Sabtu, 26 November 2016

JANGAN BANDINGKAN AKU DENGANNYA




“Makan di luar yuk!” Kau berpakaian rapi siap pergi.
Aku menatapmu aneh. “Ke mana?” tanyaku.
“Ke suatu tempat spesial,” jawabmu seraya mendorong tubuhku keluar rumah lagi.
“Aku baru sampai. Kau menyuruhku pergi lagi?” tanyaku.
“Bukan kau tapi kita,” jawabmu tersenyum.
“Kamu nggak masak?” tanyaku seraya melirik ke belakang.
Kau menggeleng.
“Jadi kamu sengaja berpakaian rapi?”
“Hmm,” jawabmu seraya mengangguk.
Ini hari ke delapan kau dan aku memulai kehidupan baru dengan cincin yang tersemat di jari – terikat. Aneh saja tiba-tiba kau mengajakku keluar. Mungkin tujuh hari di dalam rumah membuatmu sedikit bosan.
“Kita sampai. Kita masuk ke dalam!” ajakmu.
Aku hanya diam mengikutimu. Kau yang mencari tempat duduk sampai memesan makanan.
“Dulu aku sering ke sini. Tapi sudah setahun lalu aku berhenti ke sini. Padahal makanannya enak.”
“Jadi sekarang aku orang pertama yang kau ajak ke sini?”
“Begitulah. Ah, ya itu pesanan kita datang!”
“Sudah nggak sama mas yang dulu itu?” celetuk seorang waiter yang membuat wajahmu tersipu malu. Kau menatapku dan meraih jemariku menegaskan kau bersamaku.
Waiter itupun menggodamu setelah melihat cincin di jari manismu. “Ah, ya saya mengerti sekarang mbak sama mas yang ini. Silahkan menikmati! Kalau ada yang kurang bisa panggil saya. Gresila.”
“Kamu kenal sama waiter itu?”
“Ya, dia pekerja di sini. Setiap aku ke sini dulu dia yang sering mengantarkan pesanan. Makan yuk!”
Aku membalik piring dan mengambil sendok. Tiba-tiba kau menaruh bawang goreng ke piringku dan aku menatapmu heran.
“Maaf. Sudah kebiasaan soalnya kalau makan ini,” ujarmu seraya tersenyum. “Kalau kau tak suka akan aku ambil lagi.”
“Aku baru tahu kamu nggak suka bawang goreng,” ujarku seraya membantumu mencari bawang goreng di piringmu dan memindahkannya.
“Ah, ya! Aku belum memberitahumu ya. Aku pikir aku sudah melakukannya. Maaf.”
“Makanannya enak juga. Siapa yang memberitahumu tempat ini?”
“Siapa ya aku lupa. Kalau nggak salah dulu pertama kali Anggita.”
“Emm, jadi sama Anggita.”
Kau bercerita, “Ya, lalu jadi kebiasaan setiap pulang kerja pasti ke sini.”
“Jadi tempat ini jadi tempat favoritmu? Lalu kenapa kamu berhenti ke tempat ini selama setahun?”
“Semenjak hari itu. Kamu ingat kan aku pernah cerita waktu putus dari Ega. Tempatnya di sini.”
Glekk. Aku tak suka kau menyebut namanya.
“Aku tidak ingin karena semua itu lalu tidak menjamah tempat favoritku ini. Aku tidak akan seegois itu,” lanjutmu.
Lagi  kau mengulanginya lagi. Tempat favoritmu yang selalu berkaitan dengan dia. Tempat terindahmu yang selalu tersimpan kenangan dengannya.
“Tidak bisakah hanya aku saja?”
“Apa? Aku nggak dengar.”
“Tidak bisakah hanya aku saja?”
“Berisik sekali di luar. Kita makan dulu saja,” katamu saat melihat ada rombongan orang di luar berorasi. 
Ada yang bilang kesempatan hanya datang satu kali. Sepertinya kata-kata itu berlaku padaku dan aku telah kehilangan selera untuk bertanya padamu.
Tiba-tiba si waiter itu datang dengan teko bening berisi air putih.
“Lho kami tidak meminta air putih.” Aku menjadi bingung. “Apakah itu tradisi di sini setelah makan?”
“Tidak, Bar. Biasanya dulu Ega memesankan air putih setelah aku selesai makan. Nggak apa-apa,” jelasmu. “Taruh saja di sini!” serumu pada Gresila yang juga terlihat kebingungan.
Dadaku bergemuruh hebat tak beraturan. Aku menarik tubuh dan bersandar pada kursi meletakkan sendokku. Seburuk itukah aku yang tidak mengetahui kebiasaanmu.
“Oh, ya tadi kamu bicara apa?” tanyamu setelah Gresila pergi.
Aku diam. Kau mengamati gerak-gerikku.
“Apa kau marah? Kau marah karena tadi aku nggak mendengarkanmu? Aku minta maaf.”
“Aku bukan dia,” ucapku dengan nada kesal.
“Maksudnya dia siapa?” tanyamu bingung.
 “Selama ini aku siapa bagimu?”
“Kamu ya orang yang penting di hidupku.”
“Sepenting apa aku bagimu?” tanyaku meninggi.
“Tunggu kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Kau kesal padaku.”
Aku menghelakan nafasku.
“Kamu bisa jelaskan kenapa seperti ini?”
“Tak bisakah hanya aku saja tanpa menyebutnya.”
“Kau cemburu. Hei, aku sedang bersamamu.”
“Ragamu memang di sini bersamaku tapi jiwamu tak benar-benar ada di sini bersamaku.”
“Apa aku terlihat seperti itu di matamu?” tanyamu dengan nada tinggi. Kau seperti terburu-buru menghabiskan suapan terakhir dan meminta bill ke Gresila. Kau bahkan tidak menunggu uang kembalian dan meninggalkanku di dalam. Aku mengejar langkah cepatmu.
“Tunggu, Clara. Kenapa jadi kau yang marah?” tanyaku seraya menghentikan lajumu dengan menarik tanganmu.
“Ya benar aku marah. Kau tidak percaya padaku. Kau meragukanku.”
“Aku tidak meragukanmu,” ujarku seraya menahan tubuhmu pergi dengan memegang bahumu.
“Lalu itu tadi apa? Kamu meragukanku, Bar. Kamu bilang jiwaku tak di sini. Aku di sini Bara. Aku bertanya balik sekarang kamu anggap apa aku ini? Bisakah kau jelaskan?”
Aku diam.
“Aku ada di sini bersamamu tapi kamu meragukanku. Kamu tahu hari-hari yang telah aku jalani seharusnya kau bisa mempercayaiku.”
“Maaf. Aku minta maaf.”
Kau tiba-tiba menangis. Aish! Senjata itu.
“Aku minta maaf. Aku terlalu berlebihan.” Aku menyeka air matamu. “Kamu bisa  bertanya dengan baik-baik, Bar. Seharusnya kau tadi tidak meninggikan suaramu.”
“Iya aku minta maaf. Aku hanya tidak bisa mengendalikan amarahku. Jangan menangis lagi. Aku akan belajar mengenalmu berkali-kali, berulang-ulang sampai memahamimu seutuhnya.”
Pada akhirnya aku harus memendamnya walau terkadang namanya yang kau sebut mengusik pikiranku. Aku harus menenangkan diriku. Walau hari ini aku belum terbiasa dan merasa kau membandingkanku dengannya tapi suatu saat nanti saat aku sudah memahamimu aku akan terbiasa.


-----------------------------------------------------
Tlah lama kita jalani cerita cinta kita
Namun masa lalumu terus menghantui dalam setiap langkahmu
Tlah lama aku mencoba jadi yang terbaik untukmu
Namun bayangan dirinya tak dapat kau lupa di setiap cerita
Biarkanlah aku mencintaimu dengan seluruh rasa cintaku
Biarkanlah aku menyayangimu setulus hati
Jangan bandingkan aku dengannya
Nilai saja tulus cintaku
Tak ingin sisa cinta yang lain untuk diriku
Jangan bandingkan aku dengannya
Harus bagaimana kudapat berharap tuk memilikimu dengan seutuhnya
Harus bagaimana kuharus berbuat tuk mendapatkan hatimu

(Abdul and the Coffee Theory)

Sabtu, 19 November 2016

Rahasia Cintaku





Jam delapan dan ini masih sangat pagi untuk jam buka sebuah caffe. Jelas saja di pintu masuk pun masih tertulis closed tapi kau tetap membuka pintunya. Kulihat semua orang sedang beraktivitas masing-masing mempersiapkan menu bahan dan sebagian lain membersihkan ruangan. Kau pelanggan pertama yang datang. Aku mengizinkan masuk saat kau bilang butuh ruang sendiri dan hanya ingin meneguk minuman sambil berkhayal di pagi hari.
Pagi ini kau memesan Mocca Latte kesukaanmu. Kopi, mocca dengan campuran susu pertama hari ini. Aku memilihkan tempat duduk di sisi luar caffe seperti permintaanmu ingin cahaya pagi menyinarimu. 
Jam pun telah berputar lima belas menit kulihat tak ada mocca late di mejamu. Aku pun memanggil seorang pegawai untuk menyajikannya tapi ia bilang kehabisan gula dan seseorang lain sedang keluar membelinya. 
“Suka mocca latte?” tanyaku mencoba berkenalan denganmu.
“Ya,” katanya seraya melepas headset yang masih terpasang.
“Perkenalkan aku Arga pemilik caffe ini.”
“Rere,” balasmu.
“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Nama itu terdengar tak asing denganku.”
“Benarkah?”
“Kamu temannya Anggita?” tanyaku.
“Ya, bagaimana bisa kamu tahu?” tanyamu seraya melengkungkan senyum. “Ya, aku satu sekolahan dengannya saat SMA. Kami teman baik.”
“Berarti benar kita satu almamater,” lanjutku seolah belum pernah tahu kau sebelumnya.
Kau tersenyum cantik menghiasi pagiku seperti di masa lalu.
“Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu?”
Deg. Hatiku sedikit mencelos. Kau bahkan tak mengenaliku sedikitpun. Bagimu mungkin aku hanyalah orang yang berlalu lalang sesaat, tapi bagiku kau titik fokus di kantin sekolah dulu. Aku pun sampai hafal apa yang kau pesan setiap kali datang. Mocca latte minuman favoritmu sejak lama.
“Kamu sering ke sini?” tanyaku basa-basi.
“Ya, aku suka caffe kamu. Desainnya, pelayanannya, minumannya. Mocca latte di sini yang terbaik,” pujimu.
“Kenapa kamu suka mocca latte?”
“Manis tidak seperti kopi hitam yang pahit dan perpaduan rasanya enak di lidah. Kopi, mocca dan susu yang berpadu sempurna.”
“Yakin tidak mau mencoba yang lain? Sepertinya kamu belum mencoba minuman yang lain di sini.”
“Tidak. Tidak ingin hari ini. Mungkin lain waktu,” katamu seraya tersenyum seperti kue legit.
Mocca lattemu pun akhirnya datang. Wajahmu berseri-seri.
“Kamu sedang libur?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Bisa iya bisa tidak. Menurut kamu aku sedang liburan?” jawabmu seraya bertanya balik.
 Aku mengangguk yakin.
“Aku penulis lepas. Jadi hariku bebas kapanpun aku mau selagi tidak terikat.”
“Boleh kusimpulkan sedang bersantai?”
“Ya bisa dibilang bersantai tapi tidak benar-benar santai,” jawabmu seraya memutar-mutar cangkir.
Senyumku mengembang.
“Kenapa tersenyum? Kamu mau mencoba moccalatte-ku?” tanyamu.
“Tidak, tidak. Terima kasih. Untukmu saja supaya pagimu hari ini sempurna.”
Giliran kau yang tersenyum. “Ternyata bukan hanya caffe ini yang menyenangkan. Pemiliknya pun juga.”
“Baiklah aku tidak ingin mengganggu waktu bersantai. Jadi aku akan pergi dulu. Oh ya salam untuk Anggita,” pamitku.
“Tunggu. Apa kau sibuk wahai pemilik caffe?”
Aku membalikkan badan menatap tepat ke sudut bola matamu. “Tidak. Maksudku aku sedang bebas sepertimu.”
“Apakah kau mau menemaniku sebentar? Kalau kau mau,” pintamu membuat perasaanku meledak-ledak.
“Ah, ya jika tidak keberatan!”
“Aku punya pertanyaan untukmu,” katamu saat aku sedang menarik kursi dan duduk.
“Ah, jadi kau sedang mencari inspirasi pagimu dengan bertanya padaku. Baiklah dengan senang hati aku akan menjawabmu.”
“Apakah kamu yang menulis surat untukku sepuluh tahun silam? Kertas biru dengan inisial AR.”
Deg. Ketangkap basah.
“Aku tahu kaulah yang menulisnya. Aku sudah menyelidikinya. Kau benar-benar sangat lucu.”
Glekk.
Kau tertawa puas sedang dadaku bergemuruh hebat. Kau pikir lucu tapi bagiku ini adalah awal bagiku mencintaimu sekali lagi.

------------------------------------------
Setiap di dekatmu hatiku meresah
Sesaat di sampingmu seakan kau milikku
Kusadari aku tak seharusnya terbawa perasaan
Dan aku mencintaimu sungguh-sungguh tanpa kau tahu
Tersimpan di dalam hatiku selamanya ini jadi rahasia cintaku (Kahitna)

Sabtu, 12 November 2016

Saat Kau Kembali




Kupejamkan mataku berkali-kali yang muncul hanya bayangmu. Tak kusangka kau berani mengatakannya. Dulu kau bilang kau akan tumbuh lebih tinggi dariku lalu akan bilang menyukaiku suatu saat nanti. Ternyata secepat itu waktu berlalu kau telah tumbuh lebih tinggi dariku kini. Tubuh jangkung, jemari tangan yang besar. Ah, itu semua mengacaukan pikiranku!
Aku berguling-guling di kamar tak beraturan. Entah perasaan macam apa ini yang mengalir di setiap pembuluh darahku. Aku merasa tekanan jantungku terlalu cepat. Rasanya ingin meledak dan menjerit. Aku bangun melihat ke cermin tubuhku baik-baik saja. Pipiku tak merah hanya saja tanganku gemetar. Separah inikah setelah kau patah hati lalu beristirahat dengan cinta dan mencoba memulainya lagi. Aku menghelakan nafasku menatap cermin baik-baik.
“Mbak, ada Mas Bari di depan rumah,” adik bungsuku berteriak sambil berlari menghampiri. 
“Disuruh nunggu ya, Dek!” seruku membuatnya berlari pergi.
Sekelumit pikiran rumit menghantuiku. Bahkan tak terpikirkan olehku untuk ganti pakaian atau berdandan lama seperti gadis lainnya. Aku hanya membawa nyali bersama pikiran kacau.
“Hei, Bar!” sapaku.
“Ini penampilan terbaikmu selama ini?” ejekmu. Kau memandang naik turun seolah baby doll-ku aneh.
Aku mengepalkan tanganku dan meninju udara. “Siapa suruh datang tiba-tiba. Anyway ngapain ke sini?”
“Aku mau traktir kamu mie ayam Bang Joni. Tapi yakin mau pergi pakai itu?” tanyamu dengan tatapan mengejek.
Akupun melihat pakaianku naik turun. “What ever-lah yang penting gratis kan.”
“Cuek banget sih sama penampilan. Cewek macam gini sekarang udah langka.”
Aku diam sejenak. Tiba-tiba terpikirkan kata langka yang menjadi garis bawah penekanan kata. “Astaga! Maksudnya aku harusnya ada di museum gitu!”
“Itu paham,” ejekmu seraya tertawa senang. “Bercanda, serius banget sih jadi orang. Pakai helm biar aman!” serumu.
“Anak kecil juga tahu biar aman pakai helm. Wait please! Aku ambil handphone dulu ketinggalan di dalam dan kunci motor.”
Sementara aku ke dalam kudengar kau menyalakan mesin. Dadaku bergemuruh hebat. Kunci motor pun sampai meleset beberapa kali. Aku melihat bajuku dari atas ke bawah membuat berpikir ulang. Mungkin sebuah jaket bisa menjadi alternatif yang tidak mencolok.
Ready! Let’s go!” serumu. “Ketemuan di sana ya. Aku mau isi bensin dulu.”
Aku menggangguk.
Tiba di depan kedai kecil depan sekolah menengah pertama dulu aku memarkirkan motor. Sekelibat ingatan masa laluku singgah. Seolah melihat Bari kecil tepat di depan gerbang dan aku berdiri di sana. Kau memarahiku habis-habisan karena salah jatuh cinta. Kau selalu memberi saran untuk segera mengakhirinya, tapi aku tak pernah mendengarkanmu. Sampai akhirnya akulah yang kena batunya. Mengingatnya membuat senyumku mengembang. Bari si kecil yang lucu.
“Bang, pesan mie ayam ceker dan mie ayam bakso ya. Minumnya biasa,” pesanku sembari mencari tempat duduk. 
Aku memilih dekat jendela agar jika kau datang aku bisa melambai padamu. Waktu di jam pun bergerak cepat. Kesal kuhabiskan mie ayam pesananku dan menyisakan bagianmu. Setelah sepuluh menit kau baru muncul cengar-cengir. “Lama ya?” tanyamu merasa tak bersalah.
“Lihat mangkokku.”
Kau tertawa setelah melihat mangkokku yang bersih tak menyisakan mie sedikitpun hanya kuah beberapa sendok. Kau pun menarik kursi di dekatku dan duduk manis seraya memandangku lama.
“Gimana tawaranku kemarin?” tanyamu tiba-tiba.
“Tawaran apa?” tanyaku balik tak mengerti.
“Freelance.”
“Freelance?” tanyaku bingung.
“Freelance di hatiku,” celetukmu nakal.
Deg. Aku diam.
“Gimana?” tanyamu lagi.
Glekk. “Bang, pesan jeruk hangat tanpa gula,” pintaku mengalihkan perhatian.
“Selera kamu jadi unik ya sekarang.”
“Udah cepetan itu dihabiskan dan jangan lupa bayar,” alihku.
Bersamamu menjadikanku seperti anak kecil. Lepas, bebas menjadi diriku sendiri.
“Ini mbak jeruk panas tanpa gula.”
“Terima kasih, Bang.” Sembari menutup mata, minuman itu kuteguk.
“Re, jangan-jangan kamu belum bisa move on?” celetukmu membuatku meletakkan gelas dengan keras.
Aku diam sesaat. Kuhelakan nafas panjang sebelum mengambil kunci motor dan keluar begitu saja. Kau terlihat tergesa membayar tanpa menghabiskan makanannya dan mengejarku.
“Re, kamu marah?” tanyamu seraya menyamai langkahku yang cepat.
“Iya, kita berteman berapa lama?” tanyaku. “Pertanyaan kamu itu sudah pernah aku jawab dulu. Harus berapa kali aku jelaskan. Kamu melanggar janjimu dulu,” jelasku kesal.
“Janji? Janji yang mana? Ah, yang itu! Bercanda, Re. Aku nggak tahu kamu akan semarah ini.”
“Ternyata aku salah bahkan kamu pun tidak bisa memahamiku,” ujarku seraya naik motor dan menyalakan mesin.
Kamu berdiri di depan motorku. “Re, aku minta maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu.”
Tiba-tiba kau bergerak mendekatiku dan mematikan mesinku dengan mencabut kunci motor.
“Lihat hal kecil seperti ini pun kupermasalahkan sekarang. Lebih baik kita berteman saja. Tak akan baik ke depannya untuk kita. Mula-mula kau akan bertanya tentang move on padaku, lalu kau akan mengungkit masa laluku. Kita tak akan bisa berkembang karena orientasimu masih ke belakang, Bar. Mana kunciku!”
Kau menggeleng dan tetap memegang erat kunci motorku.
“No, no. Aku tak akan mengulanginya lagi. Kau bisa memegang janjiku.”
Aku diam.
“Ayolah! Ini sepele, Re. Kalau kau seperti ini artinya kau memang benar-benar belum bisa move on.”
Aku menghelakan nafas dan turun dari motor. Akupun berjalan meninggalkan motorku di sana. Mungkin aku sudah gila tapi aku tak bisa bersamamu lebih lama. Kau hanya akan menyebutkan kalimat-kalimat yang tidak ingin kudengar.
“Aku sudah lebih tinggi sekarang. Itu kan yang kamu mau dulu?” teriakmu.
Aku hanya melambaikan tanganku tanpa menoleh. Kali ini kau tidak mengikutiku.Ah, yang benar saja aku meninggalkan motorku di sana. Aku mengutuk diri berkali-kali. Bagaimana jika orang di rumah menanyakan motor yang kubawa. Akhirnya dengan berat hati aku berbalik dan kembali.
“Aku tahu kau akan kembali lagi,” katamu seraya tersenyum.
“Aku kembali bukan untukmu. Mana kunci motorku!” seruku garang.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Pertanyaan apa?”
“Ah, kau pura-pura tak mendengarnya! Aku sekarang lebih tinggi bukankah itu yang kamu katakan dulu. Kau harusnya menerimaku sekarang.” Kau menggoda dengan menggerakkan kunciku ke udara.
“Itu kata-kataku di masa lalu, Bar. Aku sudah tidak tinggal di sana. Orientasiku sudah jauh dari sana sekarang. Maaf.” Aku meletakkan telapak tanganku berharap kau letakkan kunciku di sana.
“Tak bisakah kau memberi satu kesempatan.”
“Bar, aku tidak ingin pertemanan kita rusak. Besok aku akan melupakan hari ini, jadi kau juga harus melupakannya,” pintaku.
“Aku tidak ingin melupakanmu. Untuk apa aku harus melupakanmu bahkan untuk kejadian seperti ini. Aku ingin mengingatmu secara utuh. Entah itu saat kau baik padaku, marah, tidak mau bicara atau dalam hal apapun yang berhubungan denganmu aku tidak akan melupakannya.”
Kata-katamu membuatku geli.
“Ayolah! Mana kunciku!” rengekku.
“Jadi kau tidak akan berubah pikiran?” tanyamu.
Aku mengangguk yakin.
“Sedikitpun tidak?”
“Ah, jadi aku ditolak?”
Aku diam.
“Bagaimana jika aku tidak akan memberikan kunci ini padamu?”
“Aku yakin kau tidak akan tega,” jawabku yakin.
“Aku bisa saja melemparkan ini jauh kalau aku mau. Tapi sepertinya kamu lebih menyukai motor itu daripada aku,” ujarmu seraya menyerahkan kunci ke jemariku membuat wajahku berseri.
“Kalau nanti aku datang lagi artinya aku tidak akan melepaskanmu. Hari ini sudah cukup. Kau hanya membuatku tampak jahat,” katamu seraya berbalik menghampiri motormu. “Ingat hari ini aku membiarkanmu pergi bukan berarti aku menyerah!”
Aku hanya bisa membalasmu dengan senyuman. Kau memakai helm dan membuka kacanya.
“Aku akan jadi kandidat pertama. Hanya aku yang bisa membuatmu marah dan cepat berbaikan.”
Deg. Jantungku.

------------------------------------------------

ketika ku mendengar bahwa kini kau tak lagi dengannya
dalam benakku timbul tanya
masihkah ada dia di hatimu bertahta
atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu
namun siapkah kau tuk jatuh cinta lagi
meski bibir ini tak berkata bukan berarti ku tak merasa
ada yang berbeda di antara kita
dan tak mungkin ku melewatkanmu
hanya karena diriku tak mampu untuk bicara
bahwa aku inginkan kau ada di hidupku
pikirlah saja dulu hingga tiada ragu
agar mulus jalanku melangkah menuju ke hatimu (HIVI)

Sabtu, 05 November 2016

Kulakukan Dengan Cinta




“Renata,” panggilku di pintu masuk.
“Masuk, Dit. Aku di dapur,” teriakmu.
Aku duduk di depan pantrymu. Kau terlihat asyik memotong mentimun, kol dan wortel. Tak ada panci dan penggorengan di kompormu.
“Mau masak apa?” tanyaku.
No. Aku tidak memasak hanya mencampurnya lalu kita makan.”
Aku mengernyit. “Mentah?”
“Ya, kalau mau kau bisa mencicipinya?” Kau menatapku sekejap lalu meneruskan potongan-potongan kecil terakhir pada wortelmu.
“Tidak, kau saja yang makan. Aku akan menunggumu makan, lalu kita pergi menyusul yang lain.”
Kau bergerak menuju magic com dengan piring di tanganmu. Kau taruh irisan mentimun, kol dan wortel di atas nasi yang telah kau tuang. Tak lupa kau lumuri mayonese dari dalam kulkasmu. Perpaduan warna hijau, putih, oranye di piringmu.
“Selesai. Enak lho! Mau coba?” Kau menyodorkan piringmu ke mukaku sangat dekat.
“Nggak tertarik,” tepisku. “Jadi begini caramu makan dan membuat tubuhmu ramping?”
“Mungkin kebetulan saja aku menyukai ini.”
“Kebetulan atau sengaja kau rencanakan?”
“Apa?” tanyamu seraya mengambil sendok garpu.
“Kau tak tahu maksudku? Sudahlah jangan pura-pura menutupinya dariku.”
Kau dengan senang melahap makananmu itu. Sesekali kau melirikku yang melihat cara makanmu.
“Kamu pasti mau bilang ini makanan kambing?”
“Nggak. Aku hanya berpikir kamu butuh daging untuk membuat tubuhmu sedikit berisi.”
Aku menatapmu geli. Tubuh kecilmu yang belum juga berubah. Cara makanmu yang tidak elegan. Ah, itu yang membuatku tertarik. Kau tak peduli dengan siapa kau makan, kau tetap menjadi dirimu sendiri kecuali pada satu orang dan itu dia.
“Yang lain sudah berangkat lebih dulu ya? Jadi hanya kita berdua yang sedikit terlambat?” tanyamu setelah menelan suapan terakhir.
“Tidak. Si Roy-mu itu sepertinya juga ikut-ikutan terlambat.”
“Baguslah,” katamu dengan nada tak tertarik. Biasanya apapun tentang dia, matamu akan berbinar dan senyummu melengkung sempurna. Kali ini aku menangkapmu dengan cara berbeda.
“Kau mengorbankan dirimu seperti ini dengan tidak makan daging dan menjadi vegetarian demi dia. Benarkah yang kulihat ini?”
“Tidak. Kebetulan saja aku suka sayuran seperti ini.”
“Dulu sebelum mengenalnya kau adalah pemakan segalanya, beberapa bulan setelah mengenalnya kau mulai memproklamirkan diri menjadi vegetarian. Itu sangat aneh di mataku.”
“Bagiku biasa saja.” Lagi kau seperti mengacuhkannya.
Baru kusadari tidak ada suara apapun selain kami berdua  di pantry. “Kok sepi? Biasanya adikmu berkeliaran menjahiliku.”
“Weekend. Mereka semua pergi kecuali aku.” Kau berdiri mengambil dua gelas. “Kalau minum kau pasti tidak akan menolak. Mau minum apa? Emm, aku punya markisa dingin yang mengandung banyak vitamin C.”
“Terserahlah apa itu, ambilkan aku air putih saja.”
Not bad. Air putih juga baik untuk kesehatan.”
“Lihat perubahanmu sekarang. Aku sampai tak mengenalimu lagi.”
Kau tersenyum sambil meletakkan segelas air putih di meja pantry-mu.
“Hari ini kamu berubah. Tiba-tiba menjadi sangat aneh. Entah hanya perasaanku saja, atau memang sesuatu terjadi padamu.”
Kau menuang markisa dinginmu ke dalam gelas. Kuning berembun. “Segarnya,” katamu sesaat setelah menuang. “Aku hanya mengawali hariku dengan optimis. Itu saja.” Kau meneguk minumanmu itu sampai tak tersisa.
“Optimis untuk apa? Kamu terlihat berusaha keras menaklukkannya.”
“Kenapa kau begitu yakin aku menyukainya?” Sorot matamu berubah saat menyinggung tentang Roy.
“Beberapa waktu aku melihatmu tersenyum sendiri saat mendapat pesannya, melihatnya muncul dan menyukai semua apa yang dia sukai.”
“Jadi begitu ya. Aku terlihat dengan jelas.”
“Sangat jelas.”
“Kau ingat saat kita ke restoran Jepang kemarin. Kau pulang duluan waktu itu dan Roy mengantarku. Dia menyuruhku berhenti menggodanya.”
Glekk. “Apa?”
Kau tersenyum getir. “Padahal aku hanya mengatakan menyukai makanan yang sama dan hobi yang sama. Lalu tiba-tiba dia memotong kata-kataku dan mengatakan seseorang sepertiku pasti banyak dicari laki-laki. Aku bisa mendapatkan yang lebih baik darinya karena dia sudah bersama seseorang saat ini. Ia menyuruhku berhenti menyamakan diriku dengan istrinya,” lanjutmu.
Glekk.
“Istri?  Jadi kamu sudah tahu sebelumnya kalau dia sudah punya istri.”
“Ya, aku sudah tahu,” ujarmu seraya tersenyum. “Dulu aku pernah melihatnya melepas cincin di jari manisnya, mungkin dengan maksud agar tak terlihat teman-teman kita. Bukan salahku kan kalau aku mendekatinya. Dia yang sengaja melepasnya.”
“Tunggu kalau kau sudah tahu kenapa kau melakukannya?” tanyaku penasaran.
“Aku kehilangan kendali atas perasaanku, Dit.”
Aku pun terdiam. Perempuan yang kukenal dari kecil berubah tanpa kusadari.
“Aku akan bersiap-siap. Sepertinya kita sudah terlalu lama di sini,” ujarmu mengalihkannya.
Kau beranjak meninggalkanku di pantry dengan piring kotor. Aku memahami sampai di titik ini. Kau tidak ingin menyalahkan atau disalahkan. Kau kembali dengan dirimu yang tertutup.
“Ren, aku bantu cuci ya,” teriakku.
Kau tak menjawabku. Aku membantumu mencuci piring dan gelas kotor yang ada di pantry.
“Kenapa kamu melakukan semuanya, Dit?” tanyamu dengan pandangan berbeda.
Aku yang sedang meletakkan piring di rak, menoleh. “Hanya membantumu.”
Kau menghelakan nafas panjang. “Kita berangkat sekarang!” Kau menarik tanganku.
“Ren, sebentar kuncinya!”
Kau melepas tanganku.
“Kamu sahabat terbaikku, Dit,” katamu saat aku menjumput kunci di meja.
“Apa?” tanyaku tak mengerti kata-katamu.
“Kamu yang terbaik. Terima kasih.”
“Apa yang kamu bicarakan? Ayo kita sudah terlambat!” ujarku seraya membalas tarikan tanganmu tadi.
Hujan. Aku ingin menarik tanganmu agar tak terlepas tapi kamu menghentikan tanganku.
“Aku kunci pintu dulu.”
“Kamu sudah bawa skenarionya kan? Aku sudah bawa kamera dan properti yang dibutuhkan di mobil.”
Kau menggangguk. “Aku sudah mengganti pemeran utamanya.”
“Apa?”
“Tadi malam aku memutuskan kau yang akan jadi pemeran utamanya.”
Glekk.
“Aku?”
“Ya, kita dan hujan.”
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
Kita berlari kecil ke arah mobil saling memandang, saling tersenyum. Kau membuka pintu mobil tanpa menjawabku. Aku menutup pintu terakhir saat kau mengenakan seat belt.
“Aku penasaran. Kenapa kamu mengubah pemeran utamanya? Aku tidak cukup baik saat beradu acting denganmu? Bagaimana kalau nilai kita rendah karena aku yang jadi pemeran utamanya?” tanyaku memberondong pertanyaan.
“Aku tahu kau bisa melakukannya, Dit. Kau belum baca scriptnya kan? Ini script terbaru. Aku sudah memberitahu yang lain. Mereka sudah setuju.” Kau menyodorkan script yang sudah kau print. “Pelajari itu nanti!” serumu.
Sekilas kulihat bagian awal. Kau menuliskan dengan sangat baik. Satu paragraf awal monolog membuatku yakin satu hal. “Ini kisah tentang pertemuan kita?” tanyaku.
“Ya, dan kisah lima belas menit setelahnya,” jelasmu.
Aku tersenyum dan menutup script. “Kita berangkat sekarang.”
“Lima belas menit terbaik dalam hidupku. Terima kasih Dit karena telah menjadi sahabat terbaikku. Kamu sudah banyak membantuku. Izinkan aku mengabadikannya dalam film pendek karya kelompok kita,” lanjutmu seraya menatapku tajam.
Deg. Dadaku bergemuruh hebat.
“Ren, bisakah kamu berhenti menatapku sebentar? Aku ingin konsentrasi jalan. Tatapanmu membuatku gagal fokus,” celetukku membuatmu tertawa.
Andai bisa kukatakan dengan lantang aku melakukannya dengan cinta, aku menyukaimu Renata. Apakah tawamu akan tetap sama?

----------------------------------------
Kau katakan aku sahabat terbaik
dan bukan itu yang kumau sebenarnya
Kau sedih aku temani
menggenggam tanganmu mungkin dengan
harapan yang berbeda dengan benakku
namun aku setia bersabar menunggu kau mengerti

Dibalik semua ini aku melakukannya dengan cinta (Kahitna)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...