Langsung ke konten utama

Bukan Salah Jodoh






"Om bisa ambilkan balon di atas." Seorang anak kecil menarik tanganku yang sedang mengutak-atik gadget. Sebegitu ramainya pedestrian ini kenapa harus aku?   
"Kevin. Sini jangan merepotkan orang lain."    
Tubuhku bergerak mengikuti suara lembut yang kukenal dengan baik. Glek. Aku percaya Tuhan tidak sedang menghukumku di tempat ini.    
"Bima? Hai!" Kau mengulurkan tanganmu membuatku ragu. Tak sempat kujabat, tanganmu sudah berpindah membelai rambut, kau terlihat malu. Udara mengutukku tiba-tiba angin berhenti berhembus. Aku mengalihkan pandanganku pada balon biru yang tersangkut di ranting pohon.    
"Tak usah Bim. Biar nanti aku belikan yang baru," katamu seolah tahu pikiranku.    
"Mama aku mau yang itu. Nanti kalau beli lagi uang mama bisa habis," ujarnya polos. Senyumku melengkung. Tangan kecilnya menarik ujung lengan bajuku lagi.    
"Pangeran kecilmu ini mirip sekali denganmu," ujarku seraya mengusap rambut pangeran kecilmu.    
Kau tersipu malu dan merangkul bahu anakmu.   
Sesaat aku mencari ranting pohon dan berusaha meraih tali pengikat balon. Beberapa kali tak tersentuh, dan akhirnya tali itu terlilit sempurna di ranting yang kupegang.   
"Kena. Woho, berhasil!" Balon biru berpindah kepadaku.   
"Hore, makasih om." Tangan kecilnya tak sabar mengambil dari tanganku.    
"Maaf telah merepotkanmu Bim. Pertemuan kita jadi seperti ini."    
"Sepertinya kamu menjalani kehidupan dengan baik," celetukku.    
"Ya beginilah sekarang hidupku menjaganya sepanjang hari. Aku tak ingin kehilangan waktu berharga dengannya."    
"Kau pasti sudah menjaganya dengan baik, ia sudah tumbuh sebesar ini."    
"Ya untuk sebuah waktu yang lama. Akhirnya dia telah tumbuh seperti ini. Awalnya sangat kecil dan kini semakin tumbuh."    
"Ya tentu saja setiap hari dalam hidup selalu ada proses."    
"Kamu apa kabar? Bagaimana kamu menjalani hidupmu sekarang?" tanyamu mengembalikan pertanyaan mundur beberapa tahun silam.   
"Hidupku seperti ini. Kamu bisa lihat sendiri."    
"Ya ketampananmu belum hilang tapi bukan itu maksudku Bim. Aku bertanya bukan untuk hal fisik yang bisa aku lihat. Aku bertanya bagaimana kehidupanmu yang tak bisa kulihat selama beberapa tahun ini. Karirmu misalnya?"   
"Ya meski dulu sempat berhenti aku akhirnya memulai lagi dari nol. Sekarang sudah kembali seperti dulu sebelum bertemu denganmu."    
"Aku minta maaf. Gara-gara aku dulu kamu harus melewati banyak hal."    
"Tidak aku justru berterima kasih padamu. Karena kamu aku mendapatkan pelajaran berharga untuk memisahkan urusan pribadi dan tidak terlalu berharap pada orang lain."    
"Mama kenal om ini?" tanya pangeran kecilmu.  
Kau mengangguk. Pangeran kecilmu itu berlari menjauh dari kita bermain dengan balonnya sambil berputar-putar.   
"Bim, bisakah kita bicara sambil membeli sesuatu di kedai es krim itu?"    
"Maaf, aku sedang ada janji dengan rekan bisnisku."    
"Ayolah hanya sebentar. Aku yang traktir. Sementara bersama kami kau juga bisa menunggu rekan kamu. Please!" Kau memohon dengan sangat manis. 
Glek. Setiap mata itu mengerjap dan memohon tak pernah bisa mulut ini menolak.  "Baiklah hanya sampai rekanku datang."    
"Nah, itu jawaban yang kutunggu. Kita bisa bernostalgia sesaat."    
Nostalgia. Langkahku menjadi terhenti. Nostalgia macam apa yang sedang kau pikirkan. Kenangan macam mana yang ingin kau ingat. Ketika hatiku jatuh berkeping atau jantungku yang pernah jatuh padamu.   
"Kenapa berhenti? Kau tidak berubah pikiran kan?"    
Kau mengecohku dalam pikiran kalut. Cincin di jarimu telah mengusik bola mataku. Berkali-kali kuyakinkan tak boleh lagi. Janur kuning telah melengkung sangat lama. Ratusan purnama telah berganti. Pangeran kecil telah tumbuh menjagamu.    
"Ren, aku tak bisa melakukannya."    
"Kenapa? Kau tadi telah setuju."    
"Aku salah."    
"Bagian mana yang salah? Aku tak merasa ada yang salah."    
"Ren, jarimu telah diikat. Itu mengusikku."    
"Kamu ingin aku melepasnya sesaat?"    
"Tidak, Ren. Apa yang telah terikat tidak akan bisa lepas sekalipun itu berpindah ke sakumu. Kita sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Kita sudah berakhir saat kau memutuskan pergi."    
"Tapi kita masih berteman kan. Apa yang salah?"    
"Aku tak ingin ada suara sumbang tentang kita lagi. Mungkin kita biasa saja tapi orang lain yang tak sengaja melihat kita bisa berpikir lain. Aku hanya ingin membantu menjaga ikatan sucimu. Kuharap kau mengerti."    
Kau menghelakan nafas panjang dan menyisir rambut dengan jarimu.    
"Kau yang sekarang berubah serius. Aku merindukan kamu yang dulu. Humoris selalu bisa membuatku tertawa."   
"Tapi yang humoris itu ternyata bukan yang kamu pilih. Yang humoris ini hanya kau akhiri dalam ikatan sebatas teman. Kamu lebih memilih orang yang serius. Nyatanya sudah lima tahun kau bersamanya. Jika kau cari aku yang dulu, kau tak akan bisa menemukannya lagi." 
Kau tertegun. Sudut matamu bisa mencerna kata-kataku.    
"Aku tak bermaksud memojokkanmu. Entah apa yang sedang kupikirkan. Seharusnya aku tak mengungkitnya lagi. Kita sudah melangkah jauh meninggalkan masa itu. Aku minta maaf." Aku menyesali kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku.   
Jeda dalam diam.   
Pangeran kecilmu memanggil dari kejauhan, "Mama." Dia sudah berdiri di depan Kedai es krim.   
"Ya," balasmu melambai seraya tersenyum. "Dia sudah menunggu kita di sana. Apakah kamu benar-benar tak bisa memenuhi permintaanku ini, Bim?" tanyamu.   
Aku menunduk. Pertempuran batin terjadi di diriku. Untuk apa aku meng-iyakan ajakanmu tapi aku terjebak dalam dunia itu lagi. Lalu jika kutolak, laki-laki macam apa aku melukai hatimu hanya karena permintaan yang mudah: duduk di sana beberapa saat lalu pergi. Lalu bagaimana jika kau menahanku. Hatiku mungkin bisa jatuh lagi. Tidak bisa.   
"Aku.. aku.."   
"Aku dengar kau belum menikah. Apakah alasan kau menolakku ini semua bukan soal rekan bisnis tapi seorang wanita spesialmu? Kau ingin menjaganya dengan tidak melibatkanku di kehidupanmu sekarang. "   
Ujung lidahku seolah lengket di mulut. Tak ada kalimat penjelasan yang terucap.   
"Baiklah aku tak akan memaksamu. Aku memahami jika situasi begitu. Kau hanya ingin menjaga ikatan kalian. Aku pergi dulu kasihan Kevin menunggu lama di sana." Kau terdengar bernada tinggi.   
Aku menahan tanganmu. Tak ingin perpisahan dulu terjadi lagi dengan pertempuran berujung marah.   
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta lagi pada seorang wanita jika wanita yang terbayang dalam ingatanku itu kamu."    
Kau tertunduk dan tersipu malu.   
"Aku menolakmu karena tak ingin membawa suasana ini berlanjut. Bertemu denganmu saja sudah seperti mimpi. Tapi aku takut terbangun jika terlalu lama bersamamu. Kumohon kau memahami situasiku ini."    
"Aku mengerti sekarang, Bim. Kau boleh melepaskan tanganmu."    
"Maaf aku tak bermaksud."    
"Ya itu hanya gerak refleksmu. Hatimu sedang berdebat di sana. Baiklah aku tak akan menggodamu lagi, Bim. Aku hanya bercanda. Jika kau tak menginginkannya tak apa. Aku sudah cukup senang bisa bertemu denganmu lagi walau hanya singkat." Kau tersipu malu. 
Sial aku mengabaikan cincin di jarimu. Haruskah aku minta maaf pada suamimu? Astaga.   
"Pak Bima maaf saya terlambat." Seorang perempuan muda tertatih datang menghampiriku dengan gugup hingga menjatuhkan beberapa file membuyarkan lamunanku. Ia pun susah payah memungut kertas yang terhempas angin satu persatu.   
"Rekan bisnisku sudah datang. Lihat aku tak bohong soal ini."    
"Oke baiklah. Sepertinya sudah saatnya aku pamit. Semoga dilain kesempatan kita bisa bertemu diwaktu yang lebih tepat."   
Kau mengulurkan tanganmu. Aku sudah belajar diawal dan dengan cepat aku menyambut tanganmu. Lembut, dingin. Jika aku tak menyambut uluran tanganmu, kau akan mengusap rambutmu dengan malu.   
"Selamat menikmati hari bersama pangeran kecilmu."   
"Terima kasih. Sukses untuk pekerjaanmu."    
Pertemuan kami berakhir pada saat lampu merah menyala. Tapi kami tak menyeberang. Kami berhenti. Berhenti di tempat dulu kami mengakhirinya. Perbedaannya kali ini kami berhenti dengan tersenyum.   
"Pak Bima ini file yang diperlukan. Ada beberapa contoh brosurnya juga. Bagaimana kalau kita bicarakan ini di sana. Kedai es krim?"   
Deg.  
________________________________________ 
Disekitar senayan tak sengaja kita, berjumpa dan bertatapan. Dan aku lihat dirimu dengan pangeran kecil, mungkin bertugas tuk menjagamu.   
Kau bilang aku masih tampan, senyummu masih juga menggoda. Kau tanya adakah waktu untuk berdua denganku.   
Kalau rindu, rindu saja dalam hati. Kalau kangen simpan saja di relung yang terdalam. Jangan lupa kita kini berbeda dengan dulu..............
Disekitar senayan masih saja kita curi-curi saling pandang. Kau makin manis menawan, betapa beruntung dia yang mendampingimu (Kahitna)

Komentar