Sabtu, 21 Januari 2017

Mengapa Terlambat




Payung lipat yang tak berguna untuk hujan lebat disertai angin. Aku menggigil menahan dingin yang menyeruak dari balik pakaianku yang basah kuyup. Air menetes dari ujung-ujung rambutku hanya membuat suhu tubuhku semakin tak baik.
Tidak akan mundur untuk kencan pertamaku. Kiara sudah terlihat di depan kedai kopi tempat janjian kami.
“Ya ampun, Angga!” teriak Kiara. “Kamu basah kuyup. Seharusnya kamu bisa menelfonku dan membatalkannya.”
“Tidak, Ra. Ini kencan pertama kita. Bagaimana bisa aku membatalkannya begitu saja,” jelasku seraya menggigil.
“Tapi lihat diri kamu. Kau sudah menggigil tak baik untuk kesehatanmu. Bagaimana kalau kita pulang saja?”
“Tidak, tidak. Setelah jauh-jauh aku ke sini dan basah kuyup? Aku tidak apa-apa. Kita masuk saja. Mungkin setelah aku membeli beberapa baju ganti di toko sebelah.”
“Baiklah. Kau tunggu di sini biar aku saja yang ke toko sebelah,” katamu.
“Tidak kau di sini saja. Aku yang akan membelinya sendiri dan ganti sekalian di sana. Kau di sini saja!” seruku membuatmu mengangguk. Aku melipat payungku dan berjalan melewati teras toko.
Toko yang sepi dalam hujan selebat ini. Setengah rolling door tertutup.
“Permisi,” kataku seraya melangkah masuk. “Ada orang? Permisi.”
Aku terperanjat saat tangan seseorang menepuk bahuku dari belakang. Saat berbalik kudapati seorang perempuan cantik berdiri seraya tersenyum.
“Kau basah kuyup. Kalau kau mencari beberapa potong pakaian laki-laki di sebelah sana,” katamu membuatku melongo. Aku belum mengatakan sesuatu tapi kau sudah memberondong kata-kata.
“Ah, aku hanya menebak. Sepertinya kau ke sini untuk mencari baju ganti,” tambahmu seolah mengerti apa yang aku maksud dalam hati.
“Baiklah terima kasih. Kukira toko ini sudah tutup dan tidak ada orang,” ujarku basa basi.
“Ya biasanya memang sudah tutup dan para pegawai juga sudah pulang. Karena hari ini hujan lebat jadi aku akan menunggu sampai reda.”
“Apakah aku bisa menumpang ke toilet untuk ganti baju?”
“Ya tentu saja. Di sebelah utara ada lorong nanti belok kiri,” jelasmu.
Setelah memilih beberapa potong baju handuk dan sabun mandi, aku bergegas menuju kamar mandi. Kulihat foto-foto di dinding sekilas ada yang unik dan pernah kutemui di suatu tempat. Aku berniat bertanya padamu setelah selesai.
“Ini kantong plastik untuk pakaian basahmu.” Kau menyodorkan kantong plastik hitam setelah melihatku keluar dari lorong.
“Terima kasih.” Aku menerima kantong plastik pemberianmu. “Itu di lorong tadi aku melihat sebuah foto yang pernah kulihat sebelumnya.”
“Foto yang mana?”
“Seorang laki-laki bersama anaknya memegang gitar,” jelasku seraya menunjuk arah lorong.
“Itu  ayah dan kakakku,” jawabmu.
“Ah, siapa nama kakakmu?”
“Namanya Angga.”
“ Dulu aku juga punya teman benar nama Angga juga. Sepertinya dunia sempit.”
Aku memikirkan sesuatu yang sedikit mengganjal benakku. “Angga Priyatmojo bukan?” tanyaku.
“Bagaimana bisa tahu?” tanyamu diikuti tawa lucu. Manis lesung pipimu tergambar jelas.
“Jadi kamu adiknya. Ah, setelah sekian lama akhirnya aku bertemu adiknya!”
Kau tersenyum.
Hatiku berdebar lagi. Kau hadir lagi dalam bentuk yang lebih dewasa. Dulu kau masih kecil dan menggemaskan.
“Kalau boleh tahu nama kakak siapa?”
“Ah, ya perkenalkan Angga Sambodo.”
“Angga juga? Dulu kakak juga pernah bercerita tentang temannya sekelas. Ada dua Angga. Angga pertama dan kedua. Jadi kakak ini yang angga kedua.”
“Ya kau sangat menghafal cerita kakakmu dengan baik.”
Kau tersenyum lagi. Takdir mempertemukanku denganmu disaat seperti ini. Entah untuk mengujiku atau menggodaku lagi. Aku sudah mempunyai Kiara, kumohon jangan tersenyum lagi. Aku bisa jatuh hati padamu.
“Deira, jadi berapa totalnya?” tanyaku seraya membuka dompet.
“Kakak tahu namaku?” balasmu bertanya seraya mensensor guntingan label harga.
“Ya aku biasa memanggilmu Deira dulu. Mungkin kau tak mengingatnya.”
Saat kau sedang sibuk menghitung, aku melihat jam tanganku sepertinya sudah terlalu lama. Kiara pasti akan mencariku.
“Dua ratus tiga puluh lima ribu,” jawabmu.
Tangan dingin menyentuh bahuku. “Angga, sudah selesai?” Kiara berdiri di belakangku.
Glekk.
“Ah, ya kau menyusul ke sini!”
“Aku sudah menghubungimu berkali-kali tapi kau pasti tidak melihatnya.”
Aku mengusap rambutku merasa bersalah. “Maaf.”


-------------------------------------------------------
Kau datang mengapa terlambat
Saat aku baru jadi dengannya
Aku resah harus ku berbuat apa
Semua datang tak pernah terduga
Tergetarku pandangan pertama
Saat pertemuan yang indah itu
Jangan pergi ku tak ingin semua ini

Berakhir hanya karena keadaanku  (Kahitna)

Minggu, 15 Januari 2017

Tahap Perkembangan Karir

Secara teoritik tahap perkembangan karir individu dapat dikelompokkan menjadi 5 tahap perkembangan (Super, dalam Seligman, 1994).

1.       Tahap Perkembangan/Pertumbuhan/Growth (Usia 4 – 13 tahun)
Tahap ini terdiri dari tiga sub tahap yaitu:
a.    Sub Tahap Fantasi/fantasy (4 – 10 tahun) ditandai dengan minat anak berfantasi untuk menjadi individu yang diinginkan, kebutuhan dan menjalani peran.
b.      Sub Tahap Minat/Interest (11 – 12 Tahun) pada sub tahap ini tingkah laku yang berhubungan dengan karir mulai dipengaruhi oleh hal-hal yang menjadi kesukaannya. Hal yang disukai atau tidak disukai menjadi penentu utama aspirasi dan aktivitas.
c.       Sub Tahap Kapasitas /capacity (13 – 14 tahun) anak mulai mempertimbangkan kemampuan pribadi dan menaruh perhatian pada persyaratan pekerjaan yang diinginkan.

2.       Tahap Eksplorasi/Exploration (14 – 24 tahun)
Tahap ini terdiri dari tiga sub tahapan yaitu:
a.  Sub tahap Tentatif/Tentative (14 – 17 tahun) menentukan pilihan pekerjaan dengan mempertimbangkan bidang kerja dan tingkat pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan, minat, kapasitas, nilai dan kesempatan.
b.     Sub Tahap Transisi/Transition (18 – 21 tahun) sub tahap ini merupakan periode peralihan dari pilihan pekerjaan yang bersifat sementara menuju pilihan yang bersifat khusus.
c.    Sub Tahap Percobaan/ Trial (22 – 24 tahun) sub tahap ini melaksanakan pilihan pekerjaan dengan memasuki dunia kerja.

3.       Tahap Pembentukan/Establishment (25 – 44 tahun)
Tahap ini terdiri dari dua sub tahap, yaitu:
a.   Sub Tahap Percobaan dengan Komitmen/trial with commitment (25 – 30 tahun) individu merasa nyaman dengan pekerjaan, sehingga ingin terus mempertahankan pekerjaan yang dimiliki, tugas perkembangan pada masa ini adalah menstabilkan pilihan pekerjaan.
b.  Sub Tahap Stabilisasi/Stabilization(31 – 44 tahun) pola karir individu stabil, menetapkan pilihan pekerjaan agar memperoleh keamanan dan kenyamanan dalam bekerja, melakukan peningkatan dalam dunia kerja dengan menunjukkan perilaku yang positif dan produktif dengan rekan kerja.

4.       Pemeliharaan/Maintance (45 – 64 tahun)
Pada masa ini mempertahankan posisi pekerjaan tersebut dengan cara meningkatkan kapasitas/pengetahuan baru dan bersaing dengan rekan kerja yang lebih muda. Individu harus memiliki kemampuan bersaing  dengan rekan kerja, siap dengan perubahan teknologi, memenuhi tuntutan keluarga, berkurangnya stamina, sanggup mengerjakan tugas dengan lebih baik, memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan, berani melakukan pekerjaan yang berbeda dan menghadapi tantangan baru.

5.       Penolakan/Decline (lebih dari 65 tahun)
Tahap ini terdiri dari dua sub tahap yaitu:
a.       Sub Tahap Decelaration (65 – 70 tahun) mulai mengurangi tingkat pekerjaan secara efektif dan mulai merencanakan pensiun.

b.      Sub Tahap Retirement (lebih dari 71 tahun) individu mulai menarik diri dari lingkungan kerja.

Sabtu, 14 Januari 2017

Pesona Pulau Tiban, Kendal

Iseng ikut orang tua ke sebuah pesta pernikahan di daerah Weleri, Kendal browsing tempat wisata. Pepatah berkata sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, jadi mumpung di Kendal sekalian refreshing sekeluarga. Setengah mikir mau ke Pantai Moro dengan mercusuar 40 meternya. Ya kan nggak mungkin ngajak orang tua naik mercusuar 40 meter tingginya. Bisa kebayang pasti beliau memilih nunggu di bawah. Muncullah alternatif pilihan lain Pulau Tiban di google. Mata berkilau, bersinar cerah. Langsung nyeletuk kita ke situ yuk! Mungkin bawaan dari orang tua juga kali ya suka cari-cari jalan yang belum pernah dilewati akhirnya YES bersedia.

Dari Weleri ada beberapa cara untuk sampai. Tapi berhubung selalu terlewati jalannya, akhirnya kami belok kiri di Masjid Agung Kendal, lurus sampai pertigaan terlihat papan petunjuk Kartika Jaya belok kiri, kemudian ada papan petunjuk lagi belok kanan ikuti jalan. Ada pertigaan belok kiri terlihat selamat datang desa wisata Kartika Jaya. Setelah melewati masjid terlihat papan ke arah kanan Wisata Pulau Tiban. Agak ragu juga waktu belok karena jalannya semakin sempit dan payahnya kalau sampai berpapasan mobil akhirnya kami bertanya penduduk setempat. Ya jalan kami sudah benar mantap saja. Akhirnya lega saat melihat papan parkir pulau tiban. Akhirnya sampai juga dengan bantuan GPS menuju Kartika Jaya (karena kalau search lokasi pulau Tiban nggak ke detect).


Di sekitar loket pembelian tiket akan terlihat plang Wisata Pulau Tiban. Terlihat sungai yang menjadi titik untuk menuju lokasi pulau Tiban. Dengan membayar Rp 14.000,- dengan akses perahu, Rp 20.000,- dengan akses speedboat. Sepertinya terdapat kenaikan biaya Rp 1.000,- per 1 November 2016 dengan akses perahu karena hasil broswingan dulunya Rp 13.000,- HAHA Berhubung operator speedboat sedang sakit kami naik perahu saja. Dengan tiket masuk segitu kita bisa menikmati perjalanan menyusuri sungai hingga sampai ke Pulau Tiban. Di perjalanan kami melihat ada beberapa penduduk sekitar yang menangkap ikan nyebur tinggi air hanya selutut. WOW

Dalam bayangan, awalnya seperti Rawa Pening. Warna airnya dan bentuk perahunya. Tapi setelah terlihat dari jauh pohon-pohon pinus melambai-lambai menyuruh kami untuk cepat sampai dermaga. 

Selamat datang di Pulau Tiban. Nih, tanda sudah sampai di Pulau kecil yang konon katanya hasil dari abrasi air laut.

Terlihat pohon bakau yang masih muda di pinggir pulau. Entah kenapa mungkin sedang berjodoh sama mangrove beberapa kali bertemu si pohon. Bedanya ini baby mangrove. HAHA

Sebuah danau kecil di tengah-tengah pulau. Rasanya jadi pengen nyebur. 


Pulau Tiban ini kecil sih tapi sensasi tiupan anginnya sepoi-sepoi. Coba ada persewaan tikar dan bantal langsung tidur siang di situ di bawah pohon pinus yang adem.


Kalau mau bermain air, guling-guling bisa. Di situ ada toilet, mushola, kantin, tempat duduk dari bambu. Pernah baca katanya ada persewaan sepeda untuk keliling tapi sampai di sana zonk tidak ada. padahal sudah membayangkan bersepeda keliling pulau kecil itu.


Setelah puas mendinginkan pikiran akhirnya kami memutuskan kembali. Tidak lama menunggu perahu sudah ada perahu yang berisi beberapa orang jadi langsung jalan. Hanya sekitar 15 menit menyusuri sungai kami sampai lagi di daratan.

Terima kasih google karenamu aku menemukan tempat indah di pulau Jawa. Biarpun belum bisa ke Raja Ampat tapi naik perahu balik ke daratan rasanya udah membayangkan sampai di sana. HIHI

Pelajaran perjalanan kali ini adalah kebersamaan bersama orang tua di usia quarter of life. Masih bisa melihat mereka tersenyum dan saling melengkapi. Aduhai baper maksimal. Belum bisa membahagiakan beliau hanya ini yang bisa dilakukan meluangkan waktu di sela-sela kesibukan untuk hangout bareng. Betapa berharganya waktu dan kebersamaan. Suatu saat pasti akan merindukan hari-hari seperti ini.

Perjalanan ke Pulau Tiban Finish.

Rabu, 11 Januari 2017

CINTA DATANG TERLAMBAT



Ini kesekian kali aku mengutuk diri, mengulas kata-kata Alin yang terngiang dalam sesal.
"Asli dia itu cinta mati sama kamu. Nggak lihat dia belum pernah melakukan hal itu sama cewek lain. Cuma kamu dan sekali itu kamu tolak. Ampun Sha, hidup cuma sekali."
Aku menengadah ke langit entah Tuhan mengujiku dalam bentuk apa, yang aku tahu kali ini sesal menggumpal keras dalam eratnya ingatanku.
"Kamu akan menyesal melewatkan dia begitu saja. Dia punya masa depan. Jago bahasa Inggris, Matematika, rajin ibadah. Kurang apalagi? Serius kalau dia nembak aku, udah langsung iya nggak pakai lama."
Aku berdiri dengan pikiran kalut selepas melihat layar handphone. Sekali lagi kalimat ajaib Alin terlintas pedas.
"Jangan pernah menyesal kalau suatu saat nanti kamu jadi tertarik sama dia disaat dia sudah nggak tertarik lagi sama kamu."
Wajahmu ada di layar handphoneku tanpa status pertemanan. Diam-diam ku buka timelinemu sekedar ingin tahu bagaimana hidupmu. Semenjak aku tahu kau menyukaiku, kita yang dekat berubah menjadi jauh. Aku tak lagi mendengar kabarmu. Kini selepas kulihat foto-foto terbarumu aku tahu kau berbahagia dengan dunia barumu. Tanpa kehadiran dan suaraku.
Rasa iri mendekam di dadaku kau sudah mengunjungi menara Eiffel tempat impianku setelah menjadi korban film Eiffel I'm in Love. Kau sudah ke Venice naik gondola. Kau sudah ke negeri Sakura, negeri gingseng dan tempat asal Jackie Chan. Tuhan mungkin sedang menghukum dengan kerumitan jalan pikiranku. Aku bermimpi ke sana dan kau tahu itu. Belum sekalipun terlintas jalanan kota Paris, menggunakan bahasa Mandarin langsung di tempat asalnya tapi kau mengejutkanku dengan semua itu. Ah, sungguh kau mengalahkanku.
Aku tertahan di sini. Di negeriku sendiri. Tak pernah beranjak dari tanah air menyusulmu ke sana. Aku tak punya nyali sepertimu. Sadar diri membawaku mengelilingi kota ini, hanya di sebagian kecil daerah di kota ini.
"Stalking pasti," Alin mengusik handphoneku. "Asli parah banget. Sha, delapan tahun kamu tolak dia baru sekarang ketahuan kepoin dia. Terlambat Sha dia nggak tertarik lagi sama kamu. Bule-bule di luar sana lebih menarik dibandingkan kamu."
"Apa sih, Lin? Ini tak seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya suka melihat foto ini siapa tahu kelak mimpi membawaku ke sana."
"Kalau dulu kamu dengar kata-kataku mungkin kamu udah diajak Alfi ke sana."
Aku mengambil tempat duduk dan menaruh ransel.
"Pesan minum dong Lin. Biasa Moccalatte."
"Kris, Moccalatte satu, Cappucino satu!" pinta Alin kepada pegawainya.
"Ramai juga caffe kamu, Lin?" Tanyaku seraya meletakkan handphone ke meja.
"Biasa jam makan siang. Eh, iya dari mana tadi? Tumben mampir. Biasanya sok sibuk, di telepon susah, di bbm cuma R."
"Kamu tahu kan aku lebih suka kita ketemu langsung. Jadi semua yang aku R atau reject kita bicarakan di sini."
"Alasan kamu itu ya nggak pernah berubah."
"Sepenting apa kalau kamu telepon aku, Lin? Mau curhat soal gebetan baru, atau mantan pacar?"
"Alfi balik ke Indonesia."
Serasa udara berhenti di kerongkongan mencekikku. Tersedak pula akhirnya.
"Kris, mana moccalattenya." Kris datang dengan dua gelas minuman."Minum dulu Sha."
"Sekaget itu dengar Alfi balik?" tanya Alin. "Alfi sempat tanya tentang kamu Sha. Ya aku jawab kamu baik-baik saja. Masih di sini dan nggak ke mana-mana."
"Aku tadi ketemu Alfi di jalan," celetukku.
"Terus kamu sapa?"
"Nggak. Alfi juga sepertinya udah lupa sama aku."
"Kalau dia lupa kenapa dia tanya tentang kamu barusan?"
"Dia tadi di jalan sama cewek. Mungkin calonnya. Paling tanya kabarku buat menghina kali."
"Belum tentu, mungkin adiknya, kakaknya, saudaranya. Jangan pesimis begitu dong!"
Aku mengambil handphone-ku dan lirikan mata Alin bergerak ke pusat layar. "Kalian belum berteman di medsos? Astaga Sha gengsi, pura-pura lupa, malu atau apa? Kalau kalian biasa saja, sudah pasti kalian berteman. Jangan-jangan ini dua-duanya. Coba aku lihat."
Kusodorkan handphone-ku dan dengan bebas Alin mengutak-atiknya.
“Pasrah banget,” ujar Alin seraya tersenyum asik sendiri. “Selesai. Kalian sudah berteman.”
“Hah!” Sontak aku berdiri dan membuat cangkir di meja tumpah.
“Kalian berdua sama-sama aneh apa sih susahnya tinggal pencet tombol follow, add as friend, join atau apalah itu. Anak kecil juga bisa melakukannya dengan sangat baik.”
“Lin, aku nggak suka cara ini.”
“Alfi bikin video buat kamu. Pernah lihat?”
Glekk. Video.
“Emang ada?” Perhatianku teralih. Aish! Anak satu ini pandai mengalihkan situasi.
“Kepo sekarang.” Alin menertawakanku. “Ini aku putarkan khusus buat kamu.”
“Apaan? Cuma begitu. Itu buat siapa saja juga bisa,” komentarku.
“Komentarnya nanti kalau sudah selesai.”
Aku mengamati tiap detail. Sekilas ada foto Alfi bersama keluarganya dan kulihat ada sosok wanita tadi di sampingnya. Mataku terbelalak ketika satu tulisan melayang cukup lama. Aish! Anak ini sukses bikin baper.
“Bagaimana? Asli aku lihat ini rasanya langsung pengen lamar Alfi.”
“Tapi itu tetap tidak ada namanya artinya bukan berarti buat aku, Lin. Mungkin saja dia sudah berubah pikiran.”
Sebuah notif berbunyi.
“Cek, cek siapa tahu Alfi!” seru Alin membuat jantungku berdebar.
“Kamu saja, Lin,” kataku seraya menyodorkan handphone.
Wajah Alin berubah serius, “Benar Alfi. Dia mau ke sini.”
“Kok bisa tahu kalau kita di sini?”
“Aku bilang ke dia kalau kamu di sini dan ini jawabnya,” jelas Alin membuatku penasaran.
Deg. Saat kubaca satu pesan di sana aku sudah bisa membayangkan ekspresi Alin yang berubah serius.
“Sabar ya, Sha. Mungkin dia bukan jodohmu.”
Entah mengapa air mataku jatuh sendiri. Aku mengusapnya dan tersenyum. Pesan itu kubaca "Aku ingin mengantarkan undangan resepsi pernikahan."
“Sha, jangan nangis! Aku juga jadi ikut sedih. Sini peluk!” ujar Alin berusaha menenangkanku.
Entah tak ada penjelasan mengapa air mataku spontan jatuh dan dadaku mulai terasa nyeri. Dipelukan Alin air mataku semakin bertambah deras. Aku merasa tidak apa-apa tapi air mataku tak bisa diajak kompromi. Apa benar hati yang mengendalikan perasaan dan logika tak mampu menahannya sekalipun telah berusaha. Diam-diam aku mulai jatuh cinta pada orang yang hanya kuanggap kawan sebelumnya. Seharusnya aku menghentikannya setelah lama tak berjumpa dan jeda komunikasi mengakhirinya. Mungkin Tuhan mengajariku untuk tidak menaruh harapan terlalu tinggi pada manusia. Akibatnya aku kecewa pada ekspektasi tinggi Alin yang mempengaruhi kerja reseptorku.


-------------------------------------------------

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku
Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu
Dulu ..
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat (Maudy Ayunda)


Minggu, 08 Januari 2017

Malam Sekaten Selewatnya



Malam kora-kora mengguncang tubuh mengepung dingin udara jadi tak bersahabat
Meski tak terlilit jaket tebal di kulit tembus,
dadaku menghangat sekelibat lamunan di isi kepala

Masuki rumah hantu setan-setan menakuti dan tak ada kau di sisiku 
Hanya deretan berjajar tubuh sahabat-sahabatku, tarikan baju dan jerit suaraku yang memantul di dinding-dinding tanpa namamu 

Kau yang melengkungkan senyum berpapas denganku 
Nikmat malam sekaten selewatnya 
Kau yang hangat di dadaku cinta gila bertumbuh di kepala
Tetaplah sendiri saat ini dan temukan aku di sudut kepalamu seperti aku yang mulai mendeskripsikanmu di kepalaku untuk tidak melewatkanmu sekali lagi


Saksi bisu -- Solo, 28 Desember 2014

Sabtu, 07 Januari 2017

Pasukan Kepiting, Aku Galau



Seperti menyanyi aku telah sampai pada bait pertengahan, menunggumu muncul kembali. Kini bait pertama itu terasa seperti bagian Reff yang diulang-ulang. Duduk terdiam dengan sebuah payung digenggamanku. Aku tahu hari ini pasti hujan. Langit yang menggantung sudah murung kelam dan barangkali kau akan datang bersamaan gerimis yang mulai turun.
Tapi deras.

Hatiku bersorak tak penuh. Kau pasti akan kembali menutup semua bagian yang mungkin akan basah. Lagi-lagi yang kusaksikan adalah helm silver berbalut mantel hitam. Tak apa asalkan masih bisa melihatmu.

Aku membentangkan payungku lalu membuntutimu dari belakang meskipun aku tahu kecepatan langkah kaki dan sepeda motor tidaklah sama. Bersama hujan berjalan beriringan. Kutahu hujan hanya akan menghapus jejakmu tetapi jejakmu dan jejakku bisa menyatu menjadi satu. Hanya hujanlah yang bisa membuat kita bersatu.

Kau menoleh.
Kau kembali. Aku yakin itu warna mantelmu. Tapi mengapa kau berputar lagi. Kau meninggalkan motormu di tepi dan berlari-lari. Aduhai, pasukan kepiting aku ingin laporan. Capit satu melaporkan hatiku sedang geli aku bisa melihat wajahnya. Capit dua melaporkan ternyata dia lebih tinggi daripada perkiraanku. Pasukan kepiting dia berhenti di depanku.
Kau membuka helm di tengah hujan. Syahdu.

Deg.
“Dera ya? Aku dari kemarin ingin menyapamu memastikan apa benar Dera.”
Glekk. Pasukan kepiting aku bingung harus menjawab apa. Haruskah kujawab “Ya” atau hanya anggukan saja.
“Ini Dera kan ya? Mau bareng?”
Pasukan kepiting jawablah aku.
“Kamu lupa? Aku Hari teman SMA kamu.”
Capit satu, capit dua apa kalian kenal? Aku mengulurkan payungku kepadamu.
“Aku Dera. Kamu Hari yang mana?”
“Memangnya ada berapa Hari di SMA?”
“Dua. Hari satu, Hari dua. Kamu yang mana?”
Kau tertawa.
Astaga. Aku ingat tawa itu. Dia yang dulu menertawakanku paling keras saat acara gebyar seni. Pasukan kepiting bawa aku pergi.
“Sepertinya kau sudah ingat. Ayo kuantar pulang!” ajakmu.
Aku menunjuk helmmu tanpa berkata.
“Ah! Iya helm ya,” katamu seraya garuk-garuk kepala.
Capit satu, capit dua aku galau. Dia ternyata orang yang kukenal sangat menyebalkan dulu. Haruskah aku merestart ulang perasaanku? 
---------------------------------------------------


Minggu, 01 Januari 2017

Mangrove Edu Park Semarang, Yeah!

Sebelumnya berterima kasih sama Allah yang mengabulkan impian kecilku. Mendatangi mangrove di Semarang. Mangrove ini masuk dalam catatan kecil resolusi 2014. Berawal dari buka-buka medsos ya ada juga yang hijau-hijau di Semarang. Letaknya sih cuma di samping bandara Ahmad Yani tapi 2014 pernah mencari turun di parkiran keliling bandara belum menemukan tanda-tanda jalan menuju ke sana yang ada forbidden di larang masuk. Setelah parkiran bandara penuh dan disuruh keliling ke pangkalan taksi barulah terlihat plang "Pantai Maron" di dekat rel kereta api. Langsung doa di tempat Ya Allah aku pengen ke situ. Konon katanya letak ini mangrove dekat dengan Pantai Maron. Ternyata ini mangrove dulu baru Pantai Maron. 

Jalan menuju ini mangrove kalau kendaraan roda dua bisa lewat Jl. Jembawan sebelum Taman Makam Pahlawan kalau dari arah Kendal. Kalau kesulitan ada petunjuk terpampang di jalan SMK Penerbangan. Berhubung kami dari arah Semarang Kota kisah indah terjadi. Kami dari Tugu Muda lewat Pasar Bulu dan naik fly over lihat itu petunjuk Jl. Jembawan cari putaran. Sebenernya bisa putar di bangjo karena lalu lintas ramai temen yang di depan lurus saja. Giliran ada belokan dilarang putar balik. Ada bangjo lagi posisi kami di tengah badan jalan terpepet kendaraan lain. Akhirnya pasrah kami putar balik hampir sampai Terminal Mangkang. HAHA

Akhirnya setelah melewati beberapa traffic light papan baleho besar dekat halte busway dan tulisan SMK Penerbangan kami belok kiri dan lurus terus sampai bertemu jembatan dan rel. Terlihat plang Pantai Maron ke kiri. Mangrove Edu Park 3 km. Mulailah kami memasuki zona jalan kritis. Ini Jawa lho, samping bandara masih ada ternyata jalan beginian seperti jalan kebun di Kalimantan. 

Beberapa kali hampir terpeleset saat badan jalan berubah menjadi lumpur semua dan tidak ada pilihan lain karena itu jalan satu-satunya. Beruntung hanya sepatu kami yang terkena lumpur. Mungkin sekitar 1,5 km kami semacam ada pos kami membayar Rp 5.000,- dan diberi karcis ternyata untuk biaya parkir. Lalu kami menempuh sisanya dengan jalanan yang sama penuh doa selamat sampai tujuan.


Akhirnya kami sampai di mangrove edu park. Kami masuk setelah membayar Rp 5.000,- di loket. Begitu masuk langsung disambut gardu pandang warna putih biru. Berhubung banyak orang kami memilih berjalan-jalan sejenak. Jalan mangrove ini dari potongan batang bambu yang disusun berjajar. Bagusnya nggak merusak sepatu seperti di mangrove PIK Jakarta. Tapi tetap harus berhati-hati ada beberapa yang njlebos dan mengagetkan ketika diinjak.


Setelah putar-putar kami kehausan ternyata disediakan warung dan pondok-pondok kecil untuk beristirahat. 



Setelah puas jepret jepret kami menarik nafas panjang dan mempersiapkan diri untuk kembali menempuh jalanan licin dan penuh tantangan. Asik kali kalau pakai Jeep atau motor trail. HAHA.
Sesama yang buta arah di Semarang sebelah situ kami bisa sampai jalan raya kembali tapi setelah naik fly over kelar sudah peta konsep bubar jalan. Lama-lama jalan yang kami lewati terasa asing. HAHA kami masuk ke jalur Terminal Terboyo-Tanjung Mas sepertinya. Mulai sadar ketika baca petunjuk arah PRPP ke kiri, maju lagi Madukoro ke kanan. Kami pun putar balik dan mencari tanda ke arah Kota. Akhirnya lewat jalan Anjasmara. Untung paham dikit-dikit daerah situ jalan aja terus akhirnya ketemu jalan raya belok kiri Taman Madukoro. Selamat. Mampir cari mushola/masjid ketemunya pom bensin. Tahu apa yang kami lakukan selain sholat HAHA membersihkan sepatu. Kerja bakti siram air sama ngelap sepatu pakai tisu. Sepatu teman warna putih udah blepotan semua, untung punyaku warna tanah. HIHI yang nggak kepikiran beli sepatu jadi beli sepatu.


Hasil dari perjalanan kami. Motor teman yang habis dicuci, butuh dicuci lagi. HAHA Maaf ya nggak bisa bantu nyuci motor kamu.
Pelajaran berharga:
- Kalau ke sana lagi jangan pas malamnya habis hujan. Walaupun ke situ pas nggak hujan malamnya hujan itu genangan air di badan jalan bikin licin dan becek. 
- Bersyukur karena punya teman cewek yang strong, bisa dikasih kesempatan melihat secara langsung keindahan alam di samping bandara, dapat pengalaman berharga sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Sekian. Perjalanan Mencari Mangrove selesai.

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...