Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

KU DENGANNYA, KAU DENGAN DIA

Pintu gate 3 sudah dibuka. Aku langsung beranjak dan antri berdiri di gate 3. Entah mata yang salah atau memang hanya mirip aku melihat sosokmu yang telah lolos dari pengecekan boarding pass. Ah, hanya perasaanku saja. Kutepis pikiran itu jauh dan bergegas naik ke burung besi mencari tempat duduk. “Permisi!” ujarku ketika melihat nomor tempat duduk bermaksud minta izin si empunya yang duduk di sebelah. Kupikir di sebelahku perempuan ternyata laki-laki. Ah, apalagi baju yang kulihat seperti sosokmu tadi. Ketika sosok itu membuka kacamata hitam dan topi bukan main dibuat kaget. “Lho, mau ke Bali juga?” tanyamu melempar senyum. Deg. “Ah, iya!” jawabku canggung. Dadaku berdesir nyeri. Air mataku muncul di sudut. Aku mengatur nafasku tak ingin ingatanku bergerak mundur. “Duduklah! Kau mau di samping jendela?” Kau menawariku. “Boleh?” tanyaku ragu-ragu. “It’s okay. Tak masalah. Kamu seperti sama siapa saja,” ujarmu seraya berdiri memberiku jalan. Aku duduk merenggangkan kakiku dan menge…

Kupikir Kamu

Kupikir kamu. Sekelibat menoleh ke belakang. Pada detik yang sama menatap. Lalu kupikir bukan. Kupalingkan wajahku menyusuri jalanan di luar jendela.

Kupikir itu kamu. Garis wajah yang sama. Kemeja putih lengan dilipat tujuh per delapan dengan aksen kacamata.

Kupikir itu kamu saat memiringkan wajah menatap jendela. Setengah bagian wajah tertutup bangku.

Kupikir bukan. Kau tak di sini. Tak diyakinkan. Senyuman yang bukan milikmu. Tatapan teduh khasmu tak nampak. Bukan kamu.

Melajulah, bergerak sampai pada pemberhentian. Turun. Dia kembali melaju. Wajah-wajah terlihat dari balik jendela. Bukan kamu.

Seharusnya pemberhentian ini jadi tempat menghapusmu yang tidak pasti.

3 Juni 2017

Posong Temanggung

Satu hari libur tanggal merah di bulan Mei sebelum mulai puasa. Diajak tante ke Temanggung. Temanggung bagiku bukan kota biasa. Sebuah kota penuh cerita masa kecil, tinggal tujuh tahun dan menyimpan kenangan adik kecil yang tiada di sana. Tapi aku ke sana bukan untuk singgah ke kotanya hanya numpang lewat. Karena Posong berada di pinggir dekat perbatasan Wonosobo.
Nah, ingatan wilayah tentang Temanggung di masa kecil hanya dari rumah sampai alun-alun. Mungkin karena ada kenangan zaman duduk di taman kanak-kanak pernah ikut karnaval di sana. Tapi zaman sekarang sudah canggih tentu saja mbah google menjadi senjata utama.

Baiklah kita mulai perjalanannya dari arah semarang melewati jalan lingkar Ambarawa menembus Jambu. Selanjutnya ambil jalan tembus melewati pringsurat. Eh, lama nggak lewat sekarang sudah ada gapuranya besar. Kemajuan. Dulu patokannya pertigaan pos polisi sebelum soropadan. Sekarang lewat sampai pangling. Kalau sudah sampai bangjo belok kanan tinggal lurus terus sampai…

Solo Lagi, Lagi dan Lagi

Solo bagiku bukan hanya sebuah kota numpang lahir tapi juga menyimpan segudang misteri dan rindu. Usai menempuh pendidikan di kota Solo tak berarti melupakannya begitu saja. Di sana masih banyak ingatan dan tempat-tempat yang belum dikunjungi. Sudah tidak bisa dihitung berapa kali singgah di kota ini tapi tetap saja banyak lokasi yang ternyata kalau disuruh menelusuri pasti bisa tersesat. Ya, jalan-jalan kecil di pinggir kota atau bahkan bisa jadi di tengah kota. Tapi tenang seberapa jauh tersesat di kota Solo kamu akan menemukan jalan kembali HAHA masih banyak orang baik yang akan menunjukkan jalan yang lurus. 
Kali ini perjalanan akan dimulai dari hari Sabtu. Niat awal weekend dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjelajah. Kenyataan berangkat dari rumah pukul 14.00 dan sampai Solo sekitar jam 17.30. Biasanya ke Solo hanya sekitar 2 jam tapi hari itu luar biasa. Di sekitar Ampel ada sebuah truk pengangkut semen yang tidak kuat di tanjakan berguling akhirnya jalannya dibuat sistem…

CINTA SUDAH TERLAMBAT

Kau memasuki ballroom dengan gaun putih. Wajahmu berbinar cantik. Seseorang berjalan bersamamu tapi bukan aku. Kau menyunggingkan senyum menebarnya ke penjuru ruangan. Matamu menyorot ke arahku dan melambaikan buket bunga. Aku bisa apa. Tak bisa meneriakkan namamu kencang, tak bisa menarik tanganmu dan mengajakmu berlari. Aku tak berhak. Jari manismu telah diikat cincin suci. Aku terlambat. Aku hanya bisa menatapmu dari jarak ini dan kau semakin berjalan menjauh. Jika saja aku bisa menghentikanmu satu jam yang lalu bisa jadi kau merubah pikirmu. Jika saja satu jam yang lalu aku berada di hadapanmu mungkin bisa saja kau memilihku. Jika saja satu jam yang lalu aku mengucapkan ingin hidup berdua denganmu di masa depan mungkin kau tidak jadi dengannya.  Jika saja satu jam yang lalu aku memiliki keberanian mengutarakan ketidaksesuaian perasaanku saat kau dengannya mungkin saja kau dalam pihakku. Jika saja satu jam lalu aku menemuimu mungkin saja kau berdiri di sini bersamaku melihat ballr…

Kembali Ke Bandung

“Jadi begini rasanya. Kita berdiri di tempat yang sama,” ujar Faisal seraya mengulurkan segelas cola. Aku dan Faisal berdiri jauh dari altar serba putih dengan hiasan warna bunga kuning. Gaun putih Liliana sangat simple tapi terlihat elegan dan Sam tak kukira bisa setampan itu dengan jas putihnya. “Ya kau benar. Nasib kita sama. Mereka lebih bahagia berdua daripada bersama kita,” kataku menanggapi. Alunan musik klasik mengalun. Acara resepsi garden party Liliana dan Sam mengusung tema vintage. Sebuah konsep yang dulu pernah kuceritakan pada Sam. Tak kuduga ia akan memakainya bersama Liliana. “Dulu aku bermimpi bisa bersanding dengannya. Kuikrarkan janjiku untuk selalu bersamanya. Tapi nyatanya Tuhan tak merestuinya. Aku jadi belajar banyak hal salah satunya untuk tidak mengucapkannya lagi. Janji adalah janji. Janji harus ditepati. Tapi sekarang dia bersamanya. Mau bagaimana lagi?” curhat Faisal. “Manusia hanya bisa berencana. Kita tidak bisa memaksa kehendak-Nya.” “Hari ini aku hany…

Hei, Aries (3)

Ini masih tentangmu lagi. Nyatanya kau belum bisa terlupakan dari otakku. Walau kita lama tak berjumpa, walau kita sudah tak tinggal di kota yang sama. Tiba-tiba aku ingin tahu lagi tentang kamu. Kebiasaan mengecek berandamu yang lama kuhentikan, dimulai lagi semenjak pertemuan di malam sekaten.
Kala itu sinyal radarku menyala saat pertemuan kita sekali lagi. Itu adalah pertemuan terakhir. Hari itu aku kembali ke kota penuh perjuangan. Usai melihat film Supernova bersama teman-temanku. Aku tak akan pernah lupa bagaimana rasanya pertemuan itu. Rombongan terpisah menjadi dua bagian. Aku mencari temanku diantara orang berlalu lalang. Arena permainannya ada di dalam pagar dan aku masih di tepi jalan mencari jalan masuk. Aku sedang bercerita dengan temanku lalu dalam detik yang sama kita berpapasan. Kau melihatku, aku tahu itu. Tatapan yang sama bahkan sejak masa putih abu-abu yang belum banyak berubah. Sekali lagi di sisimu ada seorang perempuan yang lebih muda darimu. Terlalu asyiknya …

Hai, Aries (2)

Ini masih tentang pertemuan kita setelah aku menyerah di hari wasana warsa. Aku tidak berpikir akan bertemu lagi denganmu. Namun Tuhan mengubah semuanya. Sekali lagi Tuhan membolak-balikkan hatiku. Aku dan kamu ditakdirkan bertemu sekali lagi di kota yang berbeda tak lagi di masa putih abu-abu. Kita mengenakan hitam putih dengan jas biru muda berpapasan pada saat acara osmaru. Pintu aula perpustakaan yang jadi saksinya pertemuan kita. Aku masih mengenalimu, kau masih seperti dulu berbeda denganku yang bermetamorfosis tak lagi kucir kuda. Dalam jarak dekat ratusan manusia mendorong tubuhku antri keluar ruangan, sedangkan kau memasuki aula. Senyum khasmu, dengan aksen kaca mata meyakinkanku bahwa itu benar-benar kamu. Aku menoleh membiarkan punggungmu berlalu. Sepulang dari pertemuan kembali aku membuka buku kenangan dan memastikan wajah itu benar-benar kamu. Lalu kutanyakan pada kawanku tentang siapa saja kawan putih abu-abu yang diterima di universitas kita. Tersebutlah namamu dari …