Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

KUIKHLASKAN WALAU CINTAKU LEBAM MEMBIRU

Air mataku perlahan menetes. Kusaksikan dengan kedua bola mataku dia, penghulu, wali dan saksi saling berhadap-hadapan. Dengan satu tarikan nafas lancar diucapnya. Diiringi kalimat sah yang menggema ia menghela nafas lega.
"Alhamdulillah," katanya.
Dia tidak akan tahu bagaimana rasanya berada di posisiku. Ikhlaskan saja batinku dalam hati. Aku mengusap air mataku dan tersenyum. Ini salahku. Aku sempat ragu dan memilih diam. Andai saja waktu itu aku mengatakan sesuatu atau bahasa lain. Mungkin lewat isyarat anggukan kepala atau penolakan halus, aku pasti tak akan semenyesal ini.
Mempelai wanita keluar dan menghampirinya. Si wanita menitikkan air mata haru. Ia menjabat dan mencium tangan mempelai pria. Sekelibat aku tak kuasa menyaksikan dan memutuskan untuk pergi. "Kau mau kemana?" Tasya bertanya. "Aku ke toilet sebentar," jawabku. "Aku ikut," ujarnya. Tasya membuntutiku di belakang. Bagaimana ini aku ingin melarikan diri. Ingin menangis sejadi-jadinya …

JANGAN BILANG LAGI ITU TERLALU TINGGI

Dering telepon jam sembilan malam membuatku gusar. Perempuan itu sendirian di sana. Ia membutuhkan bantuanku. Suara isaknya membuat nyeri dadaku. Tapi aku tak sebebas dulu, seorang perempuan lain telah di sisiku. “Kamu kenapa tidak jadi tidur, Bang?” Perempuanku berbalik dari posisi tidurnya menatapku. “Ah, iya ini tadi ada telepon.” Aku meletakkan handphone-ku ke meja. “Dari siapa, Bang?” “Dari Wulandari,” ujarku jujur. Perempuanku  terdiam. “Tapi tidak apa-apa. Aku akan tidur.” Aku menarik selimut dan menepuk bantal. Sisil menggenggam tanganku. “Bang, wajahmu tidak berkata demikian. Kau terlihat gusar. Apa dia ada masalah?” tanyamu meneduhkan. “Dia baru saja mengalami masalah. Dia sendirian. Dia tidak akan meneleponku jika ia bisa memecahkannya sendiri.” “Lalu kau mau menemuinya, Bang?” Aku terdiam. Jika aku pergi bagaimana dengan perempuanku, jika aku tak pergi bagaimana dengan Wulandari yang sendiri di tempat asing. “Bang, kalau kau mau menemuinya aku tidak apa. Ia lebih mem…

KU YAKIN CINTA

Selepas penantian panjang. Aku bertemu lagi denganmu. Kamu memakai kemeja rapi berbeda denganku yang serampangan. Kaos oblong dan cardigan biasa. Hari ini kita tidak kompak. Seperti bumi dan langit. Lama tidak bertemu mungkin membuat kita menjadi dua orang yang berbeda. "Halo, halo! Yang ditunggu sudah datang ini," teriak Dona seraya cipika cipiki denganku. "Kurang siapa lagi?" tanyaku. "Sudah lengkap karena hanya ini yang bisa datang," celetuk Radit.  Ekspektasi reuni besar tak sesuai harapan. Hanya ada kami berlima termasuk kau. "Menunya apa nih?" tanyaku penasaran. "Tenang nggak ada daging sapi untuk Syakira," jawab Radit.   Aku tertawa. "Masih inget aja," balasku ke Radit. "Iyalah dulu kamu tetap maksa makan bakso rusuk. Akhirnya kamu muntah-muntah di toilet. Itu kejadian yang nggak terlupakan."  Glekk. Aku memanggil ingatanku. Hari itu hujan dan kami kelaparan. Hanya ada tukang jual bakso. Akhirnya kami singgah. Karena…

Asal Kau Bahagia

Kupikir akulah yang memenangkan dirimu. Sejak kau keluar dengan kebaya biru dari balik tirai dan tersenyum manis mendekat padaku. Saat kau katakan “ya” di depan keluarga besarku debar dadaku melonjak senang. Kupikir aku telah memilikimu sepenuhnya semenjak di depan penghulu kuikrarkan kata cintaku. Ayahmu menyerahkanmu padaku dan bersaksi aku pada Tuhanmu. Kesakralan janji suci kala itu kupikir adalah bukti kau milikku. Kurasa semua hanyalah anggapan-anggapanku. “Ara, kamu melamun lagi?” Kau terperanjat melihatku tiba-tiba di belakangmu. “Ah, tidak. Aku hanya sedang menikmati pemandangan dari atas sini.” “Kamu merindukan rumahmu?” “Iya, ini masih terasa aneh. Kemarin aku masih melihat ayah dan ibuku tiba-tiba sekarang hanya ada kita berdua di sini.” “Kita bisa mengunjungi mereka kalau kau sedang rindu.” “Tidak, Bang. Aku harus terbiasa begini. Nanti kau bilang aku manja tidak bisa lepas dari orang tua.” “Tidak, tidak. Aku tak akan menganggapmu seperti itu. Kau belum terbiasa. Mungkin ini ber…

Hingga Detik Ini

Kau di kepalaku menepilah. Aku ingin kebisinganmu berhenti sejenak. Riuh di kepalaku memanggilmu, mengenang wajahmu. Mataku mengerjap bayangmu ikut hadir. Ah, mimpilah aku memadu kasih kembali denganmu. 

"Bar, ini kopi siapa?"  Suara Tora terdengar dekat. Kutolehkan wajahku. Benar saja tak terdengar suara pintu terbuka tahu-tahu itu orang sudah di dalam. "Itu kopiku tapi kalau kau mau bolehlah buatmu. Nanti aku buat lagi," jawabku kembali melanjutkan pekerjaan mengecek bahan-bahan yang masih. "Tumben sepi," ujarnya sambil celingukan. Kulirik jam dinding di bawah pintu. "Ini masih jam delapan."  "Jam delapan dari mana ini sudah hampir jam sepuluh. Biasanya jam setengah sepuluh sudah buka. Melamun ya?" Kuperhatikan dengan saksama tak ada jarum yang bergerak detikannya berhenti. "Sial, jam dindingnya mati. Butuh baterai baru.”   “Bos kok nggak bisa beli baterai jam. Itu sih kecil,” ejeknya. “Kamu tadi masuk dari mana?" tanyaku mengalihk…