Minggu, 24 Desember 2017

KUIKHLASKAN WALAU CINTAKU LEBAM MEMBIRU





Air mataku perlahan menetes. Kusaksikan dengan kedua bola mataku dia, penghulu, wali dan saksi saling berhadap-hadapan. Dengan satu tarikan nafas lancar diucapnya. Diiringi kalimat sah yang menggema ia menghela nafas lega. 

"Alhamdulillah," katanya.

Dia tidak akan tahu bagaimana rasanya berada di posisiku. Ikhlaskan saja batinku dalam hati. Aku mengusap air mataku dan tersenyum. Ini salahku. Aku sempat ragu dan memilih diam. Andai saja waktu itu aku mengatakan sesuatu atau bahasa lain. Mungkin lewat isyarat anggukan kepala atau penolakan halus, aku pasti tak akan semenyesal ini. 

Mempelai wanita keluar dan menghampirinya. Si wanita menitikkan air mata haru. Ia menjabat dan mencium tangan mempelai pria. Sekelibat aku tak kuasa menyaksikan dan memutuskan untuk pergi. 
"Kau mau kemana?" Tasya bertanya.
"Aku ke toilet sebentar," jawabku.
"Aku ikut," ujarnya.
Tasya membuntutiku di belakang. Bagaimana ini aku ingin melarikan diri. Ingin menangis sejadi-jadinya biar lega. Tapi Tasya terus mengikutiku. Aku tidak akan mampu menangis di hadapannya. 
"Kau ikhlas?" Tasya tiba-tiba bertanya saat sampai di toilet perempuan.
"Apa?" 
"Jangan berbohong kepadaku. Kau pernah bercerita padaku. Kau lupa?" katanya memberondong. 
"Tentang apa? Aku belum mengerti apa yang kau katakan," tukasku sembari menyalakan kran di wastafel dan mencuci tangan. 
"Hatimu. Apa kau tak sakit melihat Reza akhirnya menikah dengan Dona? Padahal kau tahu Reza menyukaimu." 
Deg. 
"Kata siapa?"
"Hei, jangan pura-pura lupa. Kau pernah bercerita. Reza pernah menyatakan perasaannya padamu." 
"Oh, itu. Itu sudah sangat lama," tukasku mematikan kran. 
"Jawab aku. Walaupun itu lama tapi masih membekas kan?" tanya Tasya sembari memegang kedua bahuku dengan tatapan menelusur. 
Aku gugup. Dia bukan cenayang. Dia tidak akan bisa membaca perasaanku. 
"Kau diam. Kecurigaanku benar. Aku heran kenapa kau tidak katakan saja padanya. Aku jadi geregetan. Diammu itu bukan jawaban seharusnya menimbulkan pertanyaan. Tapi dia juga tidak peka. Tidak mau mencari alasan mengapa kau melakukannya." 
Glek. 
"Mereka sudah bersama waktu itu." Kujawab sekenanya.
"Apa?" Nada Tasya menaik.
"Mereka sudah bersama saat Reza mengungkapkan perasaannya padaku."
"Oh, my God. Jadi itu yang dulu kau bilang saatnya yang tidak tepat. Jadi benar kalimat itu kadang ada orang yang tepat hadir disaat yang tidak tepat dan ada orang tidak tepat hadir disaat tepat. Tapi yang paling beruntung diantaranya bila bisa mendapatkan orang tepat disaat yang tepat. Aku bisa paham sekarang." 
"Bukankah itu pilihan yang sulit?" tanyaku.
"Ya sulit untukmu tapi mudah untukku jika aku tak memperdulikan kata orang." 
"Tapi aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Sekalipun aku tak mengenal wanita itu. Aku tak bisa melukai perasaannya. Kurang bijak rasanya jika kukatakan yang sebenarnya."
"Dan kau mengorbankan perasaanmu? Kau pernah di posisi itu bukan? Masa lalumu yang kelam itu. Bagaimana rasanya hanya orang-orang yang mengalaminya yang paham. Aku tidak akan pernah mengerti." 
Aku terdiam. Aku seperti sedang dikonseling oleh Tasya.
"Kau sudah istikharoh?"
"Aku pernah melihat dimimpiku seorang lelaki yang lebih tinggi dariku. Ia mengenakan kaos hitam berkacamata."
"Lalu?" 
"Aku melihat wajah Reza bersama teman-temannya. Ia terlihat malu-malu. Tapi aku juga melihat wajah lain yang bertanya bagaimana kabarku." 
"Lalu kau bimbang?"
"Ya. Tentu saja. Lalu beberapa hari kemudian wajah Reza lagi yang terlihat dimimpiku kami bercerita di atas puncak bersama," jelasku.
"Dua lawan satu." 
"Tapi suatu hari aku bermimpi lagi tentang laki-laki yang bertanya kabarku. Ia berjalan beriringan bersamaku. Aku merasa berada di daerah pegunungan." 
"Lalu sampai sekarang tidak adakah yang membuatmu merasa nyaman?" 
Aku menggeleng. "Keduanya sama-sama membuatku resah dan bingung. Kami sama-sama tidak dipertemukan dan tak berkomunikasi. Tapi sekarang aku sudah tahu jawabnya. Mungkin jodohku bukan Reza." 
"Aku tahu jodoh tidak akan tertukar. Tapi jodoh seharusnya bisa diusahakan. Kalau kau diam tidak menahannya mereka akan pergi." 
"Entahlah hanya Allah yang tahu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikhlaskan. Aku sudah memasrahkan segalanya. "
"Ilmu ikhlas itu sulit. Yakin kau bisa ikhlas? Kalau aku jadi kau tak semudah itu kata ikhlas terucap dari mulutku."
"Ikhlas itu letaknya di hati bukan hanya diungkap dengan kata-kata. Biarkan aku dan Allah yang tahu."
"Baiklah letaknya di hati tapi mata tidak pernah berbohong. Tyas kau ingin menangis bukan? Menangislah aku akan jaga pintu luar. Akan kupinjam peralatan cleaning service dan menunggu di luar. Akan kukatakan pada mereka yang akan masuk kalau toilet sedang dibersihkan." 
Deg. 
"Tidak usah. Aku baik-baik saja. Aku akan kembali ke sana." 
"Yakin? Kenapa kita tak langsung pulang?" 
"Kita belum bertemu Reza. Jangan sampai dia berpikir kita tak datang." 
"Mbak." 
Tiba-tiba ada orang yang berdiri di depan pintu masuk. Kami berdua sama-sama kaget. Sejak kapan ibu itu berdiri di situ.
"Kami sudah selesai bu. Silahkan!" Tasya mempersilahkan ibu itu dan menarik tanganku untuk segera pergi bersamanya tapi di sisi lain tanganku ditahan oleh ibu itu. 
"Tunggu, mbak. Saya mendengar semuanya."
Deg. Raut wajah Tasya mencemaskanku. Ia berisyarat itu ibunya Reza. 
Glek. Mau ditaruh di mana wajahku. Kusembunyikan di mana rasa maluku. 
"Benar, mbak sudah ikhlas?" tanya ibu itu.
"Iya bu. Saya sudah ikhlas. Saya sudah menyerahkan segala urusan pada Allah. Allah yang mengatur segalanya." 
"Saya tidak tahu kalau akan seperti ini. Kita bertemu di sini. Saya ibunya Reza. Reza sudah bercerita banyak tentang mbak. Mbak yang lebih dulu ditawari olehnya." Ibu itu diam sesaat. 
Keringat dingin mengucur. Dahiku basah. 
"Ibu yang salah. Ketika Reza meminta pertimbangan, ibu yang mengarahkan Reza untuk memilih istrinya sekarang. Padahal ibu tahu Reza menyukai mbak. Tidak mungkin ketika Reza sudah bersama dengan perempuan pilihannya tetapi masih memilih mbak. Bisa jadi Reza menyukai mbak sebelum bersamanya tapi dia tidak memiliki keberanian mengungkapkannya. Baru setelah ada seorang perempuan yang menerimanya ia memiliki keberanian untuk mengatakannya. Maafkan ibu ya." 
"Tidak apa-apa bu itu murni kesalahan saya. Saya yang dulu tidak memberinya kepastian dan Allah yang mengatur semua. Semua sudah menjadi ketetapan-Nya." 
"Ibu benar-benar minta maaf." 
"Jangan seperti itu bu. Saya ikhlas bu. Jika tidak seperti ini mungkin saya tidak akan belajar banyak bahwa kesempatan hanya datang satu kali." 
"Sekali lagi ibu minta maaf yang sebesar-besarnya." 
Air mataku mengalir di sudut. Tiba-tiba saja tak bisa kukendalikan. 
"Ibu tidak salah." Aku memeluk ibu Reza seraya mengusap air mata.
"Ada kalanya dunia begitu kejam dan ujian silih berganti. Tapi ibu yakin mbak bisa melaluinya. Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan hamba-Nya." 
Ibu Reza membelaiku. 
"Demi kebahagiannya bu. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya." Aku melepas pelukan. "Bu saya mau menemui Reza sekalian pamit," lanjutku.
"Mari ibu antar. Ibu mau kalian foto bersama dulu sebagai kenang-kenangan." 
Tasya membelalak. Ia menggenggam tanganku erat. Aku menepuk tangannya sebagai isyarat aku baik-baik saja. 
Ibu Reza berjalan di depan. 
Aku berkata lirih pada Tasya, " Aku kuat. Allah bersamaku." 
Lalu Tasya pun menepuk bahuku. 
Mencintai makhluk-Nya akan semenyakitkan ini saat tak bisa meraihnya. Allahlah Sang Maha Perencana jangan kau salahkan takdir-Nya. Jika tak ke toilet aku tak akan bertemu ibunya Reza. Segalanya sudah ada yang mengatur. 
Mencintainya cukuplah dengan merelakan. Bahagia bisa datang dari sudut mana saja. Kuikhlaskan jika memang takdir berjalan seperti ini. Biarlah cintaku lebam membiru. Suatu saat pasti aku akan lupa rasa sakitnya. 
"Hai, Reza. Aku sudah datang," sapaku. 
Kami sama-sama berdiri dan dia tersenyum. Tatapan yang masih sama. Ada aku di sana di sudut bola matanya yang kurelakan menghilang. 


--------------------------------
Andaikan kabut 
Tak menyulam hari hingga berlarut larut
Andaikan hidup ada harapan
Mencintaimu sebagai bagian terindah di hidupku
Tak kubiarkan kau tak bahagia
Berjuta fatwa cinta yang ada 
mengantarku pada kenyataan
Hati ku memeluk bayang-bayang
Ingin denganmu tapi tak bisa
Aku bukan aku yang dulu 
namun cintaku seperti dulu
Merelakanmu aku merasa bagai bulan dikekang malam
Aku ikhlaskan segalanya
Walau cintaku lebam membiru
Sakit namun aku bahagia
Kuterima segala takdir cinta (Rossa)

Minggu, 19 November 2017

JANGAN BILANG LAGI ITU TERLALU TINGGI




Dering telepon jam sembilan malam membuatku gusar. Perempuan itu sendirian di sana. Ia membutuhkan bantuanku. Suara isaknya membuat nyeri dadaku. Tapi aku tak sebebas dulu, seorang perempuan lain telah di sisiku.
“Kamu kenapa tidak jadi tidur, Bang?” Perempuanku berbalik dari posisi tidurnya menatapku.
“Ah, iya ini tadi ada telepon.” Aku meletakkan handphone-ku ke meja.
“Dari siapa, Bang?”
“Dari Wulandari,” ujarku jujur.
Perempuanku  terdiam.
“Tapi tidak apa-apa. Aku akan tidur.” Aku menarik selimut dan menepuk bantal.
Sisil menggenggam tanganku. “Bang, wajahmu tidak berkata demikian. Kau terlihat gusar. Apa dia ada masalah?” tanyamu meneduhkan.
“Dia baru saja mengalami masalah. Dia sendirian. Dia tidak akan meneleponku jika ia bisa memecahkannya sendiri.”
“Lalu kau mau menemuinya, Bang?”
Aku terdiam. Jika aku pergi bagaimana dengan perempuanku, jika aku tak pergi bagaimana dengan Wulandari yang sendiri di tempat asing.
“Bang, kalau kau mau menemuinya aku tidak apa. Ia lebih membutuhkanmu malam ini. Bantulah dia.”
“Benarkah kau tidak apa-apa? Atau kau ikut saja.”
“Tidak, Bang. Aku takut ia tidak bisa meluapkan emosinya jika aku ikut. Aku percaya kau tak akan berada di tempat yang sunyi, Bang. Kau akan menjaga dirimu untukku. Selalu ingatlah hati yang kutitipkan padamu.”
Aku tersenyum. Suatu keberuntungan memiliki perempuanku. Kugenggam erat tangannya. Ia beranjak membantuku berganti baju.
“Bang, sudah bawa kunci depan. Mungkin nanti aku sudah tidur kalau kau pulang.”
“Aku sudah membawanya. Tidurlah yang nyenyak. Doakan saja semoga tidak lama.”
Sisil tersenyum. Aku bergegas menemui Wulandari.
Beberapa kali kuhubungi dalam perjalanan perempuan itu tidak mengangkatnya. Pikiranku pergi kemana-mana. Ini pertama kalinya dia berisak tangis lewat telepon.
Aku langsung masuk ke dalam caffe di sepanjang jalan yang disebutkan di telepon. Beberapa kali keluar masuk tak kutemui. Sudah bolak-balik bertanya tak ada yang melihatnya. Sudah satu jam berputar pikiranku menjadi kalut. Tak mungkin dia bertindak bodoh. Seorang yang cerdas sepertinya tidak akan melakukannya.
Kakiku berhenti pada satu kedai kecil. Caffe meong. Ternyata dia berada di angkringan. Kulihat ia meminum jahe hangat.
“Kau tahu satu jam aku mencarimu. Ternyata kau di sini,” kataku seraya duduk di sampingnya.
Wulandari menoleh. Mata nanar yang kudapati tanpa berkata-kata.
“Kau habis menangis?”
“Aku tidak tahu jalan pulang. Ini di mana?” tanyamu.
“Jadi kau menangis karena tidak bisa pulang. Kenapa tidak pesan taksi saja?”
Dia diam. Aku menangkap kebohongan di sudut matanya. Tidak mungkin orang dia tidak bisa pulang di zaman yang serba canggih seperti ini.
“Kamu tahu bahaya perempuan sendirian malam-malam keluyuran begini. Apalagi kau memakai gaun begini,” celetukku seraya memakaikan jaket kepadanya. “Kau dari mana kenapa bisa sendirian dan sampai malam begini?”
Air matanya menetes.
“Oke sekarang kita cari caffe saja. Di sini dingin tempatnya terbuka kau bisa masuk angin nanti.”
Wulandari mengiyakan ajakanku. Kami berjalan menuju caffe terdekat. Ia tidak langsung duduk tapi izin ke toilet dulu. Aku menunggunya duduk di sudut dan memesan minuman hangat.
“Duduklah sudah kupesankan hot chocolate,” kataku saat ia kembali.
Matanya melihat cangkir kopi. “Itu kopimu? Sudah kau minum?” tanyanya sembari menunjuk.
“Belum. Kalau kau mau untukmu saja.” Aku menggeser cangkirnya mendekati Wulandari. “Bagaimana perasaanmu sekarang? Kalau kau ingin menangis menangislah. Jangan ditahan!” seruku.
“Aku capek,” ujarnya sambil bersandar di kursi.
Aku diam. Mungkin kau akan mengeluarkan kata-kata panjangmu. Satu menit, dua menit, tiga menit tak ada kata-kata setelahnya.
“Kamu capek kenapa?” tanyaku kemudian.
“Apa pekerjaanku buruk?” Ia balik bertanya.
“Tidak,” jawabku.
“Apa aku jelek?”
“Tidak. Kau cantik, pintar.”
“Apa salah kalau tidak bisa naik motor, menyetir mobil?”
“Tidak. Tidak ada yang salah.”
“Apa salah kalau aku fobia darah?”
“Tidak itu manusiawi. Ada beberapa orang yang juga mengalaminya.”
“Aku sadar aku tidak kaya. Aku hanya orang biasa.”
Aku diam tidak komentar.
“Lalu apa harus aku direndahkan kalau aku tidak kaya, bukan seorang dokter, jelek, tidak bisa naik motor ataupun menyetir mobil.” Perlahan linangan air matanya muncul.  “Kau tahu aku sudah mengidamkan menikah diusia ini, setahun lagi memiliki anak yang lucu. Impian hanya tinggal impian. Impianku karam. Aku pikir selangkah lagi aku bisa mewujudkannya tapi ternyata Tuhan bilang tidak.”
Aku tertegun. Dadaku nyeri. Aku bisa merasakan bagaimana sakitnya.
“Aku tidak apa ditolak baik-baik tapi jangan dibandingkan dengan orang lain. Aku tahu aku tidak ada apa-apanya. Aku tahu dia dari keluarga kaya, kenapa dia memilihku? Kenapa juga aku mau dengannya?”
Aku bungkam tak ada kata-kata yang akan menenangkannya.
“Aku tahu dia anak satu-satunya tapi tak bisakah dia membelaku sedikit saja. Aku sama sekali tak ada artinya di sana. Aku tahu ia menyayangi ibunya. Tapi tak tahukah dia bagaimana rasanya tercabik-cabik dan merasa sendirian.”
Tiba-tiba Wulandari tertawa. “Ah! Untung baru sampai di sini. Tuhan sudah menunjukkannya. Tak terbayang bagaimana jika aku jadi dengannya. Pasti banyak piring pecah," celetuknya diakhiri helaan nafas.
Ia menghabiskan kopi dengan sekali teguk. “Akhirnya plong. Lega rasanya sekarang. Kamu memang sahabatku yang  paling TOP. Jam segini rela mencariku dan mendengarkan ceritaku yang tidak penting ini. Mana sudah punya istri. Memangnya Sisil tak apa-apa kau menemuiku?”
“Iya dia yang menyuruhku menemuimu.”
“Hebat ya. Dia tidak takut aku merebutmu darinya.”
Deg. Mataku membelalak.
Wulandari tertawa. “Bercanda. Jangan serius. Kau tahu aku baru gila. Mana mungkin aku mengambil suami orang. Aku tak akan setega itu.”
“Lalu setelah ini rencanamu apa, Lan?”
“Aku mau di sini saja. Padahal aku dari tadi di sini rasanya tadi habis naik ke puncak. Kupikir di atas aku akan menemukan pemandangan yang indah, nyatanya menyesakkan. Mungkin aku terlalu muluk. Aku tidak pantas berada di sana.”
“Tidak ada yang tidak mungkin, Lan. Kamu hanya belum menemukan puncak yang pas.”
“Iya mungkin ketinggian ya. Harusnya aku pilih yang bukit saja.” Sekali lagi Wulandari tertawa.
“Lalu kamu sudah menyerah dengan rencana menikahmu di usia ini?”
“Aku capek. Aku mau begini saja dulu. Menunggu dia yang kasih aku air putih saat sedang dahaga. Apa itu masih terlalu tinggi?”
“Jadi kau haus. Ini hot chocolate-nya buat kamu sekalian. Tapi sudah dingin.”
Wulandari tersenyum. “Bahkan kau saja memberiku hot chocolate bukan air putih. Sayang sudah ada yang punya.”
Aku kikuk garuk-garuk kepala. Tiba-tiba teringat perempuanku. Kupandangi layar handphone wajahnya yang tersenyum. Ah, Sisil pasti sudah tidur. Walau senyum mereka berdua sama dengan lesung pipit tapi hatiku tetap buat Sisil seorang.
“Oh, ya bagaimana kau bisa berada di sekitar sini tadi? Ini kan berlawanan arah dengan rumahmu.”
“Setelah cekcok panjang aku suruh dia menurunkanku di sini,” jawabnya sambil nyengir.
"Dasar perempuan." Aku menipuk jidatku dan geleng-geleng kepala.

-----------------------------
Sahabatku usai tawa ini
Izinkan aku bercerita
Telah jauh kumendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana
Telah jauh kuterjatuh
Pedihnya luka didasar jurang kecewa
Dan kini sampailah aku di sini
Yang cuma ingin diam duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya
Saat ku terbaring sakit
Yang sudi dekat mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik pandang aku kau tak sendiri oh dewiku
Dan demi Tuhan jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

(Dewi Lestari)

Sabtu, 14 Oktober 2017

KU YAKIN CINTA





Selepas penantian panjang. Aku bertemu lagi denganmu. Kamu memakai kemeja rapi berbeda denganku yang serampangan. Kaos oblong dan cardigan biasa. Hari ini kita tidak kompak. Seperti bumi dan langit. Lama tidak bertemu mungkin membuat kita menjadi dua orang yang berbeda.
"Halo, halo! Yang ditunggu sudah datang ini," teriak Dona seraya cipika cipiki denganku.
"Kurang siapa lagi?" tanyaku.
"Sudah lengkap karena hanya ini yang bisa datang," celetuk Radit. 
Ekspektasi reuni besar tak sesuai harapan. Hanya ada kami berlima termasuk kau.
"Menunya apa nih?" tanyaku penasaran.
"Tenang nggak ada daging sapi untuk Syakira," jawab Radit.  
Aku tertawa. "Masih inget aja," balasku ke Radit.
"Iyalah dulu kamu tetap maksa makan bakso rusuk. Akhirnya kamu muntah-muntah di toilet. Itu kejadian yang nggak terlupakan." 
Glekk. Aku memanggil ingatanku. Hari itu hujan dan kami kelaparan. Hanya ada tukang jual bakso. Akhirnya kami singgah. Karena penasaran bakso rusuk seperti apa aku mencoba memesannya. Hasilnya kutelan kuahnya dan perutku merespon hal yang tak kubayangkan. Radit sampai menepuk bahuku dan menyuruhku mengeluarkan semua. 
"Masih ingat kan habis itu kamu bersumpah nggak akan makan bakso rusuk lagi." 
Aku tertawa geli. 
"Kalian berdua nggak ajak-ajak sih," sindir Jojo.
"Kalian berdua sudah ngacir duluan. Kami berdua ketinggalan di belakang kelaparan." 
"Ya harusnya kan kalian bisa bilang kami nyusul." 
"Dulu hape aku sama Radit sama-sama lowbat."
"Alasan biar kalian berdua aja kan," ejek Dona. 
"Don, hati-hati ngomongnya. Inget ada pacarnya Syakira."
Pacar. Astaga. Aku sampai lupa. Aku datang denganmu tidak sendirian. Kau sudah datang rapi-rapi tapi aku abaikan.
“Terlalu asyik sampai dilupakan,” sindir Jojo. “Kenalin ke kita dong!”
“Kenalkan ini Bara. Bara ini teman-teman seperjuanganku. Ini Jojo, Dona, dan yang paling cantik Radit,” kataku ditutup dengan tertawa. “Dit, aku bercanda jangan dimasukan ke hati.”
"Maaf, Bar. Kami tadi cuma bercanda kok. Biasa kalau ketemu yang begini," jelas Dona.
"No problem. It’s okay," jawabmu.
Deg. Mendengar jawabanmu radarku menangkap sinyal bahaya. Wajahmu datar sepanjang kutatap. Ah, mungkin saja kau masih lelah setelah menempuh beberapa jam perjalanan.
“Prakata sudah selesai. Sekarang kita pesan menu spesial hari ini,” celetuk Jojo duduk dan membuka-buka menu.
“Jo, aku pesan seperti kamu,” kata Dona.
“Kamu kan nggak tahu pesananku,” balas Jojo.
“Menunya terlalu banyak, yang ada aku lama kalau nggak kalap nanti.”
“Jo, gimana kalau menunya yang bisa buat bersama aja daripada kita buka menu setebal itu,” celetuk Radit.
“Setuju. Kalau kamu, Bar?” tanyaku.
“Aku ikut saja,” jawabmu.
 Glek. Sejak kapan kosakata itu muncul di kepalamu. Ah, hari ini kamu seperti orang asing.
“Kalian ketemu dimana?” tanya Dona tiba-tiba menguak kisahku.
Aku menatapmu dan tersenyum. Kau mengabaikanku. “Dia teman kuliahku dulu.”
“Teman kuliah? Tunggu berarti kalian LDR?” celetuk Jojo teralih dari buku menu.
“Jo, kamu lanjutin pilih menu saja. Nggak usah ikut kepo,” sindir Dona.
Aku mengangguk. “Iya dia udah jauh-jauh menemaniku. Dia baru datang langsung aku ajak ke sini.”
“Hati-hati lho LDR banyak setannya!” seru Radit.
“Sering ketemu berduaan terus, malah banyak setannya.” Dona tak mau kalah.
“Ih, kalian ini ngomong apa sih? Di sini nggak ada menu mie setan jadi jangan bawa-bawa ke sini,” potong Jojo. “Aku mau pesan. Deal ya pesanan kalian sama denganku. Bang sini!”
Hening. Hanya Jojo yang bersuara memesan menu. Aku hanya pandang-pandangan dengan Dona. Ingin mengomentari pesanan Jojo yang aneh-aneh. Ah, tapi sudahlah hanya bisa berdoa semoga enak.
“Sya, aku masih pengen kepo nih! Boleh ya?” tanya Dona.
“Nggak boleh,” jawabku.
“Bar, aku lihat kamu itu tipe cowok yang rapi tapi kok mau sama ini anak sih?” tanya Dona ngeyel.
Kamu tersenyum dan garuk-garuk kepala.
“Lihat, Bara saja sampai bingung bagaimana mau menjelaskan,” ejek Jojo.
“Jangan salah Syakira kelihatannya saja serampangan, kalau sudah ketemu kerjaan dia yang paling rajin di antara kita,” puji Radit membuatku sedikit terbang.
“Iya benar. Kamu benar, Dit. Sampai-sampai kalau dipanggil nggak dengar dia. Mesti ditabok baru menoleh,” kata Dona sambil menepuk bahuku.
“Apaan sih? Nggak selebai itu juga.”
“Dan Syakira itu kalau udah nggak mood susah orangnya. Pernah waktu proyek kelompok dia nggak setuju sama ideku. Jadinya ngambek dan nggak bisa dibujuk.”
“Owh, jadi dulu waktu ngambek tujuh hari tujuh malam gara-gara Radit. Yang kena semua orang.”
“Hei, itu masa silam. Nggak usah diceritakan lagi.”
“Jadi serius Sya gara-gara kita pakai idenya Radit dulu kamu ngambek?”
“Nggak. Radit mengada-ada. Bukan karena itu.  Sebenarnya gara-gara ada masalah sama seseorang. Kalian tahulah siapa yang bisa merubah mood-ku dengan cepat.”
“Gara-gara Dery tuh bubar dunianya. Guling-guling dia di lantai. Pencet bel puluhan kali gangguin orang di dalam rumah.”
“Ah, kamu sih ceritanya dulu cuma sama Radit. Kalau cerita sama kita berdua udah habis itu anak.”
“Maka dari itu aku nggak cerita sama kalian.”
"Pokoknya Bar kamu harus jagain dia. Perlu kamu tahu, di masa lalunya dia pernah terjatuh sendiri. Tapi dia tidak ingin orang lain membantunya. Jika itu terjadi lagi jangan biarkan dia sendiri." 
"Tentu saja."
"Dan lagi kalau tiba-tiba otaknya konslet ingin putus tahan dia. Dia hanya mengujimu sampai dimana kamu sanggup bertahan." 
"Apaan sih, Dit?" 
"Ya biar Bara waspada. Ini anak kalau sudah bilang putus, aku yang bakal direpotin. Ini anak nerocos panjang dengan pertanyaannya." 
"Benarkah?" tanya Bara singkat.
"Hati-hati saja. Aku nggak mau lihat dia nangis tujuh hari tujuh malam di depan gerbang rumahku," kata Radit membuatku malu.
Reuni berakhir dengan pembicaraan tentangku. Aku dan kamu dibahas habis. Tapi kulihat ekspresimu benar-benar berbeda.
"Bar, kok kamu diam dari tadi. Kamu marah." 
"Nggak," jawabmu singkat.
"Kok kamu kayak cewek sih. Bilang nggak tapi wajah kamu beda. Bukan seperti kamu yang biasanya." 
Kau diam sesaat sebelum petir datang. "Sebenarnya apa hubunganmu dengan lelaki itu?"
Duar. "Lelaki yang mana? Radit?" tanyaku. "Dia teman aku dari kecil."
"Dia sepertinya tahu lebih banyak tentang kamu daripada aku."
"Iya wajarlah. Dia kenal lebih lama dari kamu," jelasku.
"Bahkan dia tahu masa lalu kamu sedangkan kamu nggak pernah mau cerita padaku." 
"Bar, aku nggak ingin cerita karena takut kamu emosi dan kalau lihat mau nonjok orang itu. Aku lebih suka bicara tentang masa depan dengan segala hal yang realistis." 
"Tapi dia sepertinya yang lebih cocok denganmu daripada aku."
"Siapa Radit? Bar, kamu tahu kenapa aku pilih kamu padahal ada dia? Karena aku terlanjur nyaman denganmu. Kedekatanku dengan dia dibangun bertahun-tahun, tapi denganmu hanya butuh beberapa hari. Dia selalu bicara tentang masa lalu karena dia hanya tahu tentangku di bagian itu. Tapi tentang masa depan kamu dan aku yang tahu mau di bawa kemana."
Kau tersenyum. Aku lega.
“Kamu sejak kapan bisa merangkai kata begitu. Aku baru pertama digombali cewek.”
“Apaan sih? Kita baikan ya.”
“Memangnya aku marah,” katamu sambil berlalu dan menarik tanganku.
“Ih, nyebelin.”

-----------------------------------------
Kukira kutakkan mampu sadari,
Ketulusan cinta yang sempurna dibalik semua kekurangan ini
Namun denganmu, kutau cinta kan mengobati
segala hampa hatiku ini
Kini kupercaya, kini kupercaya
Kuyakin cinta slalu mengerti
Kuyakin cinta tak salah
Kuyakin cinta kan saling percaya 
(D'cinnamons)



Jumat, 15 September 2017

Asal Kau Bahagia






Kupikir akulah yang memenangkan dirimu. Sejak kau keluar dengan kebaya biru dari balik tirai dan tersenyum manis mendekat padaku. Saat kau katakan “ya” di depan keluarga besarku debar dadaku melonjak senang.
Kupikir aku telah memilikimu sepenuhnya semenjak di depan penghulu kuikrarkan kata cintaku. Ayahmu menyerahkanmu padaku dan bersaksi aku pada Tuhanmu. Kesakralan janji suci kala itu kupikir adalah bukti kau milikku. Kurasa semua hanyalah anggapan-anggapanku.
“Ara, kamu melamun lagi?”
Kau terperanjat melihatku tiba-tiba di belakangmu.
“Ah, tidak. Aku hanya sedang menikmati pemandangan dari atas sini.”
“Kamu merindukan rumahmu?”
“Iya, ini masih terasa aneh. Kemarin aku masih melihat ayah dan ibuku tiba-tiba sekarang hanya ada kita berdua di sini.”
“Kita bisa mengunjungi mereka kalau kau sedang rindu.”
“Tidak, Bang. Aku harus terbiasa begini. Nanti kau bilang aku manja tidak bisa lepas dari orang tua.”
“Tidak, tidak. Aku tak akan menganggapmu seperti itu. Kau belum terbiasa. Mungkin ini berat bagimu.”
“Abang benar, mungkin aku belum terbiasa dengan semua ini.”
“Kau kemarin bertemu siapa?”
“Kemarin? Siapa, Bang? Aku?”
“Iya, ketika di depan rumahmu sebelum kita pindah ke sini.”
“Oh, itu teman dari Jepang, Bang. Dia hanya mengucapkan selamat.”
“Oh, jadi dia hanya mengucapkan selamat.” Aku terdiam sesaat dan melanjutkan kata-kataku, “Dia sepertinya dekat dengan keluargamu juga ya.”
“Iya, Bang. Mungkin karena kami sudah berteman lama.”
Ekspresi wajah yang bisa kubaca sendu. Matamu nanar yang membuatku semakin jauh walaupun aku duduk di sampingmu. Kau terdiam cukup lama dalam lamunan. Seperti film pendek kejadian kemarin berputar di kepalaku.
“Ara kau masih mencintaiku kan?” tanya laki-laki itu.
“Tidak,” jawabmu.
“Aku melihat di matamu masih ada aku.”
“Tidak.”
“Lihat kau tak berani menatapku. Kenapa kau tidak menungguku? Padahal sebentar lagi aku selesai tesis. Kita sudah bertahan tujuh tahun, Ra. Kenapa kamu pilih dia?”
“Aku pernah mengatakannya saat kau menerima beasiswa itu. Kau seharusnya bisa menerima resikonya.”
“Tidak bisa. Ini tidak adil.”
“Kamu harus terima, Rey. Ini keputusanku.”
“Kamu hanya sepihak. Aku belum memutuskan untuk melepasmu.”
“Rey, kumohon.” Kau menangis dan dia mengusap air matamu.
Aku menepis pikiranku. Kau membawaku ke dalam suasana kemarin. Dadaku berkecamuk dan kuredam dengan helaan nafas.
“Ra, besok kita pergi ke pantai, yuk!” ajakku.
“Baik, Bang,” jawabmu datar. Kulihat tak ada ekspresi senang diwajahmu.
“Setelah dari sana kita berkunjung ke rumah orang tuamu.”
Kau hanya mengangguk.
Melihat responmu pikiranku kembali mengungkit peristiwa malam saat kudengar kau menerima panggilan telepon dini hari. Kau keluar dari kamar dan keluar ke balkon. Rasa penasaran membawa rasa ingin tahuku. Siapa yang telepon dini hari dan ternyata suara laki-laki itu.
“Aku mohon jangan ganggu aku lagi,” katamu seraya mondar mandir.
“Tidak bisa. Aku tahu kau masih mencintaiku.”
“Kamu salah aku sudah tidak mencintaimu lagi semenjak aku menerima pinangan Bang Rosyid.”
“Bohong. Aku melihat tatapan matamu itu masih menyimpan rasa untukku.”
“Kumohon jangan ganggu aku. Aku sudah bahagia dengan Bang Rosyid.”
“Suamimu itu pasti juga tahu kau tidak mencintainya.”
Kau terdiam lama.
“Dia percaya padaku. Aku mencintainya.”
Kata-katamu yang terlintas membuatku berpikir keras. Pernyataan itu benarkah dari dalam hatimu atau hanya selintas lewat. Mungkin benar kata lelaki itu kau tidak mencintaiku.
“Ra, setelah kupikir-pikir lagi. Kita tidak jadi ke pantai besok,” kataku ingin melihat responmu.
“Baik, Bang,” jawabmu membuat dadaku sesak.
Aku pikir patah hati itu menyakitkan. Ternyata ada yang lebih menyakitkan lagi, mencintai orang yang mencintai orang lain. Kalian tidak mendapatkan hatinya, hanya raganya. Kalian memiliki status tapi tak jelas. Kalian ingin membahagiakannya tapi dia tidak bahagia. Itu lebih buruk daripada putus cinta atau sakit karena ditinggalkan.


--------------------------
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong kau masih menginginkannya
Kurela kau dengannya asalkan kau bahagia
(Armada)

Minggu, 03 September 2017

Hingga Detik Ini




Kau di kepalaku menepilah. Aku ingin kebisinganmu berhenti sejenak. Riuh di kepalaku memanggilmu, mengenang wajahmu. Mataku mengerjap bayangmu ikut hadir. Ah, mimpilah aku memadu kasih kembali denganmu. 

"Bar, ini kopi siapa?" 
Suara Tora terdengar dekat. Kutolehkan wajahku. Benar saja tak terdengar suara pintu terbuka tahu-tahu itu orang sudah di dalam.
"Itu kopiku tapi kalau kau mau bolehlah buatmu. Nanti aku buat lagi," jawabku kembali melanjutkan pekerjaan mengecek bahan-bahan yang masih.
"Tumben sepi," ujarnya sambil celingukan.
Kulirik jam dinding di bawah pintu. "Ini masih jam delapan." 
"Jam delapan dari mana ini sudah hampir jam sepuluh. Biasanya jam setengah sepuluh sudah buka. Melamun ya?"
Kuperhatikan dengan saksama tak ada jarum yang bergerak detikannya berhenti. "Sial, jam dindingnya mati. Butuh baterai baru.”  
“Bos kok nggak bisa beli baterai jam. Itu sih kecil,” ejeknya.
“Kamu tadi masuk dari mana?" tanyaku mengalihkan. 
"Dari pintulah," jawabnya tak meyakinkan. 
"Oh, kok nggak dengar orang buka pintu."
"Wah, ini anak konslet. Kamu lupa semalam aku tidur di sofa. Mau pulang sudah kamu kunci. Itu pintu juga masih kekunci sampai sekarang. Aku jadi nggak bisa pulang. Pasti orang rumah mencariku. Bateraiku lowbat juga," cerocos Tora panjang.
"Perasaan sudah aku buka," gumamku sambil mengingat-ingat. 
Tora pergi memeriksa pintu dan benar aku memang masih menguncinya. Mungkin aku keluar tadi pagi membuang sampah lalu kukunci lagi.
"See." Tora menarik-narik pegangan pintu sekuat tenaga. "Kamu lagi ada masalah apa sih?" tanya Tora seraya melepaskan pegangan dan menghampiri kopinya.
"Masalah? Ya itu tadi baterai jamnya mati," jawabku sekenanya.
"Bukan itu. Itu dahinya ada tulisan mikir sesuatu. Kurang fokus." Tora mengambil posisi duduk dan meneguk kopinya.
"Tadi malam aku ketemu Aline. Begitu bangun ternyata cuma mimpi," ceritaku sembari membuat kopi baru.
"Bro, inget Aline sudah nikah bro. Sudah punya anak. Kenapa juga masih mampir ke mimpi kamu atau memang kamu belum bisa move on?" 
"Mimpi kan nggak bisa pre order. Tahu-tahu dia muncul. Dia duduk di pojokkan caffe ini. Di depannya ada secangkir kopi. Dia menunduk. Di mimpi itu aku cuma lihat dari jauh." 
"Ya iyalah bro dia sudah jadi bini orang. Kamu sudah nggak punya hak buat dekat-dekat. Lupakanlah. Hidup itu maju ke depan. Mimpi itu bunga tidur," gumamnya sok bijak. 
"Ah, kamu benar mungkin aku berlebihan mengungkit dia lagi!" Kuletakkan cangkir kopiku ke meja. "Ya sudahlah bisa minta tolong buka pintunya. Biar pelanggan datang nggak kecewa," seruku meminta tolong seraya mengulurkan kunci. 
"Bro, aku mau bantu tapi segelas yang tadi gratis ya." Kutangkap Tora ada maunya.
Aku mengangguk. Tora mengambil kunci dan segera membuka pintunya. 
"Sekalian bantu sapu-sapu biar bersih ya!" seruku seraya melepas apron dan meletakkannya di meja.
"Itu sih namanya nggak gratis. Dibayar dengan keringat, bro." 
"Nantilah gampang. Aku ke toilet dulu. Nanti kalau ada pelanggan disuruh duduk pilih-pilih menu dulu," seruku. 
"Yah, ini namanya bukan rejeki tapi kerja rodi ini. Sudah kekunci, nggak bisa pulang, dipaksa kerja," curhat Tora sudah macam perempuan ingin didengarkan.  
"Minta tolong sebentar, nanti gratis makanan kalau pegawaiku sudah datang."
"Kali ini serius ya. Awas kalau bohong lagi."
Kubalas dengan senyuman. Aku pun melenggang pergi.
"Bro, pegawaimu yang part time itu aku pacari boleh ya," teriak Tora tak kugubris. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Insting kadalnya mulai mencari mangsa. 
Aku mencuci wajahku biar fresh di wastafel. Usai dari toilet aku kaget Tora berdiri di depan pintu. 
"Bro, gawat. Gawat darurat." Tora heboh sendiri.
"Gawat apa?" 
"Mungkin benar kamu de javu."
"Apa sih?" 
"Keluar deh dan lihat sendiri."
Akhirnya penasaran terbawa dalam langkah kakiku. Deg. Kulihat kamu, Aline-ku yang dulu duduk di sudut dengan secangkir kopi. Masih cantik, langsing kau rawat tubuhmu dengan baik walaupun sudah punya anak. Tiba-tiba perhatianku teralih pada cangkir putih.
"Itu kopi kamu yang bikin?" tanyaku salah fokus.
"Itu kopi buatanmu tadi. Kebetulan pesanannya sama." 
"Bro. Gara-gara kopi itu setingan situasi dimimpiku jadi sama." 
"Itu de javu namanya. Sudah sana samperin Aline! Bilang minta maaf kopinya sudah nggak terlalu panas."
"Kamu sengaja ya?"
Telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. "Maaf bro. Peace. Aku mengorbankan diriku demi siapa? Kamulah. Biar mimpi sama kehidupan nyata jadi beda. Sudah sana selesaikan masalah gagal move on kamu itu." 
Tora mendorongku. Ah, harus dengan cara apa aku mengambil kopiku. 
Aku berdehem. "Al, apa kabar? Lama tidak jumpa," sapaku kikuk.
Kau menatapku. "Hai, Bara!” kata-kata sapaan serupa yang kudengar pada pertemuan awal kita dulu. “Aku masih seperti dulu. Kamu masih stay di sini. Aku pikir kamu sudah pindah atau dijual ke orang lain." Matamu bergeser melihat sekeliling tak lagi menatapku.
"Ya nggaklah. Ini rumah memang sudah di desain buat masa depan. Sebelah buat rumah, sebelah yang lain buat caffe,” jelasku. “Maaf ya," lanjutku saat ingat tujuan awalku mengambil cangkir kopi yang  mungkin sudah dingin.
"Maaf buat?" 
"Kopinya. Bisa aku ambil. Itu sudah dingin. Itu tadi Tora ngambil kopiku." 
Kau tersenyum. Rusak sudah pertahananku. Tanganku gemetar ingin terulur kepadamu. Apakah tangan itu wanginya masih sama? Apakah masih selembut dahulu? Tapi sudah terlanjur tadi aku menyapamu tanpa mengulurkan tangan. Akan aneh jika di pertengahan pembicaraan ini aku mengulurkan tangan.
"Itu.. itu aku ambil boleh ya?” Aku berubah canggung. “Aku buatkan yang baru." 
"Sebenarnya aku nggak masalah kalau kopinya dingin," gumammu.
"Maksudnya?"
"Tadi Tora memaksaku memesan itu dengan alasan dia nggak bisa buat racikan kopi yang pas. Adanya cuma itu untungnya belum diminum."
"Astaga, Tora.” Aku melotot ke arah Tora. Tanpa rasa bersalah dia seolah berisyarat tidak tahu kenapa tiba-tiba aku melotot. “Kalau saja dia pegawaiku sudah aku pecat," keluhku.
"Jangan salahkan dia. Dia sudah berkata jujur dan aku pun tak masalah."
"Jadi tadinya kamu mau pesan apa?" 
"Boleh nggak kalau aku cuma numpang duduk di sini?" 
"Apa?" Aku melongo.
"Nggak boleh ya. Kalau nggak boleh aku pesan air putih saja.”
Gerak tanganku reflek mengudara dan mempersilakan.
“Kau lupa ya aku tak suka kopi?" tanyamu entah ingin tahu atau sebatas mengujiku.
Kopi. Kau tidak suka kopi. Aku mungkin sudah lupa. Mungkin move on-ku baru berhasil sebagian. 
"Ah, iya maaf itu sudah lama sekali. Baiklah aku ambilkan pesanan kamu," kataku sambil mengambil cangkir kopi yang terlanjur dihidangkan.
"Tunggu. Bisakah kopi itu tetap menemaniku di sini?" 
Dahiku mengerut. Katamu kau tak suka kopi batinku dalam hati.
"Aku hanya tidak mau terlihat sendiri. Setidaknya cangkir itu di sini menemaniku," lanjutmu.
"Baiklah kubiarkan cangkir ini di sini. Akan kuambilkan pesanan kamu." 
Aku menghampiri Tora. Ia berisyarat bertanya bagaimana. Aku hanya menepuk bahunya. 
"Dia mau minum kopi itu?" tanya Tora penasaran.
"Sepertinya dia sedang ada masalah. Dia tidak butuh kopi." 
"Maksudmu? Dia butuh bertemu denganmu?" tanya Tora menyelidik.
"Bukan aku dia hanya butuh ditemani. Kau bawa saja segelas air putih ini dan temanilah dia."
"Kenapa bukan kamu saja?" 
"Aku tak berhak."
"Aku kan juga." 
"Beda. Kamu di sana dalam posisi netral. Kalau aku di sana bisa saja menambah masalahnya. Bagaimana kalau aku keceplosan masih menyukainya?" 
"Gila dong. Bisa digorok suaminya," celetukmu.  
"Nah itu kamu tahu. Kau antar ini nanti makanan gratisnya akan datang ke meja. Itu Dahlia sudah datang."
Tora menoleh ke arah Dahlia. 
"Dek Dahlia. Baru datang ya?" Tora menggoda Dahlia pegawai part time-ku. Kutimpuk dia dengan apron di meja.
"Kamu mau makanan gratis atau aku usir dari sini," ancamku. 
"Makanan gratis dong. Apalagi buatan dek Dahlia."
Aku menepuk bahu Tora. "Bro, ditunggu Aline itu." 
"Demi makanan dek Dahlia apapun jadi," gumam Tora makin tak jelas. 
"Bang, memangnya bang Tora pesan apa?" tanya Dahlia nimbrung percakapan.
Sempat-sempatnya Tora menoleh dan menjawab, "Apa saja yang penting buatan tangan dari dek Dahlia." 
"Kentang goreng saja," perintahku ke Dahlia. 
"Pelit banget sih cuma kentang goreng," cerocos Tora sambil berlalu menghampirimu yang duduk sendirian. 
Kulihat setelah Tora duduk kalian berdua menoleh ke arahku. Buru-buru kusibukkan diriku agar tak terlihat mengamati. 
"Bang beneran cuma kentang goreng saja?" tanya Dahlia tidak yakin.
"Apa sajalah yang cewek suka," ujarku seraya pura-pura mengelap meja. 
"Bang, memangnya mbak itu nggak bilang mau pesen makanan apa?" selidik Dahlia. 
"Kamu buatkan saja apa yang kamu suka. Nanti kalau sudah selesai makanannya kamu bawa ke sana. Kamu juga duduk di sana. Biar tidak terjadi fitnah." 
"Lho bang berarti aku nggak kerja dong. Kalau nggak kerja nanti nggak digaji." 
"Aku hitung kerja. Lagian hari ini sepi. Kita telat buka soalnya." 
"Siplah bos. Tumben baik hati banget hari ini." 
Aku menaruh lap dan berkacak pinggang mondar mandir.
“Aku ke dalam dulu." Akhirnya itulah keputusanku. Aku bersembunyi di balik pintu menetralkan degup dadaku. Sesekali melirikmu dari jauh. Dahlia sudah membawa makanannya. Kau terlihat bingung. Kulihat Dahlia menjelaskan sesuatu yang membuatmu menerima.
Kau yang pergi menghempas pintu itu dulu. Kau yang kini kembali lagi membuka pintu itu. Duduk manis di sudut sana menggodaku. Terbayang awal pertemuan kita. Kau tersenyum manis saat memesankan kopi untuk temanmu dan menyapa “Hai, Bari!” padahal aku tak tahu siapa kamu. Senyuman itu belum juga pudar hingga kini menggelitikku. Senyuman yang dulu menyemangatiku. Sesekali kulihat dari jauh saat Tora melucu.
Meski dunia nyata memaksaku melupakanmu aku masih orang yang itu. Kau kenal hatiku, aku masih seperti dulu. Tatapanku padamu tidak berubah. Hingga saat ini kau masih satu-satunya yang mengerti aku.
Kulihat Tora menghampiriku persembunyianku dan membuka pintu. "Bro, kamu benar. Jika kamu di sana mungkin kau akan menyarankan untuk mengakhiri rumah tangganya. Tapi untung yang di sana adalah aku. Jadi aku menyarankan untuk mempertahankannya." 
"Apa yang terjadi dengannya?" 
"Aku tak bisa mengatakannya. Ini rahasia aku dan Aline." 
Aku mengutuk diri. Seharusnya aku juga di sana mendengarkan. Kakiku rasanya ingin melangkah menghampirimu dan bertanya. Tapi Tora menghentikanku. 
"Bro, jangan ke sana! Kau akan menggoyahkan hatinya." 
Deg. Tora merangkulku dan menepuk bahuku berulang kali, kejadian yang sama seperti saat aku melepasmu dulu.


----------------------------------------
Aku berdiri di sini di tempat dimana dulu
pertama kita bertemu, pertama ku menatapmu
Ingatkah kau saat itu, kau tersenyum kepadaku
berbekal senyuman itu ku jalani hidup
Hingga saat ini kau masih satu-satunya
yang paling mengerti aku, semua baik burukku
Hingga detik ini aku masih orang itu
Kau kenal dengan hatimu, masih seperti dulu
(The Rain)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...