Langsung ke konten utama

PADA SATU BAGIAN TERSULIT




"Air minum," ujarmu seraya melempar botol minum kepadaku yang duduk di bangku pinggir lapangan.
Aku menangkapnya dengan sempurna. "Terima kasih."
"Tangkapanmu tak pernah meleset!" pujimu seraya duduk di sampingku.
"Tumben nyusul ke sini? Ada angin apa?" Kedatanganmu dengan botol minum di tanganku ini tak biasa.
"Lagi sebel sama seseorang," jawabmu sambil manyun. Kau menunduk sesaat dan menatap ring basket.
"Sebel? Biasanya juga nge-mall, nonton kenapa tiba-tiba ke lapangan?" 
Penuh kesal kau menaruh botol minummu dengan kasar ke bangku. "Pengen aja. Kata orang energi negatif kita harus diubah positif kan. Nah, berhubung hampir meledak sepertinya di sini lebih pas. Tempat pelampiasan." 
"Wow, wow. Ringnya kan tempat pelampiasanmu? Bukan aku?" 
"Kamu percaya nggak sih pertemanan perempuan dan laki-laki bisa murni tanpa rasa suka?" Pertanyaanmu sontak mengagetkanku.  
Balik aku bertanya, "Kamu tanya aku? Aku harus jawab apa?" 
Kau meraih dan membuka botol minummu. "Jawaban yang jujur." 
"No comment." 
Setelah meneguk air minum matamu menerawang jauh. "Kamu tidak punya teman perempuan selain aku. Bukankah itu mencurigakan?” tanyamu seraya menatap tajam membuatku skakmat. “Entah kenapa tiba-tiba aku ingin mendengar jawabanmu." 
Glekk. 
"Aneh sekali tiba-tiba kau bertanya padaku setelah kita berteman sekian lama." 
"Sudah jawab saja!" serumu. “Jangan-jangan kau menyukaiku.” 
Aku memincingkan mata ke arahmu. “Drama apa yang habis kamu tonton akhir-akhir ini? Manga mana lagi yang kamu baca? Mendadak jadi aneh. Benar-benar aneh."
"Kamu terlalu banyak mengalihkan pertanyaanku. Kau semakin mencurigakan. Pantas saja dia kesal padaku karena melihat kedekatan kita." 
"Dia maksudmu Bara? Memangnya apa yang dia katakan?" 
"Benarkah kita terlalu dekat untuk disebut teman?"
Glekk. Aku tak punya kata-kata untuk diucapkan.
"Kenapa diam?” Kau menyentuh tanganku. “Awalnya aku hanya menyimpulkan kata-kata Bara tidak berdasar. Tapi melihatmu seperti ini membuatku ragu." Kau menghelakan nafas dan melepaskan sentuhanmu lalu meneguk air. "Kau selalu dikait-kaitkan dalam setiap pertengkaran kami. Ah, kesal sendiri!"
“Jadi karena aku kalian bertengkar?” tanyaku ganti menengak minuman.
"Dia bilang kedekatan laki-laki dan perempuan yang berteman sekalipun pasti ada salah satu yang memendam rasa. Kau tidak seperti itu kan? Jawablah saja buat aku yakin bahwa kata-kata Bara itu salah."
Deg.  
“Oh ya, kenapa kamu nggak mencari pacar?" 
"Haruskah?" 
"Entahlah. Tapi aku tahu, kamu tidak main-main dengan perempuan. Kamu hanya akan mendeklarasikan kalau sudah benar-benar yakin akan pilihanmu." 
Aku tersenyum dan memberimu bola basket. 
"Haruskah aku berpura-pura mengatakan kamu sudah ada yang punya? Ya agar dia sedikit yakin padaku." Kau membuat alternatif jawabanmu sendiri.
"Lempar bola itu ke ring!" seruku.
"Ah, kamu mengalihkan lagi." 
"Sudah lempar saja." 
Kau terlihat manyun sesaat dan beranjak. Tapi saat kau lempar bola tak masuk ke ring. Kulihat kau bicara sendiri. "Dit, satu kali lagi ya!" teriakmu bersemangat. Itulah kamu. Jika sudah teralih kau akan melupakan masalahmu dengan cepat. Satu kali bagimu bukan jumlah bola yang kau lempar. Satu kali adalah bola itu sampai masuk ke dalam ring. Kau memfokuskan seluruh energimu.
"Lihat kau dari tadi kebanyakan bicara. Begitu saja tidak bisa masuk." 
"Ah, aku hanya kurang beruntung hari ini! Aku akan mencobanya lagi."
Kata-kata itu membuatku trauma. 
"Sudah cukup. Duduklah lagi. Sampai kapan kamu akan mencobanya?" teriakku mencoba menghentikanmu. Kau masih terfokus pada bola dan tak mendengarkanku. Terpaksa aku merebut bola dan melemparnya ke ring. Masuk.
"Dit, curang. Harusnya itu aku." 
"Sudah duduklah. Lihat tanganmu sudah merah." 
Kau duduk lagi dan minum. 
"Ah, akhirnya energi negatifku menguap." 
"Kau terlihat mengkhawatirkan," celetukku.
"Apanya?" 
"Hampir saja aku melakukan kesalahan." 
"Kamu terlalu kebanyakan teka-teki. Apanya?"
"Kamu suka berjuang sendiri, memikirkannya sendiri, bergerak sendiri." 
"Apa sih, Dit? Aku lemot nih." 
Aku tidak ingin membuka luka lamamu di waktu lampau saat kau cidera karena berlatih memasukkan bola ke dalam ring dan berujung gagal penilaian mendapat skor terendah dipelajaran olahraga.
"Kamu pernah berpikir menyelesaikan masalahmu dengan Bara secara baik-baik dan tidak lari kepadaku?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatianmu.
"Aku?" 
"Pernah nggak?" 
Kau terlihat berpikir keras. "Mungkin sekali." 
"Lalu?" 
"Bara tidak bisa diandalkan. Dia hanya mengedepankan emosinya. Itu membuatku tak nyaman." 
"Jadi?" 
"Ya mungkin karena aku sudah terbiasa memecahkan masalahku denganmu. Entah kenapa jadi kebiasaan." 
"Itu tidak terjadi sekali dua kali. Kamu selalu datang padaku. Apa itu tidak membuat Bara aneh?"
"Mungkinkah karena itu? Tapi itu kan karena dia sendiri."
Aku menghelakan nafas. "Aku bukan teman hidupmu di masa depan," jelasku menegaskan.
Kau menatapku kosong.
"Aku juga tak paham kenapa kakiku selalu mencarimu. Padahal kau bukan teman masa depanku," katamu. 
Glekk. Aku tidak tahu jawaban apa yang kau kejar dariku. Kali ini kau hadir dalam bentuk berbeda.
“Ya, kita hanya sebatas teman. Katakanlah itu. Jika dia masih meragukan kedekatan kita kenapa tidak kau bawa dia menemuiku. Biar aku yang menjelaskan bahwa aku tidak lebih dari sekedar teman.”
Kau terdiam dalam pikiranmu sendiri.
“Dit, aku mau pulang,” katamu membuatku beranjak dari tempat duduk.
"Tiga puluh tembakan dulu lalu aku akan mengantarmu pulang," kataku seraya mengambil bola dan melemparnya ke ring. 
Kau tertunduk lesu. "Aku bisa pulang sendiri." 
"Kau terlalu berbahaya pulang sendiri disaat sedang kacau. Ingat terakhir kali kau hampir terkena siraman air dari tukang bakso dan kau salah tujuan pulang." 
"Itu semua hanya kebetulan." 
"Itu karena pikiran kamu ada dimana-mana. Gagal fokus," jelasku seraya fokus melempar bola ke ring. Aku mengulur waktu agar kau menenangkan dirimu. Tapi kau beranjak dari tempat duduk dan menenteng tasmu.
“Aku baik-baik saja. Aku bisa pulang sendiri,” ujarmu seraya meletakkan botol minum kosong.
Aku berhenti melakukan tembakan dan menghampirimu. “Aku antar. Tunggu aku sebentar!”
“Kau menyuruhku menunggu, Dit. Untuk bagian yang mana?”
“Maksud kamu? Ya menunggu aku berbenah. Aku akan mengantarmu pulang.”
Kau sudah berjalan ke parkiran disaat aku memasukkan perkakas latihanku. Segera aku menyusulmu. Kulihat kau berdiri di samping motorku dengan pandangan kosong.
“Aku bawa helm dua. Ini kamu pakai satu!” seruku seraya mengulurkan helm tapi kau tak bereaksi. Aku memakaikan helm ke kepalamu.
“Sudah siap? Kita jalan sekarang?” tanyaku seraya melihatmu di spion. Kulihat kau sudah naik dan bersiap jalan. Namun, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutmu. Tubuhmu kau condongkan ke punggungku dan tanganmu melingkar ke tubuhku membuatku menoleh ke arahmu.
“Aku sudah putus dari Bara. Tidak bisakah kau berbohong kali ini dan mengatakan kau menyukaiku,” katamu lirih.
Aku merasakannya ada aliran air bergerak di balik punggungku yang tak bisa kubasuh. Aku hanya bisa menarik tanganmu yang melingkar ke tubuhku agar sedikit menjauh. Tapi tanganmu tetap bertahan semakin erat. Isak tangismu mulai terdengar. Tuhan maafkan, aku tidak bermaksud mengambil kesempatan. Jika ini dosa biarkanlah aku menebusnya kelak. 

---------------------------------------------
Mungkinkah bila kubertanya pada bintang-bintang
Dan bila kumulai merasa bahasa kesunyian
Sadarkan aku yang berjalan dalam kehampaan
Terdiam terpana terbata semua dalam keraguan
Aku dan semua yang terluka karena kita
Aku kan menghilang dalam pekat malam lepas ku melayang
Biarlah kubertanya pada bintang-bintang
Tentang arti kita dalam mimpi yang sempurna (Peterpan)

Komentar