Minggu, 26 Maret 2017

Sajak Tentang Kamu



Bunga mawar wangi semerbak baunya.
Bunga anggrek cantik indah menggoda.
Bunga matahari terlihat mempesona. 
Tapi aku tak menginginkannya. 
Aku menginginkan kamu daripadanya.

--------

Jika bunga mawar menjadi lambang kasih sayang. 
Cokelat manis menjadi tanda cinta. 
Cincin tanda pengikat.
Kamu adalah lambang dari ketiganya. 

------- 

Orang boleh bilang memilikimu keindahan dunia. 
Orang boleh bilang memilikimu sangat berharga. 
Tapi bagiku mendekatimu saja sudah jauh lebih bahagia daripadanya.

-------
26 Maret 2017

Sabtu, 25 Maret 2017

By My Side






Kuajak kau pergi membeli es krim hasil rekomendasi temanku. Setengah merengek aku berhasil membujukmu masuk ke pusat perbelanjaan.
“Thank you. Sudah mau menemaniku,” ujarku setelah berdiri tepat di tempat jual es krim roll.
Masih pagi antrian sudah lumayan panjang. Aku bersaing dengan anak kecil laki-laki yang melirik beberapa kali seolah musuh yang akan merebut pesananannya.
“Dek, cokelatnya dikasih toping apa?” Si Ibu bertanya pada anaknya yang kehilangan konsentrasi melirikku.
“Lihat itu si adik kecil lebih tertarik kamu daripada es krimnya,” ejekmu seraya menahan tawa.
“Bisa saja kau, Ben. Mungkin si adik heran kakak sebesar ini ikut antri beli es krim,” sahutku.
 “Sebenarnya apa bedanya dengan es krim lain? Beli yang sudah jadi tak perlu antri tinggal beli. Itu di toko sebelah juga jualan.”
“Ini beda. Lihat cara buatnya. Ada cairan lumer yang dituang tiba-tiba bisa beku padahal seperti digoreng. Pasti sensasinya beda. Percaya sama aku.”
“Pakai magic kali. Eh, sebentar itu kenapa pakai alat tukang begitu. Sudah seperti tukang sedang mengelupas cat.”
“Sembarangan. Bedalah. Sudah lihat saja bagaimana lihainya si abang itu. Itu yang kering berantakan, habis itu disusun lagi. Lha, tiba-tiba sudah mirip roll rambut.”
“Dapat inspirasi dari mana itu ya? Apa si abangnya terinspirasi dari tukang cat kali. Habis mengelupas cat tiba-tiba kepikiran buat seperti itu.”
Maybe. Tapi uniknya ini tak pakai semprotan gas biar beku. Aneh kan? Pakai apa ya? Penasaran aku. Eh, iya mau beli juga?”
Kau menggeleng. “Kamu saja.”
“Beli ya? Sudah jauh-jauh mengantarku sayang kalau tidak mencobanya. Beli ya satu?”
Kau masih menggeleng dan tak mau.
“Ya sudah beli satu tapi nanti kau harus mencobanya,” rayuku. “Bang beli yang black sakura satu ya.”
“Sausnya?”
“Cokelat saja, Bang.”
“Pakai toping?” tanya abang penjual. “Pakai toping tambah dua ribu.”
“Pakai choco chips ya Bang!” seruku.
“Ditunggu dulu ya.”
Si abang penjual mengulang cara membuat es krim roll. Aku dan kamu mengamatinya sekali lagi.
“Kok pilih sakura apa tadi? Black sakura?”
“Penasaran. Kalau vanilla, green tea, cokelat, strowberi sudah biasa kan. Ini black sakura. Black kan hitam, sakura warnanya pink. Tapi ini kok hitam seperti petis ya?”
“Isi tahu petis maksudnya? Iya juga sih.”
Si abang penjual mengulurkan cup es krim roll yang sudah jadi.
“Bang boleh minta sendoknya satu lagi,” pintaku.
“Ini mbak.”
Aku pun membayar dengan uang pas lima belas ribu lalu berlalu dari sana.
“Enak tidak ya? Agak ragu juga.”
“Coba saja!” serumu.
“Mau mencicipi?”
“Tidak ah! Aku tidak bisa minum es. Baru tidak fit badanku.”
“Serius? Ini enak lho. Nanti kalau menyesal bagaimana? Coba ya sekali saja biar tahu rasanya juga. Siapa tahu kamu mau buatkan aku satu seperti ini,” bujukku.
Akhirnya kamu mengambil cup es krim dari tanganku dan mulai mencoba merasakannya di lidahmu.
“Bagaimana enak?”
Kau mengangguk dan tiba-tiba bersin.
Are you okay?”
Kau hanya mengatakan tidak apa-apa dengan isyarat tangan lalu bersin lagi. Satu sendok yang kamu telan ternyata membuatku menyesal kemudian.
“Maaf, Ben. Aku terlalu memaksamu mencicipinya padahal kamu tadi sudah bilang sedang tidak enak badan.”
Tanpa menjawab aku sudah paham. Kau bersin lagi beberapa kali kemudian.
“Tunggu di sini aku akan membeli tisu.”
Aku bergegas masuk ke supermarket dan mencari sebuah tisu. Menunggu antrian kasir aku mengutuk diri berkali-kali. Bisa-bisanya kulakukan ini padamu. Seharusnya aku tidak memaksamu.
“Ini tisunya, Ben.” Kuulurkan tisu kepadamu. Aku menunduk merasa bersalah.
“Kamu kenapa?” Kau menertawakanku.
“Aku menyesal. Maaf.”
“Hei, ini hanya flu biasa. Aku sudah bilang sedang tidak enak badan.”
“Kalau tadi sebelum ke sini kamu bilang aku bisa membatalkannya. Kita bisa ke sini ketika kamu sedang fit.”
“Ini sudah terjadi. Kenapa kamu menyesalinya? I’m okay.”
Really? Tapi Ben aku jadi tidak enak. Sudah merepotkan dan membuatmu bertambah parah.”
“Santai saja, aku yang jadi tidak enak kalau kau memperlakukanku seperti orang sakit.”
“Tapi kamu memang baru sakit kan?”
“Aku hanya bersin.”
“Bersin itu salah satu pertanda tubuh kamu sedang bertarung dengan virus. Kalau begitu kita pulang saja.”
Terkadang apa yang kita pikir baik untuk kita, belum tentu baik untuk orang lain. Terkadang saat kita memaksakan kehendak kita pada orang lain, ternyata itu justru menyiksa dia. Setelah kamu mencicipi es krim itu aku sadar aku telah membuatmu bersin berkali-kali. Aku menyesal telah membawamu kemari disaat ragamu tidak seharusnya di sini.
“Ben, setelah ini kau harus beristirahat!” seruku saat kau mengulurkan helm.
Kau mengangguk. Aku lihat keringat dingin menetes. Kulihat dari kaca spion kau menggigil. Saat di lampu merah kuberanikan diri menyentuh dahimu. Hangat. Kamu demam.

--------------------------------------
On this right night I wanna swear
I will always be there by your side
This I promise you babe
That I will always treat you right
Cause so many men I know
You’re the one that I love so true
Every little thing you did to me
Nobody else can do
I do, I do, I do, I do, I do love you
I do, I do, I do, I do, I do need you
I do, I do, I do, I do, I do think about you

There’s nothing that I want from you (Ten2five)

Sabtu, 18 Maret 2017

Tidak Ada Kau Hari Ini




Malam panjang yang berubah gelap. Kutidurkan badanku dengan tenang nyatanya pikirku kemana-mana. Kulihat potretmu di layar. Tiba-tiba teringat tentangmu yang tak bisa tidur tengah malam dan mengajakku bercanda lewat telepon. Kusuruh kau mematikan lampu agar bisa cepat tidur. Kini aku sendiri yang mencobanya, gelap ternyata. Aku baru tahu jika gelap di kamar tapi di luar terang bintang di langitpun tak nampak. Pantas sering kau keluhkan saranku untuk menghitung jumlah bintang lewat jendelamu. Tapi nyatanya aku bisa terlelap dalam, ketika terbangun sudah berganti hari. 

Tak ada ucapan selamat pagi. Tidak lagi ada suara melengking di telinga manja. Tidak ada lagi ucapan manis selamat bekerja. Tak lagi ada wajah ceria pengisi rongga di dada yang getarannya menumbuhkan senyum manis di bibirku.
Pagi hari seperti biasanya aku harus tetap bekerja. Jalanan yang kulewati terasa asing. Canda tawa biasanya menggema di sepanjang jalan bersamamu. Kini jalan pun ikut bisu. Aku dan langkahku ditenangkannya. Burung berkicau menghiburku. Rasanya ia benar-benar tahu perasaanku. Hancur.

Sepasang kucing liar berkejaran mengingatkanku padamu yang dulu sering memberinya makan. Kucing itu kini mengikutiku meminta makan. Bagaimana kujelaskan pada mereka aku tidak memiliki cinta lagi. Kau sudah pergi jadi mungkin kau takkan datang memberi makan mereka. Haruskah kusuruh mereka melupakanmu juga? Mungkin kucing itu akan tertawa. Mereka tak begitu mengenalmu sepertiku. Mereka masih bisa hidup, mencari makan sendiri atau bersama yang lain. Mereka lebih kuat daripada aku. 

Kulihat embun pagi di daun terlihat masih segar. Sesegar ingatanku padamu yang masih bertahan. Masih saja terlintas caramu tertawa, caramu bicara dan caramu menggoda. Tidak, tidak akan ada lagi cerita lucu rangkuman perjalanan sepanjang harimu. Tidak ada lagi rengekanmu meminta berkelana bersama. Tidak terlihat lagi senyum lesung pipi merah merona. Tidak kudengar lagi rangkaian kata dari kutipan buku yang kau baca. Tidak ada lagi tambahan bawang goreng di piring ketika makan bersama. Tidak ada lagi botol saus di meja makan. Tak ada lagi kotak bekal darimu. Tak ada lagi kudengar kata cinta. Tidak ada lagi kalimat rindu lewat pesan gambarmu atau video dari rumahmu. Meski kutunggu dering telepon tak ada lagi namamu di layarku. 

Satu hari berlalu, satu minggu sudah tidak ada kau di hidupku. Tidak ada semenjak kau melangkah pergi. Kupikir kau akan tinggal denganku di dermaga tapi ternyata dermaga ini hanyalah tempat singgahmu. Kau berlayar lagi. 

Aku membuka akun medsosmu. Kulihat potretmu. Bahagia bersanding dengannya. 
Aku memutuskan untuk men-delete semua akunmu dari hidupku. Aku membuka handphoneku, mencabut sim card dan mematahkannya. Kuformat kartu memoriku agar tak ada yang tersisa. Setidaknya kau tak akan mengusik pikiranku lagi. Kubuang patahan sim card ke tong sampah. Semudah kau meninggalkanku, semudah ini pula aku harus membuangmu dari hidupku. Pertempuran ini tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Pada akhirnya kita tetap harus lanjut hidup sendiri-sendiri.

Jika harus kujelaskan aku pernah sempat bahagia memilikimu, menjagamu. Tapi jika bisa kujelaskan kali ini aku tidak pernah menyesal bersamamu, hanya ketika kau pergi dengan cepat seketika itu aku juga harus beranjak segera.

----------------------------------
Bagai matahari dan bulan purnama
Aku dan dirimu tak lagi bersama
Di malam yang dingin penuh bintang-bintang
Kulihat potretmu dengan lain orang 
Kau dengan bangga beritahukan dunia kini kau miliknya
Oh, bila memang kau sudah lupakanku 
Kan kurelakan sampaikan saja salamku untuk kekasihmu yang baru
Yang lebih menyayangimu
yang lebih baik dariku
yang lebih bisa buat kau bahagia
Meski berat hati melihatmu pergi
semoga dialah cinta yang kau cari
Sebenarnya aku sudah tahu
sejak kita masih bersama
kau sudah dengannya (RAN feat Kahitna)


Sabtu, 11 Maret 2017

KEBERPIHAKAN YANG TIDAK MEMIHAK




Gunung Fuji dalam postcard kuterima hari ini. Kalimat rindumu terlantun di belakang gambar. Kau membuat mataku basah. Ini bukan pertama kalinya kau mengirimkan postcard. Sudah ketiga kalinya kau hadir di depanku dalam secarik postcard. Kadang rindu menggantung di langit-langit kamarku. Suaramu masih terbayang dalam deretan foto yang kutempel di dinding. Satu bagian terbaik dari setiap deretan foto itu adalah senyummu.

Kau menungguku duduk di sebuah kursi caffe. Termenung sendiri tanpa seorang pun di sana.
“Maaf aku terlambat.”
“Tidak, aku yang terlalu datang cepat. Tak sabar ingin segera bertemu denganmu,” balasmu seraya tersenyum.
Aku duduk di depanmu dengan penuh tanya. “Sepertinya ada hal penting,” tebakku hati-hati.
“Ya, sangat penting untuk sesuatu yang spesial. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kamu mau kan?”
“Kemana?” tanyaku yang bahkan baru duduk sebentar kau ajak keluar.
Sebuah pusat perbelanjaan. Kau membawaku ke tempat biasanya kau tidak suka.
“Kenapa ke sini? Bukankah kau tidak suka keramaian? Katamu mall itu bising.”
“Kau bawel sekali. Ikuti aku saja,” potongmu tak ingin mendengar cuitan panjangku.
“Aku serius hari ini kamu aneh.” 
Kau menghelakan nafas sembari tersenyum.
“Kau membuatku penasaran. Ayo katakanlah!”
“Aku dapat beasiswa ke Jepang,” katamu dengan raut wajah bahagia yang terasa seperti petir bagiku.
Aku terdiam.
“Kau tak memberiku selamat?” tanyamu.
“Selamat? Untuk meninggalkanku di tanah air?” tanyaku.
“Ayolah kita pernah membicarakan ini! Kau setuju kan?”
“Bukankah ada prasyarat di belakangnya?”
“Ya itu sedang kupertimbangkan. Kau tidak bahagia melihatku bisa lanjut studi ke Jepang?”
Aku tertunduk lesu. Pikiran kalut menghinggapi kepalaku.
“Aku tahu kenapa orang bilang kita tidak harus mempercayai orang seratus persen.”
“Kau mengalihkan pembicaraan, katamu terlihat tak suka.
“Tidak. Aku hanya mengingatkanmu saja.”
“Mengingatkanku?”
“Iya. Seharusnya kau mencari pekerjaan dulu, kita menikah lalu kau bisa melanjutkan studimu.”
“Hei, ini demi kebaikan kita. Kamu nggak mau melihat calonmu punya gelar yang tinggi skala internasional pula. Ini beasiswa sudah di depan mata. Sayang kalau nggak diambil.”
“Kau tidak dipihak perempuan seusiaku.”
“Ayolah, kau pasti bisa menungguku dua tahun, hanya dua tahun.”
 Aku terdiam. Kau tak juga mengerti apa yang kupikirkan.
“Jika kau khawatir aku melupakanmu, jangan. Kita punya fasilitas internet hari ini. Semua sudah serba canggih dan kalau libur aku bisa pulang ke tanah air.”
Aku masih terdiam.
“Kau masih belum percaya? Aku ini setia. Kau sudah membuktikannya bukan. Kau bisa mempercayaiku sepenuhnya. Jadi sekarang pilihkanlah aku sebuah koper sebagai tanda kau setuju.”
Bahkan untuk memilihkanmu koper, tanganku tak sanggup menunjuk satu pilihan terbaik.
“Bagaimana? Mana yang terbaik?”
Aku menggeleng.
“Kau tidak ingin melepasku? Ini demi masa depan kita juga?”
Aku menggeleng.
“Kau mempercayaiku kan?”
“Tidak.”
“Why?”
“Entahlah hanya berat saja mengatakannya.”
“Lalu kau tidak ingin memilihkan yang terbaik untukku. Baiklah aku bisa memilih sendiri.” Kau mengerutkan wajahmu menatapku memohon.
“Yang itu saja!” tunjukku pada sebuah koper warna biru dongker.
“Nah, begitu dong! Nggak susah kan?” Wajahmu terlihat bahagia.

Aku pikir setelah memilihkanmu koper hatiku terasa lega. Ternyata tidak. Hatiku tidak ingin melepasmu. Keresahan di masa lalu mulai merebak di masa kini. Aku mulai melepas foto-foto yang tertempel di dinding. Kukumpulkan satu persatu dalam kardus. Postcard terakhir yang datang pagi ini terus saja menghantuiku.

(Tak melihat senyummu tak mengapa asal masih kau simpan cintaku di dalam sana.
Aku sudah thesis. Selamat ulang tahun, cinta. I miss you)

Tulismu pada secarik postcard di tanganku yang kubaca ulang. Kali ini sampai tepat pada waktunya tidak terlambat seperti tahun lalu. Air mataku perlahan menetes dan segera kubasuh. Seseorang di luar sana sedang menungguku. Bagaimana aku menjelaskannya padamu kelak aku akan melepaskanmu hari ini. Usai melepas semua foto aku teringat hal lain di dalam layar laptop.
“Ara, sudah ditunggu. Cepatlah keluar!” seru Mama menyuruhku segera menemui seseorang di luar sana dan membuka pintu kamar. “Jangan mainan laptop ini acara penting, Ara!” Mama membentakku yang sibuk menyalakan laptop.
“Sebentar, Ma. Ini lebih penting.” Aku membuka explorer mencari folder bergambar hati bertuliskan cinta kita.
“Cepat, Mama tunggu di luar!” seru  Mama seraya menutup pintu kamarku.
Sudah kutemukan dan dengan berat hati tanpa kubuka kutekan tombol delete untuk membuat kenangan kita berakhir. Kelak saat kau kembali akan ku ceritakan semua. Suatu saat kau akan tahu seorang wanita yang digempur waktu, pilihan tersulit pun akan ia ambil. Saat kukatakan aku tak rela melepasmu aku yakin kau tahu resiko apa yang akan kau ambil.

Dear you,
Cinta tak memihak kita saat kau datang lagi
Cinta bukan milikmu saat kau pergi
Kukatakan berulang kali yang tak kau pahami
Perempuan memiliki batasan
Lelaki tidak
Dengan berat kukatakan
Ini yang kuragukan dulu dua tahunmu sudah berlalu
Aku dipinang hari ini
Aku undur diri
Salam

Send.
Aku pergi. Dengan berat hati kukatakan membereskan hatiku, menatanya ulang memang tak mudah tapi aku mendapatkan kepastian. Mungkin waktu yang tak memihakmu kali ini. Waktu memihaknya seseorang yang akan membersamaiku di masa depan.
Aku berjalan keluar dengan kebaya warna biru. Tanpa ragu aku melihatnya lelaki di depan sana yang tersenyum padaku bersama rombongannya. Senyumannya tak kalah darimu. Kurasa dia baik.

-----------------------------------------
Terpejam membayangkan dirimu yang kini pergi bersama kenangan
Berjalan walau tak terkendali sulit terima semua yang terjadi
Apabila ini akhir dari semua kisah kita yang kau inginkan
Keputusanmu menghancurkan mimpi indahku dan juga hatiku

Jujur tak mampu tuk menepis semua luka yang tlah kau berikan untukku (Cosmic)

Jumat, 10 Maret 2017

SAJAK CINTA




Kata orang kalau kamu jadi bodoh
Mungkin sedang jatuh cinta
Kata orang kalau kamu jadi ceroboh
Mungkin sedang jatuh cinta
Seperti aku kepadamu yang berubah bodoh dan ceroboh,
mencari besaran khawatirmu
-------------------------------

Kamu sendiri, aku sendiri
Kita sama-sama sendiri
Mengayuh hidup sejalan tapi tak bersatu
----------------------------------

Ada kalanya tak sengaja itu indah
Seperti saat jatuh kepadamu tiba-tiba
Jatuh cinta
-----------------------------------

Ketika Pangeran jatuh cinta Raja menginginkan Putri
Ketika Putri jatuh cinta Raja menginginkan Pangeran
Ketika jatuh cinta, aku menginginkan kamu
Melebihi tahta Raja
---------------------------------

Ada orang menghabiskan separuh waktunya untuk belajar
Ada orang menghabiskan separuh waktunya untuk bermain
Ada orang menghabiskan separuh waktunya untuk bekerja
Tapi aku menghabiskan separuh waktuku untuk mencintaimu
----------------------------------

Ada orang pemberani
Ada orang pengecut
dan aku hanyalah pecinta di ruang semu
Yang takut tapi memiliki harapan
Mencintaimu dalam khayal
---------------------------------

10 Maret 2017

Minggu, 05 Maret 2017

Instrumen Asesmen Membaca

ASESMEN MEMBACA

A. IDENTITAS ANAK
                    1.      Nama                     : ...............................................................................................
2.      Tempat Tgl Lahir  : ...............................................................................................
3.      Usia                       : ...............................................................................................
4.      Jenis Kelamin        : ...............................................................................................
5.      Alamat                   : ...............................................................................................
6.      Kelas                      : ...............................................................................................
7.      Sekolah                  : ...............................................................................................
8.   Tanggal asesmen     : ...............................................................................................

B. MENGENAL HURUF
Huruf
B/S
Huruf
B/S
(1) b d p
(2) a  e  r  s
(3) m w h k
(4) l j t p y
(5) z o f v u n
(6) c s r z i e

(7)     R G C D
(8)     O D Q P
(9)     S Z B H K
(10)  Y U Y L F
(11)   X N M W Z S
(12)   A R K T B F


C. MEMBACA PERMULAAN
Aspek Kemampuan
Kemampuan Murid
Cek
1. Mengenal bentuk huruf
·        Lancar, cepat, tepat

·        Cepat, tidak tepat

·        Lamban, tepat

·        Lamban, salah

2. Mengenal kata:
              - Terisolasi
             - Dalam konteks
·        Cepat, tepat

·        Cepat, tidak tepat

·        Lamban, salah

·        Cepat, tepat

·        Cepat, tidak tepat

·        Lamban tepat

·        Lamban, salah

3. Menggerakkan mata
·        Cepat

·        Lamban

4. Mengucapkan kata
·        Tepat

·        Tidak tepat

5. Gaya membaca
·        Sesuai dengan teks

·        Menghafal

6. Intonasi
·        Tepat

·        Tidak tepat


D. PENGAMATAN PENAMPILAN MEMBACA

OBSERVASI
DESKRIPSI
        1.      Posisi duduk
        2.      Posisi kepala
        3.      Konsentrasi
        4.      Gerakan tangan
        5.      Kesalahan membaca
        6.      Posisi buku
        7.      Intonasi
        8.      Ekspresi
        9.      Nada suara (tegang/tidak)


E. ASESMEN KESALAHAN MEMBACA
KESALAHAN
DESKRIPSI
        1.      Penghilangan kata atau huruf;
        2.      Penyelipan kata;
        3.      Penggantian kata;
        4.      Pengucapan kata salah dan makna berbeda;
        5.      Pengucapan kata salah tetapi makna sama;
        6.      Pengucapan kata salah dan tidak bermakna;
        7.      Pengucapan kata dengan bntuan guru;
        8.      Pengulangan;
        9.      Pembalikan kata;
      10.   Pembalikan huruf;
      11.   Kurang memperhatikan tanda baca;
      12.   Pembetulan sendiri;
      13.   Ragu-ragu dan;
      14.   Tersendat-sendat



Catatan Khusus:
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

....................... , ................................

Guru/Asesor/Petugas




SUMBER: Hasil kerjasama antara Pusat Studi Difabilitas LPPM UNS Surakarta dengan BP Diksus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...