Langsung ke konten utama

Malam Sekaten Selewatnya



Malam kora-kora mengguncang tubuh mengepung dingin udara jadi tak bersahabat
Meski tak terlilit jaket tebal di kulit tembus,
dadaku menghangat sekelibat lamunan di isi kepala

Masuki rumah hantu setan-setan menakuti dan tak ada kau di sisiku 
Hanya deretan berjajar tubuh sahabat-sahabatku, tarikan baju dan jerit suaraku yang memantul di dinding-dinding tanpa namamu 

Kau yang melengkungkan senyum berpapas denganku 
Nikmat malam sekaten selewatnya 
Kau yang hangat di dadaku cinta gila bertumbuh di kepala
Tetaplah sendiri saat ini dan temukan aku di sudut kepalamu seperti aku yang mulai mendeskripsikanmu di kepalaku untuk tidak melewatkanmu sekali lagi


Saksi bisu -- Solo, 28 Desember 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJODOHAN TARA

Aku berlari melawan hujan menuju sebuah halte kecil usang yang jarang dipakai orang. Atap-atapnya sudah rombeng. Saat hujan tak bisa dipakai untuk berteduh. Air sering kali terjun dari atas langsung menimpa kepala. Air deras mengalir dari sisi-sisi tiang penyangga. Aku hanya bisa berdoa semoga bus cepat datang sebelum tubuhku basah kuyup. Sesaat bus itu tiba dan kakiku segera melangkah menuju arah bus. Tapi bus itu tak jua berhenti, justru berhenti di halte baru. Aku menghelakan nafasku sebagai bukti kekecewaanku. Sudah basah kuyup tak dapat bus. Payah, sungguh payah. Mulut mulai komat-komit mengumpat sambil berjalan menuju halte baru. Tiba-tiba aku merasa hujan sudah reda. Tak ada air yang menetes di tubuhku. Ternyata ada seorang baik hati yang memayungiku. “Kelihatannya kita sudah pernah ketemu ya mbak?” sapa pria jangkung dengan senyum menawannya. Wajah itu memang pernah terlihat beberapa kali saat aku membeli roti untuk pengganjal perutku yang keroncongan. Pria itu seorang pelayan…

Kakak Anak Mama, Adik Anak Papa, Aku Anak Siapa?

Pagi ini meja makan terisi lengkap. Semua jenis makanan yang biasa dihidangkan saat lebaran ada. Benar-benar acara penyambutan yang spektakuler. Padahal hanya kakak yang datang bukan Pak Presiden. “Boy, gimana dapat juara?” tanya Mama begitu melihat Kak Boy baru turun dari mobil. Aku mengamati dengan penuh rasa iri. Mama selalu mengutamakan Kak Boy dimanapun itu. Aku benci Mama. “Cuma dapat juara dua, Ma. Pahadal menit-menit terakhir seharusnya aku bisa mencetak satu gol lagi. Tapi payah gara-gara pelanggaran dari tim lawan waktunya jadi habis. Yah, terpaksa dapat juara dua padahal cuma selisih satu poin,” jawab Kak Boy dengan penjelasan panjang lebarnya dan membuatku menguap. Aku pun berpikir untuk masuk ke dalam rumah karena aku tahu akan menjadi lebih panjang jika aku tetap berada di tengah-tengah mereka.  Apalagi Hera, adikku sedang asyik bermain kamera dengan Papa. Aku seperti kambing congek di padang rumput, sendirian. Mbekk.. Saat aku membalikkan badanku Mama memanggilku. Kupiki…