Langsung ke konten utama

MENGEJAR MATAHARI



Kau membantu menarik tanganku mendaki bebatuan terjal di kaki bukit. Ah, demi mengejar sunrise.
“Kau lelah?” tanyamu seraya mengarahkan lampu senter ke pijakan kakiku.
Aku menggeleng. “Aku masih kuat.” Aku menggenggam tanganmu erat dan mendorong tubuhku agar berat tubuhku berpindah ke depan kaki belakangku menjadi ringan.
“Aku sudah janji akan membawamu ke atas bukit ini jadi bersabarlah sebentar lagi kita sampai,” katamu melegakanku.
Aku yang menginginkannya maka aku pula yang harus menanggung konsekuensinya. Nafasku sudah terengah-engah tak beraturan.
“Aku sudah melihat puncaknya. Kau benar,” ujarku dengan nafas tersenggal-senggal. Banyak lampu di bawah pertanda sudah aku sudah mencapai puncak bukit. 
“Ini baru sebuah bukit bukan gunung. Kau seharusnya lebih latihan fisik,” ejekmu.
“Oke. Untuk hal ini aku kalah. Kau pemenangnya,” kataku seraya membayangkan tanganku memegang bendera putih dan berkibar mengikuti gerakan.
Kau mengamati jam tanganmu. “Sebentar lagi moment sunrise pertama kita.”
“Semoga matahari tak malu-malu untuk menyapa kita,” ujarku berharap.
“Ya, kau benar. Akan sangat menyebalkan jika matahari tak bersahabat disaat kita telah berada di sini.”
Kita pun menunggu sambil bercerita panjang lebar hingga tak sadar semburat orange seolah membelah langit.
“Lihat, sudah waktunya.” Kau menunjuk ke langit.
Dalam takjub kita mengabadikan momen terbaik. Celetuk kekaguman muncul saat gambar yang kita abadikan.
“Ga, sini ambil foto bersama! Katakan sunrise.”
Sunrise.” Cekrek.
“Kita bisa melihat pemandangan seperti ini di manapun padahal matahari hanya satu. Luar biasa megah ciptaan Tuhan.  Kadang aku merasa sangat kecil.”
“Ya, kita hanya secuil dari bagian ciptaan Tuhan. Betapa bersyukurnya hari ini masih bisa melihat salah satu keagungan-Nya dan merayakan satu tahun anniversary kita.”
"Kamu tidak memakai cincin yang kuberi?" tanyamu tiba-tiba.
Aku menunduk merasa bersalah. "Maaf aku menghilangkannya lagi," ujarku seraya garuk-garuk kepala.
"Tak apa asalkan kau tidak menghilangkan perasaanmu padaku."
Aku tersenyum tak bisa berkata-kata.
"Kali ini aku memberikan hatiku. Jaga baik-baik." Kau memberiku sebuah kalung dengan gantungan  hati. "Bersinarlah seperti cahaya di bandul kalung itu agar aku bisa terus melihatmu saat sedang di kegelapan," lanjutmu.
"Jika cahayaku hilang apakah kau akan meninggalkanku?" tanyaku ala film drama.
"Tidak. Kalau cahayamu hilang aku akan membuatmu bersinar lagi," celetukmu membuatku tertawa.
Pura-pura serius aku berkata, "Terima kasih telah membuat hariku bercahaya.” 
Kau tertawa geli. “Aneh ya! Kita nggak terbiasa ala-ala drama.”  
Udara pagi membiusku. Bangunan gedung, sawah, lapangan mulai terlihat jelas. Pagi yang cerah untuk jiwa yang  sedang bersemi. Kau menepati janjimu mengejar matahari ke atas bukit bersama. Satu hal yang dilakukan bersama itu juga salah satu kebahagiaan. Jangan sia-siakan kata bahagia hanya dengan kata lelah. Pepatah mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Setelah perjuangan yang melelahkan, kebahagian kan datang. Percayalah.

Komentar