Langsung ke konten utama

Reuni Mantan



"Rio nanti jangan pulang malam-malam! Mobilnya mau Papa pakai." Seru papa saat mendengar suara mesin yang siap berangkat. Aku membuka jendela dan memberi kode siap oke.
Tak lupa kuklakson sebagai tanda penghormatan. Rutinitas yang kujalani diakhir pekan menjadi sopir salah satu aplikasi online yang hits di ibu kota. Senin hingga Jum'at aktivitas di kantor sudah cukup padat, dengan banting stir di Sabtu Minggu harapannya bisa ketemu orang baru dan bertukar cerita syukur-syukur mbak-mbak cantik. Aku melihat spion. Ganteng juga. 
Dari rumah ada satu yang sepertinya mau ke kota. Aku tak sabar langsung menelepon. 
"Halo selamat siang ini dari driver onl..." 
"Bang ini saya di pinggir gang Melati ya. Pakai baju ijo."
Aduhai belum bicara banyak si mbaknya sudah nyerocos. 
"Baik, Mbak. Lima menit lagi saya sampai." 
Di pinggir jalan kulihat hanya ada satu orang yang pakai baju hijau dan pegang handphone. Pasti itu. Menyesal bilang mbak-mbak ternyata sudah ibu-ibu. 
"Permisi ibu yang pesan driver tadi ya?"
"Iya." 
"Silahkan." Aku menunggu ibu baju hijau naik dulu. Garuk-garuk kepala jadi mikir ngomong, nggak, ngomong, nggak. 
"Ibu tadi yang ditelepon?" tanyaku ketika masuk ke mobil dan pasang seat belt.
"Bukan tadi anak saya,” jawab si ibu. Lega ternyata aku yang salah paham.  “Adik udah lama jadi driver?" tanya si ibu baju hijau.
"Saya baru satu bulan pegang, bu. Itupun hanya ambil sabtu dan minggu." 
"Oo.. Saya kira setiap hari." 
"Ibu sudah tahu jalannya? Kalau belum kita pakai GPS saja," kataku sebelum melajukan mobil. 
"Aduh, ibu itu bukan orang daerah sini dek. Ibu mau ke stasiun Kota." 
"Oh, begitu ya bu. Berarti pakai GPS saja saya juga kurang paham." 
"Lho bukan orang asli sini dek?" 
"Bukan juga bu. Kebetulan rumah orang tua saya di pinggiran kota sebelah baru pindah dua bulan yang lalu." 
"Ini mobil sendiri?"
"Iya mobil orang tua bu. Udah izin mau pakai hitung-hitung buat bantu orang tua. Kalau mobil rental kan nggak bisa bebas."
Si ibunya sepertinya ditelepon anaknya. Cuma bisa lirik-lirik dari spion. Mobil kupacu mumpung ibunya sibuk pasti kalau kenceng juga nggak bakal protes. 
Tiba-tiba setelah belokan macet parah. Mobil antri satu-satu. Ada mobil mogok di sebelah kanan. Beruntung setelah melewatinya bisa melaju dengan kecepatan penuh.
"Sudah sampai ibu." 
"Tadi sudah pakai top up anak ibu. Makasih ya dek."
"Iya sama-sama."
Aku buka aplikasi dan mencari-cari. Ada satu yang dekat. 
"Halo ini dengan Mbak Clara?" 
"Iya betul." 
"Posisi dimana sekarang? Ini saya Rio sudah di sekitar lokasi penjemputan. Mobil hitam plat 76." 
"Saya sudah lihat mobilnya," ujar si mbak dengan ketus.  
Langsung ditutup begitu saja. Aku jadi penasaran yakin sekali si mbak itu. Si mbak langsung buka pintu depan. Astaga. 
"Sudah kuduga suaranya mirip banget," katanya.
Glekk. Setengah yakin setengah bengong takdir macam apa ini. Ini bukan di Surabaya. Kenapa dia ada di sini dan kenapa dari sekian cewek bernama Clara harus dia?
"Kenapa bengong? Aku order kalau kamu nggak suka kamu yang batalkan saja. Kalau aku nggak bakalan." 
Clara memasang seat belt dengan penuh keyakinan. Matanya terpejam sebelum kunyalakan mesin. 
"Kamu mau ke mana?" tanyaku kepo.
"Nggak baca tujuanku tadi? Niat nggak sih jadi driver?" 
Astaga galak sekali dia. Mungkin dia masih dendam padaku karena memutuskan ikatan kami tepat sebelum aku pindah ke ibu kota. 
"Em, ya cuma ngecek. Siapa tahu berubah pikiran mau turun di jalan."
Clara hanya memandangiku dengan muka jutek. 
Ah, aku tak berani menatapnya. Aku akan konsentrasi jalan. Fokus. Tapi mulutku gatal untuk bertanya padanya, "Kok sendiri, nggak diantar pacar?"
Ia menoleh sinis padaku. 
Aduh salah tanya sepertinya udara semakin panas. Kubesarkan AC-nya. Masih terasa panas. Sepanas hatiku yang kau sulut, membara lagi. Agar sedikit memadamkan aku memutar track lagu. Astaga lagunya Sheila on 7 yang berjudul canggung pula.
"Biasa saja nggak usah panik. Aku sudah nggak tertarik sama kamu. Aku mau tidur nanti kalau udah sampai tolong bangunkan," serunya. 
Glekk. Jujur banget ini anak. Apa hanya aku yang jadi bawa perasaan? Aku kecilkan volumenya diam-diam. Matanya tiba-tiba menusuk.
“Sudah biarkan saja,” katanya.
Skakmat ternyata dia hanya terpejam tapi tidak benar-benar tidur.
“Kamu nggak jadi tidur?”
Dia hanya terdiam.
“Kamu ke sini ada acara apa? Udah nggak tinggal di Surabaya lagi?” Aku memberondong pertanyaan.
“Urusanmu apa?” katanya sinis dengan mata terpejam.
Aduh salah lagi. Mungkin aku yang harus menahan mulutku dengan plester.
Sepanjang perjalanan kami sama-sama diam. Lirih suara radio mendayu-dayu di pagi hari. Rasanya yang diputar  lagu-lagu galau. Kenapa jadi seperti ini. Pengen nangis tapi aku laki-laki harus kuat tahan banting. Siap menerima resiko. Keputusan yang pernah diambil tidak boleh disesali meskipun bertemu denganmu menyisakan harap kembali.
Tiba-tiba intro lagu yang kukenal membuatku ingin memindah channel. Tapi tangannya lebih dulu memencet tombol memperbesar volume. Benar saja itu lagu Mudah Saja Sheila on 7. Bagaimana ini? Aku pura-pura melihat layar handphone saat lampu merah berhenti dan mengaktifkan headset.  
“Hei, Bang udah dapat berapa hari ini?” Aku pura-pura menelepon dan tertawa-tawa sendiri. Dalam hati hanya bisa mengeluh kapan ini akan berakhir. Dia belum tersenyum sama sekali. Setelah lagu itu selesai tidak lama aku pura-pura menutup panggilan.
Aku meliriknya sesaat di spion depan.
“Kamu sekarang tinggal di mana?” tanyanya tiba-tiba membuatku salah tingkah.
“Di pinggiran kota,” jawabku sekenanya.
“Oh, jadi pindah beneran,” kata Clara.
Aku hanya mengangguk dan memindah gigi persneling.
“Aku pikir kamu dulu bohong dengan alasan nggak bisa LDR,” lanjutnya seraya membuka mata dan menatap tajam hingga membuat dadaku berdesir.
“Aku turun depan saja,” katanya tiba-tiba.
“Lho nggak jadi ke Thamrin?”
“Seperti katamu tadi aku berubah fikiran.”
Glekk. Aku pun menginjak rem ketika sampai di tepi jalan.
Dia menyodorkan uang kepadaku. “Simpan saja uang kembaliannya.”
“Tapi ini terlalu banyak,” kataku melihat selembar seratus ribu.
“Sebenarnya aku takut terlalu lama melihatmu membuatku jatuh cinta lagi. Jadi aku juga tak ingin menunggumu memberiku uang kembalian. Bagiku sedetik saja bersamamu sudah terlalu lama bagiku,” jelasnya. Clara keluar mobil dan menutup pintu tanpa memberiku kesempatan berkata-kata.
Sebuah klakson dari mobil belakang membuatku tak sempat berpikir panjang. Aku segera beranjak dari lokasi penurunannya. Dadaku berdesir hebat. Kulihat jam baru menunjukkan pukul sebelas pagi dan aku baper setengah mati. Aku menghentikan laju mobil di parkiran sebuah pusat perbelanjaan. Aku mau pulang! Teriakku dalam hati. Aku menyandarkan kepalaku di lingkaran stir. Seseorang mengetuk jendela mobil membuatku kaget. Aku membuka kaca mobil dan ternyata ada kakak perempuanku yang sedang membuka kaca mata hitamnya.
“Rio antar aku pulang ya!” Kak Gadis membuka pintu mobil. “Kenapa muka kamu, seperti orang frustasi?”
“Ketemu mantan, Kak,” jawabku sekenanya.
“Oh, habis reunian! Masih diarsip saja itu mantan.”
Glekk.

***

Komentar