Langsung ke konten utama

PILIHLAH AKU


Kau yang dulu terlihat seperti batu di depanku yang mulai tenggelam ditelan air. Tak butuh bantuan dan lebih memilih sebatang rokok yang kubenci dan korek api. Padahal sudah kulempar ia berkali-kali tapi kau pungut lagi. Perempuan itu telah membuatmu berbeda. Aku tahu kau bahkan tidak pernah menyentuh batang rokok sebelumnya. Kau pun belum fasih memegangnya dan beberapa kali kulihat kau terbatuk, menginjaknya lalu kau sulut lagi yang baru. Kini kamu sudah bangkit lagi. Selamat datang di kehidupan barumu. Kau terlihat terlahir kembali. Kau yang berdiri di hadapanku terlihat lebih tenang. Kau sudah dewasa sekarang.
“Kamu sudah bisa tersenyum sekarang,” kataku menengok wajahnya seraya tersenyum.
“Ya, aku sudah terbebas sekarang,” katamu membuatku lega.
Aku melemparkan batu kerikil ke tengah kolam.
“Enak ya jadi batu yang kulempar ini. Kalau sudah tenggelam di dalam sana sudah tidak bisa kemana-mana. Aku iri.”
Kamu tersenyum. “Setiap hari kamu hanya menatap itu-itu saja. Kadang merasa sendiri, kesepian tapi tidak bisa berpindah tempat. Padahal kamu ingin melihat atas tempat awal kamu dilempar. Karena di sana banyak hal yang lebih menarik daripada di dalam air yang dingin dan gelap. Menurutmu seperti itu enak?”
“Eh?” Aku menoleh. Kamu tersenyum.
“Jadi selama tiga tahun terakhir kamu sudah kemana saja?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Emm, aku sudah berkeliling ke beberapa daerah. Menemukan orang-orang hebat yang membuatku merasa dunia itu sangat luas dan setiap orang ditakdirkan berbeda-beda,” jawabmu seraya membuka tas dan mencari sesuatu di dalam sana.
“Jadi itu sebabnya kamu sekarang terlihat lebih keren,” pujiku.
Kau mengulurkan sesuatu padaku. Beberapa foto perjalananmu yang dicetak dengan kertas 4R. Beberapa foto hanya terlihat pemandangan, foto orang-orang yang mungkin ia temui dan semakin ke belakang ada foto perempuan yang selalu bersamamu. Perempuan yang terus saja kupandangi tanpa berkedip.
“Cantik kan?” tanyamu membuatku kikuk. Aku mempercepat membalik lembar demi lembar foto.
“Ya, sangat cantik,” jawabku seraya tersenyum.
“Kamu tidak tanya siapa dia?” tanyamu.
“Eh?” Aku menunduk mengamati foto perempuan itu. “Coba kutebak.”
Foto perempuan itu kuangkat sejajar dengan wajahmu. Kubandingkan kedua bola mata, bentuk hidung, bentuk bibir. Tak kudapati kemiripan antara kalian berdua.
“Bagaimana?” tanyamu.
“Ah, tidak mirip,” candaku.
Kamu tersenyum. “Itu adiknya Rose. Masih ingatkan cerita aku ditolak cewek?”
Deg. Perasaan aneh muncul kembali. Ada sesuatu yang menarik detak jantungku. Aku tahu perasaan ini sempat hilang saat berhenti mendengar nama itu disebut. Ketika perasaan ini muncul kembali aku ingin mengatakannya. Kamu mungkin tidak pandai mengambil hatinya dulu tapi kamu diam-diam telah mengambil hatiku dan menempatkannya di sisimu tanpa kau ketahui. Hatiku memang masih bebas meskipun ia selalu ditempatkan di sana karena kamu tidak pernah mengikatnya.
“Adel namanya. Dia secantik kakaknya bukan? Ya, tapi apa daya aku sudah ditolak kakaknya dulu,” lanjutmu cengar-cengir malu-malu.
“Lalu bagaimana kamu bisa mengenalnya?”
“Saat ada tawaran menjadi volunter kegiatan sosial kebetulan kami mendaftar bersama-sama. Kami berdua lolos bersama. Awalnya aku juga tak tahu tapi setelah dia bercerita panjang lebar tiba-tiba nama itu disebut,” jelasmu membuatku menyimak dalam diam.
Kau menoleh dan bertanya, “Dunia itu sempit ya?”
Aku mengangguk. Sesuatu yang aneh menjalar di dadaku. Astaga mulai lagi. Tanganku gemetar. Kaupun melihatnya.
“Lalu kamu bercerita tentang Rose padanya?” tanyaku mengalihkan perhatiannya.
“Tidak pernah. Ini rahasia. Sekarang semua yang pernah terjadi biarlah berlalu. Aku tidak ingin menjadi seperti batu yang kau lempar tadi.”
Aku tersenyum. “Aku senang kamu sudah bisa tersenyum kembali,” kataku.
Pause. Kulihat lembar foto yang kubuka saat kamu tersenyum di atas puncak gunung. Play. “Bebas, lepas, tidak ada tekanan. Kamu sudah bermetamorfosis sempurna,” lanjutku.
“Kedengaran tragis sekali kisah hidupku. Sampai kau samakan aku dengan sebuah proses metamorfosis. Apa wajahku sempat menjadi ulat atau mungkin kecebong barangkali?”balasmu seraya tertawa.
Aku memandangmu dengan saksama saat kamu tertawa. Kau pun menyadarinya. Ada yang telah berbeda dariku.
“Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Lihat ada banyak kerutan di dahimu.”
“Apa? Tidak,” tepisku malu-malu.
“Kalau dahi mulai berkerut-kerut artinya kamu sedang berpikir keras. Kamu masih berpikir jadi batu tadi?” tanyamu seraya menertawaiku.
“Kamu bahkan tak tahu apa yang kupikirkan. Beraninya menertawaiku,” jawabku.
“Jadi sebenarnya apa yang kamu pikirkan?” tanyamu dengan wajah serius.
Aku kikuk setengah mati. Kau semakin menertawaiku berlebihan.
“Skakmat mati gaya kau sekarang.”
Geram, aku memukulmu dengan tumpukan foto di tanganku.
“Sini biar kusimpan daripada kau pakai senjata untuk menyerangku,” katamu seraya menarik kembali foto-fotomu.
“Jadi kapan kamu akan pergi lagi?” tanyaku seraya mengingat kembali kata-katamu lewat sebuah pesan singkat yang membawaku menemuimu hari ini.
“Besok aku sudah harus kembali ke perantauanku.”
“Besok? Cepat sekali. Ya sudah jaga dirimu di sana. Dari wajahmu aku tahu kau menyukai Adel,” tebakku membuatmu diam.
Jeda.
“Kalau kau menyukai Adel katakan saja kau menyukainya. Jangan sampai kau menyesalinya dan tak punya kesempatan untuk mengatakan....,” kataku lirih yang tidak bisa tuntas karena suara kumandang Adzan Asar telah mengalihkan perhatianmu.
 “Lain kali akan kuceritakan banyak tentangnya,” katamu seraya mengemasi tasmu.
Aku mengangguk.
Kau terlihat mengutak-atik handphone-mu.
“Besok kau mau mengantarku ke bandara?” tanyamu seraya berdiri memasukkan handphone ke saku.
Aku mendongak kaget, “Apa?”
“Tawaranku hanya datang satu kali. Kalau tidak mau, ya aku tidak memaksa,” jawabmu seraya tersenyum.
Aku diam. Apa yang sedang kau lakukan? Kamu sedang bercanda atau serius? Bahkan aku tak bisa membedakannya sekarang.
“Ayo kita ke masjid dulu sebelum pulang!” ajakmu.
Aku berdiri dan menahanmu sejenak, “Rey, sebentar! Aku ingin bertanya untuk memastikan.”
“Memastikan apa?” Kau terlihat bingung.
“Aku takut salah paham. Kita hanya sebatas teman kan?” Tiba-tiba aku memiliki sebuah keberanian untuk bertanya dan tidak menyesalinya. Mungkin hatiku sudah terbuat dari baja sekarang. Setelah berulang kali terjatuh di tempat yang sama.
Kau diam. Tidak menjelaskan apapun. Cukup matamu yang berbicara. Senyummu yang mengembang. Kamu mengedip. Sekarang hanya melihat ekspresimu saja aku sudah bisa menyimpulkan.
“Tidak, Rey. Aku menolak tawaranmu,” jawabku seraya tersenyum.
“Jadi kamu tidak akan mengantarku?” tanyamu.
“Aku tidak ingin melakukannya, Rey.”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa, Rey.”
“Bagaimana kalau lebih dari sekedar teman? Apa kau mau melakukannya?”
Aku menggeleng.
“Ah, kamu yang sekarang terlihat serius!” keluhmu.
Aku diam.
“Ayolah! Bukankah itu pekerjaan mudah? Hanya mengantarku apa susahnya?” rayumu.
“Aku akan menemanimu.”
Kau pun tersenyum. “Sepertinya kau lebih menyukai kata menemani daripada mengantar.”

------------------------------------------------------------------------------------------
Diam bukanlah tak ingin
Degup jantung kian terbisik
Tanda cinta yang bersemi
Aku yang kan mencintaimu
Aku yang kan slalu mendampingimu
Bila bahagia yang akan kau tuju
Bila butuh cahaya tuk menemanimu
Pilihlah aku
Jangan sempatkan berlalu
Kalau karyaku yang kau tunggu
Jangan hanya aku yang tahu
Aku cinta padamu
Mohon warnai jiwaku
Maukah hidup bersamaku (Sheila on 7)

Komentar