Langsung ke konten utama

Beauty Is You



Hari pertama di bulan Agustus  adalah pertemuan kita setelah hari-hari panjang. Kau sedikit berbeda dari terakhir bertemu. Kau sudah lebih berani membubuhkan lipstik merah menyala di bibirmu. Goresan senyummu semakin terlihat jelas di mataku.
“Rey, kau baru datang?” Ogi menyapaku.
“Bagaimana kabar Jakarta?” tanyamu seraya menaruh handphone ke meja dan mengawali pertemuan kita dengan senyuman. Cantik.
“Ya, masih macet dan panas,” jawabku klasik seraya mengambil posisi duduk di depanmu, membalas senyummu.
“Nggak ada kabar yang lebih baik lagi? Soal pacar baru di sana misalnya?” celetuk Ogi menggodaku dan menepuk bahuku.
“Pasti di sana gebetan Rey banyak,” tambah Erli – kekasih Ogi.
“Pacar apa? Aku di sana kan kuliah kenapa jadi bahas pacar sih?” Aku jadi kikuk. Erli mengulurkan daftar menu padaku.
“Punya pacar juga nggak kenapa-kenapa kok, Rey,” Erli menggodaku.
Di sudut mataku kau terlihat sangat tenang. Sesekali tersenyum mengiyakan kata-kata Erli.
“Kalian berdua kapan married-nya?” tanyaku balas menggoda.
“Iya kapan, Gi? Kamu nggak mau kan aku kelihatan semakin tua saat nanti kita married?” Erli mengirim kode ke Ogi yang hanya diam melipat tangan.
Ogi terlihat melirikmu. “Tanya aja tuh kapan Sasha married? Kapan Sha?” Ogi melempar pertanyaan kepadamu. Kau hanya tersenyum menunjukkan lengsung pipimu. Manis.
“Aku juga pengen tuh kayak Sasha kalau ditanya diam tapi dibaliknya misterius,” celetuk Ogi  seraya memandangimu tanpa berkedip.
“Apa sih, Gi?” Wajahmu tiba-tiba memerah memalu dan menepis tatapan Ogi.
Deg.
“Iya di balik diamnya itu pasti diam-diam besok langsung kasih undangan ke kita,” lanjut Ogi yang membuat pipimu semerah udang rebus. Ia pun tertawa.
“Kenapa jadi bahas itu sih?” Kau terlihat menepis.
“Serius Sha? Kamu udah dijodohin ya sama orang tuamu?” Erli mendadak penasaran.
“Aduh, kalian ini kenapa sih?” Kau mengelak lagi seraya menyeruput minumanmu.
Detik pertama aku senang melihatmu yang tersenyum tapi lama-lama aku melihatmu tersiksa. “Habis ini nonton, yuk! Film yang diputar sepertinya sedang bagus-bagus,” potongku mengalihkan perhatian.
“Aku ngikut aja deh,” katamu.
“Mau nonton apa?” tanya Ogi.
“Gimana kalau berangkat sekarang aja? Nanti kita tentukan di sana,” usulku.
“Boleh-boleh. Eh, tunggu! Kamu nggak pesan sesuatu dulu, Rey?”
“Nggak nanti aja kita bisa cari tempat lain,” tepisku.
“Ok. Kalau gitu aku bayar dulu ya. Ayo Gi!”
“Lho aku pikir mau bayar sendirian?” Ogi masih duduk santai.
“Ayolah, Gi  temenin ke kasir!” bujuk Erli seraya menunggu Ogi beranjak dari tempat duduknya.
Deg.
Mereka berdua berlalu. Kita hanya tinggal berdua. Entah mengapa menjadi terasa canggung. Kau mulai sibuk dengan handphone-mu.
“Kenapa kau tersenyum sendiri? Ehm, terlihat seperti sedang membaca pesan seseorang.”
Kau menutup handphonemu.
“Apa? Tidak.”
“Sudahlah mengaku saja tak perlu malu. Kita berteman sudah lama.”
“Jadi kau penasaran siapa itu? Haruskah ku katakan?”
Aku tersenyum tanpa memberi jawaban dan Ogi pun terlihat kembali tanpa Erli.
“Gi, udah di read kan BBM-ku?” tanyamu kepada Ogi yang baru saja kembali dari kasir.
“Iya sudah. Besok ya?” jawab Ogi.
“Okay.”
Ada pembicaraan yang tak kumengerti antara kalian. Tiba-tiba aku penasaran.
“Lho Erli dimana?” tanyamu seraya mencari keberadaan Erli di belakang Ogi.
“Udah ke parkiran. Ayo kita udah ditunggu Erli!” seru Ogi.
Kau sibuk merapikan buku dan laptopmu yang berserakan di meja.
“Sini, aku bantu!” tawarku.
“Terima kasih, Rey.” Kau melengkungkan senyummu. Menatapku lembut.
“Benar kau sudah dijodohkan orang tuamu?” tanyaku seraya mengulurkan laptop kepadamu.
“Apa kamu percaya begitu saja pada mereka?” tanyamu membuatku kikuk. “Mereka berdua tadi bercanda,” lanjutmu.
“Emm, kalau pacar?”
“Tidak, Rey. Kau tahu aku sudah beranjak dewasa. Rasional lebih penting daripada perasaan. Aku tidak pacaran,” jelasmu tegas seraya memasukkan laptop ke dalam tas.
Deg. Ada sesuatu di dalam sana yang membuatku terasa sedikit lebih lega. Dadaku bergemuruh hebat. Kau membuat jantungku berdebar untuk kesekian kalinya. Pemikiranmu itu yang membuatku selalu berharap padamu. Bisakah kau menungguku sebentar lagi, cantik?

--------------------------------------------------------------------

Bibirku membeku tak dapat berkata
Cantik parasmu sungguh tiada celah
Kaulah cahaya dunia
Kaulah cantik yang sempurna
You’re beauty, beauty is you
You’re beauty, beauty is you
Aku tak dapat menahan gejolak dalam hati
Jiwa ini telah luluh saat kita bertemu
Apakah ku akan mampu memiliki dirimu
Kurasa ku tlah jatuh hati padamu
Kau datang dengan sejuta pesonamu
Kau membuatku terpaku saat kau tersenyum (Abdul & The Coffee Theory)


Komentar