Langsung ke konten utama

By My Side





Kuajak kau pergi membeli es krim hasil rekomendasi temanku. Setengah merengek aku berhasil membujukmu masuk ke pusat perbelanjaan.
“Thank you. Sudah mau menemaniku,” ujarku setelah berdiri tepat di tempat jual es krim roll.
Masih pagi antrian sudah lumayan panjang. Aku bersaing dengan anak kecil laki-laki yang melirik beberapa kali seolah musuh yang akan merebut pesananannya.
“Dek, cokelatnya dikasih toping apa?” Si Ibu bertanya pada anaknya yang kehilangan konsentrasi melirikku.
“Lihat itu si adik kecil lebih tertarik kamu daripada es krimnya,” ejekmu seraya menahan tawa.
“Bisa saja kau, Ben. Mungkin si adik heran kakak sebesar ini ikut antri beli es krim,” sahutku.
 “Sebenarnya apa bedanya dengan es krim lain? Beli yang sudah jadi tak perlu antri tinggal beli. Itu di toko sebelah juga jualan.”
“Ini beda. Lihat cara buatnya. Ada cairan lumer yang dituang tiba-tiba bisa beku padahal seperti digoreng. Pasti sensasinya beda. Percaya sama aku.”
“Pakai magic kali. Eh, sebentar itu kenapa pakai alat tukang begitu. Sudah seperti tukang sedang mengelupas cat.”
“Sembarangan. Bedalah. Sudah lihat saja bagaimana lihainya si abang itu. Itu yang kering berantakan, habis itu disusun lagi. Lha, tiba-tiba sudah mirip roll rambut.”
“Dapat inspirasi dari mana itu ya? Apa si abangnya terinspirasi dari tukang cat kali. Habis mengelupas cat tiba-tiba kepikiran buat seperti itu.”
Maybe. Tapi uniknya ini tak pakai semprotan gas biar beku. Aneh kan? Pakai apa ya? Penasaran aku. Eh, iya mau beli juga?”
Kau menggeleng. “Kamu saja.”
“Beli ya? Sudah jauh-jauh mengantarku sayang kalau tidak mencobanya. Beli ya satu?”
Kau masih menggeleng dan tak mau.
“Ya sudah beli satu tapi nanti kau harus mencobanya,” rayuku. “Bang beli yang black sakura satu ya.”
“Sausnya?”
“Cokelat saja, Bang.”
“Pakai toping?” tanya abang penjual. “Pakai toping tambah dua ribu.”
“Pakai choco chips ya Bang!” seruku.
“Ditunggu dulu ya.”
Si abang penjual mengulang cara membuat es krim roll. Aku dan kamu mengamatinya sekali lagi.
“Kok pilih sakura apa tadi? Black sakura?”
“Penasaran. Kalau vanilla, green tea, cokelat, strowberi sudah biasa kan. Ini black sakura. Black kan hitam, sakura warnanya pink. Tapi ini kok hitam seperti petis ya?”
“Isi tahu petis maksudnya? Iya juga sih.”
Si abang penjual mengulurkan cup es krim roll yang sudah jadi.
“Bang boleh minta sendoknya satu lagi,” pintaku.
“Ini mbak.”
Aku pun membayar dengan uang pas lima belas ribu lalu berlalu dari sana.
“Enak tidak ya? Agak ragu juga.”
“Coba saja!” serumu.
“Mau mencicipi?”
“Tidak ah! Aku tidak bisa minum es. Baru tidak fit badanku.”
“Serius? Ini enak lho. Nanti kalau menyesal bagaimana? Coba ya sekali saja biar tahu rasanya juga. Siapa tahu kamu mau buatkan aku satu seperti ini,” bujukku.
Akhirnya kamu mengambil cup es krim dari tanganku dan mulai mencoba merasakannya di lidahmu.
“Bagaimana enak?”
Kau mengangguk dan tiba-tiba bersin.
Are you okay?”
Kau hanya mengatakan tidak apa-apa dengan isyarat tangan lalu bersin lagi. Satu sendok yang kamu telan ternyata membuatku menyesal kemudian.
“Maaf, Ben. Aku terlalu memaksamu mencicipinya padahal kamu tadi sudah bilang sedang tidak enak badan.”
Tanpa menjawab aku sudah paham. Kau bersin lagi beberapa kali kemudian.
“Tunggu di sini aku akan membeli tisu.”
Aku bergegas masuk ke supermarket dan mencari sebuah tisu. Menunggu antrian kasir aku mengutuk diri berkali-kali. Bisa-bisanya kulakukan ini padamu. Seharusnya aku tidak memaksamu.
“Ini tisunya, Ben.” Kuulurkan tisu kepadamu. Aku menunduk merasa bersalah.
“Kamu kenapa?” Kau menertawakanku.
“Aku menyesal. Maaf.”
“Hei, ini hanya flu biasa. Aku sudah bilang sedang tidak enak badan.”
“Kalau tadi sebelum ke sini kamu bilang aku bisa membatalkannya. Kita bisa ke sini ketika kamu sedang fit.”
“Ini sudah terjadi. Kenapa kamu menyesalinya? I’m okay.”
Really? Tapi Ben aku jadi tidak enak. Sudah merepotkan dan membuatmu bertambah parah.”
“Santai saja, aku yang jadi tidak enak kalau kau memperlakukanku seperti orang sakit.”
“Tapi kamu memang baru sakit kan?”
“Aku hanya bersin.”
“Bersin itu salah satu pertanda tubuh kamu sedang bertarung dengan virus. Kalau begitu kita pulang saja.”
Terkadang apa yang kita pikir baik untuk kita, belum tentu baik untuk orang lain. Terkadang saat kita memaksakan kehendak kita pada orang lain, ternyata itu justru menyiksa dia. Setelah kamu mencicipi es krim itu aku sadar aku telah membuatmu bersin berkali-kali. Aku menyesal telah membawamu kemari disaat ragamu tidak seharusnya di sini.
“Ben, setelah ini kau harus beristirahat!” seruku saat kau mengulurkan helm.
Kau mengangguk. Aku lihat keringat dingin menetes. Kulihat dari kaca spion kau menggigil. Saat di lampu merah kuberanikan diri menyentuh dahimu. Hangat. Kamu demam.

--------------------------------------
On this right night I wanna swear
I will always be there by your side
This I promise you babe
That I will always treat you right
Cause so many men I know
You’re the one that I love so true
Every little thing you did to me
Nobody else can do
I do, I do, I do, I do, I do love you
I do, I do, I do, I do, I do need you
I do, I do, I do, I do, I do think about you

There’s nothing that I want from you (Ten2five)

Komentar