Langsung ke konten utama

Saat Kau Kembali



Kupejamkan mataku berkali-kali yang muncul hanya bayangmu. Tak kusangka kau berani mengatakannya. Dulu kau bilang kau akan tumbuh lebih tinggi dariku lalu akan bilang menyukaiku suatu saat nanti. Ternyata secepat itu waktu berlalu kau telah tumbuh lebih tinggi dariku kini. Tubuh jangkung, jemari tangan yang besar. Ah, itu semua mengacaukan pikiranku!
Aku berguling-guling di kamar tak beraturan. Entah perasaan macam apa ini yang mengalir di setiap pembuluh darahku. Aku merasa tekanan jantungku terlalu cepat. Rasanya ingin meledak dan menjerit. Aku bangun melihat ke cermin tubuhku baik-baik saja. Pipiku tak merah hanya saja tanganku gemetar. Separah inikah setelah kau patah hati lalu beristirahat dengan cinta dan mencoba memulainya lagi. Aku menghelakan nafasku menatap cermin baik-baik.
“Mbak, ada Mas Bari di depan rumah,” adik bungsuku berteriak sambil berlari menghampiri. 
“Disuruh nunggu ya, Dek!” seruku membuatnya berlari pergi.
Sekelumit pikiran rumit menghantuiku. Bahkan tak terpikirkan olehku untuk ganti pakaian atau berdandan lama seperti gadis lainnya. Aku hanya membawa nyali bersama pikiran kacau.
“Hei, Bar!” sapaku.
“Ini penampilan terbaikmu selama ini?” ejekmu. Kau memandang naik turun seolah baby doll-ku aneh.
Aku mengepalkan tanganku dan meninju udara. “Siapa suruh datang tiba-tiba. Anyway ngapain ke sini?”
“Aku mau traktir kamu mie ayam Bang Joni. Tapi yakin mau pergi pakai itu?” tanyamu dengan tatapan mengejek.
Akupun melihat pakaianku naik turun. “What ever-lah yang penting gratis kan.”
“Cuek banget sih sama penampilan. Cewek macam gini sekarang udah langka.”
Aku diam sejenak. Tiba-tiba terpikirkan kata langka yang menjadi garis bawah penekanan kata. “Astaga! Maksudnya aku harusnya ada di museum gitu!”
“Itu paham,” ejekmu seraya tertawa senang. “Bercanda, serius banget sih jadi orang. Pakai helm biar aman!” serumu.
“Anak kecil juga tahu biar aman pakai helm. Wait please! Aku ambil handphone dulu ketinggalan di dalam dan kunci motor.”
Sementara aku ke dalam kudengar kau menyalakan mesin. Dadaku bergemuruh hebat. Kunci motor pun sampai meleset beberapa kali. Aku melihat bajuku dari atas ke bawah membuat berpikir ulang. Mungkin sebuah jaket bisa menjadi alternatif yang tidak mencolok.
Ready! Let’s go!” serumu. “Ketemuan di sana ya. Aku mau isi bensin dulu.”
Aku menggangguk.
Tiba di depan kedai kecil depan sekolah menengah pertama dulu aku memarkirkan motor. Sekelibat ingatan masa laluku singgah. Seolah melihat Bari kecil tepat di depan gerbang dan aku berdiri di sana. Kau memarahiku habis-habisan karena salah jatuh cinta. Kau selalu memberi saran untuk segera mengakhirinya, tapi aku tak pernah mendengarkanmu. Sampai akhirnya akulah yang kena batunya. Mengingatnya membuat senyumku mengembang. Bari si kecil yang lucu.
“Bang, pesan mie ayam ceker dan mie ayam bakso ya. Minumnya biasa,” pesanku sembari mencari tempat duduk. 
Aku memilih dekat jendela agar jika kau datang aku bisa melambai padamu. Waktu di jam pun bergerak cepat. Kesal kuhabiskan mie ayam pesananku dan menyisakan bagianmu. Setelah sepuluh menit kau baru muncul cengar-cengir. “Lama ya?” tanyamu merasa tak bersalah.
“Lihat mangkokku.”
Kau tertawa setelah melihat mangkokku yang bersih tak menyisakan mie sedikitpun hanya kuah beberapa sendok. Kau pun menarik kursi di dekatku dan duduk manis seraya memandangku lama.
“Gimana tawaranku kemarin?” tanyamu tiba-tiba.
“Tawaran apa?” tanyaku balik tak mengerti.
“Freelance.”
“Freelance?” tanyaku bingung.
“Freelance di hatiku,” celetukmu nakal.
Deg. Aku diam.
“Gimana?” tanyamu lagi.
Glekk. “Bang, pesan jeruk hangat tanpa gula,” pintaku mengalihkan perhatian.
“Selera kamu jadi unik ya sekarang.”
“Udah cepetan itu dihabiskan dan jangan lupa bayar,” alihku.
Bersamamu menjadikanku seperti anak kecil. Lepas, bebas menjadi diriku sendiri.
“Ini mbak jeruk panas tanpa gula.”
“Terima kasih, Bang.” Sembari menutup mata, minuman itu kuteguk.
“Re, jangan-jangan kamu belum bisa move on?” celetukmu membuatku meletakkan gelas dengan keras.
Aku diam sesaat. Kuhelakan nafas panjang sebelum mengambil kunci motor dan keluar begitu saja. Kau terlihat tergesa membayar tanpa menghabiskan makanannya dan mengejarku.
“Re, kamu marah?” tanyamu seraya menyamai langkahku yang cepat.
“Iya, kita berteman berapa lama?” tanyaku. “Pertanyaan kamu itu sudah pernah aku jawab dulu. Harus berapa kali aku jelaskan. Kamu melanggar janjimu dulu,” jelasku kesal.
“Janji? Janji yang mana? Ah, yang itu! Bercanda, Re. Aku nggak tahu kamu akan semarah ini.”
“Ternyata aku salah bahkan kamu pun tidak bisa memahamiku,” ujarku seraya naik motor dan menyalakan mesin.
Kamu berdiri di depan motorku. “Re, aku minta maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu.”
Tiba-tiba kau bergerak mendekatiku dan mematikan mesinku dengan mencabut kunci motor.
“Lihat hal kecil seperti ini pun kupermasalahkan sekarang. Lebih baik kita berteman saja. Tak akan baik ke depannya untuk kita. Mula-mula kau akan bertanya tentang move on padaku, lalu kau akan mengungkit masa laluku. Kita tak akan bisa berkembang karena orientasimu masih ke belakang, Bar. Mana kunciku!”
Kau menggeleng dan tetap memegang erat kunci motorku.
“No, no. Aku tak akan mengulanginya lagi. Kau bisa memegang janjiku.”
Aku diam.
“Ayolah! Ini sepele, Re. Kalau kau seperti ini artinya kau memang benar-benar belum bisa move on.”
Aku menghelakan nafas dan turun dari motor. Akupun berjalan meninggalkan motorku di sana. Mungkin aku sudah gila tapi aku tak bisa bersamamu lebih lama. Kau hanya akan menyebutkan kalimat-kalimat yang tidak ingin kudengar.
“Aku sudah lebih tinggi sekarang. Itu kan yang kamu mau dulu?” teriakmu.
Aku hanya melambaikan tanganku tanpa menoleh. Kali ini kau tidak mengikutiku.Ah, yang benar saja aku meninggalkan motorku di sana. Aku mengutuk diri berkali-kali. Bagaimana jika orang di rumah menanyakan motor yang kubawa. Akhirnya dengan berat hati aku berbalik dan kembali.
“Aku tahu kau akan kembali lagi,” katamu seraya tersenyum.
“Aku kembali bukan untukmu. Mana kunci motorku!” seruku garang.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Pertanyaan apa?”
“Ah, kau pura-pura tak mendengarnya! Aku sekarang lebih tinggi bukankah itu yang kamu katakan dulu. Kau harusnya menerimaku sekarang.” Kau menggoda dengan menggerakkan kunciku ke udara.
“Itu kata-kataku di masa lalu, Bar. Aku sudah tidak tinggal di sana. Orientasiku sudah jauh dari sana sekarang. Maaf.” Aku meletakkan telapak tanganku berharap kau letakkan kunciku di sana.
“Tak bisakah kau memberi satu kesempatan.”
“Bar, aku tidak ingin pertemanan kita rusak. Besok aku akan melupakan hari ini, jadi kau juga harus melupakannya,” pintaku.
“Aku tidak ingin melupakanmu. Untuk apa aku harus melupakanmu bahkan untuk kejadian seperti ini. Aku ingin mengingatmu secara utuh. Entah itu saat kau baik padaku, marah, tidak mau bicara atau dalam hal apapun yang berhubungan denganmu aku tidak akan melupakannya.”
Kata-katamu membuatku geli.
“Ayolah! Mana kunciku!” rengekku.
“Jadi kau tidak akan berubah pikiran?” tanyamu.
Aku mengangguk yakin.
“Sedikitpun tidak?”
“Ah, jadi aku ditolak?”
Aku diam.
“Bagaimana jika aku tidak akan memberikan kunci ini padamu?”
“Aku yakin kau tidak akan tega,” jawabku yakin.
“Aku bisa saja melemparkan ini jauh kalau aku mau. Tapi sepertinya kamu lebih menyukai motor itu daripada aku,” ujarmu seraya menyerahkan kunci ke jemariku membuat wajahku berseri.
“Kalau nanti aku datang lagi artinya aku tidak akan melepaskanmu. Hari ini sudah cukup. Kau hanya membuatku tampak jahat,” katamu seraya berbalik menghampiri motormu. “Ingat hari ini aku membiarkanmu pergi bukan berarti aku menyerah!”
Aku hanya bisa membalasmu dengan senyuman. Kau memakai helm dan membuka kacanya.
“Aku akan jadi kandidat pertama. Hanya aku yang bisa membuatmu marah dan cepat berbaikan.”
Deg. Jantungku.

------------------------------------------------

ketika ku mendengar bahwa kini kau tak lagi dengannya
dalam benakku timbul tanya
masihkah ada dia di hatimu bertahta
atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu
namun siapkah kau tuk jatuh cinta lagi
meski bibir ini tak berkata bukan berarti ku tak merasa
ada yang berbeda di antara kita
dan tak mungkin ku melewatkanmu
hanya karena diriku tak mampu untuk bicara
bahwa aku inginkan kau ada di hidupku
pikirlah saja dulu hingga tiada ragu
agar mulus jalanku melangkah menuju ke hatimu (HIVI)

Komentar