Langsung ke konten utama

KEBERPIHAKAN YANG TIDAK MEMIHAK



Gunung Fuji dalam postcard kuterima hari ini. Kalimat rindumu terlantun di belakang gambar. Kau membuat mataku basah. Ini bukan pertama kalinya kau mengirimkan postcard. Sudah ketiga kalinya kau hadir di depanku dalam secarik postcard. Kadang rindu menggantung di langit-langit kamarku. Suaramu masih terbayang dalam deretan foto yang kutempel di dinding. Satu bagian terbaik dari setiap deretan foto itu adalah senyummu.

Kau menungguku duduk di sebuah kursi caffe. Termenung sendiri tanpa seorang pun di sana.
“Maaf aku terlambat.”
“Tidak, aku yang terlalu datang cepat. Tak sabar ingin segera bertemu denganmu,” balasmu seraya tersenyum.
Aku duduk di depanmu dengan penuh tanya. “Sepertinya ada hal penting,” tebakku hati-hati.
“Ya, sangat penting untuk sesuatu yang spesial. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kamu mau kan?”
“Kemana?” tanyaku yang bahkan baru duduk sebentar kau ajak keluar.
Sebuah pusat perbelanjaan. Kau membawaku ke tempat biasanya kau tidak suka.
“Kenapa ke sini? Bukankah kau tidak suka keramaian? Katamu mall itu bising.”
“Kau bawel sekali. Ikuti aku saja,” potongmu tak ingin mendengar cuitan panjangku.
“Aku serius hari ini kamu aneh.” 
Kau menghelakan nafas sembari tersenyum.
“Kau membuatku penasaran. Ayo katakanlah!”
“Aku dapat beasiswa ke Jepang,” katamu dengan raut wajah bahagia yang terasa seperti petir bagiku.
Aku terdiam.
“Kau tak memberiku selamat?” tanyamu.
“Selamat? Untuk meninggalkanku di tanah air?” tanyaku.
“Ayolah kita pernah membicarakan ini! Kau setuju kan?”
“Bukankah ada prasyarat di belakangnya?”
“Ya itu sedang kupertimbangkan. Kau tidak bahagia melihatku bisa lanjut studi ke Jepang?”
Aku tertunduk lesu. Pikiran kalut menghinggapi kepalaku.
“Aku tahu kenapa orang bilang kita tidak harus mempercayai orang seratus persen.”
“Kau mengalihkan pembicaraan, katamu terlihat tak suka.
“Tidak. Aku hanya mengingatkanmu saja.”
“Mengingatkanku?”
“Iya. Seharusnya kau mencari pekerjaan dulu, kita menikah lalu kau bisa melanjutkan studimu.”
“Hei, ini demi kebaikan kita. Kamu nggak mau melihat calonmu punya gelar yang tinggi skala internasional pula. Ini beasiswa sudah di depan mata. Sayang kalau nggak diambil.”
“Kau tidak dipihak perempuan seusiaku.”
“Ayolah, kau pasti bisa menungguku dua tahun, hanya dua tahun.”
 Aku terdiam. Kau tak juga mengerti apa yang kupikirkan.
“Jika kau khawatir aku melupakanmu, jangan. Kita punya fasilitas internet hari ini. Semua sudah serba canggih dan kalau libur aku bisa pulang ke tanah air.”
Aku masih terdiam.
“Kau masih belum percaya? Aku ini setia. Kau sudah membuktikannya bukan. Kau bisa mempercayaiku sepenuhnya. Jadi sekarang pilihkanlah aku sebuah koper sebagai tanda kau setuju.”
Bahkan untuk memilihkanmu koper, tanganku tak sanggup menunjuk satu pilihan terbaik.
“Bagaimana? Mana yang terbaik?”
Aku menggeleng.
“Kau tidak ingin melepasku? Ini demi masa depan kita juga?”
Aku menggeleng.
“Kau mempercayaiku kan?”
“Tidak.”
“Why?”
“Entahlah hanya berat saja mengatakannya.”
“Lalu kau tidak ingin memilihkan yang terbaik untukku. Baiklah aku bisa memilih sendiri.” Kau mengerutkan wajahmu menatapku memohon.
“Yang itu saja!” tunjukku pada sebuah koper warna biru dongker.
“Nah, begitu dong! Nggak susah kan?” Wajahmu terlihat bahagia.

Aku pikir setelah memilihkanmu koper hatiku terasa lega. Ternyata tidak. Hatiku tidak ingin melepasmu. Keresahan di masa lalu mulai merebak di masa kini. Aku mulai melepas foto-foto yang tertempel di dinding. Kukumpulkan satu persatu dalam kardus. Postcard terakhir yang datang pagi ini terus saja menghantuiku.

(Tak melihat senyummu tak mengapa asal masih kau simpan cintaku di dalam sana.
Aku sudah thesis. Selamat ulang tahun, cinta. I miss you)

Tulismu pada secarik postcard di tanganku yang kubaca ulang. Kali ini sampai tepat pada waktunya tidak terlambat seperti tahun lalu. Air mataku perlahan menetes dan segera kubasuh. Seseorang di luar sana sedang menungguku. Bagaimana aku menjelaskannya padamu kelak aku akan melepaskanmu hari ini. Usai melepas semua foto aku teringat hal lain di dalam layar laptop.
“Ara, sudah ditunggu. Cepatlah keluar!” seru Mama menyuruhku segera menemui seseorang di luar sana dan membuka pintu kamar. “Jangan mainan laptop ini acara penting, Ara!” Mama membentakku yang sibuk menyalakan laptop.
“Sebentar, Ma. Ini lebih penting.” Aku membuka explorer mencari folder bergambar hati bertuliskan cinta kita.
“Cepat, Mama tunggu di luar!” seru  Mama seraya menutup pintu kamarku.
Sudah kutemukan dan dengan berat hati tanpa kubuka kutekan tombol delete untuk membuat kenangan kita berakhir. Kelak saat kau kembali akan ku ceritakan semua. Suatu saat kau akan tahu seorang wanita yang digempur waktu, pilihan tersulit pun akan ia ambil. Saat kukatakan aku tak rela melepasmu aku yakin kau tahu resiko apa yang akan kau ambil.

Dear you,
Cinta tak memihak kita saat kau datang lagi
Cinta bukan milikmu saat kau pergi
Kukatakan berulang kali yang tak kau pahami
Perempuan memiliki batasan
Lelaki tidak
Dengan berat kukatakan
Ini yang kuragukan dulu dua tahunmu sudah berlalu
Aku dipinang hari ini
Aku undur diri
Salam

Send.
Aku pergi. Dengan berat hati kukatakan membereskan hatiku, menatanya ulang memang tak mudah tapi aku mendapatkan kepastian. Mungkin waktu yang tak memihakmu kali ini. Waktu memihaknya seseorang yang akan membersamaiku di masa depan.
Aku berjalan keluar dengan kebaya warna biru. Tanpa ragu aku melihatnya lelaki di depan sana yang tersenyum padaku bersama rombongannya. Senyumannya tak kalah darimu. Kurasa dia baik.

-----------------------------------------
Terpejam membayangkan dirimu yang kini pergi bersama kenangan
Berjalan walau tak terkendali sulit terima semua yang terjadi
Apabila ini akhir dari semua kisah kita yang kau inginkan
Keputusanmu menghancurkan mimpi indahku dan juga hatiku

Jujur tak mampu tuk menepis semua luka yang tlah kau berikan untukku (Cosmic)

Komentar