Langsung ke konten utama

Mengapa Terlambat



Payung lipat yang tak berguna untuk hujan lebat disertai angin. Aku menggigil menahan dingin yang menyeruak dari balik pakaianku yang basah kuyup. Air menetes dari ujung-ujung rambutku hanya membuat suhu tubuhku semakin tak baik.
Tidak akan mundur untuk kencan pertamaku. Kiara sudah terlihat di depan kedai kopi tempat janjian kami.
“Ya ampun, Angga!” teriak Kiara. “Kamu basah kuyup. Seharusnya kamu bisa menelfonku dan membatalkannya.”
“Tidak, Ra. Ini kencan pertama kita. Bagaimana bisa aku membatalkannya begitu saja,” jelasku seraya menggigil.
“Tapi lihat diri kamu. Kau sudah menggigil tak baik untuk kesehatanmu. Bagaimana kalau kita pulang saja?”
“Tidak, tidak. Setelah jauh-jauh aku ke sini dan basah kuyup? Aku tidak apa-apa. Kita masuk saja. Mungkin setelah aku membeli beberapa baju ganti di toko sebelah.”
“Baiklah. Kau tunggu di sini biar aku saja yang ke toko sebelah,” katamu.
“Tidak kau di sini saja. Aku yang akan membelinya sendiri dan ganti sekalian di sana. Kau di sini saja!” seruku membuatmu mengangguk. Aku melipat payungku dan berjalan melewati teras toko.
Toko yang sepi dalam hujan selebat ini. Setengah rolling door tertutup.
“Permisi,” kataku seraya melangkah masuk. “Ada orang? Permisi.”
Aku terperanjat saat tangan seseorang menepuk bahuku dari belakang. Saat berbalik kudapati seorang perempuan cantik berdiri seraya tersenyum.
“Kau basah kuyup. Kalau kau mencari beberapa potong pakaian laki-laki di sebelah sana,” katamu membuatku melongo. Aku belum mengatakan sesuatu tapi kau sudah memberondong kata-kata.
“Ah, aku hanya menebak. Sepertinya kau ke sini untuk mencari baju ganti,” tambahmu seolah mengerti apa yang aku maksud dalam hati.
“Baiklah terima kasih. Kukira toko ini sudah tutup dan tidak ada orang,” ujarku basa basi.
“Ya biasanya memang sudah tutup dan para pegawai juga sudah pulang. Karena hari ini hujan lebat jadi aku akan menunggu sampai reda.”
“Apakah aku bisa menumpang ke toilet untuk ganti baju?”
“Ya tentu saja. Di sebelah utara ada lorong nanti belok kiri,” jelasmu.
Setelah memilih beberapa potong baju handuk dan sabun mandi, aku bergegas menuju kamar mandi. Kulihat foto-foto di dinding sekilas ada yang unik dan pernah kutemui di suatu tempat. Aku berniat bertanya padamu setelah selesai.
“Ini kantong plastik untuk pakaian basahmu.” Kau menyodorkan kantong plastik hitam setelah melihatku keluar dari lorong.
“Terima kasih.” Aku menerima kantong plastik pemberianmu. “Itu di lorong tadi aku melihat sebuah foto yang pernah kulihat sebelumnya.”
“Foto yang mana?”
“Seorang laki-laki bersama anaknya memegang gitar,” jelasku seraya menunjuk arah lorong.
“Itu  ayah dan kakakku,” jawabmu.
“Ah, siapa nama kakakmu?”
“Namanya Angga.”
“ Dulu aku juga punya teman benar nama Angga juga. Sepertinya dunia sempit.”
Aku memikirkan sesuatu yang sedikit mengganjal benakku. “Angga Priyatmojo bukan?” tanyaku.
“Bagaimana bisa tahu?” tanyamu diikuti tawa lucu. Manis lesung pipimu tergambar jelas.
“Jadi kamu adiknya. Ah, setelah sekian lama akhirnya aku bertemu adiknya!”
Kau tersenyum.
Hatiku berdebar lagi. Kau hadir lagi dalam bentuk yang lebih dewasa. Dulu kau masih kecil dan menggemaskan.
“Kalau boleh tahu nama kakak siapa?”
“Ah, ya perkenalkan Angga Sambodo.”
“Angga juga? Dulu kakak juga pernah bercerita tentang temannya sekelas. Ada dua Angga. Angga pertama dan kedua. Jadi kakak ini yang angga kedua.”
“Ya kau sangat menghafal cerita kakakmu dengan baik.”
Kau tersenyum lagi. Takdir mempertemukanku denganmu disaat seperti ini. Entah untuk mengujiku atau menggodaku lagi. Aku sudah mempunyai Kiara, kumohon jangan tersenyum lagi. Aku bisa jatuh hati padamu.
“Deira, jadi berapa totalnya?” tanyaku seraya membuka dompet.
“Kakak tahu namaku?” balasmu bertanya seraya mensensor guntingan label harga.
“Ya aku biasa memanggilmu Deira dulu. Mungkin kau tak mengingatnya.”
Saat kau sedang sibuk menghitung, aku melihat jam tanganku sepertinya sudah terlalu lama. Kiara pasti akan mencariku.
“Dua ratus tiga puluh lima ribu,” jawabmu.
Tangan dingin menyentuh bahuku. “Angga, sudah selesai?” Kiara berdiri di belakangku.
Glekk.
“Ah, ya kau menyusul ke sini!”
“Aku sudah menghubungimu berkali-kali tapi kau pasti tidak melihatnya.”
Aku mengusap rambutku merasa bersalah. “Maaf.”


-------------------------------------------------------
Kau datang mengapa terlambat
Saat aku baru jadi dengannya
Aku resah harus ku berbuat apa
Semua datang tak pernah terduga
Tergetarku pandangan pertama
Saat pertemuan yang indah itu
Jangan pergi ku tak ingin semua ini

Berakhir hanya karena keadaanku  (Kahitna)

Komentar