Langsung ke konten utama

Kulakukan Dengan Cinta



“Renata,” panggilku di pintu masuk.
“Masuk, Dit. Aku di dapur,” teriakmu.
Aku duduk di depan pantrymu. Kau terlihat asyik memotong mentimun, kol dan wortel. Tak ada panci dan penggorengan di kompormu.
“Mau masak apa?” tanyaku.
No. Aku tidak memasak hanya mencampurnya lalu kita makan.”
Aku mengernyit. “Mentah?”
“Ya, kalau mau kau bisa mencicipinya?” Kau menatapku sekejap lalu meneruskan potongan-potongan kecil terakhir pada wortelmu.
“Tidak, kau saja yang makan. Aku akan menunggumu makan, lalu kita pergi menyusul yang lain.”
Kau bergerak menuju magic com dengan piring di tanganmu. Kau taruh irisan mentimun, kol dan wortel di atas nasi yang telah kau tuang. Tak lupa kau lumuri mayonese dari dalam kulkasmu. Perpaduan warna hijau, putih, oranye di piringmu.
“Selesai. Enak lho! Mau coba?” Kau menyodorkan piringmu ke mukaku sangat dekat.
“Nggak tertarik,” tepisku. “Jadi begini caramu makan dan membuat tubuhmu ramping?”
“Mungkin kebetulan saja aku menyukai ini.”
“Kebetulan atau sengaja kau rencanakan?”
“Apa?” tanyamu seraya mengambil sendok garpu.
“Kau tak tahu maksudku? Sudahlah jangan pura-pura menutupinya dariku.”
Kau dengan senang melahap makananmu itu. Sesekali kau melirikku yang melihat cara makanmu.
“Kamu pasti mau bilang ini makanan kambing?”
“Nggak. Aku hanya berpikir kamu butuh daging untuk membuat tubuhmu sedikit berisi.”
Aku menatapmu geli. Tubuh kecilmu yang belum juga berubah. Cara makanmu yang tidak elegan. Ah, itu yang membuatku tertarik. Kau tak peduli dengan siapa kau makan, kau tetap menjadi dirimu sendiri kecuali pada satu orang dan itu dia.
“Yang lain sudah berangkat lebih dulu ya? Jadi hanya kita berdua yang sedikit terlambat?” tanyamu setelah menelan suapan terakhir.
“Tidak. Si Roy-mu itu sepertinya juga ikut-ikutan terlambat.”
“Baguslah,” katamu dengan nada tak tertarik. Biasanya apapun tentang dia, matamu akan berbinar dan senyummu melengkung sempurna. Kali ini aku menangkapmu dengan cara berbeda.
“Kau mengorbankan dirimu seperti ini dengan tidak makan daging dan menjadi vegetarian demi dia. Benarkah yang kulihat ini?”
“Tidak. Kebetulan saja aku suka sayuran seperti ini.”
“Dulu sebelum mengenalnya kau adalah pemakan segalanya, beberapa bulan setelah mengenalnya kau mulai memproklamirkan diri menjadi vegetarian. Itu sangat aneh di mataku.”
“Bagiku biasa saja.” Lagi kau seperti mengacuhkannya.
Baru kusadari tidak ada suara apapun selain kami berdua  di pantry. “Kok sepi? Biasanya adikmu berkeliaran menjahiliku.”
“Weekend. Mereka semua pergi kecuali aku.” Kau berdiri mengambil dua gelas. “Kalau minum kau pasti tidak akan menolak. Mau minum apa? Emm, aku punya markisa dingin yang mengandung banyak vitamin C.”
“Terserahlah apa itu, ambilkan aku air putih saja.”
Not bad. Air putih juga baik untuk kesehatan.”
“Lihat perubahanmu sekarang. Aku sampai tak mengenalimu lagi.”
Kau tersenyum sambil meletakkan segelas air putih di meja pantry-mu.
“Hari ini kamu berubah. Tiba-tiba menjadi sangat aneh. Entah hanya perasaanku saja, atau memang sesuatu terjadi padamu.”
Kau menuang markisa dinginmu ke dalam gelas. Kuning berembun. “Segarnya,” katamu sesaat setelah menuang. “Aku hanya mengawali hariku dengan optimis. Itu saja.” Kau meneguk minumanmu itu sampai tak tersisa.
“Optimis untuk apa? Kamu terlihat berusaha keras menaklukkannya.”
“Kenapa kau begitu yakin aku menyukainya?” Sorot matamu berubah saat menyinggung tentang Roy.
“Beberapa waktu aku melihatmu tersenyum sendiri saat mendapat pesannya, melihatnya muncul dan menyukai semua apa yang dia sukai.”
“Jadi begitu ya. Aku terlihat dengan jelas.”
“Sangat jelas.”
“Kau ingat saat kita ke restoran Jepang kemarin. Kau pulang duluan waktu itu dan Roy mengantarku. Dia menyuruhku berhenti menggodanya.”
Glekk. “Apa?”
Kau tersenyum getir. “Padahal aku hanya mengatakan menyukai makanan yang sama dan hobi yang sama. Lalu tiba-tiba dia memotong kata-kataku dan mengatakan seseorang sepertiku pasti banyak dicari laki-laki. Aku bisa mendapatkan yang lebih baik darinya karena dia sudah bersama seseorang saat ini. Ia menyuruhku berhenti menyamakan diriku dengan istrinya,” lanjutmu.
Glekk.
“Istri?  Jadi kamu sudah tahu sebelumnya kalau dia sudah punya istri.”
“Ya, aku sudah tahu,” ujarmu seraya tersenyum. “Dulu aku pernah melihatnya melepas cincin di jari manisnya, mungkin dengan maksud agar tak terlihat teman-teman kita. Bukan salahku kan kalau aku mendekatinya. Dia yang sengaja melepasnya.”
“Tunggu kalau kau sudah tahu kenapa kau melakukannya?” tanyaku penasaran.
“Aku kehilangan kendali atas perasaanku, Dit.”
Aku pun terdiam. Perempuan yang kukenal dari kecil berubah tanpa kusadari.
“Aku akan bersiap-siap. Sepertinya kita sudah terlalu lama di sini,” ujarmu mengalihkannya.
Kau beranjak meninggalkanku di pantry dengan piring kotor. Aku memahami sampai di titik ini. Kau tidak ingin menyalahkan atau disalahkan. Kau kembali dengan dirimu yang tertutup.
“Ren, aku bantu cuci ya,” teriakku.
Kau tak menjawabku. Aku membantumu mencuci piring dan gelas kotor yang ada di pantry.
“Kenapa kamu melakukan semuanya, Dit?” tanyamu dengan pandangan berbeda.
Aku yang sedang meletakkan piring di rak, menoleh. “Hanya membantumu.”
Kau menghelakan nafas panjang. “Kita berangkat sekarang!” Kau menarik tanganku.
“Ren, sebentar kuncinya!”
Kau melepas tanganku.
“Kamu sahabat terbaikku, Dit,” katamu saat aku menjumput kunci di meja.
“Apa?” tanyaku tak mengerti kata-katamu.
“Kamu yang terbaik. Terima kasih.”
“Apa yang kamu bicarakan? Ayo kita sudah terlambat!” ujarku seraya membalas tarikan tanganmu tadi.
Hujan. Aku ingin menarik tanganmu agar tak terlepas tapi kamu menghentikan tanganku.
“Aku kunci pintu dulu.”
“Kamu sudah bawa skenarionya kan? Aku sudah bawa kamera dan properti yang dibutuhkan di mobil.”
Kau menggangguk. “Aku sudah mengganti pemeran utamanya.”
“Apa?”
“Tadi malam aku memutuskan kau yang akan jadi pemeran utamanya.”
Glekk.
“Aku?”
“Ya, kita dan hujan.”
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
Kita berlari kecil ke arah mobil saling memandang, saling tersenyum. Kau membuka pintu mobil tanpa menjawabku. Aku menutup pintu terakhir saat kau mengenakan seat belt.
“Aku penasaran. Kenapa kamu mengubah pemeran utamanya? Aku tidak cukup baik saat beradu acting denganmu? Bagaimana kalau nilai kita rendah karena aku yang jadi pemeran utamanya?” tanyaku memberondong pertanyaan.
“Aku tahu kau bisa melakukannya, Dit. Kau belum baca scriptnya kan? Ini script terbaru. Aku sudah memberitahu yang lain. Mereka sudah setuju.” Kau menyodorkan script yang sudah kau print. “Pelajari itu nanti!” serumu.
Sekilas kulihat bagian awal. Kau menuliskan dengan sangat baik. Satu paragraf awal monolog membuatku yakin satu hal. “Ini kisah tentang pertemuan kita?” tanyaku.
“Ya, dan kisah lima belas menit setelahnya,” jelasmu.
Aku tersenyum dan menutup script. “Kita berangkat sekarang.”
“Lima belas menit terbaik dalam hidupku. Terima kasih Dit karena telah menjadi sahabat terbaikku. Kamu sudah banyak membantuku. Izinkan aku mengabadikannya dalam film pendek karya kelompok kita,” lanjutmu seraya menatapku tajam.
Deg. Dadaku bergemuruh hebat.
“Ren, bisakah kamu berhenti menatapku sebentar? Aku ingin konsentrasi jalan. Tatapanmu membuatku gagal fokus,” celetukku membuatmu tertawa.
Andai bisa kukatakan dengan lantang aku melakukannya dengan cinta, aku menyukaimu Renata. Apakah tawamu akan tetap sama?

----------------------------------------
Kau katakan aku sahabat terbaik
dan bukan itu yang kumau sebenarnya
Kau sedih aku temani
menggenggam tanganmu mungkin dengan
harapan yang berbeda dengan benakku
namun aku setia bersabar menunggu kau mengerti

Dibalik semua ini aku melakukannya dengan cinta (Kahitna)

Komentar