Langsung ke konten utama

20 Minutes




Kau berlari ke arahku bukan hanya untuk memberikan senyuman. Kau menepuk bahuku dan mengajakku duduk sejenak di caffe depan kantor sebelum pulang.
“Akhirnya kerjaanku kelar juga,” keluhmu sesaat setelah meletakkan tas di atas meja dan duduk dengan bebasnya. Kepalamu bersandar di kursi, kaki kau luruskan dan tanganmu di atas meja.
“Kau tahu hari ini sepertinya aku banyak membuat kesalahan. Dalam sehari lima kali disuruh mengganti laporan. Aku capek,” curhatmu. Kau memejamkan matamu. “Ah, akan terasa tenang seperti ini walau sesaat!”
“Kau mau pesan apa, Lia?” tanyaku seraya membuka menu.
Kau masih terpejam, “Hari ini aku mau jus. Pilihkan apa saja asalkan itu jus.”
“Yakin, apa saja? Bukannya ada buah yang kamu nggak suka,” celetukku.
Kau pun membuka mata dan menarik menu dari tanganku. “Melon.”
“Mbak,” panggilku.
“Jus melon satu.”
“Kamu nggak pesan?” tanyamu seraya mencondongkan badan ke arahku.
“Hari ini aku puasa,” jawabku seraya menunjukkan jam tangan.
“Yah, maaf Gi atau kubatalkan saja?”
“No problem. It’s okay! Kau santai saja. Sudah lanjutkan saja ceritamu.”
“Gi, apa aku jenuh ya? Pagi berangkat, sore balik, malam baru sampai rumah. Eh, besok udah pagi lagi.”
“Lalu?”
“Pernah nggak kamu kepikiran resign? Kalau aku jujur sering memikirkan itu.”
“Lalu kenapa kamu masih bertahan?”
“Aku juga nggak tahu kenapa bisa bertahan sampai sekarang. Aneh ya. Mungkin karena ada kamu di sana. Paling tidak aku bisa punya teman sharing.”
Aku tersenyum.
Kau melihatku dengan tatapan curiga, “Lalu kenapa kamu bisa bertahan lama? Bukannya kau lebih terlihat sulit berada di sana dibandingkan aku?”
“Memangnya kenapa kalau aku bisa bertahan?” “Aneh aja. Banyak kok teman kamu yang resign karena nggak kuat.”
“Demi seseorang. Aku ingin menunjukkan padanya kalau aku bertanggung jawab dengan pekerjaanku. Sama pekerjaan aja setia apalagi sama dia.”
“Aduh hai manisnya. Aduh, Gi beruntung banget dia. Jadi iri aku.” Kau menatapku dengan berlebihan membuatku merinding sesaat. Beruntung tak lama karena seorang waiter datang mengantar pesananmu.
“Jus melon?” tanya waiter itu.
Secepat kilat kau tarik gelasnya seolah dahaga menguasaimu. “Terima kasih.”
“Gi, maaf ya,” katamu seraya menutupi minuman yang kau seruput. “Sempurna. Eh, maaf Gi. Kelepasan.”
“Iya.”
“Gi, bagaimana kalau pindah kerja aja? Mungkin aku bisa ketemu orang baru, pekerjaan baru yang mungkin lebih sesuai denganku.”
“Alasanmu karena jenuh?”
“Nggak tahu, Gi. Bingung juga. Satu sisi jenuh, sisi lain nyaman dengan suasana di kantor.”
“Kenapa kamu terlalu pusing? Kamu perempuan. Jika kau kerja setelah menikah kelak hanya membantu finansial keluargamu. Mencari nafkah adalah tugas laki-laki. Saat ini kau bekerja mungkin untuk dirimu dan orang tuamu.”
“Kau benar kalaupun aku jenuh setidaknya pekerjaan sekarang bisa membuat bangga orang tuaku. Ah, mungkin aku kurang bersyukur ya, Gi. Kalau aku keluar, mencari lagi belum tentu akan mendapatkan pekerjaan seperti sekarang.”
“Sudah jalanilah saja. Urusan kau keluar mencari yang lain nanti saja setelah melepas masa lajang. Barangkali suamimu ingin kau menjadi ibu rumah tangga.”
Kau tertawa terbahak seolah kata-kataku lucu. “Gi, sepertinya kamu sudah butuh seorang istri,” celetukmu melanjutkan tertawa.
“Memangnya kau belum butuh seorang penjaga?”
“Apa satpam? Kan udah ada di kantor,” jawabmu melucu.
“Suami?”
“Entahlah, Gi. Mengalir sajalah. Biar saja seperti ini dulu. Aku hanya belum siap. Belum siap,” jelasmu.
“Belum tertarik seseorang? Satu pun?”
“Bisakah kita tak membicarakannya?”
Wajah yang sama kutatap lima tahun lalu, saat kau berlari mencariku di kebun. Kau lempar aku dengan buah pisang yang baru dipanen sembari sesenggukan berlinang air mata bercerita tentang dia yang menghianatimu.
“Baiklah. Aku akan menyimpan pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa memangnya?” tanyamu penasaran.
“Bukan apa-apa. Kau kan yang tak ingin membicarakannya.”
Kau terlihat berpikir. Sesekali terlihat bicara sendiri kesal denganku. Bagaimana bisa kutanyakan pertanyaanku jika kau tak ingin mendengarnya.
“Gi, aku penasaran,” celetukmu.
Aku tersenyum. “Sudah habiskan saja jus melonmu!” seruku
“Ayolah, Gi! Aku kan tak pernah menyimpan rahasia denganmu,” bujukmu.
“Terlanjur. Aku sudah membuang pertanyaanku. Ambil sendiri kalau bisa.” Aku menjulurkan lidah mengejekmu. Dalam sekejap gelasmu berubah kosong.
“Kenyang. Ya udah pulang, yuk!” ajakmu.
“Aku yakin kamu pasti mau buka di rumah.”
Aku duduk melipat tangan dengan sejuta bayang kau menjawab pertanyaanku. Seandainya kamu mau mendengarkannya walau sesaat.
“Gi, kamu nggak mau pulang?” tanyamu yang sudah beranjak dari tempat duduk.
Senyumku mengembang. Arlojiku mengatakan sudah dua puluh menit bersamamu sore ini.


---------------------------------------------------------
Kau terduduk di hadapanku
Bercerita tentang harimu
Aku tersadar
Mungkin ini waktu yang tepat
Untuk bisa mengutarakan perasaanku
Aku takut tuk bertanya apa kau rasa yang sama
Tapi aku ingin tahu jawabnya
Mungkin iya, mungkin tidak
Mungkin kau tak pernah jawab
Atau mungkin kau takut terluka
Aku slalu bertanya-tanya (Jikustik)


Komentar