Langsung ke konten utama

Rahasia Cintaku





Jam delapan dan ini masih sangat pagi untuk jam buka sebuah caffe. Jelas saja di pintu masuk pun masih tertulis closed tapi kau tetap membuka pintunya. Kulihat semua orang sedang beraktivitas masing-masing mempersiapkan menu bahan dan sebagian lain membersihkan ruangan. Kau pelanggan pertama yang datang. Aku mengizinkan masuk saat kau bilang butuh ruang sendiri dan hanya ingin meneguk minuman sambil berkhayal di pagi hari.
Pagi ini kau memesan Mocca Latte kesukaanmu. Kopi, mocca dengan campuran susu pertama hari ini. Aku memilihkan tempat duduk di sisi luar caffe seperti permintaanmu ingin cahaya pagi menyinarimu. 
Jam pun telah berputar lima belas menit kulihat tak ada mocca late di mejamu. Aku pun memanggil seorang pegawai untuk menyajikannya tapi ia bilang kehabisan gula dan seseorang lain sedang keluar membelinya. 
“Suka mocca latte?” tanyaku mencoba berkenalan denganmu.
“Ya,” katanya seraya melepas headset yang masih terpasang.
“Perkenalkan aku Arga pemilik caffe ini.”
“Rere,” balasmu.
“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Nama itu terdengar tak asing denganku.”
“Benarkah?”
“Kamu temannya Anggita?” tanyaku.
“Ya, bagaimana bisa kamu tahu?” tanyamu seraya melengkungkan senyum. “Ya, aku satu sekolahan dengannya saat SMA. Kami teman baik.”
“Berarti benar kita satu almamater,” lanjutku seolah belum pernah tahu kau sebelumnya.
Kau tersenyum cantik menghiasi pagiku seperti di masa lalu.
“Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu?”
Deg. Hatiku sedikit mencelos. Kau bahkan tak mengenaliku sedikitpun. Bagimu mungkin aku hanyalah orang yang berlalu lalang sesaat, tapi bagiku kau titik fokus di kantin sekolah dulu. Aku pun sampai hafal apa yang kau pesan setiap kali datang. Mocca latte minuman favoritmu sejak lama.
“Kamu sering ke sini?” tanyaku basa-basi.
“Ya, aku suka caffe kamu. Desainnya, pelayanannya, minumannya. Mocca latte di sini yang terbaik,” pujimu.
“Kenapa kamu suka mocca latte?”
“Manis tidak seperti kopi hitam yang pahit dan perpaduan rasanya enak di lidah. Kopi, mocca dan susu yang berpadu sempurna.”
“Yakin tidak mau mencoba yang lain? Sepertinya kamu belum mencoba minuman yang lain di sini.”
“Tidak. Tidak ingin hari ini. Mungkin lain waktu,” katamu seraya tersenyum seperti kue legit.
Mocca lattemu pun akhirnya datang. Wajahmu berseri-seri.
“Kamu sedang libur?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Bisa iya bisa tidak. Menurut kamu aku sedang liburan?” jawabmu seraya bertanya balik.
 Aku mengangguk yakin.
“Aku penulis lepas. Jadi hariku bebas kapanpun aku mau selagi tidak terikat.”
“Boleh kusimpulkan sedang bersantai?”
“Ya bisa dibilang bersantai tapi tidak benar-benar santai,” jawabmu seraya memutar-mutar cangkir.
Senyumku mengembang.
“Kenapa tersenyum? Kamu mau mencoba moccalatte-ku?” tanyamu.
“Tidak, tidak. Terima kasih. Untukmu saja supaya pagimu hari ini sempurna.”
Giliran kau yang tersenyum. “Ternyata bukan hanya caffe ini yang menyenangkan. Pemiliknya pun juga.”
“Baiklah aku tidak ingin mengganggu waktu bersantai. Jadi aku akan pergi dulu. Oh ya salam untuk Anggita,” pamitku.
“Tunggu. Apa kau sibuk wahai pemilik caffe?”
Aku membalikkan badan menatap tepat ke sudut bola matamu. “Tidak. Maksudku aku sedang bebas sepertimu.”
“Apakah kau mau menemaniku sebentar? Kalau kau mau,” pintamu membuat perasaanku meledak-ledak.
“Ah, ya jika tidak keberatan!”
“Aku punya pertanyaan untukmu,” katamu saat aku sedang menarik kursi dan duduk.
“Ah, jadi kau sedang mencari inspirasi pagimu dengan bertanya padaku. Baiklah dengan senang hati aku akan menjawabmu.”
“Apakah kamu yang menulis surat untukku sepuluh tahun silam? Kertas biru dengan inisial AR.”
Deg. Ketangkap basah.
“Aku tahu kaulah yang menulisnya. Aku sudah menyelidikinya. Kau benar-benar sangat lucu.”
Glekk.
Kau tertawa puas sedang dadaku bergemuruh hebat. Kau pikir lucu tapi bagiku ini adalah awal bagiku mencintaimu sekali lagi.

------------------------------------------
Setiap di dekatmu hatiku meresah
Sesaat di sampingmu seakan kau milikku
Kusadari aku tak seharusnya terbawa perasaan
Dan aku mencintaimu sungguh-sungguh tanpa kau tahu
Tersimpan di dalam hatiku selamanya ini jadi rahasia cintaku (Kahitna)

Komentar

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini

Postingan populer dari blog ini

PERJODOHAN TARA

Aku berlari melawan hujan menuju sebuah halte kecil usang yang jarang dipakai orang. Atap-atapnya sudah rombeng. Saat hujan tak bisa dipakai untuk berteduh. Air sering kali terjun dari atas langsung menimpa kepala. Air deras mengalir dari sisi-sisi tiang penyangga. Aku hanya bisa berdoa semoga bus cepat datang sebelum tubuhku basah kuyup. Sesaat bus itu tiba dan kakiku segera melangkah menuju arah bus. Tapi bus itu tak jua berhenti, justru berhenti di halte baru. Aku menghelakan nafasku sebagai bukti kekecewaanku. Sudah basah kuyup tak dapat bus. Payah, sungguh payah. Mulut mulai komat-komit mengumpat sambil berjalan menuju halte baru. Tiba-tiba aku merasa hujan sudah reda. Tak ada air yang menetes di tubuhku. Ternyata ada seorang baik hati yang memayungiku. “Kelihatannya kita sudah pernah ketemu ya mbak?” sapa pria jangkung dengan senyum menawannya. Wajah itu memang pernah terlihat beberapa kali saat aku membeli roti untuk pengganjal perutku yang keroncongan. Pria itu seorang pelayan…

Kakak Anak Mama, Adik Anak Papa, Aku Anak Siapa?

Pagi ini meja makan terisi lengkap. Semua jenis makanan yang biasa dihidangkan saat lebaran ada. Benar-benar acara penyambutan yang spektakuler. Padahal hanya kakak yang datang bukan Pak Presiden. “Boy, gimana dapat juara?” tanya Mama begitu melihat Kak Boy baru turun dari mobil. Aku mengamati dengan penuh rasa iri. Mama selalu mengutamakan Kak Boy dimanapun itu. Aku benci Mama. “Cuma dapat juara dua, Ma. Pahadal menit-menit terakhir seharusnya aku bisa mencetak satu gol lagi. Tapi payah gara-gara pelanggaran dari tim lawan waktunya jadi habis. Yah, terpaksa dapat juara dua padahal cuma selisih satu poin,” jawab Kak Boy dengan penjelasan panjang lebarnya dan membuatku menguap. Aku pun berpikir untuk masuk ke dalam rumah karena aku tahu akan menjadi lebih panjang jika aku tetap berada di tengah-tengah mereka.  Apalagi Hera, adikku sedang asyik bermain kamera dengan Papa. Aku seperti kambing congek di padang rumput, sendirian. Mbekk.. Saat aku membalikkan badanku Mama memanggilku. Kupiki…