Langsung ke konten utama

MARI MENGENAL PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KHUSUS


Bahan renungan untuk para pengajar anak berkebutuhan khusus baik di sekolah khusus ataupun sekolah inklusi. Prinsip-prinsip pembelajaran yang berbeda dengan anak normal pada umumnya di sekolah reguler dengan penyesuaian karakteristik kebutuhan masing-masing harus anda ketahui. Berikut adalah penjelasan tentang prinsip-prinsip pembelajaran pendidikan khusus yang dibagi dalam prinsip umum dan prinsip khusus.

A.   Prinsip Umum
Yang membedakan antara pembelajaran yang ramah terhadap anak berkebutuhan khusus dan pembelajaran konvensional adalah setting pembelajaran yang adaptif untuk semua peserta didik. Telah disepakati bahwa setiap peserta didik memiliki perbedaan individu, namun terdapat toleransi sejauh mana pembelajaran  itu diperlukan adaptasi. Jika pembelajaran konvensional telah mengakomodasi semua kebutuhan khusus peserta didik, maka adaptasi tidak diperlukan.  Variabel adaptasi sangat tergantung dari jenis dan tingkat karakteristik peserta didik khususnya kelainan yang disandang, baik kelainan fisik, emosi, sosial dan intelektual.

Adaptasi tersebut memiliki empat tahap sebagai berikut:
a.       Melakukan duplikasi, artinya mengambil seluruh materi dan strategi pembelajaran pada anak ”normal” ke dalam pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus tanpa melakukan perubahan, penambahan,  dan pengurangan apa pun.
b.      Modifikasi terhadap materi, media  dan strategi pembelajaran yaitu sebagian atau keseluruhan materi, media, prosedur dan strategi pembelajaran yang dipergunakan pada pembelajaran anak “normal” diadaptasi sedemikian rupa sehingga baik materi, media, dan strategi pembelajarannya sesuai dengan karakteristik anak.
c.       Substitusi, yaitu mengganti materi, media, dan strategi pembelajaran yang berlaku pada  pembelajaran anak “normal”, bahkan mengganti  mata pelajaran  tertentu, misalnya mata pelajaran menggambar untuk anak tunanetra diganti dengan apresiasi seni suara atau sastra. Memberikan tambahan pembelajaran/  kegiaatan ekstra kurikuler yang berkaitan dengan aktivitas kompensatif yang tidak ada pada kurikulum reguler. Misalnya kursus  orientasi mobilitas, Activity of dailly living (ADL), komputer bicara, terapi wicara, bina gerak, bina diri dan sosial, bina komunikasi, dll.
d.      Omisi, yaitu penghilangan  materi tertentu yang berlaku pada pembelajaran anak “normal”. Hal tersebut dilakukan apabila ketiga prinsip di atas sudah tidak dapat dilakukan, misalnya   meniadakan materi pembiasan, projeksi warna,   pada mata pelajaran tertentu, dan lain sebagainya. Prinsip  terakhir tersebut jarang dilakukan oleh sebagian besar pendidik, dengan pertimbangan  sesulit apa pun semua materi tetap diberikan tetapi menurunkan  target daya serap pembelajaran. Misalnya materi pembiasan pada peserta didik tunanetra, seyogyanya pendidik tetap menyampaikannya  secara informatif, karena dapat bermanfaat untuk komunikasi dengan anak “normal” lain. Sekalipun konsep dipahami secara verbalisme namun dimanfatkan dalam berkomunikasi dengan peserta didik lain.

A.   Prinsip Khusus
Prinsip khusus berkaitan langsung dengan keterbatasan dan karakteristik peserta didik sebagai akibat langsung dari  kelainannya.
1.    Tunanetra
a.   Prinsip Kekonkritan
Anak Tunanetra belajar terutama melalui pendengaran dan perabaan. Bagi mereka, untuk mengerti dunia sekelilingnya harus bekerja dengan benda–benda konkrit yang dapat diraba dan dapat dimanipulasikan. Melalui observasi perabaan benda–benda riil, dalam tempatnya yang alamiah, mereka dapat memahami bentuk, ukuran, berat, kekerasan, sifat– sifat permukaan, kelenturan, suhu dan sebagainya.
Dengan menyadari kondisi seperti ini, maka dalam proses pembelajaran guru dituntut semaksimal mungkin dapat menggunakan benda – benda konkrit sebagai alat bantu atau media dan sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b.    Prinsip Pengalaman yang Menyatu
Pengalaman visual cenderung menyatukan informasi. Seorang anak normal yang masuk ke toko, tidak saja melihat rak–rak dan benda–benda riil, tetapi juga dalam sekejap mampu melihat hubungan antara rak–rak dengan benda–benda di ruangan. Anak Tunanetra tidak mengerti hubungan–hubungan ini kecuali jika guru menyajikannya dengan mengajar anak untuk ”mengalami” suasana tersebut secara nyata dan menerangkan hubungan – hubungan tersebut.
c.    Prinsip belajar sambil melakukan
Prinsip ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan prinsip belajar sambil bekerja. Perbedaannya adalah bagi anak tunanetra melakukan sesuatu adalah pengalaman nyata yang tidak mudah terlupakan seperti anak normal melihat sesuatu sebagai kebutuhan utama dalam menangkap informasi. Anak normal belajar mengenai keindahan lingkungan cukup hanya dengan melihat gambar atau foto. Anak Tunanetra menuntut penjelasan dan penjelajahan secara langsung di lingkungan nyata.
Prinsip ini menuntut guru agar dalam proses pembelajaran tidak hanya bersifat informatif akan tetapi semaksimal mungkin anak diajak ke dalam situasi nyata sesuai dengan tuntutan tujuan yang ingin dicapai dan bahan yang diajarkannya.

2.  Tunarungu/ Gangguan Komunikasi
a.    Prinsip keterarahan wajah
Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengarannya (kurang dengar atau bahkan tuli). Sehingga organ pendengarannya kurang/ tidak berfungsi dengan baik. Bagi yang sudah terlatih, mereka dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan cara melihat gerak bibir (lip reading)lawan bicaranya. Oleh karena itu ada yang menyebut anak tunarungu dengan istilah ”permata”. Karena matanya seolah–olah tanpa berkedip melihat gerak bibir lawan bicaranya.
Prinsip ini menuntut guru ketika memberi penjelasan hendaknya menghadap ke anak (face to face) sehingga anak dapat melihat gerak bibir guru.
Demikian pula halnya dengan anak yang mengalami gangguan komunikasi, karena organ bicaranya kurang berfungsi sempurna, akibatnya bicaranya sulit dipahami (karena kurang sempurna) oleh lawan bicaranya. Agar guru dapat memahaminya, maka anak diminta menghadap guru (face to face) ketika berbicara.
b.    Prinsip keterarahan suara
Setiap kali ada suara/ bunyi, pasti ada sumber suara/ bunyinya. Dengan sisa pendengarannya, anak hendaknya dibiasakan mengkonsentrasikan sisa pendengarannya ke arah sumber suara/ bunyi, sehingga anak dapat merasakan adanya getaran suara. Suara/ bunyi yang dihayatinya sangat membantu proses pembelajaran anak terutama dalam pembentukan sikap, pribadi, tingkah laku, dan perkembangan bahasanya.
Dalam proses pembelajaran, ketika berbicara guru hendaknya menggunakan lafal/ ejaan yang jelas dan cukup keras, sehingga arah suaranya dapat dikenali anak.
Demikian pula, bagi anak yang mengalami gangguan komunikasi, agar bicaranya dapat dipahami oleh lawan bicaranya maka anak hendaknya ketika berbicara selalu menghadap ke arah lawan bicaranya agar suaranya terarah.
c.    Prinsip Keperagaan
Anak tunarungu karena mengalami gangguan organ pendengarannya maka mereka lebih banyak menggunakan indera penglihatannya dalam belajar.
Oleh karena itu, proses pembelajaran hendaknya disertai peragaan (menggunakan alat peraga) agar lebih mudah dipahami anak, disamping dapat menarik perhatian anak.

3.  Anak Berbakat
a.    Prinsip Percepatan (Akselerasi) Belajar
Anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan (inteligensi), kreativitas, dan tanggung jawab (task commitment) terhadap tugas di atas anak-anak seusianya. Salah satu karakteristik yang sangat menonjol adalah mereka memiliki kecepatan belajar di atas  kecepatan belajar anak seusianya. Dengan diterangkan sekali saja oleh guru, mereka telah dapat menangkap maksudnya; sementara anak-anak yang lainnya masih perlu dijelaskan lagi oleh guru. Pada saat guru mengulangi penjelasan kepada teman-temannya itu, mereka memiliki waktu terluang. Bila tidak diantisipasi oleh guru, kadang-kadang waktu luang tersebut dimanfaatkan untuk aktivitas sekehendaknya, misalnya melempar benda-benda kecil kepada teman dekatnya, mencubit teman kanan-kirinya, dan sebagainya.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki, dalam proses pembelajaran hendaknya guru dapat memanfaatkan waktu luang anak berbakat dengan memberi materi pelajaran tambahan (materi pelajaran berikutnya). Sehingga kalau terakumulasi semua, mungkin materi pelajaran selama satu semester dapat selesai dalam waktu 4 bulan; materi 1 tahun selesai dalam waktu 8 bulan; materi 6 tahun selesai dalam waktu 4 tahun. Hal ini disebut dengan istilah percepatan (akselerasi) belajar.
b.          Prinsip Pengayaan (Enrichment)
Ada anak berbakat yang tidak tertarik dengan program percepatan belajar. Mereka kurang berminat mempelajari materi berikutnya dan mendahului teman-temannya. Mereka merasa lebih menikmati dengan tetap berada bersama dengan teman sekelasnya. Materi yang diberikan lebih diperdalam dan diperluas dengan mengembangkan proses berfikir tingkat tinggi (analisis, sintesis, evaluasi, dan pemecahan masalah). Anak berbakat tidak hanya mengembangkan proses berfikir tingkat rendah (pengetahuan dan pemahaman), tetapi mereka lebih menonjol dalam proses berfikir tingkat tinggi.
Hal ini menuntut guru agar dalam kegiatan pembelajaran dapat memanfaatkan waktu luang dengan cara memberi program-program pengayaan, dengan mengembangkan proses berfikir tingkat tinggi mereka.

4.  Tunagrahita
a.    Prinsip Kasih Sayang
Tunagrahita adalah anak yang mengalami kelainan dalam segi intelektual, inteligensi mereka di bawah rata-rata. Akibatnya, dalam tugas-tugas akademik yang menggunakan intelektual, mereka sering mengalami kesulitan.
Dalam kegiatan pembelajaran, anak tunagrahita  membutuhkan kasih sayang yang tulus dari guru. Guru hendaknya berbahasa yang lembut, sabar, rela berkorban, dan memberi contoh perilaku yang  baik, ramah, dan supel, sehingga tumbuh kepercayaan dari peserta didik, yang pada akhirnya mereka memiliki semangat untuk melakukan kegiatan dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru.
b.    Prinsip Keperagaan
Kelemahan anak tunagrahita antara lain adalah dalam hal kemampuan berfikir abstrak, mereka sulit membayangkan sesuatu. Dengan segala keterbatasannya itu, peserta didik tunagrahita akan lebih mudah tertarik perhatiannya apabila dalam kegiatan pembelajaran menggunakan benda-benda konkrit maupun berbagai alat peraga (model) yang sesuai.
Hal ini menuntut guru agar dalam kegiatan pembelajaran selalu mengaitkan relevansinya dengan kehidupan nyata sehari-hari. Oleh karena itu, anak perlu dibawa ke lingkungan sosial, maupun lingkungan alam. Bila tidak memungkinkan, guru dapat membawa berbagai alat peraga.
c.    Prinsip Habilitasi dan Rehabilitasi
Meskipun dalam bidang akademik anak tunagrahita memiliki kemampuan yang terbatas, namun dalam bidang-bidang lainnya mereka masih memiliki kemampuan atau potensi yang masih dapat dikembangkan.
Habilitasi adalah usaha yang dilakukan seseorang agar anak menyadari bahwa mereka masih memiliki kemampuan atau potensi yang dapat dikembangkan meski kemampuan atau potensi tersebut  terbatas.
Rehabilitasi adalah usaha yang dilakukan dengan berbagai macam bentuk dan cara, sedikit demi sedikit mengembalikan kemampuan yang hilang atau belum berfungsi optimal. Dalam kegiatan pembelajaran, guru hendaknya berusaha mengembangkan kemampuan atau potensi anak seoptimal mungkin, melalui berbagai cara yang dapat ditempuh.

5.  Tunadaksa
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bagi anak tunadaksa tidak lepas dari tiga bentuk pelayanan, yaitu: (1) pelayanan medik, (2) pelayanan pendidikan, dan (3) pelayanan sosial, yang pada umumnya juga tidak dapat lepas dengan prinsip habilitasi dan rehabilitasi.

6.  Tunalaras
a.    Prinsip Kebutuhan dan Keaktifan
Anak tunalaras selalu ingin memenuhi kebutuhan dan keinginannya tanpa mempedulikan kepentingkan orang lain. Untuk memenuhi  kebutuhannya itu, ia menggunakan kesempatan yang ada tanpa mengingat kepentingan orang lain. Kalau perlu melanggar semua peraturan yang ada meskipun ia harus mencuri misalnya. Hal ini jelas merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Oleh karena itu, guru hendaknya mendorong peserta didik untuk lebih aktif agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan mempertimbangkan norma-norma sosial, agama, peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga dalam memenuhi kebutuhannya tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
b.    Prinsip Kebebasan yang Terarah
Anak Tunalaras memiliki sikap tidak mau dikekang. Ia selalu menggunakan peluang untuk berbuat sesuatu. Oleh karena itu, guru harus memperhitungkan tindakan yang akan dilakukannya dalam membina peserta didik yang tuna laras. Di samping itu, guru hendaknya mengarahkan dan menyalurkan segala perilaku anak ke arah positif yang berguna, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
c.    Prinsip Penggunaan Waktu Luang
Anak Tunalaras biasanya tidak bisa diam. Ada saja yang dikerjakan, bahkan seolah-oleh mereka kekurangan waktu sehingga lupa tidur, istirahat dan sebagainya. Oleh karena itu, guru harus membimbing anak dengan mengisi waktu luangnya untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
d.    Prinsip Kekeluargaan dan Kepatuhan
Anak tunalaras biasanya berasal dari keluarga yang tidak harmonis, atau hubungan orang tua retak (broken home). Akibatnya emosinya kurang stabil, jiwanya tidak tenang, rasa kekeluargaannya tidak berkembang, merasa hidupnya tidak berguna. Akibat lebih jauh mereka bersifat perusak, dan benci kepada orang lain.
Oleh karena itu, guru harus dapat menyelami anak, di mana letak ketidakselarasan kehidupan emosinya. Selanjutnya, mengembalikannya kepada kehidupan emosi yang tenang, laras, sehingga rasa kekeluargaannya menjadi pulih kembali. Misalnya peserta didik disuruh membaca cerita yang edukatif, memelihara binatang, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
e.    Prinsip Setia Kawan dan Idola serta Perlindungan
Karena tinggal di rumah tidak tahan, anak tunalaras biasanya lari keluar rumah. Kemudian ia bertemu dengan orang-orang (kelompok) yang dirasa dapat membuat dirinya merasa aman. Di dalam kelompok tersebut ia merasa menemukan tempat berlindung menggantikan orang tuanya, ia merasa tenteram, timbul rasa setia kawan. Karena setianya kepada kelompok, ia berbuat apa saja sesuai perintah ketua kelompoknya yang dijadikan idolanya.
Oleh karena itu, guru hendaknya secara pelahan-lahan berupaya menggantikan posisi ketua kelompoknya, menjadi tokoh idola peserta didik, dengan cara melindungi peserta didik, dan berangsur-angsur kelompoknya berganti dengan teman-teman sekelasnya, dan setia kawannya berganti kepada teman-teman sekelasnya, yang pada akhirnya mereka akan merasa senang bersekolah.
f.     Prinsip Minat dan Kemampuan
Guru harus memperhatikan minat dan kemampuan anak terutama yang berhubungan dengan pelajaran. Jangan sampai karena tugas-tugas yang diberikan oleh guru terlalu banyak, akhirnya justru mereka benci kepada guru atau benci kepada pelajaran tertentu. Sebaliknya, guru harus menggali minat dan kemampuan peserta didik terhadap pelajaran, untuk dijadikan acuan untuk memberi tugas-tugas tertentu. Dengan memberi tugas yang sesuai, mereka akan merasa senang, yang pada akhirnya lama-kelamaan mereka akan terbiasa belajar.
g.    Prinsip Emosional, sosial, dan Perilaku
Karena problem emosi yang disandang anak tunalaras, maka ia mengalami ketidaksinambungan emosi. Akibatnya peserta didik berperilaku menyimpang baik secara individual maupun secara social dalam pergaulan hidup bermasyarakat.
Oleh karena itu, guru harus berusaha mengidentifikasi problem emosi yang disandang anak, kemudian berupaya menghilangkannya untuk diganti dengan sifat-sifat yang baik sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, dengan cara diberi tugas-tugas tertentu, baik secara individual maupun secara kelompok.
h.    Prinsip Disiplin
Pada umumnya anak tunalaras ingin memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memenuhi keinginannya, tanpa mengindahkan norma-norma yang berlaku, sehingga ia hidup lepas dari disiplin. Sikap ketidaktaatan dan lepas dari aturan merupakan sikap hidupnya sehari-hari.
Oleh karena itu, guru perlu membiasakan peserta didik untuk hidup teratur dengan selalu diberi keteladanan dan pembinaan dengan sabar.
i.     Prinsip Kasih Sayang
Anak tunalaras umumnya haus akan kasih sayang, baik dari orang tua maupun dari keluarganya. Akibatnya anak akan selalu mencari kasih sayang dan menumpahkan keluhannya di luar rumah. Kalau ia tidak menemukannya akan menjadi agresif, cenderung hiperaktif, atau sebaliknya ia menjadi rendah diri, pendiam, atau menyendiri.
Oleh karena itu, pendekatan kasih sayang, dan kesabaran yang dilakukan guru diharapkan  dapat mengisi kekosongan jiwa anak. Dengan pendekatan kasih sayang akan membuat anak merasa nyaman sehingga mereka akan rajin ke sekolah dan merasa ada tempat untuk mencurahkan perasaannya yang pada akhirnya mereka akan patuh pada guru.

7.  Anak Autis
a.    Individual
Pembelajaran anak autis tidak akan efektif jika dilakukan secara klasikal, namun harus dilakukan individual dengan pendekatan satu guru satu peserta didik.
b.    Kontak mata untuk berkomunikasi
    Pembelajaran tidak akan berlangsung bila tidak terjadi komunikasi antara peserta didik dengan guru. Komunikasi dimulai dari kontak mata antara guru dan peserta didik. Kontak mata dapat terjadi jika guru telah memahami karakteristik peserta didik, terutama ketertarikan dan minat yang menonjol pada anak yang merangsang peserta didik untuk tertarik menerima komunikasi dari guru.
c.    Memahami instruksi.
   Setelah terjadi komunikasi dua arah, peserta didik harus dirangsang untuk memahami instruksi baik ajakan, larangan, atau perintah lain.
d.    Berbahasa
     Berbahasa meliputi  bahasa reseptif (memahami bahasa orang lain) dan bahasa ekspresif mengungkapkan isi hatinya pada orang lain.
e.    Sosialisasi
Peserta didik autis harus dibiasakan untuk melakukan pergaulan dengan teman sebaya agar lebih memahami pola, norma yang terjadi di luar pola dan norma yang telah ada pada dirinya. Peserta didik autis harus ditarik untuk memasuki dunia orang lain dan membuka dunia sempit yang menyelimuti dirinya.


Komentar