Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

KU YAKIN CINTA

Selepas penantian panjang. Aku bertemu lagi denganmu. Kamu memakai kemeja rapi berbeda denganku yang serampangan. Kaos oblong dan cardigan biasa. Hari ini kita tidak kompak. Seperti bumi dan langit. Lama tidak bertemu mungkin membuat kita menjadi dua orang yang berbeda. "Halo, halo! Yang ditunggu sudah datang ini," teriak Dona seraya cipika cipiki denganku. "Kurang siapa lagi?" tanyaku. "Sudah lengkap karena hanya ini yang bisa datang," celetuk Radit.  Ekspektasi reuni besar tak sesuai harapan. Hanya ada kami berlima termasuk kau. "Menunya apa nih?" tanyaku penasaran. "Tenang nggak ada daging sapi untuk Syakira," jawab Radit.   Aku tertawa. "Masih inget aja," balasku ke Radit. "Iyalah dulu kamu tetap maksa makan bakso rusuk. Akhirnya kamu muntah-muntah di toilet. Itu kejadian yang nggak terlupakan."  Glekk. Aku memanggil ingatanku. Hari itu hujan dan kami kelaparan. Hanya ada tukang jual bakso. Akhirnya kami singgah. Karena…

Asal Kau Bahagia

Kupikir akulah yang memenangkan dirimu. Sejak kau keluar dengan kebaya biru dari balik tirai dan tersenyum manis mendekat padaku. Saat kau katakan “ya” di depan keluarga besarku debar dadaku melonjak senang. Kupikir aku telah memilikimu sepenuhnya semenjak di depan penghulu kuikrarkan kata cintaku. Ayahmu menyerahkanmu padaku dan bersaksi aku pada Tuhanmu. Kesakralan janji suci kala itu kupikir adalah bukti kau milikku. Kurasa semua hanyalah anggapan-anggapanku. “Ara, kamu melamun lagi?” Kau terperanjat melihatku tiba-tiba di belakangmu. “Ah, tidak. Aku hanya sedang menikmati pemandangan dari atas sini.” “Kamu merindukan rumahmu?” “Iya, ini masih terasa aneh. Kemarin aku masih melihat ayah dan ibuku tiba-tiba sekarang hanya ada kita berdua di sini.” “Kita bisa mengunjungi mereka kalau kau sedang rindu.” “Tidak, Bang. Aku harus terbiasa begini. Nanti kau bilang aku manja tidak bisa lepas dari orang tua.” “Tidak, tidak. Aku tak akan menganggapmu seperti itu. Kau belum terbiasa. Mungkin ini ber…

Hingga Detik Ini

Kau di kepalaku menepilah. Aku ingin kebisinganmu berhenti sejenak. Riuh di kepalaku memanggilmu, mengenang wajahmu. Mataku mengerjap bayangmu ikut hadir. Ah, mimpilah aku memadu kasih kembali denganmu. 

"Bar, ini kopi siapa?"  Suara Tora terdengar dekat. Kutolehkan wajahku. Benar saja tak terdengar suara pintu terbuka tahu-tahu itu orang sudah di dalam. "Itu kopiku tapi kalau kau mau bolehlah buatmu. Nanti aku buat lagi," jawabku kembali melanjutkan pekerjaan mengecek bahan-bahan yang masih. "Tumben sepi," ujarnya sambil celingukan. Kulirik jam dinding di bawah pintu. "Ini masih jam delapan."  "Jam delapan dari mana ini sudah hampir jam sepuluh. Biasanya jam setengah sepuluh sudah buka. Melamun ya?" Kuperhatikan dengan saksama tak ada jarum yang bergerak detikannya berhenti. "Sial, jam dindingnya mati. Butuh baterai baru.”   “Bos kok nggak bisa beli baterai jam. Itu sih kecil,” ejeknya. “Kamu tadi masuk dari mana?" tanyaku mengalihk…

KU DENGANNYA, KAU DENGAN DIA

Pintu gate 3 sudah dibuka. Aku langsung beranjak dan antri berdiri di gate 3. Entah mata yang salah atau memang hanya mirip aku melihat sosokmu yang telah lolos dari pengecekan boarding pass. Ah, hanya perasaanku saja. Kutepis pikiran itu jauh dan bergegas naik ke burung besi mencari tempat duduk. “Permisi!” ujarku ketika melihat nomor tempat duduk bermaksud minta izin si empunya yang duduk di sebelah. Kupikir di sebelahku perempuan ternyata laki-laki. Ah, apalagi baju yang kulihat seperti sosokmu tadi. Ketika sosok itu membuka kacamata hitam dan topi bukan main dibuat kaget. “Lho, mau ke Bali juga?” tanyamu melempar senyum. Deg. “Ah, iya!” jawabku canggung. Dadaku berdesir nyeri. Air mataku muncul di sudut. Aku mengatur nafasku tak ingin ingatanku bergerak mundur. “Duduklah! Kau mau di samping jendela?” Kau menawariku. “Boleh?” tanyaku ragu-ragu. “It’s okay. Tak masalah. Kamu seperti sama siapa saja,” ujarmu seraya berdiri memberiku jalan. Aku duduk merenggangkan kakiku dan menge…