Langsung ke konten utama

CINTA DATANG TERLAMBAT



Ini kesekian kali aku mengutuk diri, mengulas kata-kata Alin yang terngiang dalam sesal.
"Asli dia itu cinta mati sama kamu. Nggak lihat dia belum pernah melakukan hal itu sama cewek lain. Cuma kamu dan sekali itu kamu tolak. Ampun Sha, hidup cuma sekali."
Aku menengadah ke langit entah Tuhan mengujiku dalam bentuk apa, yang aku tahu kali ini sesal menggumpal keras dalam eratnya ingatanku.
"Kamu akan menyesal melewatkan dia begitu saja. Dia punya masa depan. Jago bahasa Inggris, Matematika, rajin ibadah. Kurang apalagi? Serius kalau dia nembak aku, udah langsung iya nggak pakai lama."
Aku berdiri dengan pikiran kalut selepas melihat layar handphone. Sekali lagi kalimat ajaib Alin terlintas pedas.
"Jangan pernah menyesal kalau suatu saat nanti kamu jadi tertarik sama dia disaat dia sudah nggak tertarik lagi sama kamu."
Wajahmu ada di layar handphoneku tanpa status pertemanan. Diam-diam ku buka timelinemu sekedar ingin tahu bagaimana hidupmu. Semenjak aku tahu kau menyukaiku, kita yang dekat berubah menjadi jauh. Aku tak lagi mendengar kabarmu. Kini selepas kulihat foto-foto terbarumu aku tahu kau berbahagia dengan dunia barumu. Tanpa kehadiran dan suaraku.
Rasa iri mendekam di dadaku kau sudah mengunjungi menara Eiffel tempat impianku setelah menjadi korban film Eiffel I'm in Love. Kau sudah ke Venice naik gondola. Kau sudah ke negeri Sakura, negeri gingseng dan tempat asal Jackie Chan. Tuhan mungkin sedang menghukum dengan kerumitan jalan pikiranku. Aku bermimpi ke sana dan kau tahu itu. Belum sekalipun terlintas jalanan kota Paris, menggunakan bahasa Mandarin langsung di tempat asalnya tapi kau mengejutkanku dengan semua itu. Ah, sungguh kau mengalahkanku.
Aku tertahan di sini. Di negeriku sendiri. Tak pernah beranjak dari tanah air menyusulmu ke sana. Aku tak punya nyali sepertimu. Sadar diri membawaku mengelilingi kota ini, hanya di sebagian kecil daerah di kota ini.
"Stalking pasti," Alin mengusik handphoneku. "Asli parah banget. Sha, delapan tahun kamu tolak dia baru sekarang ketahuan kepoin dia. Terlambat Sha dia nggak tertarik lagi sama kamu. Bule-bule di luar sana lebih menarik dibandingkan kamu."
"Apa sih, Lin? Ini tak seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya suka melihat foto ini siapa tahu kelak mimpi membawaku ke sana."
"Kalau dulu kamu dengar kata-kataku mungkin kamu udah diajak Alfi ke sana."
Aku mengambil tempat duduk dan menaruh ransel.
"Pesan minum dong Lin. Biasa Moccalatte."
"Kris, Moccalatte satu, Cappucino satu!" pinta Alin kepada pegawainya.
"Ramai juga caffe kamu, Lin?" Tanyaku seraya meletakkan handphone ke meja.
"Biasa jam makan siang. Eh, iya dari mana tadi? Tumben mampir. Biasanya sok sibuk, di telepon susah, di bbm cuma R."
"Kamu tahu kan aku lebih suka kita ketemu langsung. Jadi semua yang aku R atau reject kita bicarakan di sini."
"Alasan kamu itu ya nggak pernah berubah."
"Sepenting apa kalau kamu telepon aku, Lin? Mau curhat soal gebetan baru, atau mantan pacar?"
"Alfi balik ke Indonesia."
Serasa udara berhenti di kerongkongan mencekikku. Tersedak pula akhirnya.
"Kris, mana moccalattenya." Kris datang dengan dua gelas minuman."Minum dulu Sha."
"Sekaget itu dengar Alfi balik?" tanya Alin. "Alfi sempat tanya tentang kamu Sha. Ya aku jawab kamu baik-baik saja. Masih di sini dan nggak ke mana-mana."
"Aku tadi ketemu Alfi di jalan," celetukku.
"Terus kamu sapa?"
"Nggak. Alfi juga sepertinya udah lupa sama aku."
"Kalau dia lupa kenapa dia tanya tentang kamu barusan?"
"Dia tadi di jalan sama cewek. Mungkin calonnya. Paling tanya kabarku buat menghina kali."
"Belum tentu, mungkin adiknya, kakaknya, saudaranya. Jangan pesimis begitu dong!"
Aku mengambil handphone-ku dan lirikan mata Alin bergerak ke pusat layar. "Kalian belum berteman di medsos? Astaga Sha gengsi, pura-pura lupa, malu atau apa? Kalau kalian biasa saja, sudah pasti kalian berteman. Jangan-jangan ini dua-duanya. Coba aku lihat."
Kusodorkan handphone-ku dan dengan bebas Alin mengutak-atiknya.
“Pasrah banget,” ujar Alin seraya tersenyum asik sendiri. “Selesai. Kalian sudah berteman.”
“Hah!” Sontak aku berdiri dan membuat cangkir di meja tumpah.
“Kalian berdua sama-sama aneh apa sih susahnya tinggal pencet tombol follow, add as friend, join atau apalah itu. Anak kecil juga bisa melakukannya dengan sangat baik.”
“Lin, aku nggak suka cara ini.”
“Alfi bikin video buat kamu. Pernah lihat?”
Glekk. Video.
“Emang ada?” Perhatianku teralih. Aish! Anak satu ini pandai mengalihkan situasi.
“Kepo sekarang.” Alin menertawakanku. “Ini aku putarkan khusus buat kamu.”
“Apaan? Cuma begitu. Itu buat siapa saja juga bisa,” komentarku.
“Komentarnya nanti kalau sudah selesai.”
Aku mengamati tiap detail. Sekilas ada foto Alfi bersama keluarganya dan kulihat ada sosok wanita tadi di sampingnya. Mataku terbelalak ketika satu tulisan melayang cukup lama. Aish! Anak ini sukses bikin baper.
“Bagaimana? Asli aku lihat ini rasanya langsung pengen lamar Alfi.”
“Tapi itu tetap tidak ada namanya artinya bukan berarti buat aku, Lin. Mungkin saja dia sudah berubah pikiran.”
Sebuah notif berbunyi.
“Cek, cek siapa tahu Alfi!” seru Alin membuat jantungku berdebar.
“Kamu saja, Lin,” kataku seraya menyodorkan handphone.
Wajah Alin berubah serius, “Benar Alfi. Dia mau ke sini.”
“Kok bisa tahu kalau kita di sini?”
“Aku bilang ke dia kalau kamu di sini dan ini jawabnya,” jelas Alin membuatku penasaran.
Deg. Saat kubaca satu pesan di sana aku sudah bisa membayangkan ekspresi Alin yang berubah serius.
“Sabar ya, Sha. Mungkin dia bukan jodohmu.”
Entah mengapa air mataku jatuh sendiri. Aku mengusapnya dan tersenyum. Pesan itu kubaca "Aku ingin mengantarkan undangan resepsi pernikahan."
“Sha, jangan nangis! Aku juga jadi ikut sedih. Sini peluk!” ujar Alin berusaha menenangkanku.
Entah tak ada penjelasan mengapa air mataku spontan jatuh dan dadaku mulai terasa nyeri. Dipelukan Alin air mataku semakin bertambah deras. Aku merasa tidak apa-apa tapi air mataku tak bisa diajak kompromi. Apa benar hati yang mengendalikan perasaan dan logika tak mampu menahannya sekalipun telah berusaha. Diam-diam aku mulai jatuh cinta pada orang yang hanya kuanggap kawan sebelumnya. Seharusnya aku menghentikannya setelah lama tak berjumpa dan jeda komunikasi mengakhirinya. Mungkin Tuhan mengajariku untuk tidak menaruh harapan terlalu tinggi pada manusia. Akibatnya aku kecewa pada ekspektasi tinggi Alin yang mempengaruhi kerja reseptorku.


-------------------------------------------------

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku
Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu
Dulu ..
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat (Maudy Ayunda)


Komentar