Langsung ke konten utama

Pasukan Kepiting, Aku Galau



Seperti menyanyi aku telah sampai pada bait pertengahan, menunggumu muncul kembali. Kini bait pertama itu terasa seperti bagian Reff yang diulang-ulang. Duduk terdiam dengan sebuah payung digenggamanku. Aku tahu hari ini pasti hujan. Langit yang menggantung sudah murung kelam dan barangkali kau akan datang bersamaan gerimis yang mulai turun.
Tapi deras.

Hatiku bersorak tak penuh. Kau pasti akan kembali menutup semua bagian yang mungkin akan basah. Lagi-lagi yang kusaksikan adalah helm silver berbalut mantel hitam. Tak apa asalkan masih bisa melihatmu.

Aku membentangkan payungku lalu membuntutimu dari belakang meskipun aku tahu kecepatan langkah kaki dan sepeda motor tidaklah sama. Bersama hujan berjalan beriringan. Kutahu hujan hanya akan menghapus jejakmu tetapi jejakmu dan jejakku bisa menyatu menjadi satu. Hanya hujanlah yang bisa membuat kita bersatu.

Kau menoleh.
Kau kembali. Aku yakin itu warna mantelmu. Tapi mengapa kau berputar lagi. Kau meninggalkan motormu di tepi dan berlari-lari. Aduhai, pasukan kepiting aku ingin laporan. Capit satu melaporkan hatiku sedang geli aku bisa melihat wajahnya. Capit dua melaporkan ternyata dia lebih tinggi daripada perkiraanku. Pasukan kepiting dia berhenti di depanku.
Kau membuka helm di tengah hujan. Syahdu.

Deg.
“Dera ya? Aku dari kemarin ingin menyapamu memastikan apa benar Dera.”
Glekk. Pasukan kepiting aku bingung harus menjawab apa. Haruskah kujawab “Ya” atau hanya anggukan saja.
“Ini Dera kan ya? Mau bareng?”
Pasukan kepiting jawablah aku.
“Kamu lupa? Aku Hari teman SMA kamu.”
Capit satu, capit dua apa kalian kenal? Aku mengulurkan payungku kepadamu.
“Aku Dera. Kamu Hari yang mana?”
“Memangnya ada berapa Hari di SMA?”
“Dua. Hari satu, Hari dua. Kamu yang mana?”
Kau tertawa.
Astaga. Aku ingat tawa itu. Dia yang dulu menertawakanku paling keras saat acara gebyar seni. Pasukan kepiting bawa aku pergi.
“Sepertinya kau sudah ingat. Ayo kuantar pulang!” ajakmu.
Aku menunjuk helmmu tanpa berkata.
“Ah! Iya helm ya,” katamu seraya garuk-garuk kepala.
Capit satu, capit dua aku galau. Dia ternyata orang yang kukenal sangat menyebalkan dulu. Haruskah aku merestart ulang perasaanku? 
---------------------------------------------------


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJODOHAN TARA

Aku berlari melawan hujan menuju sebuah halte kecil usang yang jarang dipakai orang. Atap-atapnya sudah rombeng. Saat hujan tak bisa dipakai untuk berteduh. Air sering kali terjun dari atas langsung menimpa kepala. Air deras mengalir dari sisi-sisi tiang penyangga. Aku hanya bisa berdoa semoga bus cepat datang sebelum tubuhku basah kuyup. Sesaat bus itu tiba dan kakiku segera melangkah menuju arah bus. Tapi bus itu tak jua berhenti, justru berhenti di halte baru. Aku menghelakan nafasku sebagai bukti kekecewaanku. Sudah basah kuyup tak dapat bus. Payah, sungguh payah. Mulut mulai komat-komit mengumpat sambil berjalan menuju halte baru. Tiba-tiba aku merasa hujan sudah reda. Tak ada air yang menetes di tubuhku. Ternyata ada seorang baik hati yang memayungiku. “Kelihatannya kita sudah pernah ketemu ya mbak?” sapa pria jangkung dengan senyum menawannya. Wajah itu memang pernah terlihat beberapa kali saat aku membeli roti untuk pengganjal perutku yang keroncongan. Pria itu seorang pelayan…

Kakak Anak Mama, Adik Anak Papa, Aku Anak Siapa?

Pagi ini meja makan terisi lengkap. Semua jenis makanan yang biasa dihidangkan saat lebaran ada. Benar-benar acara penyambutan yang spektakuler. Padahal hanya kakak yang datang bukan Pak Presiden. “Boy, gimana dapat juara?” tanya Mama begitu melihat Kak Boy baru turun dari mobil. Aku mengamati dengan penuh rasa iri. Mama selalu mengutamakan Kak Boy dimanapun itu. Aku benci Mama. “Cuma dapat juara dua, Ma. Pahadal menit-menit terakhir seharusnya aku bisa mencetak satu gol lagi. Tapi payah gara-gara pelanggaran dari tim lawan waktunya jadi habis. Yah, terpaksa dapat juara dua padahal cuma selisih satu poin,” jawab Kak Boy dengan penjelasan panjang lebarnya dan membuatku menguap. Aku pun berpikir untuk masuk ke dalam rumah karena aku tahu akan menjadi lebih panjang jika aku tetap berada di tengah-tengah mereka.  Apalagi Hera, adikku sedang asyik bermain kamera dengan Papa. Aku seperti kambing congek di padang rumput, sendirian. Mbekk.. Saat aku membalikkan badanku Mama memanggilku. Kupiki…