Kupikir setelah tahu kita akan membuat jarak berjaga-jaga hati untuk tidak jatuh kepadanya, untuk tidak merebutnya. Kupikir cinta hanya datang pada orang yang telah selesai dengan dirinya tapi tidak berarti telah selesai dengan kekasihnya. Nyata cinta masih saja hadir disaat aku tahu kau sudah jadi kekasihnya. Tapi aku baru sadar seberapa pun perasaan itu hadir, Amoy tetap menganggapku sahabatnya. Aku yang seharusnya tahu diri. Tak ada yang menyedihkan selain mencintai orang yang tak memilih kita. Lebih baik hari ini aku bertepuk tangan untuk kebahagiaan mereka daripada memikirkan egoku yang tidak pada tempatnya. Bertepuk sebelah tangan hanya menyisakan ruang hampa. 
"High five," pinta Galih saat mendekatiku di sela-sela makan kue Amoy.
"Untuk apa lagi? Reward? Aku sudah mendapatkannya tadi," ucapku seraya tersenyum.
"Biar kamu tahu bertepuk sebelah tangan tak semenyakitkan itu. Ada tangan lain yang ingin bertepuk denganmu. Tangan ini yang mungkin bisa membuatmu tidak menggantung sebelah, tinggi di udara." Galih tersenyum, menarik tanganku memaksaku melakukan high five
Kulihat kau menghampiriku. "Gey, aku minta maaf soal yang tadi. Apa kamu sudah baikan sekarang? Aku lihat kau sudah tersenyum tadi," katamu.
Aku hanya mengangguk. 
Tiba-tiba kau mengagetkanmu. "Kalian jadian?" tanyamu melihat Galih masih memegang tanganku.
Aku menarik tanganku. "High five. Galih mengajakku high five. Seperti kalian tadi saat berhasil membuat kejutan untuk Amoy."
"Kalau begitu aku boleh dong ikutan high five juga," katamu kemudian.
Deg. Telapak tanganmu menyentuh jemariku tanpa kau tahu apa makna yang kuharapkan. Tapi aku tahu kau melakukannya karena kau berhasil membuat Amoy tersenyum dihari bahagianya. 


Kamis, 20 April 2017

Single



Kupercepat langkah menuju resto Jangli. Restoran modern dengan desain kaca membuatmu terlihat bahkan dari luar sebelum aku membuka pintu. Dadaku berdesir hebat bukan karena terlambat datang tapi karena ini adalah satu hari untuk tujuh tahun lamanya. Kini wajahmu terlihat lagi di depan mataku.
“Maaf. Aku terlambat busnya lama.”
Kutaruh tasku di atas meja tapi tangan Sheryl menyingkirkannya.
“Kita pinjam uno stacko saja,” celetuk Sheryl tiba-tiba.
“Buat apa?” tanyaku masuk ke dalam percakapan.
“Yang kalah harus cerita kenapa dia memilih single,” lanjut Sheryl mengabaikan pertanyaanku.
“Setuju,” sahut Raras.
“Hello aku baru datang nggak ada yang kangen sama aku,” potongku sedikit kesal karena diabaikan.
“Semua yang diundang hari ini harus ikut. Wajib. Haram kalau kabur,” jelas Sheryl dengan menatap tajam padaku seolah mengatakan berisik.
"Aku nonton kalian sajalah. Duduk manis."
“Ta, sudahlah ikut saja. Bari saja diam. Tandanya dia setuju. Kamu baru datang harusnya tinggal ikut.”
“Jadi aku masih dihitung di sini. Aku pikir kalian melupakanku. Aku nggak mau ikut nanti kebongkar rahasiaku,” celetukku sambil nyengir.
“Justru kita di sini nggak main rahasia-rahasiaan. Biar bisa memahami satu sama lain. Sudah lama juga kan kita nggak ketemu. Tujuh tahun lho. Disaat yang lain sudah pada nikah kita berempat masih saja single.”
“Curhat, Ras,” celetuk Sheryl menggoda. “Pokoknya setuju nggak setuju kita main. Bang pinjam uno stacko-nya ya!” seru Sheryl mendadak seperti bos.
Mungkin baru pertama kalinya kulihat balok-balok kecil berwarna-warni yang di susun tinggi. Rasanya aku punya firasat buruk hari ini. Permainan di mulai dari Raras yang paling tua mengambil warna hijau. Lalu Sheryl sukses mencabut satu balok warna hijau. Bari melakukan kesalahan tumbanglah menara yang dibuat.
“Yah, padahal baru mulai sudah roboh. Nggak seru kamu, Bar,” celetuk Raras kecewa.
“Jadi aku dihukum?” tanya Bari stay cool.
“Sesuai kesepakatan. Kenapa sampai sekarang kamu single padahal cewek jomblo banyak dan juga populasi wanita di dunia lebih banyak dari pria?” tanya Sheryl.
“Aku pernah menyukai seseorang lalu sempat jadian satu tahun. Ternyata dia minta putus karena nggak bisa LDR. Semenjak saat itu aku belum bisa suka lagi sama cewek. Jadi mulai saat itu aku fokus kerja saja.”
“Wah, bahaya kamu Bar! Belum bisa move on, terjebak masa lalu dan parahnya lagi belum bisa suka lagi sama cewek. Tapi bukan berarti kamu suka cowok kan Bar?” Raras mulai bawel.
Bari tersenyum. “Aku masih normal.”
Raras tertawa. “Syukurlah. Kalau begitu kita mulai lagi.”
“Tunggu. Sesingkat itu ceritanya, Bar?” Sheryl masih belum puas.
“Ryl, tahu sendiri Bari nggak suka banyak ngomong. Segitu juga sudah hebat,” jelas Raras.
“Ya sudah kita mulai lagi. Kayaknya Rita sudah nggak sabar ingin main.” Sheryl melunak.
“Aku lebih senang kalau nonton kalian main, daripada harus main,” tepisku sambil nyengir.
Menara kembali disusun tinggi. Permainan dimulai dari Bari.  Ia mengambil warna biru. Lalu aku berhasil mencabut warna biru. Selanjutnya Raras dan Sheryl. Tiba tiga putaran Sheryl merobohkan menara.
“Kenapa jadi aku ya?” Sheryl menutup wajahnya.
“Senjata makan tuan itu namanya.” Aku menertawakannya.
“Baiklah alasan aku single sampai sekarang karena belum ada yang cocok. Belum ada yang pas di hati.”
“Kamu pikir sepatu ukurannya harus pas, modelnya harus cocok,” celetuk Raras tidak terima.
“Iya jelas dong, Ras. Coba kamu bayangkan kamu beli sepatu ukurannya lebih kecil pasti sakit di kaki. Bisa-bisa lecet,” jelas Sheryl tak mau kalah.
“Ras, kok Sheryl alasannya singkat banget. Malah lebih singkat dari Bari,” protesku.
Raras teralih. “Iya juga ya. Ryl, panjangan dikit kenapa?”
“Iya aku ceritakan lebih panjang. Jadi begini dulu aku pernah punya cowok awalnya baik. Tapi semenjak jadian dia itu berubah jadi nggak jelas. Dia suka pamer ke temannya kalau aku ini ceweknya. Dia suka seenaknya perintah-perintah ambil ini itu, bawakan ini itu di depan teman-temannya. Lama-lama aku seperti pembantunya. Padahal baru seminggu, tapi rasanya seperti dijajah. Terus sampai-sampai akunku dibajak demi dia unggah foto kita berdua. Padahal udah bukan ABG lagi. Dia bilang biar orang tahu aku milik dia. Rasanya geram banget. Akhirnya aku minta putus. Setahun setelahnya aku jadian sama beda orang. Eh, dapat yang posesif banget. Padahal kalian tahu aku cuek banget nggak suka kalau dikekang. Akhirnya putus lagi. Setahun setelahnya dapat cowok yang ternyata sukanya sama teman satu kos. Kesel banget kan cuma dijadikan batu loncatan buat mendapat temanku itu. Semenjak saat itu aku susah percaya sama cowok. Belum ketemu yang pas.”
“Wih, ngamuk si Sheryl. Sabar, Mak. Kan sudah berlalu,” sindir Raras sambil cekikikan.
“Kalau sabar sudah dari dulu, Ras. Cuma kalau ingat lagi jadi kesal. Nah, kamu sendiri kenapa masih single Ras? Nggak seperti aku kan?”
“Aku belum pernah pacaran. Belum pernah mengalami seperti kalian, Bar, Ryl. Alasan aku single ya karena kalau suka sama cowok hanya sekali dan itu harus langsung nikah. Maunya pacaran kalau sudah halal. Kan enak tuh sudah dapat restu dari orang tua, nggak perlu sembunyi-sembunyi, nggak perlu takut jarak dan sudah terikat janji antara pasangan kita, ayah dan Tuhan."
“Widih, berat si Raras!” ejek Sheryl.
Bari hanya tersenyum. Aku deg-degan luar biasa. Bisa saja tiba giliranku sewaktu-waktu untuk bercerita.
“Nggak ada salahnya kan. Itu namanya prinsip hidup,” tambah Raras.
“Iya deh kakak tertua.”
“Astaga, nggak usah bawa-bawa umur.”
“Tapi kelihatan dewasa kok,” puji Bari membuat pipi Raras memerah.
“Aduh, dipuji Bari rasanya beda ya,” celetuk Raras malu-malu kucing.
“Eh, sebentar sepertinya ada yang deg-degan. Suara degup jantungnya sampai terdengar,” ejek Sheryl.
“Itu yang bunyi detikan jam dinding kok,” tukasku.
“Berhubung tinggal satu langsung saja cerita, Ta!” seru Sheryl.
“Lho, nggak main pakai uno lagi?” tanyaku ingin mengalihkan perhatian.
“Tadi aku juga nggak pakai main uno. Aku tadi kasihan sama kamu jadi mengalah cerita lebih dulu,” celetuk Raras.
“Sok heroik kamu, Ras. Mentang-mentang paling tua jadi superheronya Rita. Biar Rita cari pelindungnya sendiri,” tegur Sheryl.
“Jadi aku disuruh cerita? Nanti kalau kalian bosan gimana?”
“Ribet amat sih Rita. Cerita tinggal cerita.”
“Aku bingung harus mulai dari mana. Ceritaku panjang.”
“Hmm.” Raras geram. “Ta, please mulai cerita kamu keburu malam.”
“Kalian bertiga lebih beruntung dari aku. Alasan kalian masih bisa dilogika. Bari, Sheryl pernah pacaran dan Raras belum pernah. Aku juga belum pernah pacaran seperti Raras tapi aku pernah jatuh cinta. Alasanku single karena setia nunggu dia. Jika aku tak memiliki apapun termasuk dia setidaknya aku memiliki satu hal itu, kesetiaan.”
“Sebentar Ta, kamu nggak pacaran sama Dito?” tanya Sheryl memotong pembicaraan.
Aku menggeleng. “Kami hanya berteman dan dia tahu kok aku jatuh cintanya sama siapa. Seseorang itu bahkan hanya sekelibat saja di mata tapi efeknya bisa sehari semalam di kepalaku. Senyumannya itu yang selalu kurindukan di setiap pagi. Sudah sangat lama semenjak senyuman itu hilang wujudnya hanya bisa kulihat dalam dunia maya beberapa tahun belakangan. Aku iri kepada Bari yang belum bisa move on dari mantannya. Setidaknya Bari pernah memilikinya. Aku juga iri padamu Ryl, yang katanya belum menemukan yang pas. Aku sudah menemukan yang pas untukku tapi mungkin saja aku bukan orang yang pas untuknya. Aku juga iri padamu Ras, yang tidak jatuh cinta sebelum halal. Aku tidak memiliki semuanya seperti kalian. Aku terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang jauh kupandang, nyata tapi tidak bisa dipegang, nyata tapi tidak bisa dimiliki.”
Kulihat Raras dan Sheryl saling memandang.
“Empat tahun yang lalu aku baru tahu dia sudah memiliki kekasih. Hatinya sudah diberikan pada seorang perempuan cantik. Aku membacanya kata-kata yang seharusnya tak kubaca yang justru membuatku semakin mengaguminya. Chemical reaction I have in my heart. I cannot describe. Except that I’m in love. Happy 1st anniversary. Tapi saat itu juga aku tahu rasanya patah hati.” Kusudahi ceritaku dengan tersenyum.
“Dan kamu masih bertahan sampai sekarang? Padahal dia sudah jadian sama cewek lain? Kamu masih setia nunggu dia padahal dia saja nggak setia?”
“Ya mau bagaimana lagi mungkin dia khilaf atau karena memang aku tidak pernah mengatakannya. Aku dan dia tidak ada komitmen. Sudah kubilang aku hanya memiliki kesetiaan. Jika aku tak bisa bersamanya setidaknya suatu saat nanti dia tahu alasanku kenapa masih bertahan di sini.”
“Ngeri aku dengarnya. Kamu di luar perkiraanku. Wow!” ejek Raras sembari tepuk tangan.
“Iya lho aku pikir kamu itu belum bisa move on dari Dito ternyata ada cowok lain. Jadi penasaran,” tambah Sheryl.
“Kenapa kamu nggak katakan yang sejujurnya ke dia?” tanya Bari tiba-tiba membuatku kikuk.
Aku menggeleng. “Tidak, Bar. Dia hanya sebatas punggung yang dilihat dari  belakang. Jika dilihat dari depan akan banyak kata terbuang untuk menjelaskan bagaimana bentuk punggungnya. Aku ingin dia tahu dengan sendirinya.”
“Kau bilang tadi empat tahun lalu sekarang bagaimana keadaannya? Kamu masih memantau dia pasti kan?” Raras mengorek dalam.
Senyumku mengembang. “Dia sudah sendiri lagi,” jawabku begitu yakin.
“Jadi itu yang kau bilang kesetiaan? Menunggu yang tak pasti, sakit-sakit sendiri. Kalau dia punya pacar kamu sedih, kalau dia sudah sendiri lagi kamu bahagia. Apa enaknya sih bertahan seperti itu? Enakan seperti aku. Nggak banyak pikiran.” Raras tersenyum.
Aku membalas senyumnya.
“Ah, kenapa Rita yang cerita tapi aku yang jadi bawa perasaan. Jadi geregetan. Siapa sih cowok itu? Perlu aku bantu bilang ke dia?” Sheryl menggebu-gebu.
“Ryl, jodoh nggak kemana. Tanpa kamu bantu kalau mereka berjodoh pada akhirnya akan bersama. Kita lihat saja apakah kesetiaan yang jadi pemenangnya. Biar Tuhan yang tentukan,” kata Raras seraya menepuk bahuku.
“Lho tadi kamu membuat pernyataan sepertinya nggak setuju kalau Rita nunggu cowok itu,” tukas Sheryl.
“Ya setuju nggak setuju sih. Tapi kalau Rita bahagia sebagai sahabat yang baik aku mendukungnya asal, keputusannya kelak jangan disesali.”
Senyuman kami bertiga melengkung bersama. Kecuali kamu Bari. Aku menelisik sudut matamu. Kau berbalik menatapku lalu bertanya, “Apa itu aku?”
Deg. Firasatku. Rahasiaku. Raras dan Sheryl memandangku secara bersamaan. Keringat dingin menetes. Tiba-tiba mereka bertiga tertawa. 
"Lihat wajahnya Rita tegang banget," ujar Sheryl geli.
Kuhela nafas panjang. Hanya bercanda. Kau tidak tahu kebenarannya.
"Mbak, minumnya tambah satu ya!" seru Raras kepada waiters.
Aku kehilangan banyak waktu diperjalanan. Baru beberapa menit berlalu menatap wajahmu, menaruhnya di kepalaku tapi usai permainan itu kau pamit.
"Bar, Rita kan baru datang. Nggak seru kamu Bar." Raras terlihat menahanmu.
Kau hanya tersenyum dan berlalu. Melambaikan tangan di balik pintu kaca.
Deg. Apa kau sedang menghindariku?
"Cheers, meski tanpa Bari," ujarku sambil menatap keluar mencari keberadaanmu.

-------------------------------------------

Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu
Cukup indahkah dirimu untuk slalu nantikan
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku
Mampukah kita bertahan disaat kita jauh
Seberapa hebat kau untuk kubanggakan
Cukup tangguhkah dirimu untuk slalu kuandalkan
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang
Sanggupkah kau menyakinkan disaat aku bimbang
Celakanya hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku
Kau pergi dan hilang kemanapun kau suka
Celakanya hanya kaulah yang pantas untuk ku banggakan
Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan
Diantara pedih aku slalu menantimu

Mungkin kini kau tlah menghilang tanpa jejak
Mengubur semua indah kenangan
Tapi aku slalu menunggumu di sini
Bila saja kau berubah pikiran
(Sheila on 7)

Minggu, 09 April 2017

Biar



Langit pun muram seolah tahu.
Hujan pun menangis menggenggam sebilah tanya.
Mendung gelap mencekam.
Seolah terowongan panjang membentang tak ada yang datang.
Rongga dada dipenuhi sesak.
Terjerembab tersungkur dalam kakimu tak bisa tegak.
Lempar saja.
Remukan.
Biar semakin panjang rintih sakitmu.
Penggap.
Biar, biar kaki-kaki tahu.
Jeritan tidak membiarkan semuanya berlalu.
Biar, biar tangan-tangan mengadah mengadu.
Tidak ada yang datang.

Ini bukan drama.
Kau bukanlah tokoh utama.
Jangan bertanya, jangan menanya.
Tidak ada yang datang.
Kau tahu juga.
Pergi saja.
Biar remuk.
Seremuk-remuknya.
Biar retak sejadi-jadinya.
Barulah kau tahu tersenyum menyimpan banyak makna.


Jumat, 07 April 2017

Bolehkah Kupanggil Bang?


Kamu yang belum memiliki nama untuk kusebut. 

Bang,
Baik-baiklah kau di sana.
Jaga kesehatanmu.
Jangan lupa sholatmu.
Carilah ilmu sebanyak-banyaknya.
Sampaikanlah kelak padaku.
Sendiri dulu tak apa kutemani kau di sini.
Tidak boleh bersedih.
Tidak boleh kecewa.
Kau harus bahagia.
Tetaplah selalu tersenyum.
Apapun yang terjadi berjuanglah.
Jangan menyerah.
Nanti kita pasti bertemu.
Dipertemukan Tuhan.
Disandingkan bersama.
Jika sudah waktunya.
Tuhan belum menjawabnya sekarang.
Tak apa.

Bang,
Kubiarkan hari ini doa bertarung di langit.
Duduk manislah.
Kita lihat kisah ini.
Saksikan saja dari jauh.
Kejutan seperti apa?
Rancangan hebat apa?
Skenario kita selanjutnya apa?
Pada akhirnya setelah rangkaian panjang ini nanti kita bisa disatukan:
Pada satu tujuan yang sama.
Pada cara yang sama.
Pada hati yang sama.
Pada rumah yang sama.
Kau imamnya, aku makmumnya.
Tak ada lagi dermaga, tak ada tempat singgah.
Kau dan aku menetap saja.
Satu hati, satu rasa, satu cita.
Menuju surga-Nya.

Bang,
Tak perlu risaukan hari ini.
Kita perjuangkan bersama.
Kau di sana.
Aku di sini.
Biarlah berjalan sendiri dulu.
Berpuasa.
Untuk tidak saling kecewa mengecewakan.
Untuk tidak sakit menyakiti.
Untuk tidak ingkar mengingkari.

Bang,
Sederhana saja.
Tidak muluk-muluk.
Bangunlah pondasi sebuah keluarga harmonis, penuh cinta, bahagia.
Tidak akan ada yang terlantar dan ditelantarkan.
Tidak ada yang harus jadi korban.
Jadikan pengisi ruang satu sama lain.
Hingga tak ada yang namanya kosong.
Tak ada salah menyalahkan.
Tak ada kata perpisahan.
Harap senyumanmu selalu mengembang menenangkan.
Kaulah yang pegang kendalinya.
Jika kau baik, aku baik.
Itu saja.

Bang,
Allah selalu baik padaku.
Ia kirimkan penjaga, pengingat untukku.
Tenanglah.
Jangan kau khawatirkan aku.
Aku baik-baik saja.
Allah selalu membantuku.
Masih bisa diatasi bosanku.
Masih bisa diatasi gundahku.
Masih bisa diatasi kegalauanku.

Bang,
Semoga sibukmu sibukku jalan kita untuk bersama.
Jangan lupa pulang.
Perantauanmu sudah panjang bukan.

Bang,
Ini bukan karena lelah.
Bukan pula mengadu.
Hanya sebuah pengingat untukmu.
Jangan lupa di masa depanmu:
Ada aku.

Minggu, 02 April 2017

Lepas



Rusak sudah terkoyak. Tubuhku tercabik parah. Kau gerogoti aku sampai ke kulit-kulitnya. Kau makan tulangku sampai ke sumsumnya. Kau hempas aku hingga sejatuh-jatuhnya. Kau umumkan hari bahagia di depan mata nanar yang tak terduga. Ribuan pasang mata yang menatap ke arahku. Seolah berkata lho bukan kamu.

Tubuhku tak bisa berdiri tegak. Kau telah buang sangga-sangga-nya. Tak tertopang kuat jadinya. Aku tumbang. Bukan karena pergantian musim tapi karenamu dengan beraninya menumbangkanku.
Kau bilang aku berbeda. Kau bilang aku yang kau cinta. Tapi nyatanya kau memilihnya. Apa salahnya jika aku menjadi sama. Sama-sama berdiri dengannya, memiliki kesempatan yang sama. Seperti apa nanti jadinya. Otakku sudah tak mampu membayangkannya.

Aku masih berdiri dengan segudang tanya. Tapi apalah tanya jika aku sudah tahu jawabnya. Kau tetap dengannya. Kau akan menjadi miliknya. Kau yang disandingnya. Aku bukan siapa-siapa.
Koyak tubuhku sudah terkoyak. Lemah tak berdaya. Kau benamkan aku dalam dan tak lagi berasa. Aku putus asa. Kau ubah mimpiku dalam sekejap dengan berbalik arah. Tikungan-tikungan tajam begitu menghujam. Tuhan jatuhkan hujan di tengah air mata. Tuhan muramkan langit-Nya turut berduka. Kamu, dia saksinya. Tubuhku kau guncang hebat.

Hari ini langit mengumpat lewat petirnya. Kilat-kilat cahaya menggetarkan daun jendela. Semarah-marahnya langit tak mampu menyentilmu. Kau tak goyah sedikitpun di hadapnya.

“Bapaknya yang ingin mereka bersama.” Sebuah kata kudengar jelas di telinga.

“Iya aku juga dengar itu. Mereka katanya dijodohkan.”

Kita memiliki mimpi besar yang ingin kubangun nyata. Namun Tuhan tak memiliki rencana yang sama. Kau berikan mimpi indah tapi kenyataan tak seindah mimpi. Tuhan balikan hatimu ke arahnya. Aku bisa apa. Rencana besarku tak jadi nyata. Ada  baiknya aku tak di sana. Hadirku hanya mengusik ketenanganmu dengannya. Biar aku lepas terbang seperti elang mengepakkan sayap patahnya. Aku tak ingin berlama-lama. Cukup di sini saja. Biarkan hari ini jadi saksinya. Aku tidak ingin jadi yang ketiga. Lepaskanlah aku dengan berani. Dekaplah dia dengan kehangatan. Jangan kau biarkan dia lepas seperti aku. Kau telah memilihnya. Kau harus menjaganya dengan penuh cinta.

“Sabar ya.” Seseorang menepuk bahuku mencoba menguatkanku yang sudah tumbang.

Aku tak suka kata sabar yang diucapkan, seolah kehilangan maknanya. Tubuhku sudah benar-benar tak bisa bertahan lama di himpitan gulita. Aku menepis tepukan di bahu. Kusunggingkan senyuman untuk  mengaburkan rasa perih di dada. Pergi. Akhirnya aku harus pergi tanpa perlu kau jelaskan. Tatap nanar matamu di sana menyiratkan kau berat juga. Kau pasti tahu betapa hancurnya aku. Tapi apalah daya keputusanmu tak bisa dipercaya. Semoga kau baik-baik saja.

----------------------------------------
Kutahu engkau  pasti tahu betapa hancurnya aku
Bunga yang dulu begitu indah
Perginya entah kemana
Aku sakit, aku sakit hati
Kau terbangkan ku ke awan lalu jatuhkan ke dasar jurang
Aku sakit dan ku tak mengerti
Kau berikan mimpi indah namun kenyataan tak seindah mimpi
Sadar kini cinta tak berbalas
Dulu ku tak pernah menduga kau
Memberi harapan palsu
Gengam tangan dan senyuman itu
Seolah mengikat hati
Sendiri lagi, sendiri lagi
Dimanakah cintamu yang selama ini untukku
(Yovie and The Nuno)

Sabtu, 01 April 2017

Superhero, I Love You




Pukul satu lebih seperempat siang jadwal pendaratanmu. Riuh, sesak aku berdiri menjauh dari kerumunan. Kupikir hari efektif bandara akan sepi nyatanya tetap saja penuh lautan manusia. Aku melihat kopermu sedang diperiksa petugas bandara. Kau melambaikan tangan tanpa rasa malu dilihat banyak orang dari kejauhan. Senyumku melebar melihat kucir ekor kudamu bergoyang-goyang.
“Hai!” sapamu dengan menenteng tas ransel dan menaruh koper di depanku.
“Sepertinya berat?” tanyaku bercanda.
“Kalau berat bantulah biar agak ringan,” celetukmu.
Kutarik pegangan kopermu. “Bagaimana liburanmu di sana?” tanyaku.
“Menyenangkan. Aku dapat medali,” katamu sambil menunjukkan medali di leher.
“Medali? Sebenarnya liburan apa lomba?” tanyaku seraya berjalan menuju tempat parkir.
“Ya liburan, tapi disela-selanya ada lomba lari di atas pasir,” ceritamu.
“Wih, jago juga kamu. Aku baru tahu kamu bisa lari secepat itu sampai dapat medali,” ejekku membuatmu menyenggol lenganku.
“Ya, tapi bukan juara satu.”
“Aku pikir semua orang yang kalah pun dapat medali,” candaku.
“Nggaklah. Kalau begitu kenapa diadakan lomba? Aku dapat juara dua. Aku kalah dari si jangkung six pack.”
Senyumku mengembang. “Cowok?”
 “Sebel banget nggak sih, masa cewek lawannya cowok jelas kalahlah. Mana dia tinggi, kurus, ringan banget pasti,” cerocosmu tanpa rem.
“Nggak apa-apa yang penting juara. Entah itu satu atau dua daripada nggak dapat sama sekali,” kataku menenangkan seraya memencet tombol buka kunci mobil. 
Kau nyengir. “Ada yang perlu kita bicarakan,” celetukmu.
“Apa?” tanyaku seraya memasukkan koper ke bagasi mobil.
Tanganmu seolah seperti tukang parkir yang sedang menyetop mobil. Seolah mengisyaratkan tunggu atau nanti, tidak di sini. Kau pun masuk ke mobil dan duduk mengenakan seat belt. Diam sampai keluar bandara.
“Jadi kapan kamu mau mengakhiri masa lajang?” tanyamu tiba-tiba setelah masuk ke dalam jalur jalan tol.
“Kok tiba-tiba tanya begitu?” tanyaku balik.
“Ya pengen tahu aja.”
“Aneh kalau tiba-tiba di otakmu sampai kepikiran begituan.”
“Ada yang mau nawari aku nikah tahun ini,” celetukmu sambil garuk-garuk kepala.
Glekk. Aku menelan ludahku.
“Bercanda ya? Bercanda kan?” tanyaku mencoba menyakinkan diri tentang apa yang baru saja kudengar.
“Serius. Liburan kemarin itu aku ketemu seseorang yang langsung mengajak married.”
“Terus jawaban kamu?”
“Belum jawab sih. Lagi mikir.”
“Pakai mikir segala. Kayak mau belanja bulanan mikir apa yang mau dibeli. Lama.”
“Memangnya kamu nggak apa-apa kalau aku married sama orang lain?” Kau melirikku lama sedikit mengganggu konsentrasiku.
“Ya, silahkan itu hak kamu.”
“Tahu begitu aku iyakan saja kemarin.”
“Nah, kenapa nggak?” Aku tertawa menggejek.
“Kamu itu orang sibuk tapi kamu rela cancel klien cuma buat jemput aku hari ini.” Jeda. Kau diam sesaat mengecek handphone. “Aku jadi mikir macam-macam,” lanjutmu.
“Iya kan aku fleksibel. Kalau kliennya bisa di cancel kenapa nggak dan kalau nggak bisa paling aku bilang nggak bisa jemput kamu atau kirim orang ke sini,” jelasku.
“Tahu nggak sih? Sikap kamu yang begitu bikin orang mikir.” Kulihat kau melipat tangan.
Senyumku mengembang seraya melirikmu beberapa kali. “Mikir apa? Mikir kenapa? Apa salahnya menolong teman?”
“Apa yakin kamu bakal melakukan ini juga ke orang lain?”
“Kenapa nggak?”
“Tapi dulu waktu si Ari minta bantuan jemput, kamunya nggak bisa.”
“Waktu itu kan kliennya nggak bisa di cancel.”
“Kamu juga nggak kirim orang.”
“Kan ada cowoknya.”
“Kok aku beda?” tanyamu mengintrogasiku.
Gantian aku yang garuk-garuk kepala. “Kamu mana punya cowok. Patah hati saja sakitnya tujuh turunan. Kelamaan sembuhnya.”
“Jadi kalau aku punya cowok kamu nggak mau jemput aku lagi.”
“Ya iyalah. Bisa panjang urusan kalau ikut campur rumah tangga orang.”
“Lha kan belum berumah tangga. Baru sampai status punya cowok.”
“Memangnya kamu masih mau main-main diusia segini. Aku yakin kamu nggak berani. Buktinya sampai sekarang masih jomblo,” tantangku.
“Ya nggak main-main sih. Tapi paling nggak kan mendeklarasikan diri suka sama cowok. Kalau situasinya begitu kamu juga bakal nggak jemput aku?”
“Kenapa urusan jemput-menjemput jadi seribet ini sih?” Aku tertawa.
“Ya buat jaga-jaga saja. Takutnya aku minta tolong tapi kamunya nggak bisa. Jadi aku harus persiapan dari sekarang dong.”
“Memangnya sekarang sudah ada yang ditaksir.”
Kau mengangguk.
Senyumku mengembang. “Eh, serius. Temanku satu ini patah hatinya sudah sembuh.”
“Ya, jangan pakai penekanan patah hati juga dong. Bikin kesel saja.”
“Selamat ya. Akhirnya sudah ada yang bisa menyembuhkan teman satu ini. Eh, atau jangan-jangan dia dokter bisa bikin kamu sembuh?” tanyaku iseng.
“Nggak.”
“Seorang psikolog?” lanjutku.
“Nggak.”
“Psikiater?”
“Astaga kenapa jadi kejiwaan sih. Memangnya selama ini aku sakit jiwa. Aku biasa saja.”
“Terus siapa?” tanyaku mengejar jawaban rasa penasaran.
“Superhero,” jawabku seraya tersenyum ke arahku.
“Hah? Superman, batman, spiderman?”
“Bukan. Dia itu orang biasa. Orang yang rajin membantuku....”
“Bersih-bersih? Pembantu dong,” potongku bercanda.
“Ih, kesel deh. Nyebelin banget sih. Enggak. Dia itu orang biasa yang nggak punya kekuatan super tapi bisa memberikan spirit, yang selalu ada dimana pun aku membutuhkannya, dan sering diam-diam membantu tanpa sepengetahuanku. Dia itu seperti Tuxedo bertopeng. Tahu kan Mamoru? Kira-kira seperti itulah dia di mataku.”
“Hmm, iya. Jadi siapa dia? Aku kenal?”
Kau mengangguk.
“Aku mengenalnya?”
Kau mengangguk lagi.
“Jadi dia di sekitar kita? Sekitar sini?” Aku pura-pura mencari di bawah stir, menoleh ke belakang. “Kok nggak ada ya?”
“Bercanda terus. Fokus nyetir. Bahaya, ah!”
“Lagi malas jadi detektif hari ini. Langsung nama deh, namanya siapa?”
“Kamu itu nggak peka ya. Aku itu sukanya sama kamu. Biarpun ada yang menawari married hari ini aku maunya sama kamu. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berkorban bertahun-tahun kalah dengan orang yang baru datang sehari dan berjanji menawarkan kebahagiaan yang belum terbukti.”
Senyuman. Hanya senyum mengembang yang kuhadirkan di bibir. Aku tidak bisa berkata-kata. Kamu memang jagonya. Jago membuatku tersipu bungkam.
“Super hero-nya ya kamu itu.”
Glekk. Pengulangan katamu membuat dadaku menghangat. Kau terus melihatku membuatku hilang konsentrasi. Seolah kau mengejar jawaban yang sama dariku.
“Berhenti, yuk!” seruku setelah melihat jalan sudah keluar dari jalan tol.
Kau celingukan. “Berhenti? Kamu hanya bilang berhenti?”
“Cari makan. Lapar. Kamu juga belum makan siang kan?”
Ada sebuah resto di pinggir jalan. Aku menepikan mobil.
“Sebentar! Kamu mengalihkan pembicaraan aku tadi? Aku serius lho!”
“Iya kamu serius.” Aku garuk-garuk kepala sambil tersenyum sendiri.
“Tapi nada kamu ini seperti bercanda.”
“Iya aku tahu kamu serius.” Aku semakin menjadi-jadi dan tertawa.
“Iya tapi, tapi kenapa kamu malah senyum-senyum begitu. Kamu menertawakanku?”
“Turun yuk! Makan dulu.”
Aku kehabisan kata. Kamu tidak pernah tahu bagaimana degup jantungku dipompa. Aku bisa merasakan kecepatannya. Sepertinya aku jadi gila. Aku terus saja tertawa. Rasa bahagia membuncah di dadaku. Keberanianmu lebih besar dariku. Aku masih belum bisa membayangkannya. Seorang kamu yang sulit jatuh cinta tiba-tiba menyukaiku.
“Aku nggak lapar. Kenapa sih kamu tertawa terus?” tanyamu kesal.
“Maaf, maaf.”
Kulihat kau melipat tanganmu dan mulai memasang wajah itu. Angkatan sebelum kau mengeluarkan air mata.
“Aku tidak menertawakanmu. Aku hanya merasa bahagia. Ini seperti mimpi.”
“Tapi aku bicara tentang kenyataan bukan mimpi. Kamu nggak bisa bedain kenyataan sama mimpi. Jadi tadi aku ngomong panjang lebar kamu anggap cuma mimpi?”
“Ya, kenyataan. Kenyataan kalau aku juga menyukaimu.”
Tiba-tiba air matamu keluar.
“Kok malah nangis?”
“Aku terharu.” Tangismu semakin menjadi-jadi.
Kau menangis, aku tertawa. Dua ekspresi berbeda dengan arti yang sama. Bahagia. Akhirnya setelah sekian lama di sisimu ternyata kau mengakui kehadiranku. Akulah superhero-mu.

-----------------------------------

Untaian bunga canda
Tempat kau lepaskan tawa
Tenang hati terbaca
Kini tiba waktuku
Untuk puitiskan sayang
Untuk katakan cinta
Jadikanlah aku pacarmu
Kau kubingkai slalu indahmu
Jadikanlah aku pacarmu

Iringilah kisahku (Sheila On 7)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...