Sabtu, 25 Februari 2017

PADA SATU BAGIAN TERSULIT





"Air minum," ujarmu seraya melempar botol minum kepadaku yang duduk di bangku pinggir lapangan.
Aku menangkapnya dengan sempurna. "Terima kasih."
"Tangkapanmu tak pernah meleset!" pujimu seraya duduk di sampingku.
"Tumben nyusul ke sini? Ada angin apa?" Kedatanganmu dengan botol minum di tanganku ini tak biasa.
"Lagi sebel sama seseorang," jawabmu sambil manyun. Kau menunduk sesaat dan menatap ring basket.
"Sebel? Biasanya juga nge-mall, nonton kenapa tiba-tiba ke lapangan?" 
Penuh kesal kau menaruh botol minummu dengan kasar ke bangku. "Pengen aja. Kata orang energi negatif kita harus diubah positif kan. Nah, berhubung hampir meledak sepertinya di sini lebih pas. Tempat pelampiasan." 
"Wow, wow. Ringnya kan tempat pelampiasanmu? Bukan aku?" 
"Kamu percaya nggak sih pertemanan perempuan dan laki-laki bisa murni tanpa rasa suka?" Pertanyaanmu sontak mengagetkanku.  
Balik aku bertanya, "Kamu tanya aku? Aku harus jawab apa?" 
Kau meraih dan membuka botol minummu. "Jawaban yang jujur." 
"No comment." 
Setelah meneguk air minum matamu menerawang jauh. "Kamu tidak punya teman perempuan selain aku. Bukankah itu mencurigakan?” tanyamu seraya menatap tajam membuatku skakmat. “Entah kenapa tiba-tiba aku ingin mendengar jawabanmu." 
Glekk. 
"Aneh sekali tiba-tiba kau bertanya padaku setelah kita berteman sekian lama." 
"Sudah jawab saja!" serumu. “Jangan-jangan kau menyukaiku.” 
Aku memincingkan mata ke arahmu. “Drama apa yang habis kamu tonton akhir-akhir ini? Manga mana lagi yang kamu baca? Mendadak jadi aneh. Benar-benar aneh."
"Kamu terlalu banyak mengalihkan pertanyaanku. Kau semakin mencurigakan. Pantas saja dia kesal padaku karena melihat kedekatan kita." 
"Dia maksudmu Bara? Memangnya apa yang dia katakan?" 
"Benarkah kita terlalu dekat untuk disebut teman?"
Glekk. Aku tak punya kata-kata untuk diucapkan.
"Kenapa diam?” Kau menyentuh tanganku. “Awalnya aku hanya menyimpulkan kata-kata Bara tidak berdasar. Tapi melihatmu seperti ini membuatku ragu." Kau menghelakan nafas dan melepaskan sentuhanmu lalu meneguk air. "Kau selalu dikait-kaitkan dalam setiap pertengkaran kami. Ah, kesal sendiri!"
“Jadi karena aku kalian bertengkar?” tanyaku ganti menengak minuman.
"Dia bilang kedekatan laki-laki dan perempuan yang berteman sekalipun pasti ada salah satu yang memendam rasa. Kau tidak seperti itu kan? Jawablah saja buat aku yakin bahwa kata-kata Bara itu salah."
Deg.  
“Oh ya, kenapa kamu nggak mencari pacar?" 
"Haruskah?" 
"Entahlah. Tapi aku tahu, kamu tidak main-main dengan perempuan. Kamu hanya akan mendeklarasikan kalau sudah benar-benar yakin akan pilihanmu." 
Aku tersenyum dan memberimu bola basket. 
"Haruskah aku berpura-pura mengatakan kamu sudah ada yang punya? Ya agar dia sedikit yakin padaku." Kau membuat alternatif jawabanmu sendiri.
"Lempar bola itu ke ring!" seruku.
"Ah, kamu mengalihkan lagi." 
"Sudah lempar saja." 
Kau terlihat manyun sesaat dan beranjak. Tapi saat kau lempar bola tak masuk ke ring. Kulihat kau bicara sendiri. "Dit, satu kali lagi ya!" teriakmu bersemangat. Itulah kamu. Jika sudah teralih kau akan melupakan masalahmu dengan cepat. Satu kali bagimu bukan jumlah bola yang kau lempar. Satu kali adalah bola itu sampai masuk ke dalam ring. Kau memfokuskan seluruh energimu.
"Lihat kau dari tadi kebanyakan bicara. Begitu saja tidak bisa masuk." 
"Ah, aku hanya kurang beruntung hari ini! Aku akan mencobanya lagi."
Kata-kata itu membuatku trauma. 
"Sudah cukup. Duduklah lagi. Sampai kapan kamu akan mencobanya?" teriakku mencoba menghentikanmu. Kau masih terfokus pada bola dan tak mendengarkanku. Terpaksa aku merebut bola dan melemparnya ke ring. Masuk.
"Dit, curang. Harusnya itu aku." 
"Sudah duduklah. Lihat tanganmu sudah merah." 
Kau duduk lagi dan minum. 
"Ah, akhirnya energi negatifku menguap." 
"Kau terlihat mengkhawatirkan," celetukku.
"Apanya?" 
"Hampir saja aku melakukan kesalahan." 
"Kamu terlalu kebanyakan teka-teki. Apanya?"
"Kamu suka berjuang sendiri, memikirkannya sendiri, bergerak sendiri." 
"Apa sih, Dit? Aku lemot nih." 
Aku tidak ingin membuka luka lamamu di waktu lampau saat kau cidera karena berlatih memasukkan bola ke dalam ring dan berujung gagal penilaian mendapat skor terendah dipelajaran olahraga.
"Kamu pernah berpikir menyelesaikan masalahmu dengan Bara secara baik-baik dan tidak lari kepadaku?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatianmu.
"Aku?" 
"Pernah nggak?" 
Kau terlihat berpikir keras. "Mungkin sekali." 
"Lalu?" 
"Bara tidak bisa diandalkan. Dia hanya mengedepankan emosinya. Itu membuatku tak nyaman." 
"Jadi?" 
"Ya mungkin karena aku sudah terbiasa memecahkan masalahku denganmu. Entah kenapa jadi kebiasaan." 
"Itu tidak terjadi sekali dua kali. Kamu selalu datang padaku. Apa itu tidak membuat Bara aneh?"
"Mungkinkah karena itu? Tapi itu kan karena dia sendiri."
Aku menghelakan nafas. "Aku bukan teman hidupmu di masa depan," jelasku menegaskan.
Kau menatapku kosong.
"Aku juga tak paham kenapa kakiku selalu mencarimu. Padahal kau bukan teman masa depanku," katamu. 
Glekk. Aku tidak tahu jawaban apa yang kau kejar dariku. Kali ini kau hadir dalam bentuk berbeda.
“Ya, kita hanya sebatas teman. Katakanlah itu. Jika dia masih meragukan kedekatan kita kenapa tidak kau bawa dia menemuiku. Biar aku yang menjelaskan bahwa aku tidak lebih dari sekedar teman.”
Kau terdiam dalam pikiranmu sendiri.
“Dit, aku mau pulang,” katamu membuatku beranjak dari tempat duduk.
"Tiga puluh tembakan dulu lalu aku akan mengantarmu pulang," kataku seraya mengambil bola dan melemparnya ke ring. 
Kau tertunduk lesu. "Aku bisa pulang sendiri." 
"Kau terlalu berbahaya pulang sendiri disaat sedang kacau. Ingat terakhir kali kau hampir terkena siraman air dari tukang bakso dan kau salah tujuan pulang." 
"Itu semua hanya kebetulan." 
"Itu karena pikiran kamu ada dimana-mana. Gagal fokus," jelasku seraya fokus melempar bola ke ring. Aku mengulur waktu agar kau menenangkan dirimu. Tapi kau beranjak dari tempat duduk dan menenteng tasmu.
“Aku baik-baik saja. Aku bisa pulang sendiri,” ujarmu seraya meletakkan botol minum kosong.
Aku berhenti melakukan tembakan dan menghampirimu. “Aku antar. Tunggu aku sebentar!”
“Kau menyuruhku menunggu, Dit. Untuk bagian yang mana?”
“Maksud kamu? Ya menunggu aku berbenah. Aku akan mengantarmu pulang.”
Kau sudah berjalan ke parkiran disaat aku memasukkan perkakas latihanku. Segera aku menyusulmu. Kulihat kau berdiri di samping motorku dengan pandangan kosong.
“Aku bawa helm dua. Ini kamu pakai satu!” seruku seraya mengulurkan helm tapi kau tak bereaksi. Aku memakaikan helm ke kepalamu.
“Sudah siap? Kita jalan sekarang?” tanyaku seraya melihatmu di spion. Kulihat kau sudah naik dan bersiap jalan. Namun, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutmu. Tubuhmu kau condongkan ke punggungku dan tanganmu melingkar ke tubuhku membuatku menoleh ke arahmu.
“Aku sudah putus dari Bara. Tidak bisakah kau berbohong kali ini dan mengatakan kau menyukaiku,” katamu lirih.
Aku merasakannya ada aliran air bergerak di balik punggungku yang tak bisa kubasuh. Aku hanya bisa menarik tanganmu yang melingkar ke tubuhku agar sedikit menjauh. Tapi tanganmu tetap bertahan semakin erat. Isak tangismu mulai terdengar. Tuhan maafkan, aku tidak bermaksud mengambil kesempatan. Jika ini dosa biarkanlah aku menebusnya kelak. 

---------------------------------------------
Mungkinkah bila kubertanya pada bintang-bintang
Dan bila kumulai merasa bahasa kesunyian
Sadarkan aku yang berjalan dalam kehampaan
Terdiam terpana terbata semua dalam keraguan
Aku dan semua yang terluka karena kita
Aku kan menghilang dalam pekat malam lepas ku melayang
Biarlah kubertanya pada bintang-bintang
Tentang arti kita dalam mimpi yang sempurna (Peterpan)

Minggu, 19 Februari 2017

HIDROPONIK ARGOFARM

Hari Minggu pagi ingin cari udara yang segar. Naik-naik ke puncak gunung tapi nggak sampai atas juga sih. Hanya sampai Hollywood-nya Kabupaten Semarang alias Bandungan. Di Kabupaten Semarang juga punya Bandung kan nggak usah jauh-jauh sampai sana. HAHA
Serius sudah berapa lama nyari dari SMP baru ketemu tulisan Hollywood di sana di dekat Susan Spa. 

Jadi ceritanya mau ke Susan Spa tapi baru sampai tanjakan masuk sudah di STOP sama pak satpam. 
Katanya baru buat acara nikahan. WKWKWK 

Bapaknya baik hati mungkin daripada baper di sana disuruh balik badan grak cari tempat lain. Akhirnya mikir keras cari tempat lain. Pas lewat ada Taman Setyaji udah pada ke sana, lalu pikir keras ada yang lihat tulisan Hidroponik Argofarm di sepanjang jalan penasaran kan jadi akhirnya pilih sana saja.

 

Ternyata eh ternyata Hidroponik Argofarm itu di dalam komplek sekolahan yang dikembangkan sedemikian rupa sehingga. HAHA. Iseng-iseng main dapat ilmu pertanian. Udah sampai sana kalau nggak boleh masuk udah siap-siap ngaku mahasiswa pertanian tapi untungnya boleh masuk jadi ya tetep jadi diri sendiri aja,




Tiket masuknya  Rp 10.000,- dapat 2 pcs sayuran. 
Lumayan dapat 2 pcs sayur panen sendiri lagi. 
Nikmatnya bisa makan petikan sendiri. HAHA
Lihat hijau-hijau seger.


Sekilas bisa lihat pralon-pralon sama talang HAHA disulap begitu. Kalau biasanya lihat di TV pakai pralon dilubangi yang di situ pakai talang. Terlihat beda tapi pada dasarnya fungsinya sama. Itu pakai selang-selang buat pengairan.


Kalau mau langsung makan di sana dijual juga salad udah plus mayonese.
Salad harganya Rp 17.000,-
Tomat Cherrynya Rp 15.000,-
Pada akhirnya malah belanja sayur HAHA


Sekilas keliling melihat kuning-kuning menggantung di atas. Apaan tuh ternyata buat perangkap hama yang beterbangan. Aku pikir dari jauh itu semacam kertas surat-surat pengunjung yang datang di spidol warna warni WKWKWK lope-lope ternyata dari dekat banyak hewan kecil yang terperangkap nempel kayak perangko.


Udah seminggu sayurnya masih segar di pendingin masih enak buat di salad. HAHA
Kisah perjalanan belanja sayuran SELESAI. 

Sabtu, 11 Februari 2017

Instrumen Assesment Okupasi Terapi

Contoh:

Assesment Okupasi Terapi

Nama Siswa        :
Kelas                   :
Ketunaan             :

Petunjuk Skoring
- Tidak dapat melakukan sama sekali
- Dapat melakukan sebagian dengan bantuan secara tidak konstan
 Dapat melakukan sebagian dengan bantuan secara konstan
- Dapat melakukan sebagian tanpa bantuan secara tidak konstan
 Dapat melakukan sebagian tanpa bantuan secara konstan
 Dapat melakukan semua tanpa bantuan secara tidak konstan
- Dapat melakukan semua tanpa bantuan secara konstan
- Dapat melakukan sendiri dengan perintah secara tidak konstan
 Dapat melakukan sendiri dengan perintah secara konstan
- Anak mampu melakukan sendiri secara sempurna

A.      Motorik Kasar
No.
Aktivitas
Skor
Keterangan
1.
Berguling


2.
Duduk


3.
Merangkak


4.
Berjalan


5.
Berlari


6.
Melompat 2 kaki


7.
Melompat kaki kanan


8.
Melompat kaki kiri


9.
Melempar bola


10.
Menangkap bola


11.
Mendrible bola


12.
Menendang bola


13.
Meniti


14.
Naik tangga


15.
Meluncur di perosotan




B.      Motorik Halus & Koordinasi Tangan
No.
Aktivitas
Skor
Keterangan
1.
Grasp (menggenggam) kanan/kiri


2.
Lateral pinch (menggenggam kertas) kanan/kiri


3.
Palmar pinch (memegang kelereng) kanan/kiri


4.
Three finger pinch kanan/kiri


5.
Tip prehension (memegang manik kecil) kanan/kiri


6.
Memegang pensil/krayon


7.
Mencoret


8.
Menggambar


9.
Melepas dan memasang peg


10.
Menyusun balok


11.
Meronce manik-manik



C.      Interaksi Sosial
No.
Aktivitas
Skor
Keterangan
1.
Kontak mata


2.
Respon panggilan


3.
Menjawab pertanyaan terapis


4.
Menjawab salam


5.
Memberi salam


6.
Menyapa


7.
Bermain dengan teman


8.
Mengutarakan keinginan dengan bahasa isyarat


9.
Mengutarakan keinginan dengan bahasa lisan




D.      Perawatan Diri
No.
Aktivitas
Skor
Keterangan
1.
Makan


2.
Minum


3.
Melepas baju/kaos


4.
Memakai baju/kaos


5.
Melepas celana


6.
Memakai celana


7.
Melepas sepatu


8.
Memakai sepatu


9.
Mandi


10.
Gosok gigi


11.
Buang air kecil


12.
Buang air besar


13.
Menyisir rambut


14.
Managemen menstruasi (anak perempuan)




E.       Kemampuan Pre Akademik
No.
Aktivitas
Skor
Keterangan
1.
Mengenal konsep warna


2.
Mengenal konsep bentuk bangun datar


3.
Mengenal konsep bentuk bangun ruang


4.
Memegang pensil


5.
Mengimitasi garis, lengkung dsb


6.
Mengkopi garis, lengkung dsb


7.
Menggunting


8.
Mengimitasi bentuk angka


9.
Mengkopi bentuk angka


10.
Mengimitasi bentuk huruf


11.
Mengkopi bentuk huruf


12.
Menghafal angka


13.
Menghafal huruf


14.
Menyusun puzzle


15.
Penjumlahan sederhana


16.
Membaca


17.
Managemen uang sederhana



Catatan:
……………………………………………………………………………………………………....
………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………....
………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………....

Terapis                                                                                                        Wali Murid

(…………………..)                                                                       (……………………………)
Mengetahui,
Kepala Sekolah

(……………………………)


Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...