Selasa, 27 Desember 2016

PERJALANAN TUJUH HARI, JAKARTA!

Kisah perjalanan tujuh hari. Berawal dari celetukan tiga sampai empat tahun yang lalu di masa silam. Jakarta. Orang pasti bertanya ngapain ke Jakarta, sama seperti orang yang saya temui selama di perjalanan kenapa nggak ke Malang, kenapa nggak ke Surabaya di daerah kan lebih bebas dari macet. Siapa bilang macet cuma ada di Jakarta di kota saya juga sering macet pada jam-jam sibuk. Tumpukan volume kendaraan merupakan hal wajar dan itu tidak hanya terjadi di Jakarta. 
Akhirnya Tuhan punya rencana lain untuk mewujudkan mimpi saya. Seorang teman dekat diterima CPNS di Jakarta Selatan kira-kira mulai tahun 2015 di sana. Tiba-tiba seorang teman dekat lain mengatakan mari kita ke Jakarta. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Tidakkah indah cara Tuhan menunjukkan kemudahan? 

Hari pertama dimulai dari Stasiun Klaten fix kami mengambil kereta Jalur Selatan. YES. Kereta yang harusnya datang jam 14.56 WIB mundur sampai 15.30 WIB. Mungkin ini pertama kalinya delay kami bahagia karena resah sampai Jakarta tengah malam. Tentu saja harapan kami mundur sampai pagi. :) HIHI

Tuhan menjawab doa kami karena ada perbaikan jalan di daerah Kosambi kereta pun mundur sekitar pukul 02.30 WIB sampailah di Stasiun Pasar Senen. Menunggu matahari muncul kami duduk di sebuah mushola. Tak terasa sampai bisa tertidur di sana selama beberapa menit. Hoho ala backpacker sepertinya di hari kedua. Setelah langit terlihat cerah kami memutuskan Masjid Istiqlal adalah tujuan pertama. Di sana kami numpang berbenah diri seraya berkeliling mengitari area masjid. Terlihat pucuk monas dari bagian belakang Masjid. 



Setelah puas kami akhirnya menuju Monas dengan jalan kaki biar sehat. Mencari pintu masuk tak semudah perkiraan kami harus mengitari pagar demi pagar dan jujur kesulitan menyeberang jalan haha sampai kami menemukan traffic light penyelamat. Gerbang mulai terlihat dan Monas terlihat semakin dekat. Tujuan kedua sukses.

Lewat celetukan tanpa rencana pengen naik itu bus tingkat yang gratis alias si Mpok Siti akhirnya keliling mencari halte yang ada tandanya. Great naik juga akhirnya di dalam bus gambar Coca Cola. Mpok Siti membawa kami ke Bundaran HI tujuan ketiga. Senang sih awalnya sampai di Bundaran HI tapi kami kehilangan arah. Di telpon disuruh ke tempat teman naik apa ke sana. Busway berlalu lalang tapi kan nggak berhenti (Ya jelas saja setelah sadar beberapa kali lewat haltenya bundaran HI lumayan, halte sarinah juga lumayan. Kami berada di tengah-tengah dua halte itu. HAHA). Googling masih jauh kalau ke daerah Cipete. Akhirnya panggil aplikasi online pak Grab. Gagal jadi backpacker deh. Setelah sampai kantor temen nunggu aja di sana sampai dia pulang. Tapi hari kedua belum berhenti sampai di situ. Setelah temen pulang dari kantor mampir ke kost dia sebentar dan memenuhi janji bertemu kawan lain yang sedang PPG di Jakarta. Titik temu kami blok M. Yes naik bajaj nggak perlu sampai India. HIHI. Muter-muter blok M eh ternyata ada kuliner malam seperti Galabo kalau di Solo. Lumayan tuh makan sate Padang. Setelah berceloteh panjang lebar akhirnya balik ke kost temen naik bajaj lagi biar teringat sensasinya seperti naik wahana permainan atau nonton film Bajaj Bajuri. 

Hari ketiga dimulai dari browsing lokasi. Kota tua jadi tujuan selanjutnya. Halte busway terdekat ada di Blok M. Jauh-jauh ke Jakarta harus mencoba naik metro mini yang nggak ada kondekturnya. Dari Fatmawati menuju Blok M naik metro mini 610 jurusan Pondok Labu-Blok M. Begitu sampai terminal nah jadi bingung lewatnya sebelah mana. Di sana ada lima jalur. Lucunya kami salah masuk harusnya di bagian keberangkatan jadi di kedatangan. Harus naik turun tangga sama mengeluarkan e-money yang udah dicicil punya dari sebelum berangkat. Oke. Beres akhirnya kami naik langsung busway jurusan Blok M - Kota. Nah karena tuh busway melewati Bundaran HI membuat saya merasa kasihan pada diri sendiri oh ternyata haltenya sebelah situ sambil tutup mata. 

Sampailah kami di halte kota tua. Muter-muter mencari museum Fatahillah. Eh, ketemu museum Bank Indonesia tapi nggak masuk lihat antrian rombongan pelajar jadi ah sudahlah karena tujuan kami ke titik museum Fatahillah. Kejadian lucu pun terjadi di sana. Karena panas sekali style kami waktu itu memakai jaket plus masker. Mungkin aneh ditengah cuaca panas tapi justru tertutup rapat haha. Akhirnya ada bapak bule mendekati. "Girls take picture" panggil bapak bule itu. Kayak orang linglung mlonga mlongo siapa yang dipanggil. Me? Oh, suruh fotoin. Eh, kok jadi bapak bule sih yang pegang kamera. Temen sebelah buka masker. "No, put put put," kata bapak bule itu. Sekilas saya mendengar kata "your fashion, style." Baru deh sadar jadi bapak bule mau foto kami. Tapi sebentar lho kok disuruh miring-miring kami dipisahkan ya saya mundurlah. "Together." Huft. Cekrek foto berdua dengan kamera bapak bule yang entah asalnya dari mana. Tenang muka tertutup nggak akan dikenali orang HIHI. Bapak bule itu berterima kasih sambil salam ala lebaran. Iyes bapak bule bukan muhrim ya. Haus akhirnya kami duduk-duduk di Kedai Seni Djakarte sambil beli es krim. Surga dunia di tengah panas walaupun sebenernya es teh lebih nyess di tenggorokan. 
                                                                            

 
Oke. Setelah muter cari Masjid eh nyantol beli tahu gejrot dulu tapi nggak pedes HAHA. Melewati Stasiun Jakarta Kota akhirnya mblusuk-mblusuk sampai samping Bank BNI bertemulah Masjid yang dimaksud abang penjual tahu gejrot. Ngadem bentar. Lagi melewati Stasiun Jakarta Kota tergelitik ingin naik KRL. Tapi kami membatalkan niat dan memilih naik busway lagi saja ke Terminal Blok M. Kejadian lucu terjadi lagi. Jelas-jelas di atas ada tulisan Blok M Square gedhe banget bisa-bisanya kami mencari posisi Blok M. Jadi ceritanya peta konsep blok M malam hari sama siang hari terbalik. Gara-gara nyebrang salah arah muter nggak tahu jalan apa dan sampai depan terminal blok M lagi. Wkwkwk. Okei setidaknya peta konsep kami terbentuk. Blok M yang kami maksud hanya ada satu dan letaknya ya samping terminal itu. Mentari cepat surut bingung baliknya eh metro mini masih ada ternyata sekitar jam 7 ditutup dengan metro mini.

Hari ke empat mulai bingung mau ke mana. Sayang kan kalau satu hari terlewati begitu saja. Browsing museum layang-layang dan lihat apa yang terjadi gagal fokus ke bawah "Mangrove". Mata langsung bersinar cerah. Googling. Ada bermacam-macam cara tapi busway penyelamat kami. Ahaha tentu saja naik metro mini 610 dulu ke blok M. Lalu naik busway jurusan Kota turun ke halte Monas dan oper busway jurusan PIK. Katanya abang kondektur busway muka kami sudah bisa ketebak bakal ke Mangrove. Duduk manis tahu-tahu sampai di dada-dadain sama abang busway disuruh nyari mangrove di persimpangan yang sangat rumit. Tidak usah takut ternyata ada panahnya besar warna hijau. HAHA


Sampailah ke Mangrove Pantai Indah Kapuk. Kami berdua langsung berceletuk berasa di Kalimantan. Sepakat apalagi waktu melihat sungainya. HAHA mirip banget. Muter di sana seharian nggak terasa sudah sore. Kami sudah janji nonton film di Blok M. Jadi langsung cabut. Sampai di Blok M nonton filmnya Bang Radit. Baru sadar di Jakarta sering ya orang dagang nawarin dengan kata "Boleh, Silahkan" HAHA. Kayaknya langsung kena sindrom "Guys gue lagi nonton guys." Mau dibuat horor tetep aja komedi. Hari keempat ditutup dengan naik bajaj lagi. Mumpung di Jakarta di kota tempat tinggal saya yang roda 3 adanya becak. HIHI

Hari ke lima diajak kondangan alias ke pernikahan temannya teman daerah pondok kopi Jakarta Timur naik Go Car sampai tempat tujuan. Pulangnya mampirlah kami ke TMII. Langsung diajak naik kereta gantung. TMII luas tapi kalau udah diputerin seperti berada di dalam kampus kami dulu. Nggak sejauh perkiraan sudah biasa. Di TMII semakin tambah yakin pedagang di sana kalau nawarin pakai kata "Boleh. Silahkan." HAHA. Bikin kecantol sama es dengan wadah kerucut menggunung gambar pokemon. AHAHA lagi nge-hits sepertinya. Sikat aja.
Kelilinglah kami jeprat jepret sana sini ujung-ujungnya sampai bisa lihat sunset di danau TMII. Baliknya naik Go Car lagi. 


Hari keenam berangkat reunian teman SMA ketemuan di Ragunan. Naik apa? Mikir. Jauh-jauh kayaknya belum naik abang GOJEK yang diidolakan tuan rumah untuk mengatasi kemacetan. Akhirnya dipesankan si tuan rumah dan go go go bermacet-macet ria di jalanan. Asli Ragunan lautan manusia. Nggak jadi masuk karena ternyata si teman SMA udah ada di Taman Anggrek yang tak jauh dari situ. Begitu jalan eh sepertinya jalannya nggak asing dulu zaman KKL pernah melintasi daerah itu. HAHA. Jalan-jalan sampailah ke Taman Anggrek say hay dan jepret-jepret. 

Setelah puas kami berunding mau kemana. Museum layang-layang yang masih daerah Jakarta Selatan. Well, berangkatlah kami giliran naik Uber. Eh, begitu sampai itu daerah Pondok Labu dapat zonk. Museumnya tutup. Lalu putar otak ke mana ya. Tiba-tiba ada yang bilang CITOS (Cilandak Town Square). Eh, inget sama snack ringan zaman kecil. Hari ke lima pernah lewat sih tapi nggak turun akhirnya ya di situ tempatnya. Cukup tahu. Jadi bias sebenernya kami mau backpacker apa traveller sih? HIHI 
Setelah dari CITOS ehm nggak inget kalau malamnya kami harus berkemas. Pertanyaannya jadi sebenarnya "Betah apa Krasan?" 
Waktu berputar cepat sebelum pulang diajak makan malam di luar sama tuan rumah. Eh, tragedi kucing kembali terjadi mondar mandir di bawah meja. Mula-mula satu lalu cling jadi tiga. Makan jadi nggak tenang. Kalau ada pintu ajaib langsung buka lompat tutup pintu. Gerak-gerak cepat seolah kejar-kejaran dengan waktu. Akhirnya berhubung malam pesan Grab ke Pasar Senen. Eh, sama bapaknya lewat deh itu PIM (Pondok Indah Mall) yang diceritakan si tuan rumah. Lalu beberapa studio TV swasta. HAHA cukup tahu aja nggak turun.

Sampailah di Stasiun Pasar Senen. Penuh padat sesak. Antrian boarding pass bikin nyesek. Kasihan anak kecil mereka bisa kehabisan oksigen di pepet sama orang dewasa. Musim liburan sekolah, musim liburan akhir tahun bertumpuk jadi satu. Setengah jam sendiri antriannya. Perasaan sebelum ada boarding pass ala bandara nggak pakai antrian panjang begitu. Udah berasa mau naik kapal waktu musim mudik. Tak terasa waktu berganti begitu cepat duduk manis di kereta tidur bangun-tidur bangun lagi. 

Pagi. Hari ke Tujuh bisa lihat sunrise di kereta. Kali ini via jalur Utara melewati tepian pantai. Aduhai pasti lebih kelihatan kalau terang. Tak apa akhirnya sekitar pukul 6 pagi tiba di Stasiun Poncol Semarang. Niatnya naik bus ditunggu nggak datang-datang akhirnya jalanlah menuju kawasan kota lama. Biarlah dikira bapak-bapak apalah balapan jalan cepat yang penting kami kuat nenteng ransel di punggung ala backpaker.Wkwkwk. 

Jepret jepret jepret. Kelilinglah kami. Ditutup dengan minum "es teh mak nyess" lalu pulang. 


Kalau es teh manis di Jakarta 5.000, es teh di Semarang masih 2.500 dan itu sudah manis tanpa bilang beli es teh manis. :D
Kalau di Jakarta ada bajaj, di Semarang adanya becak.
Berharap aja suatu saat nanti sungai di Jakarta bisa seperti sungai di Venice.

Begitulah kisah 7 hari. Mumpung ada teman sejalan. Mumpung masih muda. Mumpung masih diberi kekuatan. Bersyukur resolusi beberapa tahun silam terwujud di tahun 2016. Tanpa kenekatan nggak akan pernah sampai sini. 7 Hari Mencari cinta Pengalaman SELESAI.

Minggu, 04 Desember 2016

MENGEJAR MATAHARI



Kau membantu menarik tanganku mendaki bebatuan terjal di kaki bukit. Ah, demi mengejar sunrise.
“Kau lelah?” tanyamu seraya mengarahkan lampu senter ke pijakan kakiku.
Aku menggeleng. “Aku masih kuat.” Aku menggenggam tanganmu erat dan mendorong tubuhku agar berat tubuhku berpindah ke depan kaki belakangku menjadi ringan.
“Aku sudah janji akan membawamu ke atas bukit ini jadi bersabarlah sebentar lagi kita sampai,” katamu melegakanku.
Aku yang menginginkannya maka aku pula yang harus menanggung konsekuensinya. Nafasku sudah terengah-engah tak beraturan.
“Aku sudah melihat puncaknya. Kau benar,” ujarku dengan nafas tersenggal-senggal. Banyak lampu di bawah pertanda sudah aku sudah mencapai puncak bukit. 
“Ini baru sebuah bukit bukan gunung. Kau seharusnya lebih latihan fisik,” ejekmu.
“Oke. Untuk hal ini aku kalah. Kau pemenangnya,” kataku seraya membayangkan tanganku memegang bendera putih dan berkibar mengikuti gerakan.
Kau mengamati jam tanganmu. “Sebentar lagi moment sunrise pertama kita.”
“Semoga matahari tak malu-malu untuk menyapa kita,” ujarku berharap.
“Ya, kau benar. Akan sangat menyebalkan jika matahari tak bersahabat disaat kita telah berada di sini.”
Kita pun menunggu sambil bercerita panjang lebar hingga tak sadar semburat orange seolah membelah langit.
“Lihat, sudah waktunya.” Kau menunjuk ke langit.
Dalam takjub kita mengabadikan momen terbaik. Celetuk kekaguman muncul saat gambar yang kita abadikan.
“Ga, sini ambil foto bersama! Katakan sunrise.”
Sunrise.” Cekrek.
“Kita bisa melihat pemandangan seperti ini di manapun padahal matahari hanya satu. Luar biasa megah ciptaan Tuhan.  Kadang aku merasa sangat kecil.”
“Ya, kita hanya secuil dari bagian ciptaan Tuhan. Betapa bersyukurnya hari ini masih bisa melihat salah satu keagungan-Nya dan merayakan satu tahun anniversary kita.”
"Kamu tidak memakai cincin yang kuberi?" tanyamu tiba-tiba.
Aku menunduk merasa bersalah. "Maaf aku menghilangkannya lagi," ujarku seraya garuk-garuk kepala.
"Tak apa asalkan kau tidak menghilangkan perasaanmu padaku."
Aku tersenyum tak bisa berkata-kata.
"Kali ini aku memberikan hatiku. Jaga baik-baik." Kau memberiku sebuah kalung dengan gantungan  hati. "Bersinarlah seperti cahaya di bandul kalung itu agar aku bisa terus melihatmu saat sedang di kegelapan," lanjutmu.
"Jika cahayaku hilang apakah kau akan meninggalkanku?" tanyaku ala film drama.
"Tidak. Kalau cahayamu hilang aku akan membuatmu bersinar lagi," celetukmu membuatku tertawa.
Pura-pura serius aku berkata, "Terima kasih telah membuat hariku bercahaya.” 
Kau tertawa geli. “Aneh ya! Kita nggak terbiasa ala-ala drama.”  
Udara pagi membiusku. Bangunan gedung, sawah, lapangan mulai terlihat jelas. Pagi yang cerah untuk jiwa yang  sedang bersemi. Kau menepati janjimu mengejar matahari ke atas bukit bersama. Satu hal yang dilakukan bersama itu juga salah satu kebahagiaan. Jangan sia-siakan kata bahagia hanya dengan kata lelah. Pepatah mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Setelah perjuangan yang melelahkan, kebahagian kan datang. Percayalah.

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...