Langsung ke konten utama

Pesona Pulau Tiban, Kendal

Iseng ikut orang tua ke sebuah pesta pernikahan di daerah Weleri, Kendal browsing tempat wisata. Pepatah berkata sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, jadi mumpung di Kendal sekalian refreshing sekeluarga. Setengah mikir mau ke Pantai Moro dengan mercusuar 40 meternya. Ya kan nggak mungkin ngajak orang tua naik mercusuar 40 meter tingginya. Bisa kebayang pasti beliau memilih nunggu di bawah. Muncullah alternatif pilihan lain Pulau Tiban di google. Mata berkilau, bersinar cerah. Langsung nyeletuk kita ke situ yuk! Mungkin bawaan dari orang tua juga kali ya suka cari-cari jalan yang belum pernah dilewati akhirnya YES bersedia.

Dari Weleri ada beberapa cara untuk sampai. Tapi berhubung selalu terlewati jalannya, akhirnya kami belok kiri di Masjid Agung Kendal, lurus sampai pertigaan terlihat papan petunjuk Kartika Jaya belok kiri, kemudian ada papan petunjuk lagi belok kanan ikuti jalan. Ada pertigaan belok kiri terlihat selamat datang desa wisata Kartika Jaya. Setelah melewati masjid terlihat papan ke arah kanan Wisata Pulau Tiban. Agak ragu juga waktu belok karena jalannya semakin sempit dan payahnya kalau sampai berpapasan mobil akhirnya kami bertanya penduduk setempat. Ya jalan kami sudah benar mantap saja. Akhirnya lega saat melihat papan parkir pulau tiban. Akhirnya sampai juga dengan bantuan GPS menuju Kartika Jaya (karena kalau search lokasi pulau Tiban nggak ke detect).


Di sekitar loket pembelian tiket akan terlihat plang Wisata Pulau Tiban. Terlihat sungai yang menjadi titik untuk menuju lokasi pulau Tiban. Dengan membayar Rp 14.000,- dengan akses perahu, Rp 20.000,- dengan akses speedboat. Sepertinya terdapat kenaikan biaya Rp 1.000,- per 1 November 2016 dengan akses perahu karena hasil broswingan dulunya Rp 13.000,- HAHA Berhubung operator speedboat sedang sakit kami naik perahu saja. Dengan tiket masuk segitu kita bisa menikmati perjalanan menyusuri sungai hingga sampai ke Pulau Tiban. Di perjalanan kami melihat ada beberapa penduduk sekitar yang menangkap ikan nyebur tinggi air hanya selutut. WOW

Dalam bayangan, awalnya seperti Rawa Pening. Warna airnya dan bentuk perahunya. Tapi setelah terlihat dari jauh pohon-pohon pinus melambai-lambai menyuruh kami untuk cepat sampai dermaga. 

Selamat datang di Pulau Tiban. Nih, tanda sudah sampai di Pulau kecil yang konon katanya hasil dari abrasi air laut.

Terlihat pohon bakau yang masih muda di pinggir pulau. Entah kenapa mungkin sedang berjodoh sama mangrove beberapa kali bertemu si pohon. Bedanya ini baby mangrove. HAHA

Sebuah danau kecil di tengah-tengah pulau. Rasanya jadi pengen nyebur. 


Pulau Tiban ini kecil sih tapi sensasi tiupan anginnya sepoi-sepoi. Coba ada persewaan tikar dan bantal langsung tidur siang di situ di bawah pohon pinus yang adem.


Kalau mau bermain air, guling-guling bisa. Di situ ada toilet, mushola, kantin, tempat duduk dari bambu. Pernah baca katanya ada persewaan sepeda untuk keliling tapi sampai di sana zonk tidak ada. padahal sudah membayangkan bersepeda keliling pulau kecil itu.


Setelah puas mendinginkan pikiran akhirnya kami memutuskan kembali. Tidak lama menunggu perahu sudah ada perahu yang berisi beberapa orang jadi langsung jalan. Hanya sekitar 15 menit menyusuri sungai kami sampai lagi di daratan.

Terima kasih google karenamu aku menemukan tempat indah di pulau Jawa. Biarpun belum bisa ke Raja Ampat tapi naik perahu balik ke daratan rasanya udah membayangkan sampai di sana. HIHI

Pelajaran perjalanan kali ini adalah kebersamaan bersama orang tua di usia quarter of life. Masih bisa melihat mereka tersenyum dan saling melengkapi. Aduhai baper maksimal. Belum bisa membahagiakan beliau hanya ini yang bisa dilakukan meluangkan waktu di sela-sela kesibukan untuk hangout bareng. Betapa berharganya waktu dan kebersamaan. Suatu saat pasti akan merindukan hari-hari seperti ini.

Perjalanan ke Pulau Tiban Finish.

Komentar